Remember, it's just a Fanfiction.
Di Taman Menteng, jam sudah menunjukkan pukul enam sore kurang lima menit. Adrian sudah tiba di taman itu sejak sepuluh menit yang lalu. Ia menunggu di balik sebuah pohon yang cukup tinggi sambil melihat-lihat situasi yang ada di taman. Taman itu cukup sepi. Lampu2 taman sudah menyala, dan langit sudah hampir gelap. Lampu bangunan2 yang ada di sekitarnya juga sudah mulai menyala, dan terdengar suara2 mobil dari kejauhan. Taman itu sangat indah. Banyak pohon2 rindang di sana, tanaman banyak tumbuh di sekelilingnya, dan patung2 juga banyak berada di beberapa tempat di taman itu. Tamannya juga dihiasi oleh lantai bermozaik, terbuat dari keramik2 yang sangat indah. Di situ juga banyak bangku taman yang terbuat dari kayu2 terbaik... dan penuh dengan ukiran yang menarik pula. Tidak jauh dari salah satu bangku taman itu, ada sebuah menara jam yang tidak terlalu tinggi, tapi cukup unik. Jamnya memiliki empat sudut dan memiliki empat buah penyangga. Di setiap penyangga jam itu terdapat beberapa ukiran, dan di sekeliling jam itu, di setiap sudutnya, juga memiliki ukiran yang sangat indah. Di bagian atas jam itu terdapat sebuah atap berbentuk limas yang di puncaknya terdapat patung ayam dan penunjuk arah mata angin. Jam itu yang dijadikan patokan Adrian untuk mengetahui jam berapa sekarang, karena hari itu (masih Day 15) ia tidak membawa jam. Sesekali ia melihat ke arah jam itu dan melihat kondisi di taman itu. Tapi kondisinya masih sama saja. Belum ada orang yang datang. Padahal, sudah hampir mendekati jam 6 sore.
Tidak lama, datanglah seseorang yang datang dari sisi barat taman (kalau dari pandangan Adrian, itu ada di depan) dia berjalan sendiri, sambil membawa tas, dan memakai kemeja hitam, celana jeans hitam, dan sepatu hitam. Dia memakai kacamata. Dia lalu duduk di kursi taman dan menunggu. Itulah orang yang ditunggu oleh Adrian, mantan manager-nya 7 Icons, Dicky. Begitu dia datang, Adrian langsung keluar dari persembunyian dan mendatangi Dicky yang sedang duduk di bangku taman.
Adrian: Kau terlambat.
Dicky: Terlambat ? Padahal saya sudah berusaha untuk datang tepat waktu lho...
Adrian: Tapi jam tak bisa bohong. Tuh lihat. (menunjuk ke arah jam yang letaknya tidak jauh dari bangku taman itu, jam menunjukkan pukul enam lewat dua menit)
Dicky: Tapi aku kan hanya terlambat dua menit...
Adrian: Tetap saja Anda terlambat.
Dicky: Baiklah. Saya memang terlambat. Saya terjebak macet tadi, di dekat persimpangan jalan.
Adrian: Berarti seharusnya kau berangkat lebih cepat.
Dicky: Saya padahal sudah berusaha untuk berangkat lebih cepat! Saya berangkat jam setengah lima...
Adrian: Saya juga berangkat jam setengah lima dan sampai di sini jam setengah enam. Ada masalah ?
Dicky: Baiklah. Kau menang. Saya hanya terjebak macet. Itu saja. Saya minta maaf.
Adrian: Kau dimaafkan.
Dicky: Kau pasti orang yang meneleponku tadi ya ? Adrian Susanto, bukan ?
Adrian: Ya, saya Adrian Susanto. Kau pasti Dicky, manager 7 Icons.
Dicky: Dulunya. Saya sudah tidak lagi menjadi manager 7 Icons setelah surat itu ditandatangani.
Adrian: Surat pembubaran itu maksudmu ?
Dicky: Ya.
Adrian: Tapi kalau Anda mau tahu, sebenarnya... surat itu tidak legitimatif.
Dicky: Tidak legitimatif ? Maksudnya ?
Adrian: Ada seorang personil 7 Icons yang sebenarnya tidak setuju dengan penandatanganan surat itu, tapi ia terpaksa harus menandatanganinya.
Dicky: Tidak mungkin. Semuanya menandatangani surat itu kok... emangnya siapa yang nggak setuju ?
Adrian: Mezty.
Dicky: Mezty tidak setuju ? Tapi dia tandatangan kok...
Adrian: Dia memang tandatangan, tapi apa kau masih ingat, ketika surat itu ditandatangani, Mezty sempat menahan dirinya untuk menandatangani surat itu ?
Dicky: Ya, dia memang sempat menahan diri untuk menandatanganinya... tapi kan akhirnya dia tandatangan juga...
Adrian: Itu setelah dipaksa oleh teman2nya yang lain yang menganggap Mezty membuat mereka terlalu lama menunggu. Mereka kan waktu itu hanya tinggal menunggu Mezty tandatangan dan setelah itu selesai, ya kan ?
Dicky: Benar juga sih... saya sempat lihat kalau Angel, PJ, dan yang lain wajahnya sudah kayak orang nggak sabar gitu, nungguin Mezty tandatangan... eh, dari mana kamu tahu ini semua ?
Adrian: Anak2 7 Icons sendiri yang cerita. Mezty juga. Beberapa saat setelah penandatanganan itu, Mezty keluar dari sekolah lebih dulu dan dia berjalan kaki di depan lapangan bola tempat saya dan teman2 saya sedang bermain bola. Saat itu saya dan teman2 saya curiga kenapa Mezty pulang sendiri. Saya lalu bertanya apa yang terjadi padanya dan dia memberitahukan kalau 7 Icons sudah bubar.
Dicky: Ya, memang waktu Mezty pulang duluan... setelah dia tandatangan, dia langsung membanting pulpennya dan lalu pergi keluar dari ruangan itu...
Adrian: Apa kau tidak mencium tanda2 kalau ia tidak menerima keputusan itu ?
Dicky: Sedikit sih... tapi aku nggak yakin juga kalau Mezty nggak setuju... saya soalnya langsung mempersiapkan surat itu untuk difotokopi. Tapi Mezty terima fotokopiannya kan ?
Adrian: Terima, tapi ketika ia bertemu denganku, ia langsung memberikannya padaku. Aku yang menyimpan surat itu. Dia merasa menyesal menandatangani surat itu dan dia berpikir kalau surat itu bakalan jadi beban untuknya. Jadi surat itu ia berikan padaku.
Dicky: Oh, begitu... jadi dia memang benar2 nggak terima dengan keputusan bubar itu ?
Adrian: Ya, bahkan dia berpikir masih ada jalan lain untuk menyelamatkan 7 Icons. Tapi dia tidak berani bilang karena ia khawatir pendapatnya bisa memperkeruh suasana. Masih ingat kan waktu itu 7 Icons lagi kacau2nya ?
Dicky: Iya sih... jadi dia sudah punya ide, tapi ia nggak berani bilang ?
Adrian: Ya. Itu baru terungkap dua bulan kemudian. Dia bilang itu di hadapan semua personil 7 Icons yang lain, dan jelaslah anak2 7 Icons kemudian jadi shock. Saya dengar itu kok...
Dicky: Dia baru dua bulan yang lalu bilang itu ? Ya, berarti itu sudah terlambat...
Adrian: Terlambat ? Memang. Tapi itu kemudian jadi awal yang baru buat mereka. Mereka kemudian sadar kalau semuanya sudah berjalan tidak baik untuk mereka. Hingga akhirnya, mereka menyatakan bahwa mereka kangen untuk tampil sebagai 7 Icons. Mereka sudah tidak bisa menahan ataupun menutupinya lagi.
Dicky: Kangen ? Jadi... mereka sekarang...
Adrian: Ya, 7 Icons sudah terbentuk kembali, dengan kesadaran mereka sendiri.
Dicky: Lalu, siapa yang mempersiapkan penampilan mereka ? Anda kan tahu sendiri kalau koreografer dan pelatih vokal mereka sudah ditarik oleh label...
Adrian: Itu gampang. Saya yang mempersiapkan penampilan mereka.
Dicky: Anda ? Anda yang mempersiapkan semuanya ?
Adrian: Ya, saya melatih dance dan vokal mereka... mereka sekarang sedang dalam masa training. Mereka kini dilatih lagi untuk dapat perform dengan baik lagi...
Dicky: Lalu bagaimana kau bisa menjadi pelatih untuk mereka ?
Adrian: Aku yang menawari mereka. Dua hari setelah mereka bubar, aku sempat menawarinya untuk menjalani semacam latihan yang hasilnya dapat mengembalikan perform mereka kembali. Tapi waktu itu mereka menolaknya. Belakangan, mereka memikirkan kembali tawaran itu, ketika mereka mengungkapkan bahwa mereka kangen untuk tampil kembali sebagai 7 Icons... mereka lalu mendatangi saya dan mengatakan kalau mereka akhirnya menerima tawaran itu. Dan setelah itu semuanya dimulai.
Dicky: Berapa lama latihannya ?
Adrian: Satu bulan.
Dicky: Hanya satu bulan ? Cepat sekali... dulu mereka butuh empat bulan untuk bisa tampil sebagai 7 Icons...
Adrian: Itu dulu, ketika mereka belum apa2. Sekarang, mereka sudah bisa segalanya, jadi latihannya hanya mengulang saja... satu bulan cukup... meskipun begitu, latihan mereka nanti akan terus berjalan.
Dicky: Well, that's good. Bagaimana progresnya ?
Adrian: Semuanya baik2 saja. Baca buku ini, (mengeluarkan buku catatannya dari saku jasnya) dan lihat apa progresnya. Semua catatan tentang latihan mereka ada di sini.
Adrian lalu memberikan buku itu pada Dicky. Ia lalu membaca buku catatan itu dari awal hingga halaman terakhir yang sudah ditulis. Dicky pun terperanjat melihat isi catatan tersebut. Semua catatan tentang latihan 7 Icons tersaji dengan detail di dalamnya... dan itu menggambarkan dengan jelas seperti apa peningkatan dan progres latihan mereka. Ia lalu menutup bukunya dan berbicara lagi pada Adrian.
Dicky: Wow... seperti mereka memang benar2 serius untuk tampil lagi... isi catatan ini bagus sekali...
Adrian: Itu sudah jadi tugasku untuk melaporkan semuanya. Saya harap kau menyukainya...
Dicky: Ini sih bukannya suka lagi... salut! Gila, semangat banget mereka latihannya...
Adrian: Mereka memang lagi semangat2nya... karena mereka memang berusaha untuk bisa tampil lagi...
Dicky: Wah hebat kamu... omong2, kamu punya pengalaman melatih seperti ini sebelumnya ?
Adrian: Belum. Tapi aku belajar dari orang lain. Yah, sebenarnya sebisa gw aja melatih... tapi dampaknya ternyata sebagus ini... ya gw sih bersyukur saja...
Dicky: Tapi kamu udah hebat nih... bisa melatih anak2 7 Icons sampai sejauh ini... kamu teman baiknya ya ?
Adrian: Ya, gw teman satu sekolahnya... sebenarnya gw masih anak baru sih...
Dicky: Anak baru ? Pindahan atau memang baru daftar di SMA Cambridge ?
Adrian: Pindahan. Gw dari Bandung.
Dicky: Bandung ? Padahal enak tuh tinggal di Bandung... kenapa pindah ?
Adrian: Ayahku naik pangkat di kantornya, dan dia pindah tugas. Makanya gw pindah ke sini...
Dicky: Oh... ayahmu memang kerjanya apa ?
Adrian: Ayahku jadi General Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi.
Dicky: General Manager ? Wah, hebat sekali ayahmu... apa dia juga suka 7 Icons juga ?
Adrian: Suka kok... ya, tapi nggak terlalu fanatik lah...
Dicky: Itu sih nggak masalah... kebetulan yang suka 7 Icons itu banyak... dari dewasa sampai anak kecil... dan sambutannya bagus kok... malah ada anak kecil umur dua tahun sudah tahu lagu Playboy...
Adrian: Serius ? Dia udah tahu lagu itu ?
Dicky: Angel yang ngasih tahu... saking suksesnya lagu itu...
Adrian: Aku juga dulu pernah ketemu sama anak SD... dia nanyain kapan 7 Icons tampil lagi... banyak yang kangen katanya...
Dicky: Saya juga sering dapat surat dari penggemar, SMS, BBM, dan lain sebagainya... mereka semua juga menanyakan hal yang sama... bahkan sampai hari ini masih ada yang ngirim hadiah pada mereka... sekarang semuanya menumpuk di gudang... sudah berkargo-kargo tuh hadiah mereka...
Adrian: Emangnya seberapa banyak sampai berkargo-kargo begitu ?
Dicky: Banyak banget... gudang kita sampai nggak cukup untuk menampungnya...
Adrian: Kirim saja ke basecamp mereka...
Dicky: Kan basecamp juga ditarik sama label...
Adrian: No, maksudnya kirim ke tempat latihan saya saja.
Dicky: Bawa ke tempat latihan kamu ? Emangnya cukup ?
Adrian: Tempat latihan saya itu sebuah flat. Ruangannya luas. Cukup untuk menampung semuanya...
Dicky: Ah, nggak usah lah... mending tetap di gudang label saja... nanti kalau misalnya kalian pergi dari flat itu dan pindah ke tempat lain, bagaimana nasib kargo2 itu ?
Adrian: Oh, ya. Kau benar. Flat itu hanya saya sewa selama satu bulan. Akan merepotkan apabila saya harus memindahkan semuanya kembali... baiklah, tetap di gudang saja. Apa saja isi hadiahnya ?
Dicky: Kita nggak pernah membukanya, jadi kita nggak tahu apa isinya... yang pasti, bukan bom... kita membiarkan para personil 7 Icons yang membukanya sendiri. Kita sudah mengelompokkan semua hadiah itu berdasarkan nama penerimanya. Kalau buat Angel, ya kita buat wadah dengan nama Angel, kalau untuk Linzy, wadahnya namanya Linzy... seperti itulah...
Adrian: Udah kayak kantor pos saja...
Dicky: Ya, begitulah... saking banyaknya sih...
Adrian: Hahahahaha... tapi para personil 7 Icons suka datang ke kantor label setelah mereka bubar ?
Dicky: Nggak tuh, nggak ada tanda2nya...
Adrian: Bukan karena terusir kan ?
Dicky: Nggak kok... 7 Icons tetap boleh masuk kok ke kantor label... cuma sampai saat ini mereka nggak pernah datang lagi...
Adrian: Oh, begitu...
Semakin malam, obrolan mereka semakin panjang saja. Sekarang sudah jam tujuh malam. Adrian dan Dicky kini ngobrol soal keadaan di label saat ini.
Adrian: Jadi, sekarang kegiatanmu apa, setelah nggak menjadi manager 7 Icons ?
Dicky: Gw sekarang jadi manager band... band-nya sih unik... ada empat orang, ada vokalis, ada basis, ada pianis, ada drummer. Nggak ada gitaris... tapi lagunya bagus... lagi nge-hits sekarang...
Adrian: Band nggak ada gitaris ? Beneran tuh ?
Dicky: Beneran... cuma pakai melodi dan piano doang... keren band-nya... sekarang lagi ngetop di radio2... dengerin aja... enak kok lagunya...
Adrian: Tapi masih kerenan 7 Icons kan ?
Dicky: Iya sih, sebenarnya... tapi band ini ada feel-nya... jadi enak gitu...
Adrian: Oh... nanti deh, kapan2 gw denger lagunya... terus, berarti kamu ngawal band itu show dong ?
Dicky: Ya pastinya lah... dari satu show ke show lain... gw kawal terus mereka... kagak ada berhentinya... syukurnya sih... jadwalnya nggak sepadat 7 Icons, jadi masih bisa santai lah...
Adrian: Emangnya 7 Icons jadwalnya padat banget ya ?
Dicky: Dulu padat banget... malah sampai mereka bubar pun mereka masih punya banyak jadwal acara... hanya saja sekarang sudah dibatalkan.
Adrian: Terus kamu bilang apa alasannya sehingga acara2 itu batal ? Mereka sudah bubar ?
Dicky: Nggak lah. Bakalan heboh se-Indonesia kalau kita bilang seperti itu... kita hanya bilang kalau sekarang 7 Icons sedang konsen dulu ke sekolahnya, lagi ada banyak tugas, seperti itulah... dan syukurnya, semua pihak mengerti. Walaupun kami juga sadar kalau kita itu berbohong pada mereka...
Adrian: Berbohong ? Jelas banget tuh... dan kalian begitu terus pada semua pihak, termasuk para Iconia ?
Dicky: Ya mau bagaimana lagi... hanya itu yang bisa kita lakukan. Kita nggak berani bilang yang sejujurnya, dan kita nggak mau mengecewakan mereka. Jadi hanya itu yang bisa kita lakukan...
Adrian: Maksudnya, kalian tidak ingin mengecewakan semuanya, termasuk Iconia, begitu ?
Dicky: Ya. Makanya setiap kali kita ditanya soal 7 Icons, kita akan cenderung menghindar. Kita berusaha sebisa mungkin mencegah agar jangan sampai ada orang di luar label yang tahu soal bubarnya 7 Icons. Dan selama tiga bulan ini, semuanya berjalan dengan sangat baik.
Adrian: Bagus deh kalau begitu... tapi nggak capek berbohong terus ?
Dicky: Sebenarnya sih demikian... tapi mau bagaimana lagi... ini sudah perintah pemilik label... jangankan aku, teman2 saya di label juga demikian... mereka bosan berbohong terus pada semuanya... mereka juga punya keinginan untuk berbicara yang sejujurnya soal ini... tapi mereka nggak bisa...
Adrian: Kenapa ? Takut dipecat ?
Dicky: Betul. Kita semua takut dipecat. Sebenarnya ini juga kalau seandainya ketahuan, dan gw dilaporkan ke pemilik label, bisa kacau semuanya... mungkin pekerjaan gw tinggal menghitung hari saja...
Adrian: Oh, begitu. Kalau boleh tahu, siapa sebenarnya pemilik labelmu ?
Dicky: Namanya... Bobby Soewandi. Dia orangnya sukses, mantan politisi, dan dia pecinta musik... dulunya pernah jadi penyanyi... tapi dia orangnya agak sedikit... temperamental, emosional, dan penuh ambisi. Kadang2 kita sering dimarahi sama dia kalau kita lagi malas2an... orangnya juga gila dengan wanita dan uang. Sekretarisnya harus yang cantik, pintar, dan berbodi bagus. Yah, rada2 Playboy gitu lah...
Adrian: Jadi Playboy itu buat menyindirnya ?
Dicky: Sedikit sih... tapi dia nggak merasa terganggu dengan lagu itu... yah setelah suksesnya lagu itu...
Adrian: Mungkin kalau lagu itu nggak sukses, baru dia merasa terganggu... hahahaha...
Dicky: Bisa jadi... tapi dia sejauh ini senang2 aja kok...
Adrian: Baguslah kalau begitu... apa dia sering di kantor ?
Dicky: Sering sih... tapi dia itu kan orangnya sibuk... jadi, dia nggak selalu juga ada di kantor...
Adrian: Oke... di kantor, kamu kerja dari jam berapa hingga jam berapa ?
Dicky: Nggak tentu sih... kadang sampai malam...
Adrian: No, biasanya jam berapa ?
Dicky: Dari jam tujuh hingga jam lima... kadang jam delapan baru masuk... tergantung ada kerjaan di luar atau tidak... kalau ada jadwal tampil di mana, nah baru nggak tentu waktunya...
Adrian: Oh, begitu... sekarang soal Pak Bobby lagi. Apa dia punya wakil ? Punya asisten, begitu ?
Dicky: Ada, namanya Roland Wijaya. Dia ini musisi handal dan partner bisnis Pak Bobby sejak awal... dia dan Pak Bobby yang membentuk label ini... dan dia sangat senang dengan 7 Icons sejak pertama kali mereka datang ke label dan menyampaikan proposalnya... dia bilang kalau 7 Icons itu potensial... dia yang pertama kali mendukung 7 Icons untuk menjadi artis di label ini...
Adrian: Oh, kalau Roland Wijaya aku tahu... kalau nggak salah, dia itu sering bekerjasama dengan penyanyi2 terkenal negeri ini, kan ?
Dicky: Betul sekali... dan karya2nya selalu bagus dan diterima baik oleh penggemarnya... selain itu ia juga produser dan pencari bakat penyanyi yang hebat. Banyak penyanyi2 yang telah ia orbitkan, bahkan jauh sebelum ia membentuk perusahaan label ini...
Adrian: Kalau boleh tahu, label ini berdiri sejak tahun berapa sih ?
Dicky: Belum lama kok... 2009 sudah jalan... tapi baru benar2 bekerja tahun 2010... artis pertama kita, kita orbitkan awal 2010. Jadi, masih baru banget...
Adrian: Kapan 7 Icons masuk ke label ini ?
Dicky: Kalau nggak salah... sekitar awal tahun ini deh... sekitar Januari... rekaman pertama bulan Februari.
Adrian: Sudah pernah ada girlband sebelumnya di label Anda ?
Dicky: Belum. Kita kan label rekaman baru...
Adrian: Jadi, 7 Icons adalah yang pertama ?
Dicky: Ya... dan sejauh yang gw dengar... mereka yang pertama terkenal...
Adrian: Maksudnya girlband pertama di Indonesia adalah 7 Icons ? (ceritanya)
Dicky: Ya. Setelah itu baru kemudian ada banyak girlband lain...
Adrian: Setelah 7 Icons menghilang, bukan bubar ya... apakah ada girlband lain yang mencoba untuk masuk ke label Anda ? Walaupun hanya sekedar proposalnya, mungkin ?
Dicky: Ada sih, beberapa... tapi kita masih belum menanggapinya. Kalau gw lihat juga... nggak ada yang konsepnya semenarik 7 Icons...
Adrian: Apa ada yang seperti Cherrybelle mungkin ?
Dicky: Ada sih... tapi wajahnya nggak terlalu imut... tahu Cherrybelle juga ?
Adrian: Tahu lah... denger2, ini girlband saingan 7 Icons ya ?
Dicky: Mungkin untuk kondisi saat ini, mereka lebih pantas disebut sebagai girlband pengganti daripada girlband pesaing... soalnya mereka hadir di saat 7 Icons menghilang dan tidak ada girlband yang hadir di acara musik. Gw bilang momen masuknya Cherrybelle pas banget...
Adrian: Emang pas banget... sekarang banyak yang ngefans sama mereka...
Dicky: Dan kalau gw bilang, fans mereka lebih banyak daripada 7 Icons... mereka itu lebih entertaining daripada 7 Icons... semuanya nyanyinya bagus, dance-nya bagus... dan mereka itu lebih terlatih... selain itu, mereka itu hasil audisi... jadi benar2 dipilih yang terbaik... dan hasilnya sekarang sukses banget...
Adrian: Audisi ? Oh, ya benar. Mereka pernah bilang seperti itu... mereka semua itu hasil audisi, yang kemudian dilatih lagi, dan sekarang hasilnya jadi bagus banget...
Dicky: Dan kalau melihat kesuksesan Cherrybelle sekarang, nanti, jika seandainya 7 Icons kembali lagi, bakalan ada pertarungan dua girlband besar di Indonesia... soalnya mereka inilah yang terbaik saat ini...
Adrian: Bakalan gila tuh kalau sampai kejadian...
Dicky: Makanya, kamu harus mempersiapkan 7 Icons lebih baik lagi. Kalau bisa, kamu harus buat 7 Icons jadi lebih baik daripada sebelumnya... supaya nanti kalau bertemu dengan Cherrybelle atau girlband2 lain, 7 Icons nggak kalah begitu aja... dan kalau bisa, lebih entertaining lagi dari sebelumnya...
Adrian: Itu salah satu tujuan training saya. Aku ingin 7 Icons lebih baik lagi daripada sebelumnya... dan kalau bisa, jadi lebih keren lagi perform-nya... itu tujuan saya...
Dicky: Sebetulnya 7 Icons sudah keren sebelum kejadian di World Studio itu... kalau misalnya dibuat lebih keren lagi... wah bakalan hebat tuh... anak2 7 Icons selalu berusaha untuk bisa menampilkan yang terbaik... dan gw tahu itu... gw sering hadir saat mereka latihan, dan mereka berlatih dengan sangat keras... semuanya demi penampilan yang terbaik. Gw sudah merasakan susah-senangnya mereka, dan sekarang kau juga.
Adrian: Bener banget... mereka itu selalu semangat kalau latihan... kadang2 sampai kalap... pernah saat saya latihan dengan mereka... mereka nggak berhenti latihan hingga dua jam, padahal gw udah suruh mereka istirahat... ampe gila2an tuh... akhirnya satu jam terakhir latihan udah pada nggak mau latihan lagi... capek berat... mereka itu semangatnya tinggi banget sih... jadi, kayaknya latihan seperti itu nggak kerasa capeknya...
Dicky: Mereka itu baru merasa capek kalau sudah selesai latihan... kalau belum selesai ya terus... lanjutkan hingga bener2 disuruh istirahat... padahal, kalau mungkin gw yang melakukan, kayaknya gw nggak kuat deh...
Adrian: Jangankan kamu... satu setengah jam aja gw udah nggak kuat... hahahahahaha...
Dicky: Gw malah lebih parah lagi... 30 menit latihan gw udah nggak kuat! Hahahahahaha...
Keduanya lalu tertawa bersama. Setelah puas tertawa, pembicaraan dilanjutkan dengan progres training dan apa yang akan dilakukan dalam training berikutnya. Disinilah misi Adrian dimulai.
Dicky: Sekarang progres latihan anak2 7 Icons bagaimana ? Maksudnya, berikutnya mau apa ? Training lagu Playboy sudah selesai kan ?
Adrian: Syukurnya sudah... hanya dalam waktu dua minggu. Gw hanya memperbaiki gerakan dan kekompakan aja... terus juga suara dan vokalnya... itu aja, mereka sih sebenarnya bisa, cuma perlu dilatih aja... biar lebih keren dan kompak, begitu...
Dicky: Terus, rencana berikutnya apa ?
Adrian: Nah, justru ini alasan gw pengen ketemu sama kamu. Rencananya, gw akan melatih 7 Icons untuk lagu2 lain... emang bener ya kalau 7 Icons sebenarnya punya banyak simpanan lagu ? Kata PJ banyak lagunya...
Dicky: Oh benar... 7 Icons itu punya banyak simpanan lagu. Tapi nggak dinyanyikan live. Hanya dinyanyikan di saat acara off-air. Bagus2 kok lagunya. Seharusnya kalau mereka nggak bubar, lagu2 itu akan disebar secara bertahap sebagai singel kedua, ketiga, dan seterusnya.
Adrian: Terus, setelah 7 Icons bubar, siapa yang memegang lagu2 itu ?
Dicky: Semua lagu2 itu jadi milik label dan disimpan di sebuah tempat khusus. Tapi, lagu2 itu tidak akan dipublikasikan, kecuali jika diperlukan.
Adrian: Kalau misalnya 7 Icons kembali, apakah lagu2 itu akan dipublikasikan lagi ?
Dicky: Oh, jelas... saya sudah bilang pada mereka, kalau lagu2 itu akan dipublikasikan lagi jika mereka sudah kembali... label sudah siap untuk itu.
Adrian: Lalu, di manakah tempat khusus untuk menyimpan sampel lagu2 itu ?
Dicky: Ada di kantor, bentuknya seperti brankas. Di situ tidak hanya lagu2 7 Icons saja yang tersimpan. Semua lagu artis2 label kami tersimpan dengan rapi di tempat itu...
Adrian: Oke, kalau begitu. Penjagaannya ketat nggak ?
Dicky: Lumayan sih... kamera CCTV di mana2... dimonitor terus selama 24 jam.
Adrian: Well, good. Apakah ada satpam yang menjaga dari dekat ?
Dicky: Tidak ada. Semua pakai kamera CCTV. Capek lah kalau pakai satpam. Kalau pakai CCTV, pasti semuanya akan langsung dimonitor dengan sangat baik. Kalau ada maling, pasti akan lebih cepat ketahuan...
Adrian: Apakah karyawan kantor bisa masuk ke dalam ruangan itu ?
Dicky: Bisa dong... semua karyawan kantor, termasuk saya, sering bolak-balik masuk ke dalam ruangan itu, untuk mengambil CD untuk perform... kita sudah punya stok yang banyak untuk disebar ke mana2...
Adrian: Hmmm... kalau begitu, maukah kau melakukan sesuatu untukku ?
Dicky: Sesuatu apa ?
Adrian: Mau nggak kamu ambilkan sampel lagu2 7 Icons itu ? Aku membutuhkannya untuk latihan. Bisa ?
Dicky: Wah kalau untuk itu sih saya nggak berani ambil... kalau saya lakukan itu, berarti saya mencuri... soalnya, untuk bisa masuk dan mengambil CD lagu2 itu... harus ada izinnya...
Adrian: Untuk kali ini, cobalah untuk sedikit melanggar peraturan. Bisa nggak ? Cuma mengambil CD doang... apa masalahnya ?
Dicky: Apa masalahnya ? Kalau misalnya ketahuan, gw bisa dipecat dan dilaporin ke polisi, tahu!
Adrian: Tapi saya yakin kau bisa masuk ke sana. Anda kan managernya 7 Icons, pasti kau bisa masuk ke sana dan mengambilkan CD-nya, ya kan ?
Dicky: Sekali lagi, saya bukan lagi manager-nya 7 Icons! 7 Icons itu sudah bubar!
Adrian: 7 Icons tidak bubar! Mereka sekarang sudah terbentuk kembali dan mereka sedang berlatih untuk bisa menunjukkan yang terbaik pada semua orang! Dan mereka butuh CD itu supaya mereka bisa berlatih!
Pembicaraan pun mereda sebentar setelah nada emosi Adrian muncul. Untuk beberapa detik, mereka berdua tidak berbicara. Tapi kemudian, Adrian berbicara lagi.
Adrian: Please, aku mohon padamu... ambilkan CD lagu2 itu. Mereka sangat membutuhkannya. Begitupun juga aku. Aku tidak akan kasih tahu apapun soal ini, asalkan Anda juga mau diam.
Dicky: (terdiam sebentar) Aku tetap tidak akan melakukannya. Itu pekerjaan beresiko, tahu nggak ?
Adrian: Tapi biarpun beresiko, hanya kamu yang bisa melakukan ini.
Dicky: Kenapa harus aku yang masuk ke sana dan mengambilkan CD itu buat kamu ?
Adrian: Karena kamu yang tahu soal seperti apa kantor tersebut... kau tahu luar-dalamnya, kau tahu ruangan2nya, kau tahu penjagaannya, kau tahu semuanya tentang kantor itu. Aku butuh orang yang benar2 tahu soal lokasi kantor itu, supaya saat dia mengambil CD itu, ia tidak kebingungan... dan menurutku, kau adalah orang yang pas untuk itu. Selain itu, kamu juga dekat dengan para personil 7 Icons. Bagaimana ?
Dicky: Jadi itu alasanmu ? Alasan yang bagus... tapi maaf, aku tetap tidak akan melakukan hal gila seperti itu.
Jawaban Dicky membuat Adrian hanya terdiam. Tapi Adrian tidak kehilangan akal untuk merayu Dicky. Ia sudah menyiapkan sebuah rencana lain untuk menggodanya. Trik setan ala Adrian pun keluar... ia mengeluarkan segepok uang senilai satu juta rupiah dari dalam jasnya. Ia lalu memainkan uang2 itu dengan tangannya. Uang itu masih bagus, isinya seratus ribuan, dan diberi pita kertas berwarna merah bergaris putih dengan tulisan "Satu Juta Rupiah" di salah satu bagiannya. Melihat Adrian memainkan uang itu, Dicky pun sedikit kaget. Mengetahui Dicky kaget, Adrian pun mengatakan sesuatu.
Adrian: Saya tahu Anda pasti akan kaget melihat uang ini... (sambil memainkan tangannya) jangan salah, saya sudah siapkan uang ini untuk mencairkan sikap keras Anda. Sebelumnya saya belum pernah melakukan hal seperti ini... mungkin setelah ini tidak akan lagi. Sekarang, mau atau tidak ?
Dicky: Oh, jadi begini cara Anda sekarang ? Mau menyogok saya ? Saya tetap...
Adrian: (memotong pembicaraan) Oh, saya tahu Anda pasti mau lagi... (lalu mengeluarkan lagi uang satu juta rupiah lainnya dari saku kanan jasnya) nih, saya kasih dua juta rupiah... mau atau tidak ?
Dicky: Tetap saya tidak akan mau... mau berapapun uang yang Anda kasih, saya tetap tidak akan mau!
Adrian: Oh, berarti Anda mau lagi... (mengeluarkan lagi uang satu juta rupiah dari dalam jasnya, kemudian menaruhnya di kursi) nih, sekarang saya sudah naikkan harganya. Tiga juta rupiah. Mau atau tidak ?
Dicky pun mulai sedikit kebingungan. Meskipun ia tetap tidak mau, tapi Adrian tetap menambah jumlah uangnya, membuat pendiriannya sedikit mulai goyah. Sementara Adrian, ia sangat santai sambil melihat ke arah Dicky. Adrian bisa membaca raut kebingungan dalam wajah Dicky. Akhirnya, Adrian pun mengeluarkan sebuah barang lagi dari dalam jasnya. Kali ini bukan uang, tapi sebuah buku bercover tebal berwarna hitam, dan sebuah pulpen. Ia lalu membuka buku tersebut. Apa yang akan Adrian lakukan berikutnya ?
Dicky: Itu apa lagi ?
Adrian: (melihat ke arah Dicky) Ini ? (sambil menunjukkan buku itu pada Dicky) Ini buku cek, temanku. Karena kamu masih bingung dengan apa yang ingin kamu putuskan, sekarang kita bermain trik Pep Guardiola. Tahukah kamu jika suatu hari, Pep Guardiola pernah ditawari sebuah cek kosong yang ia boleh isi dengan angka nominal berapapun oleh Federasi Sepakbola Qatar ? Cek itu ia boleh isi dengan angka berapapun, tetapi dengan satu syarat. Dia harus mempersiapkan para pemain Qatar untuk Piala Dunia 2022, di mana mereka akan menjadi tuan rumahnya. Kalau dari sekarang, berarti 11 tahun lagi. Sekarang, cerita yang sama, akan berlaku kepada Anda. Saya akan berikan cek kosong ini, pada Anda, dan kau boleh mengisinya dengan angka berapapun, asalkan kau mau mengambilkan CD lagu2 itu. Atau, kau boleh memilih, antara menulis uang di cek ini, atau terima uang tiga juta rupiah dari saya. Mau yang mana ?
Dicky pun jadi makin bingung untuk memilih. Adrian sudah memberi godaan yang sepertinya sudah cukup menyiksa batin dan pikirannya. Pandangan Dicky hanya tertuju pada uang yang ada di kursi itu dan buku cek yang dipegang oleh Adrian. Adrian hanya tinggal menyiapkan tangannya saja untuk menandatangani cek itu. Akhirnya, setelah lama memilih, Dicky memutuskan untuk menerima uang dari Adrian.
Dicky: Baiklah. Saya akan melakukannya. Saya akan terima uang darimu.
Adrian: Well done... good job. Berarti saya tidak akan tandatangan cek ini, dan kau terima uang yang ada di sini. (lalu memasukkan buku ceknya ke dalam jas)
Dicky: Tapi kau baru saja membuatku harus memilih sesuatu yang sulit, Adrian... setelah ini tolong jangan lakukan lagi!
Adrian: Aku tidak akan lakukan itu lagi kok... ingat apa yang tadi saya katakan... saya juga belum pernah melakukan ini, dan mungkin ini juga yang terakhir... jadi tenang saja.
Dicky: Jadi sekarang apa yang harus aku lakukan ?
Adrian: Aku ingin kau untuk pergi ke kantormu, ambilkan CD lagu2 itu, saya hanya minta satu CD per lagu. Semuanya yang merupakan lagu 7 Icons, ambil. Lalu bawa kemari. Itu saja.
Dicky: Apa kau juga mau berkas2nya 7 Icons ? Saya juga punya semuanya.
Adrian: Bawa semuanya yang dianggap penting. Aku akan menunggumu di sini.
Dicky: Baiklah. Terus bagaimana dengan tasku ?
Adrian: Akan kujaga disini. Sekarang kamu pergi saja, dan berhati-hatilah!
Dicky: Baik, Adrian.
Dicky pun kemudian berdiri dari kursinya dan langsung berlari meninggalkan Adrian. Tapi kemudian beberapa saat kemudian, ia kembali lagi menghampiri Adrian. Sepertinya ada sesuatu yang tertinggal.
Dicky: Eh, eh... soal uangnya bagaimana ?
Adrian: Soal uang mah gampang... nanti aja, setelah pekerjaan selesai. Sekarang ayo cepat pergi!
Dicky: Yaaah... ya udah deh kalau begitu... tapi nanti gw dapat uangnya kan ?
Adrian: Tenang, asal pekerjaan selesai, nanti gw kasih! Ingetin gw kalau perlu!
Dicky: Oke, gampang!
Dicky lalu berlari kembali, dan kali ini ia tidak kembali. Dia lalu berlari hingga pintu gerbang taman, dan kemudian menyetop taksi yang lewat dan meminta supirnya untuk membawanya ke kembali ke kantor label. Kali ini jalanan tidak macet lagi, jadi dia bisa tiba di kantor lebih cepat.
Sesampainya di kantor, Dicky pun langsung mencari akal agar dia bisa masuk ke dalam ruangan tempat penyimpanan CD lagu2 tanpa ketahuan oleh siapapun. Dia pun kemudian masuk ke dalam kantor dan kemudian bertemu dengan beberapa teman kerjanya. Dicky lalu meminta bantuan pada mereka. Ia menceritakan semua yang baru saja terjadi secara rahasia pada teman2nya di ruang kerjanya, termasuk soal 7 Icons yang sedang training untuk mempersiapkan penampilan baru mereka. Semua teman2 kerjanya pun langsung sangat senang dan kegirangan, tapi Dicky meminta mereka untuk tetap tenang. Dicky pun kemudian meminta bantuan pada mereka, untuk mengawalnya hingga ke tempat dimana CD lagu2 7 Icons yang lain disimpan. Mereka semua pun bersedia untuk memberikan bantuan. Dicky dan teman2nya pun kemudian mengatur siasat agar tidak ketahuan. Setelah siasat diatur, Dicky dan teman2nya langsung bergerak menuju ruang penyimpanan. Semuanya lalu membagi posisi. Dicky dan seorang temannya masuk ke dalam ruang penyimpanan dan yang lain menjaga agar tidak ketahuan. Sementara ada satu orang lain yang masuk ke ruang kontrol keamanan dan mengacaukan rekaman CCTV yang merekam ruang penyimpanan, selagi penjaganya sedang keluar untuk buang air kecil dan penjaganya yang lain tertidur. Setelah semuanya aman, Dicky dan temannya itu bisa memulai aksinya. Dicky langsung mengambil sebuah tas yang sudah ia siapkan dan memasukkan semua yang mungkin diperlukan oleh Adrian. Mulai dari berkas2, DVD yang berisi rekaman penampilan 7 Icons selama ini, dan yang terpenting, sampel lagu2 7 Icons. Ada lima lagu yang diambil, karena hanya itu yang ada, yaitu Tahan Cinta, Bidadari, Ku Menunggu, Astaga, dan Jealous. Tapi kemudian Dicky teringat kalau sebenarnya ada satu CD demo 7 Icons yang juga suka dinyanyikan kalau sedang acara off-air. CD demo itu berjudul Cinta Satu Malam, dan lagunya juga sudah selesai direkam. Ia pun kemudian juga memasukkan CD demo itu ke dalam tasnya. Setelah semuanya sudah masuk, Dicky dan temannya itu langsung keluar dari ruang penyimpanan dan seorang teman lainnya yang sudah siap di dekat pintu langsung menutup pintu ruang penyimpanan segera setelah Dicky dan teman2nya keluar. Dicky lalu diantar keluar oleh teman2nya lewat pintu belakang. Setelah ia keluar, Dicky langsung berlari keluar dari wilayah kantor dan menyetop taksi lagi untuk mengantarnya kembali ke Taman Menteng. Begitu ia sudah berada di dalam taksi, ia merasa sangat lega. Misinya sudah berhasil.
Dicky kembali ke Taman Menteng sekitar pukul sembilan lewat limabelas menit. Dia berlari sekencang mungkin, khawatir ada yang mengejarnya... dan ketika ia sampai di bangku taman tempat Adrian duduk, ia langsung menaruh tasnya di atas kursi dan napasnya terengah-engah. Adrian sendiri hanya duduk santai saja di bangku itu sambil membaca buku catatannya.
Adrian: Lho, kamu kenapa ? Sepertinya kamu habis dikejar setan...
Dicky: Sorry, gw takut gw dikejar polisi sob, takut gw...
Adrian: Lha, tapi kan nggak ada apa2 di sana... polisi nggak ada... mungkin patung polisi ada... (sambil melihat-lihat ke arah pemandangan yang ada di depannya)
Dicky: Sudah kamu jangan bikin aku ketakutan! Ini, semua yang kau mau... sudah saya sediakan... (sambil menunjuk ke arah tas besar yang sudah ia letakkan di kursi)
Adrian: Benarkah ? Di dalam tas ini ? (sambil menunjuk ke arah tas)
Dicky: Ya. Semuanya ada di situ... mulai dari berkas, DVD waktu mereka perform... semuanya ada...
Adrian: Sampel lagu2nya ?
Dicky: Ada di situ juga. Pokoknya, semua yang kamu butuhkan tentang 7 Icons ada di dalam tas ini...
Adrian: Benarkah ? Coba saya periksa dulu.
Adrian lalu memeriksa isi tas itu, dan perkataan Dicky benar. Di dalam tas itu terdapat berkas2 penting, beberapa DVD, dan yang terpenting, sampel lagu2 7 Icons. Adrian pun langsung tersenyum dan lalu menutup tasnya. Ia lalu berdiri dan menolong Dicky untuk berdiri (sejak tadi Dicky hanya duduk di tanah karena dia kelelahan). Adrian lalu mengucapkan sesuatu.
Adrian: Terima kasih. Terima kasih buat semuanya.
Dicky: Ehhh... sama2... maksudnya ini ada apa ya ?
Adrian: Buka tanganmu.
Adrian lalu mengambil uang tiga juta rupiah itu dan memberikannya tepat di tangan kanan Dicky.
Adrian: Ini uang yang gw janjikan buat kamu. Tiga juta rupiah, plus...
Adrian kemudian mengeluarkan lagi dua gepok uang satu juta rupiah lagi. Jadi, ia memberi uang lima juta rupiah pada Dicky. Dicky pun langsung kaget tiada habisnya.
Dicky: Aku kira duit kamu hanya tiga juta dan sisanya dalam buku cek...
Adrian: Nggak kok. Saya masih menyimpan uang, buat jaga2... lagipula, sebenarnya buku cek itu palsu...
Dicky: Apa apa ?! Buku ceknya palsu ?
Adrian: Ya iya lah... mana ada anak SMA yang pegang buku cek... beruntung kamu pilih uang, kalau kamu pilih cek, kamu dapatnya cek kosong!
Dicky: Hmmmph... (sedikit menahan marah) gw kira itu beneran... tapi terima kasih buat uangnya ya... eh, tapi kamu nanti ada uang untuk pulang ?
Adrian: Ada lah, di dalam dompet saya... uang yang ini gw baru tarik dari ATM... mana mungkin masuk dompet lah... dompet gw udah tebal ditambah lebih tebal lagi kan nggak mungkin... yang ada malah dompet gw jebol... ya kan ?
Dicky: Betul banget... hahahahaha...
Adrian: Hahahahahaha... baiklah, sekarang urusan kita sudah selesai, sekarang sebaiknya kita harus cepat2 menghilang sebelum ada orang yang tahu.
Dicky: Ya, kebetulan gw juga udah mau pulang nih... mau istirahat. Pokoknya, sekarang kamu sudah dapat apa yang kamu mau. Semua yang kamu butuhkan tentang 7 Icons ada di dalam tas ini.
Adrian: Bagus. Besok, saya akan langsung bawa ke tempat training.
Dicky: Oke deh... eh, omong2, tempat training 7 Icons di mana sih ?
Adrian: Ada di sebuah flat. English Flat. Letaknya dekat pelabuhan. Kalau kamu ada waktu, datang saja...
Dicky: Ya nanti saya usahakan kalau ada waktu... yang pasti sih nggak bisa sekarang... dua hari ke depan, band gw bakalan tampil lagi di sebuah acara musik... setelah itu, ada beberapa acara lain... padat deh untuk minggu depan... tapi gw akan usahakan untuk datang, kalau ada waktunya.
Adrian: Baguslah kalau begitu...
Dicky: Oh, ya. Satu lagi. Sampaikan salam saya untuk anak2 7 Icons. Tadi aku di kantor label banyak dibantu sama teman2, dan mereka semua senang dengan ceritamu. Mereka semua juga nggak sabar menanti 7 Icons untuk kembali lagi. Mereka juga kirim salam buat anak2 7 Icons. Sekalian juga, gw mau bilang, kalau gw itu senang banget jadi manager-nya 7 Icons. Gw selama ini jadi manager band terus... nggak ada asyik2nya meskipun band-nya asyik2. Pengalaman gw sebagai manager 7 Icons nggak bisa gw lupakan. 7 Icons adalah artis terbaik yang pernah saya manajeri. Mereka nggak ada duanya deh... nanti kalau bisa, kalau 7 Icons sudah siap tampil, kasih tahu saya ya... saya akan siap untuk datang.
Adrian: Oke, akan saya sampaikan, dan saya kabarkan. Salam balik untuk mereka. Sekarang, cepatlah pulang. Straight to your home. Now!
Dicky: Baiklah, Adrian. Terima kasih!
Dicky lalu pergi meninggalkan Adrian. Ia melangkah dengan cepat, dan dengan cepat juga ia menghilang di tengah kegelapan malam. Adrian hanya terdiam saja sambil melihat Dicky pergi dan kemudian menghilang. Setelah Dicky menghilang, Adrian pun kemudian mengambil tasnya dan pergi meninggalkan taman itu. Misi Adrian telah selesai, dengan sukses besar.
Di rumahnya, Adrian membongkar isi tas itu dan meneliti isinya. Ia membaca semua berkasnya, menonton DVD penampilan mereka, dan mendengarkan sampel lagu2nya. Dari situ, dia bisa membuat perencanaan mengenai seperti apa latihan akan dilakukan besok. Dia menulis semua yang ia rencanakan itu dalam buku catatannya. Setelah selesai, ia membereskan semua barang2 itu, memasukkannya kembali ke dalam tas, dan lalu bersiap untuk tidur. Besok akan menjadi hari yang baru dan penuh dengan banyak hal yang baru untuk masa training anak2 7 Icons. Mulai besok, masa training 7 Icons akan memasuki lembaran baru dengan hadirnya alat2 bantu ini. Adrian sudah tidak sabar menunggu hari esok dan ia pun terlelap dalam tidurnya dengan sangat cepat...
Itulah ceritanya. Sekarang Adrian sudah mendapatkan barang2 baru, berkat bantuan Dicky dan teman2nya. Kira2, akan seperti apakah latihan 7 Icons di hari2 berikutnya, setelah kehadiran lagu2 baru ini ? Apa lagi usaha dan cara Adrian untuk memperbaiki penampilan 7 Icons ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya... karena cerita ini akan berlanjut lagi ke bagian berikutnya, masih di part 15 Fanfiction 7 Icons. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15g)
Selasa, 16 Agustus 2011
Senin, 15 Agustus 2011
FANFICTION 7 ICONS (part 15e)
Remember, it's just a Fanfiction.
DAY 16
Setelah hari yang melelahkan di luar tempat training, anak2 7 Icons kembali lagi ke flat tempat latihan. Hari itu seharusnya latihan dance, tapi karena anak2 7 Icons masih kecapean gara2 bekerja seharian sebagai sukarelawan pengumpul sumbangan, akhirnya Adrian meniadakan latihan dance dan justru menggantinya dengan rapat bersama di ruang latihan vokal. Posisi kursi pun diubah, seakan mereka ini sedang menjalani rapat perkumpulan rahasia. Adrian dan anak2 7 Icons duduk dalam posisi melingkar di tengah permadani Persia mewah yang menutupi lantai ruangan itu... Adrian duduk sejajar dengan meja kerjanya, sementara anak2 7 Icons duduk melingkar dengan posisi mengikuti mata angin. Tepat di depan Adrian adalah Angel. Di kirinya ada PJ, dan di kanannya ada Linzy. Di kirinya PJ ada Vanila, dan di kanannya Linzy ada Mezty. Di kirinya Vanila ada Natly, dan di kanannya Mezty ada Gc. Ada jarak antara kursinya Gc dan Natly dengan kursinya Adrian. Di setiap kursi, ada mejanya (seperti kursi di kampus) dan di atas meja mereka ada sebuah buku kosong. Nggak tahu buku itu buat apa. Tugas untuk jadi notulen mungkin ? Nggak juga. Di belakang meja Adrian terdapat papan tulis dan ada tulisan di situ: BOARD MEMBERS MEETING. Adrian yang menulis kata2 itu sebelum memulai rapat. Di atas papan tulis terdapat lukisan Kenny Dalglish dan Steven Gerrard, sekedar mengingatkan saja. Tepat di atas tempat mereka duduk, ada sebuah chandelier berukir raksasa yang sangat indah. Posisinya tepat sejajar di atas titik tengah permadani mewah Persia itu. Tepat di dinding ruangan yang tepat berada di belakang tempat Angel duduk, ada sebuah jam berukir yang sangat indah tergantung di atasnya... sebuah jam raksasa yang diapit oleh dua orang malaikat dan diatasnya terdapat burung merpati yang dikelilingi oleh cahaya yang bersinar. Di bawah jam itu terdapat bola dunia yang sedang dipanggul oleh Atlas dan di sekelilingnya terdapat patung orang2 yang membawa bendera di setiap tangannya. Di sisi kiri bawah ukiran itu, tepat di atas orang2 pembawa bendera itu ada langit malam, dengan bintang dan bulannya yang bersinar, dengan latar perkotaan di bagian bawahnya. Sementara di sisi kanan bawahnya ada matahari yang bersinar dan awan2, juga dengan latar perkotaan di bagian bawahnya. Itu melambangkan siang dan malam. Malaikat2 itu membawa terompet, dan mereka berdua dikelilingi oleh awan dan masing2 salah satu tangan mereka memegang pita yang berisi tulisan Latin di dalamnya. Di bawah kaki Atlas terdapat sebuah ukiran yang sangat indah, memanjang dari kiri ke kanan jam, dan di tengahnya terdapat tulisan tahun pembuatan jam itu: 1945, dan ada angka Romawi XVII dan VIII di atasnya, dipisahkan dengan sebuah titik. Itu melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Terdapat tulisan kecil di bawah tahun 1945 itu yang menyatakan bahwa jam antik ini dibuat di Inggris, sebagai hadiah untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di kiri dan kanan malaikat yang mengapit jam itu mengikuti posisi dan arahnya, juga ada beberapa malaikat lain, diukir dalam ukuran kecil, dan mereka juga membunyikan terompet di tengah langit penuh awan. Tepat sedikit di bawah malaikat itu, terdapat kumpulan barisan bendera2 di dunia pada saat itu. Tepat sedikit di bawah jam itu, di sela2 antara malaikat dan jamnya, terdapat sebuah kotak kecil yang berpintu, bentuknya seperti pintu gerbang. Kalau jam menunjukkan jam tepat (contohnya jam 12 tepat, jam satu tepat, dan sebagainya), pintu ini akan terbuka dan akan muncul burung kukuk yang akan berkicau. Tepat di tengah bawah jam itu... tepat di atas bola dunia, ada sebuah kotak berpintu lagi... dan kotak ini diapit oleh seekor singa bermahkota dan seekor unicorn. Tepat di atas kotak berpintu itu ada mahkotanya dan sebuah ukiran yang mengapit mahkota itu. Di bawahnya terdapat pita, dan di sekeliling kotak berpintu itu ada pita lagi. Di pintunya terdapat empat ukiran: di kotak pertama dan keempat ada ukiran tiga singa, di kotak kedua ada ukiran singa, dan di kotak ketiga terdapat ukiran harpa. Kotak berpintu ini dihiasi menyerupai tanda kerajaan Inggris. Kalau jamnya tepat, maka setelah burung kukuk itu keluar dan berkicau, maka pintu kotak ini akan terbuka dan ada lonceng yang akan berbunyi sejumlah jam berapa pada saat itu. Suaranya loncengnya menyerupai suara lonceng Big Ben. Loncengnya berukir dan ukirannya sangat indah. Adrian memakai bunyi lonceng itu sebagai patokan untuk memulai rapat bersama itu. Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul tiga sore kurang satu menit. Tepat jam tiga, rapat akan dimulai, setelah bunyi lonceng tiga kali. Adrian terus melihat ke jam itu dan melarang semua peserta rapat untuk berbicara. Anak2 7 Icons pun jadi heran dan kemudian mereka semua melihat ke arah jam raksasa itu. Kenapa semua peserta rapat dilarang bicara ? Itu karena Adrian ingin mendengar bunyi detak jamnya. Dalam hatinya, Adrian menghitung detik2 menuju jam 3. Bunyi detak jamnya sangat kecil, dan hanya bisa terdengar jika semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam. Tak beberapa lama, jarum jam menunjukkan pukul 3 sore tepat, dan mulailah pertunjukannya. Pintu di kiri dan kanan jam terbuka, dan muncullah dua burung kukuk yang berkicau, kemudian disusul dengan terbukanya pintu yang ada di tengah bawah jam. Lonceng pun berbunyi tiga kali, disertai dengan bunyi terompet dari dua orang malaikat yang mengapit jam itu. Bunyi terompetnya juga tiga kali, sejumlah dengan jam pada saat itu. Saya lupa ngasih tahu kalau terompet yang dipegang oleh dua orang malaikat yang mengapit jam itu juga bisa berbunyi... ada mesin besar dan rumit yang ada di balik jam itu yang memungkinkan semuanya bisa terjadi. Selama lebih dari enampuluh tahun jam itu terawat terus... sehingga jam itu masih dalam kondisi terbaik. Setiap pagi, sebelum anak2 7 Icons dan Adrian datang ke flat ini, jam itu diperiksa oleh sekelompok orang yang dikirim khusus oleh pihak Kedutaan Besar Inggris. Berarti sebenarnya jam ini jam apa ya ? Spesial sekali jam ini... haha... baiklah, sekarang kembali lagi ke cerita. Setelah lonceng dan terompet berbunyi, berarti rapat sudah bisa dimulai. Adrian pun membuka rapat ini.
Adrian: Oke, karena terompet dan loncengnya sudah berbunyi, berarti rapatnya bisa dimulai. Maafkan aku karena telah bikin kalian menunggu lama untuk berbicara. Saya hanya mau memastikan kalau kita akan mulai rapat pada jam yang tepat. Nggak ada masalah kan ?
Mezty: Oh, nggak... nggak kok... jamnya bagus... hahahaha...
Adrian: Baguslah kalau begitu. Baiklah, selamat datang di rapat pengarahan training. Board Members Meeting. Hanya orang2 penting yang bisa ikut rapat ini, dan kitalah orang2nya...
7 Icons: Yeaaayyyy...
Adrian: Baiklah, rapat kali ini... akan membahas soal evaluasi training dan rencana training kita ke depan. Kebetulan saya baru punya ide ini tadi pagi, setelah tahu kalian kecapean setelah kerja jadi sukarelawan kemarin... dan gw juga berpikir kalau kita memang perlu evaluasi. Sekarang nih, kita langsung saja. apa pendapat kalian tentang training kita sejauh ini ? Siapa yang mau bicara duluan ?
Vanila: Akyu! Akyu! Kalau menurut akyu, training kita... menyenangkan banget!
Adrian: Oke, good... ada lagi yang lain ?
Mezty: Seru banget. Apalagi pelatihnya asyik...
7 Icons: Hahahahahaha...
PJ: Betul banget... pelatih kita nih... orangnya asyik...
Natly: Udah gitu... alat2nya juga keren... terus cara melatihnya juga asyik...
Adrian: Well, terima kasih... terima kasih... sebenarnya saya cuma melakukan tugas gw saja... gw soalnya sayang aja kalau misalnya kalian nggak tampil lagi...
Angel: Ya, kita memang lagi kangen untuk tampil lagi... nggak enak lama2 kalau cuma santai di rumah dan belajar di sekolah aja... semoga aja kali ini kangennya keterusan...
7 Icons: Aminnn...
Adrian: Hahahaha... harusnya bisa lebih... karena di luar sana masih banyak yang menunggu kalian tampil lagi... jujur saja, beberapa hari sebelum training ini dimulai... gw ketemu sama anak kecil...
Cerita pun langsung di-flashback ke beberapa hari yang lalu, jauh sebelum training dimulai... saat itu di sebuah halte bus di dekat sebuah kantor. Saat itu cuacanya hujan deras... penuh dengan genangan air di pinggiran jalan... Adrian berlari dengan kencang menerobos dinginnya cuaca dan guyuran hujan... untuk mencapai halte itu untuk sekedar berteduh. Ia memakai jaket Liverpool merah kesayangannya, topi Liverpool, seragam sekolah, sepatu sneakers Vans hitam, dan membawa tas postman merah dengan gambar burung liver di salah satu ujungnya. Beberapa saat kemudian ia tiba di halte itu, dan di halte itu sudah penuh dengan orang. Mereka semua juga sedang berteduh atau ada juga yang sedang menanti bus. Lantai halte itu sangat kotor dan becek, penuh dengan jejak sepatu para pejalan kaki atau orang yang sedang menunggu di sana. Adrian langsung membuka jaket dan topinya yang basah kuyup gara2 hujan deras. Tasnya juga basah, namun bukunya selamat, tidak ada yang kebasahan. Hanya saja jaket dan topinya yang basah bikin Adrian sedikit emosi. Ia pun langsung memeras jaketnya dengan penuh rasa emosi yang tinggi, seperti fans Liverpool yang kesal gara2 Liverpool kalah dalam pertandingan Premier League.
Adrian: Ah goblok! Jaket gw basah! Mana ini jaket kesayangan lagi... sial, sial...
Adrian lalu menjemur jaketnya di belakang kursi halte yang sedang kosong. Ia lalu duduk di kursi itu, sambil menaruh tasnya di atas pahanya. Topinya ia taruh di atas tasnya. Meskipun tasnya basah ia tidak peduli. Ia nggak mau menaruh tasnya di lantai halte karena becek. Karena jaketnya dibuka, seragam sekolahnya terlihat, dan itu langsung diketahui oleh seorang anak SD yang sejak tadi duduk di kursi halte itu untuk menunggu bus yang akan mengantarnya (ceritanya busnya nggak datang2 dari tadi). Anak SD itu memakai baju seragamnya, kemeja putih dan rok kotak2 biru-merah, dan rompi kotak2 dengan warna yang sama dengan warna roknya. Di rompinya ada tanda kerajaan. Ia pasti berasal dari sekolah swasta. Anak SD itu dengan polos bertanya pada Adrian.
Ella: Kakak... kakak anak SMA Cambridge ya ?
Adrian pun langsung kaget mengetahui anak itu tahu asal sekolahnya.
Adrian: Ya, saya anak SMA Cambridge. Kok adik tahu ?
Ella: Tahu lah, soalnya kakak pakai jas yang ada tanda kerajaannya...
Adrian lalu melihat ke logo sekolah yang ada pada jasnya... ia lalu mengangguk pada anak itu.
Adrian: Oh, iya ya... (tertawa) kalau boleh tahu, nama adik siapa ?
Ella: Namaku Ella.
Adrian: Kamu kelas berapa ?
Ella: Aku kelas enam SD.
Adrian: Wah, sebentar lagi kamu masuk SMP dong... udah mulai cari2 sekolah belum ?
Ella: (menggeleng2kan kepalanya) Belum, kak...
Adrian lalu tersenyum pada anak itu. Wajahnya yang tadi penuh emosi kini mencair jadi penuh senyum. Ia lalu memegang bahu anak itu.
Adrian: Kamu pulang sekolah ya ?
Ella: Iya. Tapi aku habis les dengan teman2ku...
Adrian: Kamu nggak dijemput orangtua kamu ?
Ella: Nggak. Aku biasa pulang naik bus...
Adrian: Jadi kamu sendirian ? Nggak takut kenapa-napa ?
Ella: Nggak kok. Aku udah terbiasa...
Adrian: Bagus deh kalau begitu...
Ella: Kakak juga baru pulang sekolah ?
Adrian: Iya. Harusnya aku langsung pulang, tapi aku mampir dulu ke mal...
Ella: Ngapain kakak di mal ?
Adrian: Lihat2 barang sama beli buku baru. Adik suka baca ?
Ella: Suka dong, kak...
Adrian: Suka novel ?
Ella: Nggak. Aku lebih suka komik.
Adrian: Komik apa ? Komik Jepang ?
Ella: Iya...
Adrian: Sukanya komik apa ?
Ella: Doraemon...
Adrian: Saya juga suka komik itu... rumah kamu di mana ?
Ella: Di perumahan... jauh sih dari sini...
Adrian: Ya, di mana letaknya ?
Ella: Green Garden... di Jakarta Barat... kalau kakak di mana ?
Adrian: Di Golden Paradise... rumahnya di situ mewah2... tapi harus jalan kaki dulu kalau mau masuk ke perumahannya... soalnya perumahannya di pinggiran kota...
Ella: Aku juga di pinggiran kota kok... dari sini aku naik bus habis itu aku jalan kaki juga...
Adrian: Jalan kaki juga ? Jauh nggak ?
Ella: Lumayan sih kak... kalau kakak berapa jauhnya ?
Adrian: Aku 500 meter. Kamu ?
Ella: Hampir satu kilometer...
Adrian: Satu kilometer ? Gila...
Ella: Tapi satu kilometer itu sudah masuk perumahannya... jadi aman2 saja...
Adrian: Oh, begitu...
Adrian dan Ella lalu berhenti bicara sebentar. Ella mengambil botol minuman dari tasnya dan minum. Sementara Adrian berdiri sambil memeriksa jaketnya yang sudah mulai perlahan mengering. Hujan sendiri sudah mulai mereda, namun guyurannya tetap masih ada. Hanya saja intensitasnya lebih ringan daripada sebelumnya. Setelah mengecek kondisi jaketnya yang masih dijemur, Adrian lalu duduk lagi sambil menunggu hujannya benar2 berhenti. Tiba2, Ella mengajaknya bicara lagi.
Ella: Eh, kak... kakak kan sekolah di SMA Cambridge... berarti kakak kenal dong sama 7 Icons...
Adrian jelas tersentak ketika mendengar kata "7 Icons" yang keluar dari mulut Ella. Dalam hatinya, ia bertanya, "Dari mana anak ini tahu 7 Icons ?". Tapi ia menjawab pertanyaan itu.
Adrian: Oh, ya. Saya kenal dengan mereka. Kebetulan saya teman dekat mereka. Ada apa ?
Ella: Bisa nggak sampain salam mereka ? Sekalian tanyain... kapan mereka tampil lagi ? Gw udah kangen nih melihat mereka tampil lagi...
Adrian: Iya deh, nanti aku sampaikan... saya juga kangen lihat mereka tampil lagi...
Ella: Omong2 mereka pada ke mana sih ? Apa mereka menghilang atau gimana ?
Adrian: Mereka semua lagi sibuk sayang... ada urusan yang harus mereka lakukan, dan itu sangat mendesak. Mereka tak bisa menolak urusan ini...
Ella: Emang sebegitu pentingnya ya sampai lama banget ?
Adrian: Ya, begitulah... yang pasti untuk urusan ini... mereka harus pergi jauh untuk melakukannya... mereka nggak bisa menunda lagi, dan memang ini sudah harus mereka lakukan...
Ella: Emangnya mereka pergi ke mana, kak ? Kasih tahu dong...
Adrian: Aku juga tidak tahu... mereka itu pergi ke tempat yang jauh sekali... persisnya di mana aku nggak tahu... kalau misalnya aku tahu, aku pasti akan kasih tahu pada kamu kok...
Ella: Oh... tapi kalau misalnya suatu saat nanti ketemu, kasih tahu ke mereka ya... kapan mereka tampil lagi... soalnya disini banyak orang yang kangen pengen lihat mereka tampil lagi... aku mohon ya...
Adrian: Pastinya, Ella. Akan aku lakukan.
Ella: Janji ya kak... ini serius lho...
Adrian: Tenang kok, kakak janji...
Tidak lama, datanglah sebuah bus kota berwarna putih. Bus itu adalah bus yang sudah ditunggu oleh Ella. Ella langsung berdiri dari kursinya dan lalu berlari masuk ke dalam bus itu. Ia tidak sempat berbicara apapun pada Adrian karena ia harus buru2 mengejar bus. Adrian pun merasakan bahwa ia punya tanggung jawab besar untuk mengatakan hal ini, atau menceritakan ini pada anak2 7 Icons. Ia juga sedikit bersalah karena ia telah berbohong soal keberadaan 7 Icons saat ini. Tapi di balik itu semua, Adrian sadar kalau sedang menerima sebuah tanggung jawab dan amanat besar dari para fans 7 Icons. Selang 15 menit setelah bus itu pergi, hujan benar2 berhenti, dan Adrian pun kemudian pergi dari halte itu. Cerita flashback Adrian selesai dan situasi pun kembali lagi ke ruang latihan vokal. Saya mau kasih tahu satu hal kalau di dinding samping ruang latihan vokal ini, terdapat sebuah lemari penyimpanan besar, yang merupakan replika dari Badminton Cabinet, yang sengaja diletakkan di ruangan ini. Lemari itu besar sekali, dan ukurannya lebih tinggi daripada tinggi personil 7 Icons dan juga Adrian, dan penuh dengan ukiran. Di kiri-kanan Badminton Cabinet ini ada dua buah sofa berwarna putih yang mengapit lemari besar ini. Sekarang kita kembali ke cerita.
Anak2 7 Icons mendengar cerita Adrian tersebut, dan mereka semua sangat tersanjung. Mereka kini sadar masih ada yang suka dengan mereka. Mereka pun jadi semakin bersemangat.
Angel: Wah, bagus banget ceritanya... aku jadi tersanjung lho...
Linzy: Sama, aku juga... ternyata, masih ada juga yang ngefans sama kita...
PJ: Betul banget... sepertinya kita nggak salah ambil tawaran ini lama2...
Adrian: Ya kan sebenarnya tawaran itu gw buat karena masih ada orang yang seperti Ella... you should be grateful for that...
Gc: Kalau untuk itu sih... kita nggak hanya grateful lagi... feel blessed rasanya...
Vanila: Betul sekali... bersyukur abis!
Angel: Eh, omong2, kamu ketemu anak itu di mana, Adrian ?
Adrian: Di halte... halte bus...
Angel: Ya, maksudnya halte bus yang mana ?
Adrian: Oh... waktu itu gw sempat lihat haltenya sebelum gw pulang... kalau nggak salah... Halte St. Nikolai.
Angel: Halte St. Nikolai ? Emangnya ada ? Dekat gereja ya ?
Linzy: Nggak, Angel... kalau nggak salah, di dekat halte itu, ada patungnya...
Adrian: Patung Tsar Nicholas II. Hadiah dari pemerintah Rusia.
Angel: Emangnya dia saint ?
Adrian: Saint, sebagai martir. Tapi ada juga yang bilang mereka hanya sekedar penganut keyakinan. Dia dan keluarganya dibunuh oleh kaum revolusioner Rusia, dan oleh Gereja Rusia ia dianggap sebagai martir, sekitar beberapa tahun yang lalu. Kalau tidak salah, kedutaan besar Rusia membeli sebidang tanah untuk dijadikan taman. Di taman itu kemudian dibangun sebuah patung. Seperti itulah ceritanya... (ini cuma cerita saja kalau ada patung Tsar Rusia di Jakarta... nanti akan ada banyak kejutan lain di cerita ini, oke ?)
Angel: Oh, patung itu... ya, aku pernah lewat... tapi sudah lama sih... jadi aku agak lupa2 ingat soal itu...
PJ: Terus kamu pernah nggak datang ke halte itu lagi dan ketemu lagi sama anak itu ?
Adrian: Saya dulu sempat datang ke halte itu lagi... tapi aku nggak ketemu dengan anak itu lagi... mungkin busnya lebih cepat datangnya ?
PJ: Tapi dia suka nunggu di situ kan ?
Adrian: Katanya sih... soalnya aku nggak banyak nanya lagi sama dia...
Angel: Berarti mungkin suatu saat kita harus datangi dia... kalau misalnya itu memang halte tempat ia biasa menunggu bus, berarti kita bisa aja ketemu dengannya kapan saja...
Natly: Asalkan kita tahu jam berapa dia pulang dan berapa lama ia menunggu di halte itu.
Angel: Betul banget, Natly... mungkin kita perlu tanyain kali ya...
PJ: Ya kalau misalnya bisa ketemu... kalau nggak... ya mau gimana ?
Angel: Ya, semoga saja kita bisa ketemu sama dia... kayaknya dia itu sayang banget sama kita...
Mezty: Mungkin sudah bukan kayaknya lagi, itu sudah dipastikan... dia sampai nanyain kapan kita tampil lagi... tenang, pokoknya nanti begitu kita mau tampil lagi, kita kasih tahu deh sama dia...
Vanila: Pastinya... harus kita kasih tahu...
Gc: Kalau bisa kita juga kasih surprise ke anak itu...
Angel: Itu sih sudah pasti, Gc... pokoknya, kedatangan kita nanti nggak akan dia sangka2 deh...
Gc: Sip deh...
Adrian: Gw juga kepikiran soal surprise itu... gw sependapat kalau perlu dibikin surprise... tapi soal rencananya... gw nggak tahu deh kayak gimana... masih perlu dipikirkan...
Angel: Kalau itu sih gampang... berjalan saja... lagipula kalau sudah urusan rencana yang seperti itu... itu urusan kita... gampang saja...
Adrian: Bagus deh... sepertinya rencana kita buat evaluasi training kita malah melenceng gara2 gw cerita dan kita ngobrolin soal itu... begini saja, kita coba kembali ke pembicaraan awal... langsung saja. Kalian sudah puas dengan masa training kita saat ini ?
7 Icons: Puas!!!!!!!
Adrian: Bagus. Apa ada yang perlu diperbaiki untuk training ini ?
Angel: Mungkin lebih lama lagi aja kali ya waktunya...
Linzy: Atau mungkin alat canggihnya ditambah lagi...
PJ: Permainannya tambah lagi dong...
Natly: Kalau bisa kita sering2 latihan di sini. Lama2 gw juga suka berada di sini...
Mezty: Sama, gw juga... tapi gw juga minta biar semuanya lebih ditingkatkan saja...
Vanila: Kalau bisa saat istirahat kita belajar ngelawak! Biar kita semua bisa melawak di sela2 kita tampil...
Angel: Eh, betul banget! Gw juga mau tuh...
PJ: Gw juga... boleh nggak nih, Adrian ?
Adrian: Hahahahaha... usulmu diterima! Gw juga kepikiran pengen ngasih pelajaran melawak di saat istirahat... baru gw ingat kalau pelatih vocal group saya juga suka melawak kalau istirahat latihan... katanya untuk menambah motivasi sekaligus mengurangi rasa tegang... saya pernah baca catatan itu... mungkin di training berikutnya akan saya ajarkan gimana caranya melawak yang asyik, sekaligus saya akan kasih beberapa jokes yang ringan, tidak menyinggung, tapi bikin tertawa. Mau ?
Vanila: Akyu mau! Akyu mau!
Gc: Aku juga mau... tapi yang paling semangat kayaknya PJ deh...
PJ: Oh, pastinya dong... mau banget...
Linzy: Aku juga mau kok... yang lain pasti juga mau kan ?
Natly: Pastinya dong...
Angel: Jangan ditanya deh... semua pasti mau...
Mezty: Aku juga... lumayan buat nanti siaran di radio...
Adrian: Kalian bisa pakai untuk apa saja. Itu yang terpenting. Oh, ya Gc, punya usulan untuk training berikutnya ? Hanya dia yang belum ngasih masukan lho...
Gc: Ummm... kalau bisa sih, kita latihan di luar juga... di sekolah mungkin ? Atau di tempat lain ?
Adrian: Sudah direncanakan. Setelah sebulan latihan ini berjalan, kalian akan kembali berlatih di sekolah seperti dulu. Tes akhir juga dilakukan di sebuah tempat yang dirahasiakan. Tenang saja.
Angel: Tes akhir ? Maksudnya ?
Adrian: Kalian akan dibawa ke suatu tempat untuk tes akhir. Anggap saja ini ujian akhir masa training. Aku ingin lihat apakah kalian sudah benar2 siap atau tidak. Kekhawatiran saya adalah... kalian sudah bagus saat training... tapi begitu dihadapkan pada keadaan sebenarnya, kalian jadi grogi. Tujuannya hanya itu. Untuk memastikan kalian benar2 siap. Itu saja.
Linzy: Kapan tes akhirnya ?
Adrian: Akhir masa training ini. Tepat satu bulan masa training. Kalian akan menjalani beberapa kali tes simulasi akhir, semacam try-out, pada hari2 terakhir, dan... setelah itu kalian libur sehari, dan pada hari ke-30, kalian akan menjalani tes akhir. Semua sudah direncanakan. Ada dalam catatan ini. (sambil menunjuk buku catatannya)
PJ: Tempatnya di mana ?
Adrian: Rahasia. Sampai sekarang bahkan saya belum menentukan. Tapi yang pasti, tempatnya bukan di sini.
PJ: Jadi ini semacam tes rahasia, begitu ?
Adrian: Betul sekali. Yang perlu kalian lakukan hanyalah bersiap-siap saja...
Mezty: Training tetap lanjut kan setelah itu ?
Adrian: Ya, tapi kondisinya seperti kalian dulu latihan saja... training sebenarnya sudah berakhir setelah tes akhir itu. Setelah training ini selesai, kalian semua jalan sendiri. Aku hanya mengawasi saja.
Natly: Jadi setelah ini selesai, kita akan jalan sendiri, seperti dulu ?
Adrian: Yap, betul sekali. Tapi jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi ya...
Natly: Pastinya nggak dong...
Angel: Oh, nggak bakal... kita semua pasti akan berubah kok...
PJ: Kita bakalan beda dari sebelumnya...
Gc: Beda banget... 7 Icons yang dulu dan yang sekarang... bakalan beda banget!
Adrian: Optimisme yang bagus. Aku suka itu. Pokoknya setelah ini, kalian akan jadi 7 Icons yang berbeda dari sebelumnya. Aku janji. Asalkan kalian mau semangat dan lebih semangat lagi menjalani training ini.
Angel: Kita pasti bakalan tetap semangat... soalnya sekarang kita sadar kalau banyak orang yang masih mendukung kita... betul kan teman2 ?
7 Icons: Betul!!!!!!!
Adrian: Bagus deh kalau begitu... baiklah, sekarang kita masuk topik baru. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya dengan training ini ? Masih ada beberapa hari sebelum tes akhir.
Angel: Kalau boleh usul sih, kita latihan untuk lagu2 lain...
Adrian: Kalian masih punya stok lagu lagi ? Nggak hanya Playboy ?
7 Icons: Ya jelaslah kita punya...
PJ: Kita punya lagu nggak hanya Playboy... sebelum kita jadi seperti ini, kita sudah merekam kurang lebih lima lagu, dan semuanya sudah siap untuk dirilis dalam album kita...
Adrian: Lagu2 itu judulnya apa aja ?
Angel: Tahan Cinta, Bidadari, Ku Menunggu, Astaga, dan Jealous.
Adrian: Oh... tapi kayaknya ada recycle-nya deh...
Linzy: Ku Menunggu dan Astaga itu recycle. Sisanya semua lagu baru...
Adrian: Wah, sepertinya bakalan asyik lagunya... kalian pegang sampel lagunya ?
Angel: Nggak... semua jadi milik label... itu sudah bagian dari surat pembubaran kita dulu...
Adrian: Waduh, bagaimana mengambilnya ya ? Kalian punya mp3-nya nggak ?
PJ: Kita nggak punya... sudah perjanjian dengan label saat kita bubar, untuk menghapus semuanya... jadi kalau mau mendapatkan sampel lagu2nya, harus ke label dulu... dan itu nggak bakal mungkin dibolehin...
Adrian: Pasti ada cara untuk bisa mendapatkannya... (berpikir sebentar) oh, bagaimana dengan manager kalian ? Masih berhubungan baik dengannya ?
Angel: Kak Dicky ? Masih kok... emangnya kenapa ?
Adrian: Saya punya ide. Bagaimana kalau kita manfaatkan manager kalian untuk mengambil sampel lagu2 itu. Bagaimana ?
Angel: Maksudnya ?
Adrian: Kita akan minta bantuan manager kalian untuk mengambil lagu2 itu... bukan kita yang masuk dan mengambil lagunya, tapi dia yang akan mengambilkan sampel lagu2 itu untuk kita... bagaimana ?
Mezty: Wah, hebat banget! Gw suka itu!
Gc: Keren triknya! Boleh... boleh...
Angel: Keren sih keren, Gc... tapi itu sama saja menyuruh manager kita untuk mencuri... kalau ketahuan bagaimana ? Ujung2nya kita juga yang kena...
Linzy: Betul... gimana kalau sampai dilaporin ke polisi... bisa2 kita nyanyi Playboy di Cipinang deh...
Natly: Tepat banget... kita malah nggak jadi perform lagi deh...
Adrian: Tenang. Untuk urusan ini, gw yang urus. Gw akan bicara dengan manager kalian.
PJ: Beneran nih, Adrian ? Emangnya kamu bisa ?
Adrian: Serahkan semuanya padaku. Aku nggak akan libatkan kalian soal ini... dan aku akan lakukan ini semua sendiri. Yang aku butuhkan hanya nomor handphone manager kalian dan waktu.
Vanila: Wah, berani sekali kamyu...
Mezty: Gila... berani banget... hebat...
Adrian: Kenapa saya berani melakukan ini ? Karena gw yakin, gw bawa tujuan baik untuknya. Dia pasti juga ingin sekali melihat kalian tampil lagi. Dia pasti tahu kalau seandainya kalian sedang berjuang untuk bisa mengembalikan perform kalian kembali, kalian butuh banyak bahan untuk melakukannya. Saya yakin, dia pasti akan mau melakukannya untuk kalian. Percayalah itu. Aku akan cerita padanya tentang semua yang telah kita semua lakukan... dan mudah2an ia mengerti.
Angel: Yah, semoga... oke, aku bisa mengerti maksud kamu dan cara kamu nanti akan melakukannya. Kebetulan, gw masih menyimpan nomor handphone dan pin BB managerku. Kita semua punya nomor ini dan secara khusus kita akan berikan nomor ini buat kamu.
Adrian: Terima kasih.
Angel: Tapi ada satu syarat. Jika seandainya ini semua ketahuan, jangan libatkan kami semua. Mengerti ?
Adrian: Mengerti.
Angel lalu menuliskan nomor handphone dan pin BB managernya dalam secarik kertas kecil. Sesudah ia menuliskannya, ia lalu berdiri dari kursinya dan lalu menyerahkannya pada Adrian. (nomor handphone dan pin BB-nya dirahasiakan, tapi ada di dalam kertas itu) Adrian lalu mengeluarkan Blackberry-nya dan lalu menekan tombol untuk memasukkan nomor tersebut. Sesudah ia menekan tombolnya, ia lalu terdiam sebentar, dan secara tiba2 ia menekan tombol "call" (dilambangkan dengan logo telepon berwarna hijau) dan menempelkan handphone itu ke telinganya. Anak2 7 Icons pun langsung kaget mengetahui kalau Adrian akan langsung menelepon manager mereka. Selang beberapa saat kemudian, muncul tanggapan yang terdengar dari speaker telepon.
Dicky: (dari balik telepon) Halo ?
Adrian: Halo, saya Adrian Susanto. Apa benar ini Dicky ?
Dicky: Ya, saya sendiri. Ada apa ?
Adrian: Bisa ketemuan suatu saat nanti ?
Dicky: Ketemuan ? Bisa. Sekarang juga bisa. Ada apa ya ?
Adrian: Saya ingin bicara dengan Anda. Ini soal 7 Icons.
Dicky: 7 Icons ? Maksudnya ?
Adrian: Nanti akan kujelaskan saat kita bertemu. Anda di mana sekarang ?
Dicky: Saya ? Saya lagi di kantor... ada apa ?
Adrian: Bisa datang ke Taman Menteng sore ini ?
Dicky: Bisa... jam berapa ?
Adrian: Jam... (melihat jam raksasa yang ada di depannya) jam 6 sore.
Dicky: Baik, jam 6 sore... saya bisa datang... kalau boleh tahu, Anda siapa ya ?
Adrian: Datang dulu, baru aku jelaskan. Jam 6 sore, Taman Menteng. Jangan terlambat.
Adrian lalu menutup teleponnya, membuat Dicky tak sempat membalas. Adrian lalu menaruh Blackberry-nya di atas meja dan meremas kertas yang berisi nomor telepon dan pin BB itu. Anak2 7 Icons masih kaget mengetahui rencana nekat nan gila ala Adrian itu.
Angel: Jadi kamu ingin langsung bergerak sekarang ?
Adrian: Soalnya dia bilang bisa ketemuan hari ini, ya sudah... kita kan harus bergerak cepat.
Angel: Tapi gw nggak nyangka kalau kamu bergerak secepat ini... tapi dia serius ada waktu kosong hari ini ?
Adrian: Dia sendiri yang bilang... saya nggak bisa bohong...
PJ: Tumben dia punya waktu kosong seharian... biasanya, dia itu orangnya sibuk banget...
Adrian: Seberapa sibuk dia ?
PJ: Sibuk banget... di kantor lah, di restoran lah, di panggung lah... semuanya deh... sibuk banget...
Adrian: Apa mungkin setelah tidak lagi jadi manager kalian, ia jadi nggak terlalu sibuk ?
PJ: Mungkin saja...
Adrian: Oke... baiklah, sekarang setidaknya kita sudah setengah jalan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Sekarang tinggal bagaimana melanjutkan perjalanan kita ini... sore ini, setelah rapat ini selesai, gw akan langsung ke Taman Menteng untuk bertemu dengan manager kalian. Mudah2an dia mau datang. Kalian pulang saja ke rumah, dan berharap yang terbaik. Mulai nanti sore, saya yang akan bekerja. Kalian sudah terlalu banyak bekerja keras, jadi kalian lebih baik beristirahat dan tunggu hasilnya besok. Mudah2an semua bisa berjalan dengan baik.
7 Icons: Aminnnn...
Adrian: Oke, good. Sekarang... (melihat lagi ke arah jam raksasa) masih ada... sekitar 45 menit lagi menuju jam lima. Apa ada lagi yang mau dibicarakan ?
Angel: Soal rumah... sudah ada hasil ?
Adrian: Rumah ? Oh, sudah ada kok, hasilnya... setiap hari gw tanya Rizky, Andi, sama Rico, mereka bilang, sudah menemukan beberapa rumah yang mendekati dengan kriteria kalian... sekarang mereka masih mencari rumah2 lain... tapi soal detailnya, masih ada di tangan mereka... mereka sudah punya foto dan informasinya, tinggal dicetak dan dikasih ke gw. Setelah itu, nanti aku kasih ke kalian deh...
Angel: Yah, bagus deh... di kawasan mana rumah2nya ?
Adrian: Di Jakarta Barat banyak tuh... Jakarta Selatan juga banyak... gw cuma suruh mereka mencari di sekitar daerah itu saja...
Angel: Bener kan kata gw ? Di daerah itu memang banyak...
Adrian: Mereka juga baru tahu... kenyang tuh, setiap hari dapat banyak info rumah... nanti deh, aku akan kasih tahu semuanya ke kalian nanti... aku kasih waktu pada mereka satu minggu... jadi baru minggu depan kalian bisa mulai memilih... kalian siapkan saja apa kriteria kalian, nanti tinggal disamakan dengan hasil pencarian mereka... gampang kan ?
Angel: Oke, sip deh... nanti biar kita semua yang pilih...
Adrian: Good.
Beberapa menit kemudian, jarum jam di jam raksasa menunjukkan pukul setengah lima sore kurang tiga menit. Karena sudah tidak ada lagi hal yang dibicarakan, Adrian memutuskan untuk menutup rapat. Semua personil 7 Icons pun kemudian berdiri dari kursinya dan beristirahat sebentar di sofa, sementara Adrian membereskan beberapa barangnya, sekaligus mengatur kembali posisi kursi ke posisinya semula. Setelah semuanya selesai, Adrian memperbolehkan semua personil 7 Icons untuk pulang. Mereka pulang secara terpisah. Para personil 7 Icons pulang lebih dulu dengan mobilnya Angel, sementara Adrian berjalan kaki sebentar dari flat itu sambil mencari taksi untuk membawanya ke Taman Menteng. Misinya untuk mendapatkan sampel lagu2 7 Icons yang lain akan segera dimulai.
Kira2, seperti apa usaha Adrian untuk mendapatkan sampel lagu2 tersebut ? Apa yang akan dilakukan oleh Adrian untuk meyakinkan mantan manager 7 Icons untuk bisa mengambilkan sampel lagu2 tersebut ? Apakah usahanya akan berhasil ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita part 15 Fanfiction 7 Icons akan segera berlanjut ke bagian berikutnya. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15f)
DAY 16
Setelah hari yang melelahkan di luar tempat training, anak2 7 Icons kembali lagi ke flat tempat latihan. Hari itu seharusnya latihan dance, tapi karena anak2 7 Icons masih kecapean gara2 bekerja seharian sebagai sukarelawan pengumpul sumbangan, akhirnya Adrian meniadakan latihan dance dan justru menggantinya dengan rapat bersama di ruang latihan vokal. Posisi kursi pun diubah, seakan mereka ini sedang menjalani rapat perkumpulan rahasia. Adrian dan anak2 7 Icons duduk dalam posisi melingkar di tengah permadani Persia mewah yang menutupi lantai ruangan itu... Adrian duduk sejajar dengan meja kerjanya, sementara anak2 7 Icons duduk melingkar dengan posisi mengikuti mata angin. Tepat di depan Adrian adalah Angel. Di kirinya ada PJ, dan di kanannya ada Linzy. Di kirinya PJ ada Vanila, dan di kanannya Linzy ada Mezty. Di kirinya Vanila ada Natly, dan di kanannya Mezty ada Gc. Ada jarak antara kursinya Gc dan Natly dengan kursinya Adrian. Di setiap kursi, ada mejanya (seperti kursi di kampus) dan di atas meja mereka ada sebuah buku kosong. Nggak tahu buku itu buat apa. Tugas untuk jadi notulen mungkin ? Nggak juga. Di belakang meja Adrian terdapat papan tulis dan ada tulisan di situ: BOARD MEMBERS MEETING. Adrian yang menulis kata2 itu sebelum memulai rapat. Di atas papan tulis terdapat lukisan Kenny Dalglish dan Steven Gerrard, sekedar mengingatkan saja. Tepat di atas tempat mereka duduk, ada sebuah chandelier berukir raksasa yang sangat indah. Posisinya tepat sejajar di atas titik tengah permadani mewah Persia itu. Tepat di dinding ruangan yang tepat berada di belakang tempat Angel duduk, ada sebuah jam berukir yang sangat indah tergantung di atasnya... sebuah jam raksasa yang diapit oleh dua orang malaikat dan diatasnya terdapat burung merpati yang dikelilingi oleh cahaya yang bersinar. Di bawah jam itu terdapat bola dunia yang sedang dipanggul oleh Atlas dan di sekelilingnya terdapat patung orang2 yang membawa bendera di setiap tangannya. Di sisi kiri bawah ukiran itu, tepat di atas orang2 pembawa bendera itu ada langit malam, dengan bintang dan bulannya yang bersinar, dengan latar perkotaan di bagian bawahnya. Sementara di sisi kanan bawahnya ada matahari yang bersinar dan awan2, juga dengan latar perkotaan di bagian bawahnya. Itu melambangkan siang dan malam. Malaikat2 itu membawa terompet, dan mereka berdua dikelilingi oleh awan dan masing2 salah satu tangan mereka memegang pita yang berisi tulisan Latin di dalamnya. Di bawah kaki Atlas terdapat sebuah ukiran yang sangat indah, memanjang dari kiri ke kanan jam, dan di tengahnya terdapat tulisan tahun pembuatan jam itu: 1945, dan ada angka Romawi XVII dan VIII di atasnya, dipisahkan dengan sebuah titik. Itu melambangkan tanggal proklamasi kemerdekaan Indonesia. Terdapat tulisan kecil di bawah tahun 1945 itu yang menyatakan bahwa jam antik ini dibuat di Inggris, sebagai hadiah untuk proklamasi kemerdekaan Indonesia. Di kiri dan kanan malaikat yang mengapit jam itu mengikuti posisi dan arahnya, juga ada beberapa malaikat lain, diukir dalam ukuran kecil, dan mereka juga membunyikan terompet di tengah langit penuh awan. Tepat sedikit di bawah malaikat itu, terdapat kumpulan barisan bendera2 di dunia pada saat itu. Tepat sedikit di bawah jam itu, di sela2 antara malaikat dan jamnya, terdapat sebuah kotak kecil yang berpintu, bentuknya seperti pintu gerbang. Kalau jam menunjukkan jam tepat (contohnya jam 12 tepat, jam satu tepat, dan sebagainya), pintu ini akan terbuka dan akan muncul burung kukuk yang akan berkicau. Tepat di tengah bawah jam itu... tepat di atas bola dunia, ada sebuah kotak berpintu lagi... dan kotak ini diapit oleh seekor singa bermahkota dan seekor unicorn. Tepat di atas kotak berpintu itu ada mahkotanya dan sebuah ukiran yang mengapit mahkota itu. Di bawahnya terdapat pita, dan di sekeliling kotak berpintu itu ada pita lagi. Di pintunya terdapat empat ukiran: di kotak pertama dan keempat ada ukiran tiga singa, di kotak kedua ada ukiran singa, dan di kotak ketiga terdapat ukiran harpa. Kotak berpintu ini dihiasi menyerupai tanda kerajaan Inggris. Kalau jamnya tepat, maka setelah burung kukuk itu keluar dan berkicau, maka pintu kotak ini akan terbuka dan ada lonceng yang akan berbunyi sejumlah jam berapa pada saat itu. Suaranya loncengnya menyerupai suara lonceng Big Ben. Loncengnya berukir dan ukirannya sangat indah. Adrian memakai bunyi lonceng itu sebagai patokan untuk memulai rapat bersama itu. Saat itu, jarum jam menunjukkan pukul tiga sore kurang satu menit. Tepat jam tiga, rapat akan dimulai, setelah bunyi lonceng tiga kali. Adrian terus melihat ke jam itu dan melarang semua peserta rapat untuk berbicara. Anak2 7 Icons pun jadi heran dan kemudian mereka semua melihat ke arah jam raksasa itu. Kenapa semua peserta rapat dilarang bicara ? Itu karena Adrian ingin mendengar bunyi detak jamnya. Dalam hatinya, Adrian menghitung detik2 menuju jam 3. Bunyi detak jamnya sangat kecil, dan hanya bisa terdengar jika semua orang yang ada di dalam ruangan itu terdiam. Tak beberapa lama, jarum jam menunjukkan pukul 3 sore tepat, dan mulailah pertunjukannya. Pintu di kiri dan kanan jam terbuka, dan muncullah dua burung kukuk yang berkicau, kemudian disusul dengan terbukanya pintu yang ada di tengah bawah jam. Lonceng pun berbunyi tiga kali, disertai dengan bunyi terompet dari dua orang malaikat yang mengapit jam itu. Bunyi terompetnya juga tiga kali, sejumlah dengan jam pada saat itu. Saya lupa ngasih tahu kalau terompet yang dipegang oleh dua orang malaikat yang mengapit jam itu juga bisa berbunyi... ada mesin besar dan rumit yang ada di balik jam itu yang memungkinkan semuanya bisa terjadi. Selama lebih dari enampuluh tahun jam itu terawat terus... sehingga jam itu masih dalam kondisi terbaik. Setiap pagi, sebelum anak2 7 Icons dan Adrian datang ke flat ini, jam itu diperiksa oleh sekelompok orang yang dikirim khusus oleh pihak Kedutaan Besar Inggris. Berarti sebenarnya jam ini jam apa ya ? Spesial sekali jam ini... haha... baiklah, sekarang kembali lagi ke cerita. Setelah lonceng dan terompet berbunyi, berarti rapat sudah bisa dimulai. Adrian pun membuka rapat ini.
Adrian: Oke, karena terompet dan loncengnya sudah berbunyi, berarti rapatnya bisa dimulai. Maafkan aku karena telah bikin kalian menunggu lama untuk berbicara. Saya hanya mau memastikan kalau kita akan mulai rapat pada jam yang tepat. Nggak ada masalah kan ?
Mezty: Oh, nggak... nggak kok... jamnya bagus... hahahaha...
Adrian: Baguslah kalau begitu. Baiklah, selamat datang di rapat pengarahan training. Board Members Meeting. Hanya orang2 penting yang bisa ikut rapat ini, dan kitalah orang2nya...
7 Icons: Yeaaayyyy...
Adrian: Baiklah, rapat kali ini... akan membahas soal evaluasi training dan rencana training kita ke depan. Kebetulan saya baru punya ide ini tadi pagi, setelah tahu kalian kecapean setelah kerja jadi sukarelawan kemarin... dan gw juga berpikir kalau kita memang perlu evaluasi. Sekarang nih, kita langsung saja. apa pendapat kalian tentang training kita sejauh ini ? Siapa yang mau bicara duluan ?
Vanila: Akyu! Akyu! Kalau menurut akyu, training kita... menyenangkan banget!
Adrian: Oke, good... ada lagi yang lain ?
Mezty: Seru banget. Apalagi pelatihnya asyik...
7 Icons: Hahahahahaha...
PJ: Betul banget... pelatih kita nih... orangnya asyik...
Natly: Udah gitu... alat2nya juga keren... terus cara melatihnya juga asyik...
Adrian: Well, terima kasih... terima kasih... sebenarnya saya cuma melakukan tugas gw saja... gw soalnya sayang aja kalau misalnya kalian nggak tampil lagi...
Angel: Ya, kita memang lagi kangen untuk tampil lagi... nggak enak lama2 kalau cuma santai di rumah dan belajar di sekolah aja... semoga aja kali ini kangennya keterusan...
7 Icons: Aminnn...
Adrian: Hahahaha... harusnya bisa lebih... karena di luar sana masih banyak yang menunggu kalian tampil lagi... jujur saja, beberapa hari sebelum training ini dimulai... gw ketemu sama anak kecil...
Cerita pun langsung di-flashback ke beberapa hari yang lalu, jauh sebelum training dimulai... saat itu di sebuah halte bus di dekat sebuah kantor. Saat itu cuacanya hujan deras... penuh dengan genangan air di pinggiran jalan... Adrian berlari dengan kencang menerobos dinginnya cuaca dan guyuran hujan... untuk mencapai halte itu untuk sekedar berteduh. Ia memakai jaket Liverpool merah kesayangannya, topi Liverpool, seragam sekolah, sepatu sneakers Vans hitam, dan membawa tas postman merah dengan gambar burung liver di salah satu ujungnya. Beberapa saat kemudian ia tiba di halte itu, dan di halte itu sudah penuh dengan orang. Mereka semua juga sedang berteduh atau ada juga yang sedang menanti bus. Lantai halte itu sangat kotor dan becek, penuh dengan jejak sepatu para pejalan kaki atau orang yang sedang menunggu di sana. Adrian langsung membuka jaket dan topinya yang basah kuyup gara2 hujan deras. Tasnya juga basah, namun bukunya selamat, tidak ada yang kebasahan. Hanya saja jaket dan topinya yang basah bikin Adrian sedikit emosi. Ia pun langsung memeras jaketnya dengan penuh rasa emosi yang tinggi, seperti fans Liverpool yang kesal gara2 Liverpool kalah dalam pertandingan Premier League.
Adrian: Ah goblok! Jaket gw basah! Mana ini jaket kesayangan lagi... sial, sial...
Adrian lalu menjemur jaketnya di belakang kursi halte yang sedang kosong. Ia lalu duduk di kursi itu, sambil menaruh tasnya di atas pahanya. Topinya ia taruh di atas tasnya. Meskipun tasnya basah ia tidak peduli. Ia nggak mau menaruh tasnya di lantai halte karena becek. Karena jaketnya dibuka, seragam sekolahnya terlihat, dan itu langsung diketahui oleh seorang anak SD yang sejak tadi duduk di kursi halte itu untuk menunggu bus yang akan mengantarnya (ceritanya busnya nggak datang2 dari tadi). Anak SD itu memakai baju seragamnya, kemeja putih dan rok kotak2 biru-merah, dan rompi kotak2 dengan warna yang sama dengan warna roknya. Di rompinya ada tanda kerajaan. Ia pasti berasal dari sekolah swasta. Anak SD itu dengan polos bertanya pada Adrian.
Ella: Kakak... kakak anak SMA Cambridge ya ?
Adrian pun langsung kaget mengetahui anak itu tahu asal sekolahnya.
Adrian: Ya, saya anak SMA Cambridge. Kok adik tahu ?
Ella: Tahu lah, soalnya kakak pakai jas yang ada tanda kerajaannya...
Adrian lalu melihat ke logo sekolah yang ada pada jasnya... ia lalu mengangguk pada anak itu.
Adrian: Oh, iya ya... (tertawa) kalau boleh tahu, nama adik siapa ?
Ella: Namaku Ella.
Adrian: Kamu kelas berapa ?
Ella: Aku kelas enam SD.
Adrian: Wah, sebentar lagi kamu masuk SMP dong... udah mulai cari2 sekolah belum ?
Ella: (menggeleng2kan kepalanya) Belum, kak...
Adrian lalu tersenyum pada anak itu. Wajahnya yang tadi penuh emosi kini mencair jadi penuh senyum. Ia lalu memegang bahu anak itu.
Adrian: Kamu pulang sekolah ya ?
Ella: Iya. Tapi aku habis les dengan teman2ku...
Adrian: Kamu nggak dijemput orangtua kamu ?
Ella: Nggak. Aku biasa pulang naik bus...
Adrian: Jadi kamu sendirian ? Nggak takut kenapa-napa ?
Ella: Nggak kok. Aku udah terbiasa...
Adrian: Bagus deh kalau begitu...
Ella: Kakak juga baru pulang sekolah ?
Adrian: Iya. Harusnya aku langsung pulang, tapi aku mampir dulu ke mal...
Ella: Ngapain kakak di mal ?
Adrian: Lihat2 barang sama beli buku baru. Adik suka baca ?
Ella: Suka dong, kak...
Adrian: Suka novel ?
Ella: Nggak. Aku lebih suka komik.
Adrian: Komik apa ? Komik Jepang ?
Ella: Iya...
Adrian: Sukanya komik apa ?
Ella: Doraemon...
Adrian: Saya juga suka komik itu... rumah kamu di mana ?
Ella: Di perumahan... jauh sih dari sini...
Adrian: Ya, di mana letaknya ?
Ella: Green Garden... di Jakarta Barat... kalau kakak di mana ?
Adrian: Di Golden Paradise... rumahnya di situ mewah2... tapi harus jalan kaki dulu kalau mau masuk ke perumahannya... soalnya perumahannya di pinggiran kota...
Ella: Aku juga di pinggiran kota kok... dari sini aku naik bus habis itu aku jalan kaki juga...
Adrian: Jalan kaki juga ? Jauh nggak ?
Ella: Lumayan sih kak... kalau kakak berapa jauhnya ?
Adrian: Aku 500 meter. Kamu ?
Ella: Hampir satu kilometer...
Adrian: Satu kilometer ? Gila...
Ella: Tapi satu kilometer itu sudah masuk perumahannya... jadi aman2 saja...
Adrian: Oh, begitu...
Adrian dan Ella lalu berhenti bicara sebentar. Ella mengambil botol minuman dari tasnya dan minum. Sementara Adrian berdiri sambil memeriksa jaketnya yang sudah mulai perlahan mengering. Hujan sendiri sudah mulai mereda, namun guyurannya tetap masih ada. Hanya saja intensitasnya lebih ringan daripada sebelumnya. Setelah mengecek kondisi jaketnya yang masih dijemur, Adrian lalu duduk lagi sambil menunggu hujannya benar2 berhenti. Tiba2, Ella mengajaknya bicara lagi.
Ella: Eh, kak... kakak kan sekolah di SMA Cambridge... berarti kakak kenal dong sama 7 Icons...
Adrian jelas tersentak ketika mendengar kata "7 Icons" yang keluar dari mulut Ella. Dalam hatinya, ia bertanya, "Dari mana anak ini tahu 7 Icons ?". Tapi ia menjawab pertanyaan itu.
Adrian: Oh, ya. Saya kenal dengan mereka. Kebetulan saya teman dekat mereka. Ada apa ?
Ella: Bisa nggak sampain salam mereka ? Sekalian tanyain... kapan mereka tampil lagi ? Gw udah kangen nih melihat mereka tampil lagi...
Adrian: Iya deh, nanti aku sampaikan... saya juga kangen lihat mereka tampil lagi...
Ella: Omong2 mereka pada ke mana sih ? Apa mereka menghilang atau gimana ?
Adrian: Mereka semua lagi sibuk sayang... ada urusan yang harus mereka lakukan, dan itu sangat mendesak. Mereka tak bisa menolak urusan ini...
Ella: Emang sebegitu pentingnya ya sampai lama banget ?
Adrian: Ya, begitulah... yang pasti untuk urusan ini... mereka harus pergi jauh untuk melakukannya... mereka nggak bisa menunda lagi, dan memang ini sudah harus mereka lakukan...
Ella: Emangnya mereka pergi ke mana, kak ? Kasih tahu dong...
Adrian: Aku juga tidak tahu... mereka itu pergi ke tempat yang jauh sekali... persisnya di mana aku nggak tahu... kalau misalnya aku tahu, aku pasti akan kasih tahu pada kamu kok...
Ella: Oh... tapi kalau misalnya suatu saat nanti ketemu, kasih tahu ke mereka ya... kapan mereka tampil lagi... soalnya disini banyak orang yang kangen pengen lihat mereka tampil lagi... aku mohon ya...
Adrian: Pastinya, Ella. Akan aku lakukan.
Ella: Janji ya kak... ini serius lho...
Adrian: Tenang kok, kakak janji...
Tidak lama, datanglah sebuah bus kota berwarna putih. Bus itu adalah bus yang sudah ditunggu oleh Ella. Ella langsung berdiri dari kursinya dan lalu berlari masuk ke dalam bus itu. Ia tidak sempat berbicara apapun pada Adrian karena ia harus buru2 mengejar bus. Adrian pun merasakan bahwa ia punya tanggung jawab besar untuk mengatakan hal ini, atau menceritakan ini pada anak2 7 Icons. Ia juga sedikit bersalah karena ia telah berbohong soal keberadaan 7 Icons saat ini. Tapi di balik itu semua, Adrian sadar kalau sedang menerima sebuah tanggung jawab dan amanat besar dari para fans 7 Icons. Selang 15 menit setelah bus itu pergi, hujan benar2 berhenti, dan Adrian pun kemudian pergi dari halte itu. Cerita flashback Adrian selesai dan situasi pun kembali lagi ke ruang latihan vokal. Saya mau kasih tahu satu hal kalau di dinding samping ruang latihan vokal ini, terdapat sebuah lemari penyimpanan besar, yang merupakan replika dari Badminton Cabinet, yang sengaja diletakkan di ruangan ini. Lemari itu besar sekali, dan ukurannya lebih tinggi daripada tinggi personil 7 Icons dan juga Adrian, dan penuh dengan ukiran. Di kiri-kanan Badminton Cabinet ini ada dua buah sofa berwarna putih yang mengapit lemari besar ini. Sekarang kita kembali ke cerita.
Anak2 7 Icons mendengar cerita Adrian tersebut, dan mereka semua sangat tersanjung. Mereka kini sadar masih ada yang suka dengan mereka. Mereka pun jadi semakin bersemangat.
Angel: Wah, bagus banget ceritanya... aku jadi tersanjung lho...
Linzy: Sama, aku juga... ternyata, masih ada juga yang ngefans sama kita...
PJ: Betul banget... sepertinya kita nggak salah ambil tawaran ini lama2...
Adrian: Ya kan sebenarnya tawaran itu gw buat karena masih ada orang yang seperti Ella... you should be grateful for that...
Gc: Kalau untuk itu sih... kita nggak hanya grateful lagi... feel blessed rasanya...
Vanila: Betul sekali... bersyukur abis!
Angel: Eh, omong2, kamu ketemu anak itu di mana, Adrian ?
Adrian: Di halte... halte bus...
Angel: Ya, maksudnya halte bus yang mana ?
Adrian: Oh... waktu itu gw sempat lihat haltenya sebelum gw pulang... kalau nggak salah... Halte St. Nikolai.
Angel: Halte St. Nikolai ? Emangnya ada ? Dekat gereja ya ?
Linzy: Nggak, Angel... kalau nggak salah, di dekat halte itu, ada patungnya...
Adrian: Patung Tsar Nicholas II. Hadiah dari pemerintah Rusia.
Angel: Emangnya dia saint ?
Adrian: Saint, sebagai martir. Tapi ada juga yang bilang mereka hanya sekedar penganut keyakinan. Dia dan keluarganya dibunuh oleh kaum revolusioner Rusia, dan oleh Gereja Rusia ia dianggap sebagai martir, sekitar beberapa tahun yang lalu. Kalau tidak salah, kedutaan besar Rusia membeli sebidang tanah untuk dijadikan taman. Di taman itu kemudian dibangun sebuah patung. Seperti itulah ceritanya... (ini cuma cerita saja kalau ada patung Tsar Rusia di Jakarta... nanti akan ada banyak kejutan lain di cerita ini, oke ?)
Angel: Oh, patung itu... ya, aku pernah lewat... tapi sudah lama sih... jadi aku agak lupa2 ingat soal itu...
PJ: Terus kamu pernah nggak datang ke halte itu lagi dan ketemu lagi sama anak itu ?
Adrian: Saya dulu sempat datang ke halte itu lagi... tapi aku nggak ketemu dengan anak itu lagi... mungkin busnya lebih cepat datangnya ?
PJ: Tapi dia suka nunggu di situ kan ?
Adrian: Katanya sih... soalnya aku nggak banyak nanya lagi sama dia...
Angel: Berarti mungkin suatu saat kita harus datangi dia... kalau misalnya itu memang halte tempat ia biasa menunggu bus, berarti kita bisa aja ketemu dengannya kapan saja...
Natly: Asalkan kita tahu jam berapa dia pulang dan berapa lama ia menunggu di halte itu.
Angel: Betul banget, Natly... mungkin kita perlu tanyain kali ya...
PJ: Ya kalau misalnya bisa ketemu... kalau nggak... ya mau gimana ?
Angel: Ya, semoga saja kita bisa ketemu sama dia... kayaknya dia itu sayang banget sama kita...
Mezty: Mungkin sudah bukan kayaknya lagi, itu sudah dipastikan... dia sampai nanyain kapan kita tampil lagi... tenang, pokoknya nanti begitu kita mau tampil lagi, kita kasih tahu deh sama dia...
Vanila: Pastinya... harus kita kasih tahu...
Gc: Kalau bisa kita juga kasih surprise ke anak itu...
Angel: Itu sih sudah pasti, Gc... pokoknya, kedatangan kita nanti nggak akan dia sangka2 deh...
Gc: Sip deh...
Adrian: Gw juga kepikiran soal surprise itu... gw sependapat kalau perlu dibikin surprise... tapi soal rencananya... gw nggak tahu deh kayak gimana... masih perlu dipikirkan...
Angel: Kalau itu sih gampang... berjalan saja... lagipula kalau sudah urusan rencana yang seperti itu... itu urusan kita... gampang saja...
Adrian: Bagus deh... sepertinya rencana kita buat evaluasi training kita malah melenceng gara2 gw cerita dan kita ngobrolin soal itu... begini saja, kita coba kembali ke pembicaraan awal... langsung saja. Kalian sudah puas dengan masa training kita saat ini ?
7 Icons: Puas!!!!!!!
Adrian: Bagus. Apa ada yang perlu diperbaiki untuk training ini ?
Angel: Mungkin lebih lama lagi aja kali ya waktunya...
Linzy: Atau mungkin alat canggihnya ditambah lagi...
PJ: Permainannya tambah lagi dong...
Natly: Kalau bisa kita sering2 latihan di sini. Lama2 gw juga suka berada di sini...
Mezty: Sama, gw juga... tapi gw juga minta biar semuanya lebih ditingkatkan saja...
Vanila: Kalau bisa saat istirahat kita belajar ngelawak! Biar kita semua bisa melawak di sela2 kita tampil...
Angel: Eh, betul banget! Gw juga mau tuh...
PJ: Gw juga... boleh nggak nih, Adrian ?
Adrian: Hahahahaha... usulmu diterima! Gw juga kepikiran pengen ngasih pelajaran melawak di saat istirahat... baru gw ingat kalau pelatih vocal group saya juga suka melawak kalau istirahat latihan... katanya untuk menambah motivasi sekaligus mengurangi rasa tegang... saya pernah baca catatan itu... mungkin di training berikutnya akan saya ajarkan gimana caranya melawak yang asyik, sekaligus saya akan kasih beberapa jokes yang ringan, tidak menyinggung, tapi bikin tertawa. Mau ?
Vanila: Akyu mau! Akyu mau!
Gc: Aku juga mau... tapi yang paling semangat kayaknya PJ deh...
PJ: Oh, pastinya dong... mau banget...
Linzy: Aku juga mau kok... yang lain pasti juga mau kan ?
Natly: Pastinya dong...
Angel: Jangan ditanya deh... semua pasti mau...
Mezty: Aku juga... lumayan buat nanti siaran di radio...
Adrian: Kalian bisa pakai untuk apa saja. Itu yang terpenting. Oh, ya Gc, punya usulan untuk training berikutnya ? Hanya dia yang belum ngasih masukan lho...
Gc: Ummm... kalau bisa sih, kita latihan di luar juga... di sekolah mungkin ? Atau di tempat lain ?
Adrian: Sudah direncanakan. Setelah sebulan latihan ini berjalan, kalian akan kembali berlatih di sekolah seperti dulu. Tes akhir juga dilakukan di sebuah tempat yang dirahasiakan. Tenang saja.
Angel: Tes akhir ? Maksudnya ?
Adrian: Kalian akan dibawa ke suatu tempat untuk tes akhir. Anggap saja ini ujian akhir masa training. Aku ingin lihat apakah kalian sudah benar2 siap atau tidak. Kekhawatiran saya adalah... kalian sudah bagus saat training... tapi begitu dihadapkan pada keadaan sebenarnya, kalian jadi grogi. Tujuannya hanya itu. Untuk memastikan kalian benar2 siap. Itu saja.
Linzy: Kapan tes akhirnya ?
Adrian: Akhir masa training ini. Tepat satu bulan masa training. Kalian akan menjalani beberapa kali tes simulasi akhir, semacam try-out, pada hari2 terakhir, dan... setelah itu kalian libur sehari, dan pada hari ke-30, kalian akan menjalani tes akhir. Semua sudah direncanakan. Ada dalam catatan ini. (sambil menunjuk buku catatannya)
PJ: Tempatnya di mana ?
Adrian: Rahasia. Sampai sekarang bahkan saya belum menentukan. Tapi yang pasti, tempatnya bukan di sini.
PJ: Jadi ini semacam tes rahasia, begitu ?
Adrian: Betul sekali. Yang perlu kalian lakukan hanyalah bersiap-siap saja...
Mezty: Training tetap lanjut kan setelah itu ?
Adrian: Ya, tapi kondisinya seperti kalian dulu latihan saja... training sebenarnya sudah berakhir setelah tes akhir itu. Setelah training ini selesai, kalian semua jalan sendiri. Aku hanya mengawasi saja.
Natly: Jadi setelah ini selesai, kita akan jalan sendiri, seperti dulu ?
Adrian: Yap, betul sekali. Tapi jangan sampai kejadian yang dulu terulang lagi ya...
Natly: Pastinya nggak dong...
Angel: Oh, nggak bakal... kita semua pasti akan berubah kok...
PJ: Kita bakalan beda dari sebelumnya...
Gc: Beda banget... 7 Icons yang dulu dan yang sekarang... bakalan beda banget!
Adrian: Optimisme yang bagus. Aku suka itu. Pokoknya setelah ini, kalian akan jadi 7 Icons yang berbeda dari sebelumnya. Aku janji. Asalkan kalian mau semangat dan lebih semangat lagi menjalani training ini.
Angel: Kita pasti bakalan tetap semangat... soalnya sekarang kita sadar kalau banyak orang yang masih mendukung kita... betul kan teman2 ?
7 Icons: Betul!!!!!!!
Adrian: Bagus deh kalau begitu... baiklah, sekarang kita masuk topik baru. Apa yang akan kita lakukan selanjutnya dengan training ini ? Masih ada beberapa hari sebelum tes akhir.
Angel: Kalau boleh usul sih, kita latihan untuk lagu2 lain...
Adrian: Kalian masih punya stok lagu lagi ? Nggak hanya Playboy ?
7 Icons: Ya jelaslah kita punya...
PJ: Kita punya lagu nggak hanya Playboy... sebelum kita jadi seperti ini, kita sudah merekam kurang lebih lima lagu, dan semuanya sudah siap untuk dirilis dalam album kita...
Adrian: Lagu2 itu judulnya apa aja ?
Angel: Tahan Cinta, Bidadari, Ku Menunggu, Astaga, dan Jealous.
Adrian: Oh... tapi kayaknya ada recycle-nya deh...
Linzy: Ku Menunggu dan Astaga itu recycle. Sisanya semua lagu baru...
Adrian: Wah, sepertinya bakalan asyik lagunya... kalian pegang sampel lagunya ?
Angel: Nggak... semua jadi milik label... itu sudah bagian dari surat pembubaran kita dulu...
Adrian: Waduh, bagaimana mengambilnya ya ? Kalian punya mp3-nya nggak ?
PJ: Kita nggak punya... sudah perjanjian dengan label saat kita bubar, untuk menghapus semuanya... jadi kalau mau mendapatkan sampel lagu2nya, harus ke label dulu... dan itu nggak bakal mungkin dibolehin...
Adrian: Pasti ada cara untuk bisa mendapatkannya... (berpikir sebentar) oh, bagaimana dengan manager kalian ? Masih berhubungan baik dengannya ?
Angel: Kak Dicky ? Masih kok... emangnya kenapa ?
Adrian: Saya punya ide. Bagaimana kalau kita manfaatkan manager kalian untuk mengambil sampel lagu2 itu. Bagaimana ?
Angel: Maksudnya ?
Adrian: Kita akan minta bantuan manager kalian untuk mengambil lagu2 itu... bukan kita yang masuk dan mengambil lagunya, tapi dia yang akan mengambilkan sampel lagu2 itu untuk kita... bagaimana ?
Mezty: Wah, hebat banget! Gw suka itu!
Gc: Keren triknya! Boleh... boleh...
Angel: Keren sih keren, Gc... tapi itu sama saja menyuruh manager kita untuk mencuri... kalau ketahuan bagaimana ? Ujung2nya kita juga yang kena...
Linzy: Betul... gimana kalau sampai dilaporin ke polisi... bisa2 kita nyanyi Playboy di Cipinang deh...
Natly: Tepat banget... kita malah nggak jadi perform lagi deh...
Adrian: Tenang. Untuk urusan ini, gw yang urus. Gw akan bicara dengan manager kalian.
PJ: Beneran nih, Adrian ? Emangnya kamu bisa ?
Adrian: Serahkan semuanya padaku. Aku nggak akan libatkan kalian soal ini... dan aku akan lakukan ini semua sendiri. Yang aku butuhkan hanya nomor handphone manager kalian dan waktu.
Vanila: Wah, berani sekali kamyu...
Mezty: Gila... berani banget... hebat...
Adrian: Kenapa saya berani melakukan ini ? Karena gw yakin, gw bawa tujuan baik untuknya. Dia pasti juga ingin sekali melihat kalian tampil lagi. Dia pasti tahu kalau seandainya kalian sedang berjuang untuk bisa mengembalikan perform kalian kembali, kalian butuh banyak bahan untuk melakukannya. Saya yakin, dia pasti akan mau melakukannya untuk kalian. Percayalah itu. Aku akan cerita padanya tentang semua yang telah kita semua lakukan... dan mudah2an ia mengerti.
Angel: Yah, semoga... oke, aku bisa mengerti maksud kamu dan cara kamu nanti akan melakukannya. Kebetulan, gw masih menyimpan nomor handphone dan pin BB managerku. Kita semua punya nomor ini dan secara khusus kita akan berikan nomor ini buat kamu.
Adrian: Terima kasih.
Angel: Tapi ada satu syarat. Jika seandainya ini semua ketahuan, jangan libatkan kami semua. Mengerti ?
Adrian: Mengerti.
Angel lalu menuliskan nomor handphone dan pin BB managernya dalam secarik kertas kecil. Sesudah ia menuliskannya, ia lalu berdiri dari kursinya dan lalu menyerahkannya pada Adrian. (nomor handphone dan pin BB-nya dirahasiakan, tapi ada di dalam kertas itu) Adrian lalu mengeluarkan Blackberry-nya dan lalu menekan tombol untuk memasukkan nomor tersebut. Sesudah ia menekan tombolnya, ia lalu terdiam sebentar, dan secara tiba2 ia menekan tombol "call" (dilambangkan dengan logo telepon berwarna hijau) dan menempelkan handphone itu ke telinganya. Anak2 7 Icons pun langsung kaget mengetahui kalau Adrian akan langsung menelepon manager mereka. Selang beberapa saat kemudian, muncul tanggapan yang terdengar dari speaker telepon.
Dicky: (dari balik telepon) Halo ?
Adrian: Halo, saya Adrian Susanto. Apa benar ini Dicky ?
Dicky: Ya, saya sendiri. Ada apa ?
Adrian: Bisa ketemuan suatu saat nanti ?
Dicky: Ketemuan ? Bisa. Sekarang juga bisa. Ada apa ya ?
Adrian: Saya ingin bicara dengan Anda. Ini soal 7 Icons.
Dicky: 7 Icons ? Maksudnya ?
Adrian: Nanti akan kujelaskan saat kita bertemu. Anda di mana sekarang ?
Dicky: Saya ? Saya lagi di kantor... ada apa ?
Adrian: Bisa datang ke Taman Menteng sore ini ?
Dicky: Bisa... jam berapa ?
Adrian: Jam... (melihat jam raksasa yang ada di depannya) jam 6 sore.
Dicky: Baik, jam 6 sore... saya bisa datang... kalau boleh tahu, Anda siapa ya ?
Adrian: Datang dulu, baru aku jelaskan. Jam 6 sore, Taman Menteng. Jangan terlambat.
Adrian lalu menutup teleponnya, membuat Dicky tak sempat membalas. Adrian lalu menaruh Blackberry-nya di atas meja dan meremas kertas yang berisi nomor telepon dan pin BB itu. Anak2 7 Icons masih kaget mengetahui rencana nekat nan gila ala Adrian itu.
Angel: Jadi kamu ingin langsung bergerak sekarang ?
Adrian: Soalnya dia bilang bisa ketemuan hari ini, ya sudah... kita kan harus bergerak cepat.
Angel: Tapi gw nggak nyangka kalau kamu bergerak secepat ini... tapi dia serius ada waktu kosong hari ini ?
Adrian: Dia sendiri yang bilang... saya nggak bisa bohong...
PJ: Tumben dia punya waktu kosong seharian... biasanya, dia itu orangnya sibuk banget...
Adrian: Seberapa sibuk dia ?
PJ: Sibuk banget... di kantor lah, di restoran lah, di panggung lah... semuanya deh... sibuk banget...
Adrian: Apa mungkin setelah tidak lagi jadi manager kalian, ia jadi nggak terlalu sibuk ?
PJ: Mungkin saja...
Adrian: Oke... baiklah, sekarang setidaknya kita sudah setengah jalan untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Sekarang tinggal bagaimana melanjutkan perjalanan kita ini... sore ini, setelah rapat ini selesai, gw akan langsung ke Taman Menteng untuk bertemu dengan manager kalian. Mudah2an dia mau datang. Kalian pulang saja ke rumah, dan berharap yang terbaik. Mulai nanti sore, saya yang akan bekerja. Kalian sudah terlalu banyak bekerja keras, jadi kalian lebih baik beristirahat dan tunggu hasilnya besok. Mudah2an semua bisa berjalan dengan baik.
7 Icons: Aminnnn...
Adrian: Oke, good. Sekarang... (melihat lagi ke arah jam raksasa) masih ada... sekitar 45 menit lagi menuju jam lima. Apa ada lagi yang mau dibicarakan ?
Angel: Soal rumah... sudah ada hasil ?
Adrian: Rumah ? Oh, sudah ada kok, hasilnya... setiap hari gw tanya Rizky, Andi, sama Rico, mereka bilang, sudah menemukan beberapa rumah yang mendekati dengan kriteria kalian... sekarang mereka masih mencari rumah2 lain... tapi soal detailnya, masih ada di tangan mereka... mereka sudah punya foto dan informasinya, tinggal dicetak dan dikasih ke gw. Setelah itu, nanti aku kasih ke kalian deh...
Angel: Yah, bagus deh... di kawasan mana rumah2nya ?
Adrian: Di Jakarta Barat banyak tuh... Jakarta Selatan juga banyak... gw cuma suruh mereka mencari di sekitar daerah itu saja...
Angel: Bener kan kata gw ? Di daerah itu memang banyak...
Adrian: Mereka juga baru tahu... kenyang tuh, setiap hari dapat banyak info rumah... nanti deh, aku akan kasih tahu semuanya ke kalian nanti... aku kasih waktu pada mereka satu minggu... jadi baru minggu depan kalian bisa mulai memilih... kalian siapkan saja apa kriteria kalian, nanti tinggal disamakan dengan hasil pencarian mereka... gampang kan ?
Angel: Oke, sip deh... nanti biar kita semua yang pilih...
Adrian: Good.
Beberapa menit kemudian, jarum jam di jam raksasa menunjukkan pukul setengah lima sore kurang tiga menit. Karena sudah tidak ada lagi hal yang dibicarakan, Adrian memutuskan untuk menutup rapat. Semua personil 7 Icons pun kemudian berdiri dari kursinya dan beristirahat sebentar di sofa, sementara Adrian membereskan beberapa barangnya, sekaligus mengatur kembali posisi kursi ke posisinya semula. Setelah semuanya selesai, Adrian memperbolehkan semua personil 7 Icons untuk pulang. Mereka pulang secara terpisah. Para personil 7 Icons pulang lebih dulu dengan mobilnya Angel, sementara Adrian berjalan kaki sebentar dari flat itu sambil mencari taksi untuk membawanya ke Taman Menteng. Misinya untuk mendapatkan sampel lagu2 7 Icons yang lain akan segera dimulai.
Kira2, seperti apa usaha Adrian untuk mendapatkan sampel lagu2 tersebut ? Apa yang akan dilakukan oleh Adrian untuk meyakinkan mantan manager 7 Icons untuk bisa mengambilkan sampel lagu2 tersebut ? Apakah usahanya akan berhasil ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita part 15 Fanfiction 7 Icons akan segera berlanjut ke bagian berikutnya. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15f)
Jumat, 12 Agustus 2011
FANFICTION 7 ICONS (part 15d)
Remember, it's just a Fanfiction.
7 Icons masih menjalani training, dan hasilnya sejauh ini sudah sangat baik. Latihan mereka sekarang sudah mulai diarahkan untuk perform di atas panggung. Itu berarti, latihan dance dan latihan vokal sudah mulai digabung menjadi satu. Tentunya itu adalah sesuatu yang sulit, karena sekarang mereka tidak hanya harus ngedance, tapi juga harus bernyanyi. Tapi tak jadi masalah buat para personil 7 Icons karena Adrian sudah menyiapkan trik khusus bagaimana cara mempertahankan kondisi suara pada saat bernyanyi dan menari di atas panggung. Latihan pengaturan napas dan cara pengambilan suara menjadi trik utama untuk mengakali masalah tersebut. Semuanya sudah diajarkan oleh Adrian dan sudah dilakukan oleh para personil 7 Icons. Di tengah masa training tersebut, ada satu permintaan dari para personil 7 Icons pada Adrian, dan harapannya, Adrian bisa mengabulkan permintaan tersebut. Rencana para personil 7 Icons untuk tinggal dalam satu rumah membuat mereka memberi sebuah permintaan pada Adrian untuk mencarikan rumah baru untuk mereka. Rumah permintaan mereka nggak rumit2 amat kok. Hanya sebuah rumah sederhana dengan tujuh kamar dan fasilitas lengkap, kalau mau ditambah. Pertanyaannya satu. Ada nggak rumah yang seperti itu di Jakarta ? Biasanya kalau rumah seperti itu ada dua jenisnya di Jakarta: satu, rumah kost, dan kedua, rumah mewah. Karena jumlah kamarnya sudah standar rumah mewah kelas atas... tapi para personil 7 Icons yakin rumah seperti itu ada di Jakarta. Namun masalahnya, untuk menemukan rumah yang seperti itu, peluangnya sangat kecil, dihitung dari lokasi dan ketersediaan. Adrian pun sampai kebingungan mau cari di mana rumah2 yang seperti itu. Di tengah kebingungannya, ia mendapat ide. Inilah yang akan ia lakukan.
DAY 11
Di taman sekolah, Rizky, Andi, dan Rico sedang ngobrol2. Mereka semua sedang bercanda seperti biasa. Bahkan Rico hingga bernyanyi lagu dangdut sambil berjoget, mengundang tawa dari Rizky dan Andi. Di saat mereka sedang ngobrol2 itu, datanglah Adrian, yang sejak tadi mencari mereka bertiga. Mengetahui ketiga temannya sedang berada di taman, Adrian langsung merubah arah berjalannya dan masuk ke dalam taman, menghampiri ketiganya. Mengetahui teman mereka datang, ketiganya langsung mengarahkan pandangannya pada Adrian.
Rizky: Weh, bro... apa kabar ? Tumben nih datengin kita lagi... ada apa nih ?
Andi: Iya nih... ada angin apa bro kita datang kemari ?
Adrian: Gw minta bantuan kalian.
Rizky: Bantuan ? Itu sih kecil kalau buat kamu, bro... minta bantuan apa ?
Adrian: Gw pengen kalian cariin rumah buat anak2 7 Icons.
Andi: Hah ? Rumah ? Serius nih ? Bukannya udah pada punya rumah mereka ?
Adrian: Mereka sekarang punya rencana untuk tinggal bertujuh. Kemarin saat training, gw baru tahu kalau ternyata beberapa anak 7 Icons tidak tinggal dengan orangtua mereka.
Rico: Beneran tuh ? Siapa aja tuh yang tinggalnya jauh dari orangtua ?
Adrian: Angel, PJ, Natly, Vanila, sama Mezty. Mereka semua ada yang tinggal dengan keluarga mereka dan ada yang nge-kost. Mereka semua asalnya jauh dari sini.
Andi: Emangnya, mereka berlima dari mana ?
Adrian: Angel, PJ, Natly, sama Vanila dari Surabaya, Mezty dari Bandung. Mereka semua dikirim ke sini untuk bersekolah.
Rizky: Wah hebat banget kalau begitu... kenapa mereka nggak sekolah aja di daerahnya masing2 ?
Adrian: Mereka soalnya bilang kalau disini sekolahnya bagus, jadinya mereka dikirim ke sini.
Andi: Oh, begitu. Terus, kalau yang dua lainnya, Gc dan Linzy ?
Adrian: Mereka semua memang tinggal disini, tapi orangtua mereka sibuk. Mereka sih sudah diizinin...
Rico: Oh, jadi pada ikut2an, begitu ?
Adrian: Semacam itulah.
Rizky: Terus, kriteria rumah mereka seperti apa ?
Adrian: Rumah sederhana, tapi ada tujuh kamar. Bisa nggak kalian cariin ?
Andi: Wah, kalau itu sih... tanyakan pada Rico... dia kan ayahnya pengusaha properti... pemilik developer perumahan dan apartemen... pasti dia tahu rumah yang seperti itu...
Rico: Rumah sederhana dengan tujuh kamar ? Itu sih rumah mewah namanya... mana ada yang sederhana...
Adrian: Tapi kata Angel ada. Di daerah Jakarta Selatan sama Jakarta Barat ada...
Rico: Nggak mungkin. Nggak mungkin ada. Biasanya kalau rumah yang seperti itu rumah mewah. Kalau mau, mendingan beli apartemen...
Adrian: Mereka nggak mau apartemen. Soalnya mereka sudah punya... tapi ditarik sama label.
Andi: Ditarik ? Ditarik kenapa ?
Adrian: Kan mereka bubar. Dulu kalian baca kan, surat pernyataannya ? Semua fasilitas penunjang 7 Icons ditarik setelah mereka tandatangan surat itu. Ingat kan ?
Andi: Oh, iya ya...
Rico: Jadi mereka hanya mau rumah aja nih ?
Adrian: Ya. Ada kan, rumah yang seperti itu ?
Rico: Yah, sebenarnya sih ada... tapi rumah kost2an. Mau ?
Adrian: Mereka nggak mau rumah yang seperti itu, Rico. Mereka mau rumah yang seperti rumah biasa pada umumnya, tapi dengan tujuh kamar. Pasti ada kan, rumah seperti itu ?
Rico: Gw belum pernah dengar rumah yang seperti itu. Tapi kalau melihat lokasinya, mungkin aja sih ada, tapi gw bilang nggak mungkin ada rumah yang seperti itu.
Adrian: Ya, makanya kamu cari... gw tugasin kalian bertiga untuk cari rumah itu... gw melatih anak2 7 Icons, kalian terjun ke lapangan buat cariin rumah buat mereka. Gw yakin pasti ada...
Rizky: Yah, kalau untuk itu sih, kita bakal cariin... tapi kalau gw dengar kata si Rico... bisa aja rumah yang seperti itu nggak ada. Gw juga pernah lihat2 di sekeliling tempat gw tinggal nggak ada rumah yang seperti itu...
Adrian: Ya wajar karena kamu tinggalnya di daerah pinggiran... tapi pokoknya, ada atau nggak ada, kalian cari rumah itu. Please, demi anak2 7 Icons. Mereka sekarang lagi semangat2nya untuk bisa tampil lagi. Minimal kalian bisa bantu mereka sekali aja, untuk ini...
Andi: Anak2 7 Icons lagi semangat2nya untuk bisa tampil lagi ? Eh, omong2 gimana training-nya ? Bagus ?
Adrian: Progresnya mantap! Mereka benar2 pengen tampil lagi. Semua latihan mereka jalani dengan serius... gw sampai salut sama mereka... latihannya bener2...
Rizky: Ya, wajar... mantan superstar... ya kan ?
Adrian: Iya juga sih... tapi kan setidaknya ada usahanya juga...
Rizky: Kalau untuk itu sih lumayan... eh, gw penasaran nih, lu ngelatih mereka di mana sih ? Gw lama2 jadi envy tiap kali pulang sekolah semobil terus sama anak2 7 Icons...
Adrian: Kalau itu gw nggak bisa bilang. Tempatnya rahasia. Nggak boleh dikasih tahu.
Andi: Pelit lu sama temen... udah sih bilang aja di mana ?
Adrian: Sorry bro... nggak bisa... untuk ini, gw nggak bisa... kasihan anak2 7 Icons nanti latihannya terganggu... mereka ini sedang tidak mau dan tidak bisa diganggu. Oke ?
Rico: Nggak oke... biasanya kalau sudah tentang 7 Icons lu pasti kasih tahu kita2... masa yang ini nggak boleh ? Pelit lu...
Adrian: Sorry, ini sudah komitmen... ini permintaan dari anak2 7 Icons sendiri... permintaan mereka ya... mau nggak mau harus dituruti, walaupun berat sekalipun... sebenarnya gw juga mau bilang, tapi si Angel sudah ngancem kalau gw bilang2 soal tempat training-nya... nanti gw dibejek-bejek...
Andi: Ya bilang aja diam2... kalau diam2, si Angel nggak akan bejek2 kamu kan ? Tenang aja sih...
Adrian: Maaf, tetap nggak bisa... gw nurut sama Angel... tetap gw nggak akan bilang...
Andi: Hah... payah... penakut lu...
Rizky: Tahu nih... sama cewek takut... hahahah... nggak laki!
Adrian: Masa bodoh nggak laki. Yang penting gw ngelakuin tugas gw... eh, tapi kalian semua pada cariin rumah itu ya... minimal di Jakarta Barat sama Jakarta Selatan... itu aja... kalau nggak ada, baru pindah ke tempat lain... oke ? Bisa dikerjain nggak ?
Rizky: Itu sih gampang, Adrian... kita jabanin! Kita bakal cariin rumah itu buat lu dan anak2 7 Icons... tapi kalau misalnya nggak ada, kita kasih rumah mewah nggak apa2 ya ?
Adrian: Terserah kalian. Gw serahin semuanya pada kalian. Terserah, mau rumahnya seperti apa, asalkan semua kriteria terpenuhi. Rumah sederhana dengan tujuh kamar dan fasilitas lengkap. Mengerti ?
Rico: Siap, bro... kita bakal lakuin... pokoknya apapun, demi kamu, kita lakukan...
Adrian: Bagus... sekarang perhatiin instruksi gw. Begitu kalian dapetin rumah yang sesuai atau mendekati dengan kriteria itu... kalian langsung foto dan korek informasi yang banyak tentang rumah itu. Catat semua informasinya... kalau bisa, setelah fotonya dicetak, pindahkan informasinya, tulis di belakang fotonya. Kalau kalian sudah dapatkan semuanya, kasih ke gw, nanti gw akan teruskan kepada anak2 7 Icons. Mereka yang nantinya akan memilih. Gw kalian waktu... sampai satu minggu ke depan. Kalian semua mengerti ?
Rizky, Andi, Rico: Mengerti, bos!
Adrian: Bagus... kalau gw ada waktu, gw akan minta laporan pada kalian. Handphone kalian standby selama masa tugas. Mungkin nanti sore setelah training atau malam hari gw hubungi kalian, dan gw harap kalian sudah mendapatkan hasil. Ngerti ?
Rizky: Ngerti bos! Tapi kalau misalnya nggak dapat ?
Adrian: Cari sampai dapat. Minimal satu rumah per hari. Kalau sudah terlalu malam, jangan dipaksa. Langsung pulang, lanjut lagi besok siang setelah sekolah. Begitu seterusnya. Oke ?
Andi: Oke bro... semua instruksi telah dimengerti.
Adrian: Dan Rico, kalau bisa... tanya ayahmu soal rumah yang kriterianya seperti ini ada atau nggak. Mungkin siapa tahu dia lebih mengerti dan kamu belum tahu.
Rico: Itu sih gampang, Adrian. Hanya saja ada masalahnya... ayah gw sibuk... kadang2 baru bisa pulang malam... mungkin saat itu baru gw bisa tanya... tapi akan gw upayakan yang terbaik.
Adrian: Bagus. Kalau begitu, semua sudah mengerti tugasnya ? Kalian semua bisa mulai mencari hari ini atau mulai besok. Yang pasti kalian semua harus bekerja, karena nanti gw akan minta laporan dari kalian.
Rizky: Mungkin kita baru bisa mulai besok. Kita bertiga harus koordinasi dulu...
Adrian: Baiklah. Pokoknya, aku minta foto dan informasinya saja. Nggak peduli gimana cara kalian mendapatkannya. Karena itu yang terpenting. Oke ? Kalau semuanya sudah jelas, sekarang gw mau pergi dulu ke kantin. Buat kalian semua, selamat bertugas.
Rico: Oke bro... terima kasih!
Andi: Thank you bro... kita akan kerjain semuanya! Tenang aja!
Adrian lalu memberi acungan jempol pada ketiganya sambil berlalu meninggalkan mereka menuju kantin. Sekarang Adrian sudah punya bantuan yang akan terjun ke lapangan untuk mencarikan rumah yang diinginkan oleh para personil 7 Icons. Kini Adrian hanya tinggal berkonsentrasi melatih anak2 7 Icons sambil menunggu laporan dari teman2nya. Setelah ia berhasil mendapatkan bantuan, ia pun memberitahukan hal ini pada anak2 7 Icons saat latihan vokal berlangsung.
PJ: Hah ? Lu minta bantuan Rizky, Andi, sama Rico ? Emang mereka bisa ?
Adrian: Ya, gw berharap demikian... tapi beruntung ayahnya Rico itu pengusaha properti, jadi minimal dia ngerti2 sedikit lah soal rumah yang bagus seperti apa...
PJ: Bagus sih kalau begitu... tapi gw terlalu yakin Rizky dan Andi bisa ngelakuin tugas ini...
Adrian: Mereka mah tugasnya ringan. Cuma nganterin Rico, catet2 informasi, sama foto2in rumah, itu saja.
PJ: Dari mana kamu tahu rencana itu ?
Adrian: Mereka sendiri yang bilang... gw ketemu lagi sepulang sekolah, sebelum ketemu kalian...
PJ: Yah, oke lah... kalau begini... gw berharap aja semuanya bisa berjalan dengan baik...
Adrian: Mudah2an... soalnya gw juga sebenarnya nggak terlalu yakin mereka ngerti tugasnya atau tidak... ya sudah, sekarang kita mulai saja latihannya...
Siang itu, latihannya adalah latihan vokal, dan yang sekarang dilatih adalah para personil ketika mereka menyanyikan lagu Playboy dari awal hingga akhir. Semua personil 7 Icons menyanyikan lagu Playboy dari awal hingga akhir, dan Adrian akan memperbaiki beberapa bagian yang menurutnya perlu untuk diperbaiki. Latihannya dilakukan dengan dua cara, satu dengan musik, dan lainnya tanpa musik. Latihan tanpa musik adalah yang paling diprioritaskan, karena disitulah Adrian ingin mendengar seperti apa vokal dari para personil 7 Icons dan memperbaikinya. Latihan dengan musik tujuannya adalah untuk menyesuaikan antara suara dan melodi lagunya. Latihannya berlangsung santai, dan Adrian sekarang sudah mengambil kesimpulan kalau vokal anak2 7 Icons untuk lagu Playboy sudah kembali. Tinggal beberapa kali latihan lagi, ditambah latihan dance, 7 Icons sudah siap untuk perform lagu Playboy di atas panggung kembali.
DAY 12
Di saat Rizky, Andi, dan Rico sedang melaksanakan tugas dari Adrian untuk mencarikan untuk anak2 7 Icons, Adrian dan anak2 7 Icons berlatih dance. Kali ini, latihannya adalah... simulasi perform. Di sini, Adrian sudah mengkondisikan semuanya seperti berada di atas panggung, dengan menaruh beberapa kursi di sekeliling tempat anak2 7 Icons akan perform. Tempat perform-nya sudah ditandai dengan lakban. Adrian membuat sebuah persegi panjang besar dengan lakban2 itu, dan anak2 7 Icons akan tampil di dalamnya. Mereka tidak boleh melewati garis lakban itu. Adrian juga sudah membawa sebuah radio, CD Player, camcorder, dan laptop. Radio digunakan untuk memutar sebuah kaset yang berisi rekaman suara penonton (padahal itu direkam dari pertandingan Liga Inggris dan Liga Spanyol), untuk memberi kesan bahwa 7 Icons sedang berada di atas panggung dan ditonton oleh orang banyak. CD Player dipakai untuk memutar CD lagu Playboy, camcorder berfungsi untuk merekam simulasi konser itu, dan laptop digunakan untuk melihat hasil rekaman camcorder. Adrian sendiri duduk di kursinya sambil melihat anak2 7 Icons perform, sambil juga mengaktifkan alat2 canggihnya, baik itu radio, CD Player, camcorder, dan laptop. Sebelum simulasi dimulai, Adrian meminta anak2 7 Icons untuk rileks, fokus, dan konsentrasi terhadap apa yang sudah diajarkan. Adrian percaya kalau anak2 7 Icons akan berhasil dalam simulasi ini. Simulasi ini bisa dianggap sebagai tes perform-nya. Jika anak2 7 Icons berhasil, maka ini akan menjadi progres yang besar dalam latihan mereka.
Simulasi pun dimulai. Anak2 7 Icons tampil, dan Adrian menilai dari kursinya. Adrian hanya ingin melihat apakah mereka bisa tampil dengan lancar, tanpa hambatan, dari awal hingga akhir. Baru kemudian Adrian akan menilai perform mereka. Adrian memperhatikan dengan serius perform 7 Icons ini, meskipun ini hanya sekedar simulasi saja. Ia sudah seperti menonton perform 7 Icons di TV. Wajahnya agak sedikit tegang pada awalnya, khawatir kalau mereka masih kacau penampilannya. Tapi kemudian ia sedikit demi sedikit mulai tersenyum, apalagi di bagian2 akhir, karena 7 Icons sudah bisa tampil dengan baik dan kompak. Ketika lagunya selesai, ia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, dan ia pun bertepuk tangan sambil berdiri. Simulasi perform mereka yang pertama sukses. Anak2 7 Icons juga merasa tidak menyangka kalau perform mereka sudah kembali normal. Mereka pun langsung kegirangan. Adrian juga merasa lebih tenang. Simulasi pertamanya sudah selesai dan sukses. Adrian lalu memperbolehkan anak2 7 Icons untuk beristirahat, dan sambil beristirahat, mereka menonton video simulasi tadi lewat laptop Adrian. Adrian menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk simulasi berikutnya. Setelah istirahat, Adrian berencana untuk melakukan latihan dance sebentar, setelah itu dilanjutkan dengan simulasi kedua. Simulasi ini harus sering diulang-ulang, agar anak2 7 Icons bisa lebih terbiasa dengan suasana panggung dan penontonnya. Anggap saja sebagai pemanasannya. Selang 30 menit kemudian, setelah menonton video itu berulang-ulang dan mempelajari video itu, latihan dance pun dilakukan. Karena 7 Icons sudah hapal gerakannya, mereka berlatih sendiri, dan Adrian hanya memperhatikan. Sambil ia memperhatikan 7 Icons berlatih, Adrian mencatat seperti apa hasil simulasi pertama dan apa yang ia dapat dari video simulasinya. Catatannya cukup panjang, sekitar tiga halaman, dan semuanya ia tulis dengan sangat cepat. Ia juga sambil menggambarkan beberapa ilustrasi untuk memperjelas penjelasannya. Setelah ia mencatat semua hasil evaluasinya, ia melihat latihan 7 Icons sebelum melakukan simulasi kedua. Lima menit kemudian, Adrian menghentikan latihan, dan mempersiapkan simulasi kedua untuk anak2 7 Icons.
Di simulasi kedua ini, Adrian ingin melihat tiga hal: suara, terutama kualitas vokal, gerakan dance, dan kekompakan para personil. Karena ingin menilai vokalnya, Adrian memasangkan mikropon mini pada setiap personil, dan menghubungkannya pada laptop. Adrian juga memakai headset dan duduk di belakang meja. Di atas meja itu laptop sudah disiapkan dan di samping kanannya ada camcorder. CD player dan radio ada di samping kirinya dan siap untuk diaktifkan. Ketika semuanya sudah siap, Adrian mengaktifkan semua alatnya dan simulasi kedua dimulai. Di saat anak2 7 Icons tampil, Adrian sibuk melihat ke arah layar laptopnya, sambil mendengarkan suara para personil 7 Icons dan melihat gelombang suara yang dihasilkan. Di laptopnya, Adrian mengaktifkan tiga program, yaitu program camcorder-nya, program movie viewer, untuk melihat rekaman camcorder yang sedang berlangsung, dan sebuah program khusus untuk melihat gelombang suara dan frekuensi suara yang dihasilkan lewat suara yang tertangkap oleh mikropon. Dalam program ini, yang muncul di monitor adalah gelombang suaranya. Dari sini Adrian bisa tahu seperti kualitas vokal para personil 7 Icons secara visual. Kalau secara audio-nya bisa didengar lewat headset. Adrian mendengar dan memperhatikan semuanya dengan sangat hati2 dan detail. Ini untuk memastikan semuanya berjalan baik. Bagaimana hasil simulasinya ? Semuanya sempurna. Vokalnya bagus, dance-nya bagus, dan semuanya kompak. Ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Adrian. Perform 7 Icons sudah ada di jalan yang benar sekarang, dan kalau misalnya dilatih terus, bukan tidak mungkin 7 Icons akan lebih keren lagi daripada sebelumnya. Semua personil 7 Icons merasa sangat senang dengan suksesnya dua simulasi ini, dan kini mereka semakin bersemangat dan tidak sabar untuk segera tampil lagi. Tapi mereka juga sadar kalau masih ada banyak latihan yang harus dilakukan untuk dapat benar2 mengembalikan penampilan mereka kembali.
Malam harinya, Adrian menghubungi Rizky, Andi, dan Rico di rumahnya. Dia bertanya soal pencarian rumah untuk anak2 7 Icons. Mereka melaporkan bahwa hasil pencarian mereka sudah langsung menunjukkan hasil. Ada beberapa rumah di pinggiran Jakarta Selatan yang sesuai atau mendekati kriteria Adrian yang berhasil ditemukan. Semuanya sudah difoto dan informasinya sudah berhasil dikumpulkan. Sekarang, ketiganya sedang dalam perjalanan pulang. Mereka bilang, ada banyak hal yang nantinya akan diceritakan saat di sekolah nanti. Adrian mengerti, dan meminta mereka untuk menyimpan informasi itu hingga jam istirahat sekolah besok.
DAY 13
Sekarang latihan vokal. Hari itu Adrian memberi kesempatan pada anak2 7 Icons untuk memilih satu lagu yang mereka suka, untuk kemudian dinyanyikan di hadapan Adrian. Karena lagu Playboy sudah tinggal berlatih dalam simulasi saja, maka sekarang latihan dialihkan ke lagu lain. Untuk mengisi waktu, anak2 7 Icons diperbolehkan untuk menyanyikan lagu kesukaan mereka, dan nanti Adrian akan menilai vokal mereka. Sebenarnya, tidak hanya vokal yang dinilai di sini. Adrian juga ingin menilai kepedean anak2 7 Icons di saat mereka harus bernyanyi sendiri. Mungkin nggak akan ada kesempatannya untuk setiap personil 7 Icons bisa bernyanyi sendiri secara penuh, tapi Adrian tetap memasukkan kegiatan ini dalam latihan para personil 7 Icons untuk lebih menumbuhkan rasa percaya diri setiap personil. Satu per satu personil berdiri di depan meja dan bernyanyi di hadapan teman2nya, dan juga Adrian. Untuk bisa melihat penampilan mereka, Adrian pun sampai memindahkan kursinya ke dekat kursi tempat Natly duduk. Adrian tidak berbicara soal vokal disini, ia hanya menulis apa yang ia dengar dari orang yang bernyanyi di depannya, dan kemudian memberitahukan semuanya setelah semua personil 7 Icons sudah maju ke depan. Adrian melihat kalau semua personil 7 Icons sudah mulai mendapatkan kepedeannya kembali. Mereka semua bernyanyi dengan penuh semangat, vokal yang baik, dan bahkan penuh ekspresi. Mungkin keberhasilan simulasi itu telah berhasil membuat semua personil 7 Icons bersemangat, dan mereka jadi tidak ragu untuk berekspresi. Adrian sangat senang bisa melihat mereka mendapatkan kepedeannya kembali.
Malam harinya, ia ngobrol dengan Rizky, Andi, dan Rico lagi. Ia bertanya soal kemajuan misinya. Apakah mereka dapat rumah lagi atau tidak. Ternyata, mereka berhasil dapat empat rumah lagi. Semuanya sudah difoto dan dikorek informasinya. Mereka kini mencari hingga ke Jakarta Barat. Di sana, ternyata lebih banyak lagi rumah yang ditemukan. Mereka menghitung lebih dari empat rumah yang berhasil ditemukan. Adrian lalu berkesimpulan bahwa banyak rumah yang sesuai kriterianya di sana, jadi Adrian meminta mereka untuk kembali ke daerah itu dan kemudian mencari lagi rumah2 yang sudah mereka temukan, namun belum sempat mereka korek informasinya. Pencarian kini dilakukan di daerah Jakarta Barat. Soal rencana2 lainnya, Adrian akan membahasnya bersama yang lain di sekolah.
DAY 14
Sudah tepat dua minggu training berjalan. Hari itu latihan dance sekaligus simulasi perform lagi. Tapi ada bedanya dengan simulasi sebelumnya. Kalau dulu simulasi dulu baru latihan, sekarang latihan dulu baru simulasi. Adrian sudah merencanakan akan ada tiga kali simulasi secara berurutan, diselingi istirahat 15 menit di setiap simulasinya. Latihannya satu setengah jam. Di sini hanya mengulang-ulang saja, Adrian hanya ingin memastikan kalau semuanya berjalan baik2 saja dan anak2 7 Icons siap untuk menjalani simulasi ketiga. Setelah beberapa kali latihan, dan Adrian memastikan kalau semuanya sudah siap, simulasi ketiga dimulai. Alat2nya sama seperti sebelumnya. Radio, CD Player, camcorder, dan laptop. Adrian duduk di belakang meja dan hanya melihat dari layar laptop-nya sambil memasang headset, dan anak2 7 Icons tampil seperti biasa, dalam kondisi mereka seperti ada di atas panggung. Sesudah simulasi selesai, para personil 7 Icons beristirahat sambil melihat video rekaman camcorder Adrian. Sambil mereka menonton, Adrian menjelaskan apa evaluasi yang ada di simulasi tadi. Setelah melihat videonya, simulasi dilanjutkan lagi, dan seterusnya. Pada akhirnya, semua simulasi itu berhasil, dan anak2 7 Icons sudah semakin bagus perform-nya, dan mereka sudah benar2 kembali. Adrian sangat puas, dan ia bisa mengambil kesimpulan, kalau... latihan 7 Icons untuk lagu Playboy sudah berhasil. Adrian kini bisa melanjutkan training ke bagian berikutnya. Tapi... kebingungan langsung melanda Adrian... mau latihan apa untuk berikutnya ?
DAY 15
Sekarang, masa training sudah memasuki setengah bulan, dan misi pertama training untuk mengembalikan perform anak2 7 Icons saat tampil dengan lagu Playboy sudah selesai, meskipun nantinya akan tetap dilatih terus. Yang sekarang jadi perhatian Adrian berikutnya adalah melatih 7 Icons untuk bisa menyanyikan lagu2 lain selain Playboy, mengingat 7 Icons sebenarnya masih menyimpan stok lagu yang banyak. Masalahnya satu. Adrian belum pernah mendengar lagu2 itu. Liriknya saja ia tidak tahu... satu2nya lagu 7 Icons yang ia tahu hanya Playboy. Itu saja. Adrian pun jadinya harus berpikir bagaimana caranya untuk mengisi waktu dalam masa training agar anak2 7 Icons tidak merasa jenuh. Di saat dia sedang berpikir itu (saat Adrian sedang berpikir, ia sedang duduk), tiba2 muncul dua orang siswa SMA Cambridge, yang satu cewek yang satu cowok, mendatangi majalah dinding dan menempelkan sebuah poster berisi ajakan buat semua siswa-siswi SMA Cambridge untuk menjadi sukarelawan pengumpul sumbangan untuk korban gempa dan gunung meletus. Adrian lalu melihat poster tersebut, dan ia langsung mendapat ide. Apa idenya Adrian ? Ia akan mengajak anak2 7 Icons untuk menjadi sukarelawan untuk mengumpulkan sumbangan tersebut. Ia pun langsung kembali ke kelasnya dan memberitahukan rencana itu pada anak2 7 Icons. Mereka pun langsung setuju dan langsung mendaftar ke OSIS. Anak2 7 Icons yang mendaftar duluan, kemudian disusul Adrian. Pengumpulan sumbangan akan dilakukan setelah sekolah dan lokasinya di beberapa perempatan jalan di Jakarta (tenang ini sudah ada izinnya kok, ceritanya...), dan semua sukarelawan boleh melakukan hal apapun untuk mengumpulkan sumbangan, asalkan jangan memaksa. Mereka berdelapan pun akhirnya diterima sebagai sukarelawan, bersama juga dengan beberapa orang lain. Karena acaranya akan dilakukan setelah sekolah, berarti training hari itu ditiadakan.
Anak2 7 Icons dan Adrian diterjunkan di sebuah sudut setopan jalan. Sementara sukarelawan yang lain ditempatkan di tempat lain. Mereka berdelapan dibekali dengan empat kardus seukuran kardus air minum dalam kemasan yang sudah ditandai dengan logo SMA Cambridge dan di sisi lainnya terdapat tulisan "PEDULI BENCANA ALAM". Karena hanya ada empat buah, akhirnya Adrian membagi pengumpulan sumbangan dalam dua giliran. Natly, Gc, Mezty, dan Vanila yang maju di giliran pertama, sementara Angel, PJ, dan Linzy, plus Adrian, di giliran kedua. Setiap giliran 30 menit. Karena pengumpulan sumbangannya dilakukan berlangsung selama tiga jam, maka setiap kelompok dapat kesempatan tiga kali untuk mengumpulkan sumbangan. Setelah semua sumbangan terkumpul, nantinya akan dihitung dan semuanya akan disumbangkan. Trik yang asyik bukan ? Tapi masalahnya satu. Apakah ada yang mau memberi sumbangan buat mereka ? Kalau untuk itu sih, Adrian hanya bilang, berharap saja. Ia yakin kalau tujuannya baik, pasti akan ada yang menyumbang.
Lampu merah menyala, dan giliran pertama pengumpul sumbangan turun ke jalan. Adrian dan para personil 7 Icons yang lain menunggu di pinggir jalan di saat mereka sedang mengumpulkan sumbangan. Ternyata, para pengguna jalan mau berbaik hati untuk memberikan sumbangan buat mereka... karena mereka tahu siapa yang ada meminta sumbangan... anak2 7 Icons! Para pengguna jalan masih ada yang mengenal mereka, dan semuanya pun langsung beramai-ramai memberi sumbangan buat mereka... ada yang ngasih seribu, dua ribu, lima ribu... bahkan ada yang ngasih sepuluh ribu (baik banget ya...) hingga akhirnya, 30 menit kemudian, kardus sumbangan mereka terisi cukup banyak uang. Natly, Gc, Mezty, dan Vanila langsung kembali ke pinggir jalan dan memperlihatkan hasil pendapatan mereka. Adrian, Angel, PJ, dan Linzy sangat senang melihatnya. Sekarang giliran mereka. Ternyata, begitu mereka yang turun ke jalan... jumlah yang mereka dapatkan lebih banyak lagi... karena banyak yang kenal sama Angel, PJ, dan Linzy, akhirnya banyak pengguna jalan yang mau menyumbang buat mereka... sementara Adrian... lebih sering dikasih tangan daripada dikasih uang... tapi hasilnya lumayan... uang terkumpul makin banyak... mungkin ratusan ribu sudah terkumpul hanya dari satu kali giliran. Tapi karena waktu masih banyak, pengumpulan pun dilanjutkan. Setelah beberapa kali pengumpulan sumbangan, kelihatan banget anak2 7 Icons bisa mendapatkan sumbangan yang lebih banyak dari Adrian. Semua orang mau menyumbang buat 7 Icons, dan tidak untuk Adrian. Adrian pun sedikit envy melihat mereka, yang bisa mengumpulkan uang sumbangan yang banyak hanya dalam waktu yang sangat cepat. Tapi di sisi lain, Adrian sangat senang karena anak2 7 Icons mau ikut jadi sukarelawan untuk kegiatan ini. Di sini Adrian bisa melihat kemauan anak2 7 Icons untuk menolong orang lain... Adrian melihatnya sebagai salah satu nilai plus yang cukup baik untuk mereka. Ia jadi ingin sesegera mungkin mencatatnya dalam buku catatannya, tapi karena ia sedang dalam tugas, ia pun tak bisa melakukannya hingga tugasnya selesai. Tugas hari itu berakhir lebih cepat 15 menit. Anak2 7 Icons dan Adrian hanya duduk2 saja di pinggir jalan sambil menunggu teman mereka yang lain datang. Nah, sambil menunggu, anak2 7 Icons meminta Adrian untuk membeli minum buat mereka. Adrian pun langsung meluncur ke sebuah minimarket yang ada tidak jauh dari tempat mereka bersantai.
Di minimarket itu, Adrian membeli cukup banyak makanan dan minuman buat teman2nya yang lain. Ia membeli snack, biskuit, air minum, beberapa kaleng minuman ringan, dan permen. Ketika ia akan membayar belanjaannya, Adrian bertemu lagi dengan Wenda, yang juga sedang ngantri untuk bayar belanjaannya. Ia membeli beberapa botol minuman dan snack. Ia masih memakai seragam sekolah putih abu2, membawa tas merah dengan gambar Hello Kitty, memakai kaus kaki putih dan sepatu merah. Adrian pun kaget mengetahui ada Wenda di depannya.
Adrian: Lho, Wenda ?
Wenda: Hai, Adrian... belanja apa nih ?
Adrian: Aku belanja makanan dan minuman buat teman2... tadi kita habis jadi sukarelawan pengumpul sumbangan untuk korban bencana alam... tugas sekolah... hahahaha...
Wenda: Wah, hebat banget... gw senang sama orang yang suka membantu sesama... baru selesai atau lagi istirahat ?
Adrian: Baru selesai. Setelah ini tinggal tunggu teman2 yang lain setelah itu kembali ke sekolah... omong2, kamu ngapain di minimarket ini ?
Wenda: Aku mau beli makanan dan minuman buat latihan nanti... malam ini aku mau latihan lagi sama teman2... kebetulan mereka nitip beli makanan dan minuman ke aku... jadi, gw belanja2 deh...
Adrian: Oh, good... baru pulang sekolah nih ?
Wenda: Iya, tapi nggak langsung pulang... aku makan2 dulu sama teman2 sekolahku...
Adrian: Oh... berarti kamu tinggal nggak jauh dari sini, dong ?
Wenda: Nggak kok, aku cuma mampir aja... kebetulan aku bawa mobil...
Adrian: Mobil ? Kamu bisa nyupir mobil ?
Wenda: Ya... aku baru dapat SIM dua bulan yang lalu... sebenarnya masih agak2 takut bawa mobilnya sih...
Adrian: Tenang aja... nanti juga kamu akan terbiasa kok...
Wenda: Iya kok... sebenarnya gw lagi berusaha untuk belajar kok...
Adrian: Good.
Wenda: Eh, Adrian... kapan2 kita jalan2 lagi yuk... tapi cuma kita berdua. Soal waktu dan tempatnya nanti aku kasih tahu deh... bagaimana ?
Adrian: Wah, mau banget tuh... tapi emangnya kamu punya waktu kosong ?
Wenda: Pastinya ada lah... tapi nggak selalu sih... tapi pasti ada kok waktunya...
Adrian: Well, akan kutunggu saat itu.
Wenda: Eh, kalau bisa minta nomor HP-mu dong... atau pin BB-mu... biar kita bisa contact2-an...
Adrian: Boleh kok... ini nomornya... (lalu mengeluarkan BB-nya, dan memberitahukan nomor HP plus pin BB-nya... ini rahasia lho)
Wenda: Oke, makasih ya... nanti kalau ada waktu, kita SMS-an atau main BBM ya...
Adrian: Ya... tapi nanti kasih tahu ya kalau kita mau ketemuan...
Wenda: Pastinya dong... pokoknya, satu hari sebelum kita ketemuan, gw akan kabarin...
Adrian: Bagus deh... eh, sekarang giliran kamu bayar tuh...
Wenda: Oh, ya... makasih ya sudah ingetin...
Adrian: Sama2...
Wenda lalu membawa belanjaannya ke meja kasir, dan membayar semua belanjaannya. Adrian sudah standby dengan menaruh keranjang belanjaannya di atas meja kasir. Sesudah Wenda membayar semuanya, ia pergi duluan, dengan membawa dua plastik belanjaan.
Wenda: Aku duluan ya, Adrian... nanti kapan2 kita ketemuan lagi...
Adrian: Oke, Wenda... hati2!
Wenda lalu pergi keluar dari minimarket itu. Adrian lalu membayar semua belanjaannya di meja kasir. Sambil ia menunggu belanjaannya dihitung, dia berbicara dalam hatinya, kalau kini ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya pada Wenda. Ia benar2 suka sama Wenda. Ia sudah tak bisa menutupinya lagi... dan dia berharap bisa secepatnya mengungkapkan perasaannya pada Wenda. Dia harus sesegera mungkin mengungkapkannya, karena waktu bertemunya dengan Wenda terbilang sedikit. Meskipun begitu, Adrian tetap harus memikirkan kapan saat yang tepat untuk bisa mengungkapkan perasaannya pada Wenda. Setelah semua belanjaannya dihitung, Adrian langsung membayarnya, dan lalu pergi meninggalkan minimarket itu, dengan membawa tiga plastik belanjaan. Ia langsung membawanya pada anak2 7 Icons yang sudah menunggunya di pinggiran jalan. Selang 15 menit kemudian, datanglah teman2 sesama sukarelawan yang lain menjemput mereka. Adrian dan anak2 7 Icons lalu melaporkan hasil pengumpulan sumbangan mereka, total semuanya terkumpul delapan ratus empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah, dan itu adalah yang tertinggi dari semua sukarelawan yang lain. Setelah melaporkan hasil pengumpulan sumbangan, mereka lalu kembali ke sekolah dengan menggunakan mobil sekolah. Tugas mereka hari itu selesai.
Segitu dulu cerita Fanfiction 7 Icons part 15d. Cerita ini masih akan berlanjut... karena masa training masih belum selesai dan cerita selingan juga masih belum selesai. Masih ada cerita lain yang akan diceritakan dalam part 15 Fanfiction 7 Icons ini... jujur saja, sekarang inilah bagian terpanjang di Fanfiction 7 Icons. Kalau dulu ada bagian 13 yang sampai harus dibagi tiga bagian, sekarang bagian 15 sudah terbagi menjadi empat bagian... memang panjang, tapi ini wajar karena saya mau bercerita tentang banyak hal disini... rencananya, cerita Fanfiction 7 Icons part 15 ini akan bercerita hingga hari ke-21 masa training, dan sisanya, dari hari ke-22 hingga hari ke-30 latihan... akan diceritakan di part 16. Pada hari ke-22 hingga hari ke-30 itu, akan diceritakan akhir dari masa latihan itu... dari tes simulasi hingga tes akhir penampilan mereka. Setelah itu, barulah kita akan bercerita soal kembalinya 7 Icons. Jadi ceritanya masih panjang... dan gw akan tetap mengerjakan cerita ini hingga bagian terakhir... mudah2an semuanya lancar... harapannya, di akhir bulan ini atau awal bulan depan, cerita ini bisa selesai. Makanya sekarang pengerjaan ceritanya agak dikebut... yah, mudah2an semuanya bisa selesai deh... kira2, seperti apa cerita berikutnya ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita ini akan segera berlanjut ke bagian berikutnya. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15e)
7 Icons masih menjalani training, dan hasilnya sejauh ini sudah sangat baik. Latihan mereka sekarang sudah mulai diarahkan untuk perform di atas panggung. Itu berarti, latihan dance dan latihan vokal sudah mulai digabung menjadi satu. Tentunya itu adalah sesuatu yang sulit, karena sekarang mereka tidak hanya harus ngedance, tapi juga harus bernyanyi. Tapi tak jadi masalah buat para personil 7 Icons karena Adrian sudah menyiapkan trik khusus bagaimana cara mempertahankan kondisi suara pada saat bernyanyi dan menari di atas panggung. Latihan pengaturan napas dan cara pengambilan suara menjadi trik utama untuk mengakali masalah tersebut. Semuanya sudah diajarkan oleh Adrian dan sudah dilakukan oleh para personil 7 Icons. Di tengah masa training tersebut, ada satu permintaan dari para personil 7 Icons pada Adrian, dan harapannya, Adrian bisa mengabulkan permintaan tersebut. Rencana para personil 7 Icons untuk tinggal dalam satu rumah membuat mereka memberi sebuah permintaan pada Adrian untuk mencarikan rumah baru untuk mereka. Rumah permintaan mereka nggak rumit2 amat kok. Hanya sebuah rumah sederhana dengan tujuh kamar dan fasilitas lengkap, kalau mau ditambah. Pertanyaannya satu. Ada nggak rumah yang seperti itu di Jakarta ? Biasanya kalau rumah seperti itu ada dua jenisnya di Jakarta: satu, rumah kost, dan kedua, rumah mewah. Karena jumlah kamarnya sudah standar rumah mewah kelas atas... tapi para personil 7 Icons yakin rumah seperti itu ada di Jakarta. Namun masalahnya, untuk menemukan rumah yang seperti itu, peluangnya sangat kecil, dihitung dari lokasi dan ketersediaan. Adrian pun sampai kebingungan mau cari di mana rumah2 yang seperti itu. Di tengah kebingungannya, ia mendapat ide. Inilah yang akan ia lakukan.
DAY 11
Di taman sekolah, Rizky, Andi, dan Rico sedang ngobrol2. Mereka semua sedang bercanda seperti biasa. Bahkan Rico hingga bernyanyi lagu dangdut sambil berjoget, mengundang tawa dari Rizky dan Andi. Di saat mereka sedang ngobrol2 itu, datanglah Adrian, yang sejak tadi mencari mereka bertiga. Mengetahui ketiga temannya sedang berada di taman, Adrian langsung merubah arah berjalannya dan masuk ke dalam taman, menghampiri ketiganya. Mengetahui teman mereka datang, ketiganya langsung mengarahkan pandangannya pada Adrian.
Rizky: Weh, bro... apa kabar ? Tumben nih datengin kita lagi... ada apa nih ?
Andi: Iya nih... ada angin apa bro kita datang kemari ?
Adrian: Gw minta bantuan kalian.
Rizky: Bantuan ? Itu sih kecil kalau buat kamu, bro... minta bantuan apa ?
Adrian: Gw pengen kalian cariin rumah buat anak2 7 Icons.
Andi: Hah ? Rumah ? Serius nih ? Bukannya udah pada punya rumah mereka ?
Adrian: Mereka sekarang punya rencana untuk tinggal bertujuh. Kemarin saat training, gw baru tahu kalau ternyata beberapa anak 7 Icons tidak tinggal dengan orangtua mereka.
Rico: Beneran tuh ? Siapa aja tuh yang tinggalnya jauh dari orangtua ?
Adrian: Angel, PJ, Natly, Vanila, sama Mezty. Mereka semua ada yang tinggal dengan keluarga mereka dan ada yang nge-kost. Mereka semua asalnya jauh dari sini.
Andi: Emangnya, mereka berlima dari mana ?
Adrian: Angel, PJ, Natly, sama Vanila dari Surabaya, Mezty dari Bandung. Mereka semua dikirim ke sini untuk bersekolah.
Rizky: Wah hebat banget kalau begitu... kenapa mereka nggak sekolah aja di daerahnya masing2 ?
Adrian: Mereka soalnya bilang kalau disini sekolahnya bagus, jadinya mereka dikirim ke sini.
Andi: Oh, begitu. Terus, kalau yang dua lainnya, Gc dan Linzy ?
Adrian: Mereka semua memang tinggal disini, tapi orangtua mereka sibuk. Mereka sih sudah diizinin...
Rico: Oh, jadi pada ikut2an, begitu ?
Adrian: Semacam itulah.
Rizky: Terus, kriteria rumah mereka seperti apa ?
Adrian: Rumah sederhana, tapi ada tujuh kamar. Bisa nggak kalian cariin ?
Andi: Wah, kalau itu sih... tanyakan pada Rico... dia kan ayahnya pengusaha properti... pemilik developer perumahan dan apartemen... pasti dia tahu rumah yang seperti itu...
Rico: Rumah sederhana dengan tujuh kamar ? Itu sih rumah mewah namanya... mana ada yang sederhana...
Adrian: Tapi kata Angel ada. Di daerah Jakarta Selatan sama Jakarta Barat ada...
Rico: Nggak mungkin. Nggak mungkin ada. Biasanya kalau rumah yang seperti itu rumah mewah. Kalau mau, mendingan beli apartemen...
Adrian: Mereka nggak mau apartemen. Soalnya mereka sudah punya... tapi ditarik sama label.
Andi: Ditarik ? Ditarik kenapa ?
Adrian: Kan mereka bubar. Dulu kalian baca kan, surat pernyataannya ? Semua fasilitas penunjang 7 Icons ditarik setelah mereka tandatangan surat itu. Ingat kan ?
Andi: Oh, iya ya...
Rico: Jadi mereka hanya mau rumah aja nih ?
Adrian: Ya. Ada kan, rumah yang seperti itu ?
Rico: Yah, sebenarnya sih ada... tapi rumah kost2an. Mau ?
Adrian: Mereka nggak mau rumah yang seperti itu, Rico. Mereka mau rumah yang seperti rumah biasa pada umumnya, tapi dengan tujuh kamar. Pasti ada kan, rumah seperti itu ?
Rico: Gw belum pernah dengar rumah yang seperti itu. Tapi kalau melihat lokasinya, mungkin aja sih ada, tapi gw bilang nggak mungkin ada rumah yang seperti itu.
Adrian: Ya, makanya kamu cari... gw tugasin kalian bertiga untuk cari rumah itu... gw melatih anak2 7 Icons, kalian terjun ke lapangan buat cariin rumah buat mereka. Gw yakin pasti ada...
Rizky: Yah, kalau untuk itu sih, kita bakal cariin... tapi kalau gw dengar kata si Rico... bisa aja rumah yang seperti itu nggak ada. Gw juga pernah lihat2 di sekeliling tempat gw tinggal nggak ada rumah yang seperti itu...
Adrian: Ya wajar karena kamu tinggalnya di daerah pinggiran... tapi pokoknya, ada atau nggak ada, kalian cari rumah itu. Please, demi anak2 7 Icons. Mereka sekarang lagi semangat2nya untuk bisa tampil lagi. Minimal kalian bisa bantu mereka sekali aja, untuk ini...
Andi: Anak2 7 Icons lagi semangat2nya untuk bisa tampil lagi ? Eh, omong2 gimana training-nya ? Bagus ?
Adrian: Progresnya mantap! Mereka benar2 pengen tampil lagi. Semua latihan mereka jalani dengan serius... gw sampai salut sama mereka... latihannya bener2...
Rizky: Ya, wajar... mantan superstar... ya kan ?
Adrian: Iya juga sih... tapi kan setidaknya ada usahanya juga...
Rizky: Kalau untuk itu sih lumayan... eh, gw penasaran nih, lu ngelatih mereka di mana sih ? Gw lama2 jadi envy tiap kali pulang sekolah semobil terus sama anak2 7 Icons...
Adrian: Kalau itu gw nggak bisa bilang. Tempatnya rahasia. Nggak boleh dikasih tahu.
Andi: Pelit lu sama temen... udah sih bilang aja di mana ?
Adrian: Sorry bro... nggak bisa... untuk ini, gw nggak bisa... kasihan anak2 7 Icons nanti latihannya terganggu... mereka ini sedang tidak mau dan tidak bisa diganggu. Oke ?
Rico: Nggak oke... biasanya kalau sudah tentang 7 Icons lu pasti kasih tahu kita2... masa yang ini nggak boleh ? Pelit lu...
Adrian: Sorry, ini sudah komitmen... ini permintaan dari anak2 7 Icons sendiri... permintaan mereka ya... mau nggak mau harus dituruti, walaupun berat sekalipun... sebenarnya gw juga mau bilang, tapi si Angel sudah ngancem kalau gw bilang2 soal tempat training-nya... nanti gw dibejek-bejek...
Andi: Ya bilang aja diam2... kalau diam2, si Angel nggak akan bejek2 kamu kan ? Tenang aja sih...
Adrian: Maaf, tetap nggak bisa... gw nurut sama Angel... tetap gw nggak akan bilang...
Andi: Hah... payah... penakut lu...
Rizky: Tahu nih... sama cewek takut... hahahah... nggak laki!
Adrian: Masa bodoh nggak laki. Yang penting gw ngelakuin tugas gw... eh, tapi kalian semua pada cariin rumah itu ya... minimal di Jakarta Barat sama Jakarta Selatan... itu aja... kalau nggak ada, baru pindah ke tempat lain... oke ? Bisa dikerjain nggak ?
Rizky: Itu sih gampang, Adrian... kita jabanin! Kita bakal cariin rumah itu buat lu dan anak2 7 Icons... tapi kalau misalnya nggak ada, kita kasih rumah mewah nggak apa2 ya ?
Adrian: Terserah kalian. Gw serahin semuanya pada kalian. Terserah, mau rumahnya seperti apa, asalkan semua kriteria terpenuhi. Rumah sederhana dengan tujuh kamar dan fasilitas lengkap. Mengerti ?
Rico: Siap, bro... kita bakal lakuin... pokoknya apapun, demi kamu, kita lakukan...
Adrian: Bagus... sekarang perhatiin instruksi gw. Begitu kalian dapetin rumah yang sesuai atau mendekati dengan kriteria itu... kalian langsung foto dan korek informasi yang banyak tentang rumah itu. Catat semua informasinya... kalau bisa, setelah fotonya dicetak, pindahkan informasinya, tulis di belakang fotonya. Kalau kalian sudah dapatkan semuanya, kasih ke gw, nanti gw akan teruskan kepada anak2 7 Icons. Mereka yang nantinya akan memilih. Gw kalian waktu... sampai satu minggu ke depan. Kalian semua mengerti ?
Rizky, Andi, Rico: Mengerti, bos!
Adrian: Bagus... kalau gw ada waktu, gw akan minta laporan pada kalian. Handphone kalian standby selama masa tugas. Mungkin nanti sore setelah training atau malam hari gw hubungi kalian, dan gw harap kalian sudah mendapatkan hasil. Ngerti ?
Rizky: Ngerti bos! Tapi kalau misalnya nggak dapat ?
Adrian: Cari sampai dapat. Minimal satu rumah per hari. Kalau sudah terlalu malam, jangan dipaksa. Langsung pulang, lanjut lagi besok siang setelah sekolah. Begitu seterusnya. Oke ?
Andi: Oke bro... semua instruksi telah dimengerti.
Adrian: Dan Rico, kalau bisa... tanya ayahmu soal rumah yang kriterianya seperti ini ada atau nggak. Mungkin siapa tahu dia lebih mengerti dan kamu belum tahu.
Rico: Itu sih gampang, Adrian. Hanya saja ada masalahnya... ayah gw sibuk... kadang2 baru bisa pulang malam... mungkin saat itu baru gw bisa tanya... tapi akan gw upayakan yang terbaik.
Adrian: Bagus. Kalau begitu, semua sudah mengerti tugasnya ? Kalian semua bisa mulai mencari hari ini atau mulai besok. Yang pasti kalian semua harus bekerja, karena nanti gw akan minta laporan dari kalian.
Rizky: Mungkin kita baru bisa mulai besok. Kita bertiga harus koordinasi dulu...
Adrian: Baiklah. Pokoknya, aku minta foto dan informasinya saja. Nggak peduli gimana cara kalian mendapatkannya. Karena itu yang terpenting. Oke ? Kalau semuanya sudah jelas, sekarang gw mau pergi dulu ke kantin. Buat kalian semua, selamat bertugas.
Rico: Oke bro... terima kasih!
Andi: Thank you bro... kita akan kerjain semuanya! Tenang aja!
Adrian lalu memberi acungan jempol pada ketiganya sambil berlalu meninggalkan mereka menuju kantin. Sekarang Adrian sudah punya bantuan yang akan terjun ke lapangan untuk mencarikan rumah yang diinginkan oleh para personil 7 Icons. Kini Adrian hanya tinggal berkonsentrasi melatih anak2 7 Icons sambil menunggu laporan dari teman2nya. Setelah ia berhasil mendapatkan bantuan, ia pun memberitahukan hal ini pada anak2 7 Icons saat latihan vokal berlangsung.
PJ: Hah ? Lu minta bantuan Rizky, Andi, sama Rico ? Emang mereka bisa ?
Adrian: Ya, gw berharap demikian... tapi beruntung ayahnya Rico itu pengusaha properti, jadi minimal dia ngerti2 sedikit lah soal rumah yang bagus seperti apa...
PJ: Bagus sih kalau begitu... tapi gw terlalu yakin Rizky dan Andi bisa ngelakuin tugas ini...
Adrian: Mereka mah tugasnya ringan. Cuma nganterin Rico, catet2 informasi, sama foto2in rumah, itu saja.
PJ: Dari mana kamu tahu rencana itu ?
Adrian: Mereka sendiri yang bilang... gw ketemu lagi sepulang sekolah, sebelum ketemu kalian...
PJ: Yah, oke lah... kalau begini... gw berharap aja semuanya bisa berjalan dengan baik...
Adrian: Mudah2an... soalnya gw juga sebenarnya nggak terlalu yakin mereka ngerti tugasnya atau tidak... ya sudah, sekarang kita mulai saja latihannya...
Siang itu, latihannya adalah latihan vokal, dan yang sekarang dilatih adalah para personil ketika mereka menyanyikan lagu Playboy dari awal hingga akhir. Semua personil 7 Icons menyanyikan lagu Playboy dari awal hingga akhir, dan Adrian akan memperbaiki beberapa bagian yang menurutnya perlu untuk diperbaiki. Latihannya dilakukan dengan dua cara, satu dengan musik, dan lainnya tanpa musik. Latihan tanpa musik adalah yang paling diprioritaskan, karena disitulah Adrian ingin mendengar seperti apa vokal dari para personil 7 Icons dan memperbaikinya. Latihan dengan musik tujuannya adalah untuk menyesuaikan antara suara dan melodi lagunya. Latihannya berlangsung santai, dan Adrian sekarang sudah mengambil kesimpulan kalau vokal anak2 7 Icons untuk lagu Playboy sudah kembali. Tinggal beberapa kali latihan lagi, ditambah latihan dance, 7 Icons sudah siap untuk perform lagu Playboy di atas panggung kembali.
DAY 12
Di saat Rizky, Andi, dan Rico sedang melaksanakan tugas dari Adrian untuk mencarikan untuk anak2 7 Icons, Adrian dan anak2 7 Icons berlatih dance. Kali ini, latihannya adalah... simulasi perform. Di sini, Adrian sudah mengkondisikan semuanya seperti berada di atas panggung, dengan menaruh beberapa kursi di sekeliling tempat anak2 7 Icons akan perform. Tempat perform-nya sudah ditandai dengan lakban. Adrian membuat sebuah persegi panjang besar dengan lakban2 itu, dan anak2 7 Icons akan tampil di dalamnya. Mereka tidak boleh melewati garis lakban itu. Adrian juga sudah membawa sebuah radio, CD Player, camcorder, dan laptop. Radio digunakan untuk memutar sebuah kaset yang berisi rekaman suara penonton (padahal itu direkam dari pertandingan Liga Inggris dan Liga Spanyol), untuk memberi kesan bahwa 7 Icons sedang berada di atas panggung dan ditonton oleh orang banyak. CD Player dipakai untuk memutar CD lagu Playboy, camcorder berfungsi untuk merekam simulasi konser itu, dan laptop digunakan untuk melihat hasil rekaman camcorder. Adrian sendiri duduk di kursinya sambil melihat anak2 7 Icons perform, sambil juga mengaktifkan alat2 canggihnya, baik itu radio, CD Player, camcorder, dan laptop. Sebelum simulasi dimulai, Adrian meminta anak2 7 Icons untuk rileks, fokus, dan konsentrasi terhadap apa yang sudah diajarkan. Adrian percaya kalau anak2 7 Icons akan berhasil dalam simulasi ini. Simulasi ini bisa dianggap sebagai tes perform-nya. Jika anak2 7 Icons berhasil, maka ini akan menjadi progres yang besar dalam latihan mereka.
Simulasi pun dimulai. Anak2 7 Icons tampil, dan Adrian menilai dari kursinya. Adrian hanya ingin melihat apakah mereka bisa tampil dengan lancar, tanpa hambatan, dari awal hingga akhir. Baru kemudian Adrian akan menilai perform mereka. Adrian memperhatikan dengan serius perform 7 Icons ini, meskipun ini hanya sekedar simulasi saja. Ia sudah seperti menonton perform 7 Icons di TV. Wajahnya agak sedikit tegang pada awalnya, khawatir kalau mereka masih kacau penampilannya. Tapi kemudian ia sedikit demi sedikit mulai tersenyum, apalagi di bagian2 akhir, karena 7 Icons sudah bisa tampil dengan baik dan kompak. Ketika lagunya selesai, ia sudah tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya, dan ia pun bertepuk tangan sambil berdiri. Simulasi perform mereka yang pertama sukses. Anak2 7 Icons juga merasa tidak menyangka kalau perform mereka sudah kembali normal. Mereka pun langsung kegirangan. Adrian juga merasa lebih tenang. Simulasi pertamanya sudah selesai dan sukses. Adrian lalu memperbolehkan anak2 7 Icons untuk beristirahat, dan sambil beristirahat, mereka menonton video simulasi tadi lewat laptop Adrian. Adrian menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk simulasi berikutnya. Setelah istirahat, Adrian berencana untuk melakukan latihan dance sebentar, setelah itu dilanjutkan dengan simulasi kedua. Simulasi ini harus sering diulang-ulang, agar anak2 7 Icons bisa lebih terbiasa dengan suasana panggung dan penontonnya. Anggap saja sebagai pemanasannya. Selang 30 menit kemudian, setelah menonton video itu berulang-ulang dan mempelajari video itu, latihan dance pun dilakukan. Karena 7 Icons sudah hapal gerakannya, mereka berlatih sendiri, dan Adrian hanya memperhatikan. Sambil ia memperhatikan 7 Icons berlatih, Adrian mencatat seperti apa hasil simulasi pertama dan apa yang ia dapat dari video simulasinya. Catatannya cukup panjang, sekitar tiga halaman, dan semuanya ia tulis dengan sangat cepat. Ia juga sambil menggambarkan beberapa ilustrasi untuk memperjelas penjelasannya. Setelah ia mencatat semua hasil evaluasinya, ia melihat latihan 7 Icons sebelum melakukan simulasi kedua. Lima menit kemudian, Adrian menghentikan latihan, dan mempersiapkan simulasi kedua untuk anak2 7 Icons.
Di simulasi kedua ini, Adrian ingin melihat tiga hal: suara, terutama kualitas vokal, gerakan dance, dan kekompakan para personil. Karena ingin menilai vokalnya, Adrian memasangkan mikropon mini pada setiap personil, dan menghubungkannya pada laptop. Adrian juga memakai headset dan duduk di belakang meja. Di atas meja itu laptop sudah disiapkan dan di samping kanannya ada camcorder. CD player dan radio ada di samping kirinya dan siap untuk diaktifkan. Ketika semuanya sudah siap, Adrian mengaktifkan semua alatnya dan simulasi kedua dimulai. Di saat anak2 7 Icons tampil, Adrian sibuk melihat ke arah layar laptopnya, sambil mendengarkan suara para personil 7 Icons dan melihat gelombang suara yang dihasilkan. Di laptopnya, Adrian mengaktifkan tiga program, yaitu program camcorder-nya, program movie viewer, untuk melihat rekaman camcorder yang sedang berlangsung, dan sebuah program khusus untuk melihat gelombang suara dan frekuensi suara yang dihasilkan lewat suara yang tertangkap oleh mikropon. Dalam program ini, yang muncul di monitor adalah gelombang suaranya. Dari sini Adrian bisa tahu seperti kualitas vokal para personil 7 Icons secara visual. Kalau secara audio-nya bisa didengar lewat headset. Adrian mendengar dan memperhatikan semuanya dengan sangat hati2 dan detail. Ini untuk memastikan semuanya berjalan baik. Bagaimana hasil simulasinya ? Semuanya sempurna. Vokalnya bagus, dance-nya bagus, dan semuanya kompak. Ini sesuai dengan apa yang diharapkan oleh Adrian. Perform 7 Icons sudah ada di jalan yang benar sekarang, dan kalau misalnya dilatih terus, bukan tidak mungkin 7 Icons akan lebih keren lagi daripada sebelumnya. Semua personil 7 Icons merasa sangat senang dengan suksesnya dua simulasi ini, dan kini mereka semakin bersemangat dan tidak sabar untuk segera tampil lagi. Tapi mereka juga sadar kalau masih ada banyak latihan yang harus dilakukan untuk dapat benar2 mengembalikan penampilan mereka kembali.
Malam harinya, Adrian menghubungi Rizky, Andi, dan Rico di rumahnya. Dia bertanya soal pencarian rumah untuk anak2 7 Icons. Mereka melaporkan bahwa hasil pencarian mereka sudah langsung menunjukkan hasil. Ada beberapa rumah di pinggiran Jakarta Selatan yang sesuai atau mendekati kriteria Adrian yang berhasil ditemukan. Semuanya sudah difoto dan informasinya sudah berhasil dikumpulkan. Sekarang, ketiganya sedang dalam perjalanan pulang. Mereka bilang, ada banyak hal yang nantinya akan diceritakan saat di sekolah nanti. Adrian mengerti, dan meminta mereka untuk menyimpan informasi itu hingga jam istirahat sekolah besok.
DAY 13
Sekarang latihan vokal. Hari itu Adrian memberi kesempatan pada anak2 7 Icons untuk memilih satu lagu yang mereka suka, untuk kemudian dinyanyikan di hadapan Adrian. Karena lagu Playboy sudah tinggal berlatih dalam simulasi saja, maka sekarang latihan dialihkan ke lagu lain. Untuk mengisi waktu, anak2 7 Icons diperbolehkan untuk menyanyikan lagu kesukaan mereka, dan nanti Adrian akan menilai vokal mereka. Sebenarnya, tidak hanya vokal yang dinilai di sini. Adrian juga ingin menilai kepedean anak2 7 Icons di saat mereka harus bernyanyi sendiri. Mungkin nggak akan ada kesempatannya untuk setiap personil 7 Icons bisa bernyanyi sendiri secara penuh, tapi Adrian tetap memasukkan kegiatan ini dalam latihan para personil 7 Icons untuk lebih menumbuhkan rasa percaya diri setiap personil. Satu per satu personil berdiri di depan meja dan bernyanyi di hadapan teman2nya, dan juga Adrian. Untuk bisa melihat penampilan mereka, Adrian pun sampai memindahkan kursinya ke dekat kursi tempat Natly duduk. Adrian tidak berbicara soal vokal disini, ia hanya menulis apa yang ia dengar dari orang yang bernyanyi di depannya, dan kemudian memberitahukan semuanya setelah semua personil 7 Icons sudah maju ke depan. Adrian melihat kalau semua personil 7 Icons sudah mulai mendapatkan kepedeannya kembali. Mereka semua bernyanyi dengan penuh semangat, vokal yang baik, dan bahkan penuh ekspresi. Mungkin keberhasilan simulasi itu telah berhasil membuat semua personil 7 Icons bersemangat, dan mereka jadi tidak ragu untuk berekspresi. Adrian sangat senang bisa melihat mereka mendapatkan kepedeannya kembali.
Malam harinya, ia ngobrol dengan Rizky, Andi, dan Rico lagi. Ia bertanya soal kemajuan misinya. Apakah mereka dapat rumah lagi atau tidak. Ternyata, mereka berhasil dapat empat rumah lagi. Semuanya sudah difoto dan dikorek informasinya. Mereka kini mencari hingga ke Jakarta Barat. Di sana, ternyata lebih banyak lagi rumah yang ditemukan. Mereka menghitung lebih dari empat rumah yang berhasil ditemukan. Adrian lalu berkesimpulan bahwa banyak rumah yang sesuai kriterianya di sana, jadi Adrian meminta mereka untuk kembali ke daerah itu dan kemudian mencari lagi rumah2 yang sudah mereka temukan, namun belum sempat mereka korek informasinya. Pencarian kini dilakukan di daerah Jakarta Barat. Soal rencana2 lainnya, Adrian akan membahasnya bersama yang lain di sekolah.
DAY 14
Sudah tepat dua minggu training berjalan. Hari itu latihan dance sekaligus simulasi perform lagi. Tapi ada bedanya dengan simulasi sebelumnya. Kalau dulu simulasi dulu baru latihan, sekarang latihan dulu baru simulasi. Adrian sudah merencanakan akan ada tiga kali simulasi secara berurutan, diselingi istirahat 15 menit di setiap simulasinya. Latihannya satu setengah jam. Di sini hanya mengulang-ulang saja, Adrian hanya ingin memastikan kalau semuanya berjalan baik2 saja dan anak2 7 Icons siap untuk menjalani simulasi ketiga. Setelah beberapa kali latihan, dan Adrian memastikan kalau semuanya sudah siap, simulasi ketiga dimulai. Alat2nya sama seperti sebelumnya. Radio, CD Player, camcorder, dan laptop. Adrian duduk di belakang meja dan hanya melihat dari layar laptop-nya sambil memasang headset, dan anak2 7 Icons tampil seperti biasa, dalam kondisi mereka seperti ada di atas panggung. Sesudah simulasi selesai, para personil 7 Icons beristirahat sambil melihat video rekaman camcorder Adrian. Sambil mereka menonton, Adrian menjelaskan apa evaluasi yang ada di simulasi tadi. Setelah melihat videonya, simulasi dilanjutkan lagi, dan seterusnya. Pada akhirnya, semua simulasi itu berhasil, dan anak2 7 Icons sudah semakin bagus perform-nya, dan mereka sudah benar2 kembali. Adrian sangat puas, dan ia bisa mengambil kesimpulan, kalau... latihan 7 Icons untuk lagu Playboy sudah berhasil. Adrian kini bisa melanjutkan training ke bagian berikutnya. Tapi... kebingungan langsung melanda Adrian... mau latihan apa untuk berikutnya ?
DAY 15
Sekarang, masa training sudah memasuki setengah bulan, dan misi pertama training untuk mengembalikan perform anak2 7 Icons saat tampil dengan lagu Playboy sudah selesai, meskipun nantinya akan tetap dilatih terus. Yang sekarang jadi perhatian Adrian berikutnya adalah melatih 7 Icons untuk bisa menyanyikan lagu2 lain selain Playboy, mengingat 7 Icons sebenarnya masih menyimpan stok lagu yang banyak. Masalahnya satu. Adrian belum pernah mendengar lagu2 itu. Liriknya saja ia tidak tahu... satu2nya lagu 7 Icons yang ia tahu hanya Playboy. Itu saja. Adrian pun jadinya harus berpikir bagaimana caranya untuk mengisi waktu dalam masa training agar anak2 7 Icons tidak merasa jenuh. Di saat dia sedang berpikir itu (saat Adrian sedang berpikir, ia sedang duduk), tiba2 muncul dua orang siswa SMA Cambridge, yang satu cewek yang satu cowok, mendatangi majalah dinding dan menempelkan sebuah poster berisi ajakan buat semua siswa-siswi SMA Cambridge untuk menjadi sukarelawan pengumpul sumbangan untuk korban gempa dan gunung meletus. Adrian lalu melihat poster tersebut, dan ia langsung mendapat ide. Apa idenya Adrian ? Ia akan mengajak anak2 7 Icons untuk menjadi sukarelawan untuk mengumpulkan sumbangan tersebut. Ia pun langsung kembali ke kelasnya dan memberitahukan rencana itu pada anak2 7 Icons. Mereka pun langsung setuju dan langsung mendaftar ke OSIS. Anak2 7 Icons yang mendaftar duluan, kemudian disusul Adrian. Pengumpulan sumbangan akan dilakukan setelah sekolah dan lokasinya di beberapa perempatan jalan di Jakarta (tenang ini sudah ada izinnya kok, ceritanya...), dan semua sukarelawan boleh melakukan hal apapun untuk mengumpulkan sumbangan, asalkan jangan memaksa. Mereka berdelapan pun akhirnya diterima sebagai sukarelawan, bersama juga dengan beberapa orang lain. Karena acaranya akan dilakukan setelah sekolah, berarti training hari itu ditiadakan.
Anak2 7 Icons dan Adrian diterjunkan di sebuah sudut setopan jalan. Sementara sukarelawan yang lain ditempatkan di tempat lain. Mereka berdelapan dibekali dengan empat kardus seukuran kardus air minum dalam kemasan yang sudah ditandai dengan logo SMA Cambridge dan di sisi lainnya terdapat tulisan "PEDULI BENCANA ALAM". Karena hanya ada empat buah, akhirnya Adrian membagi pengumpulan sumbangan dalam dua giliran. Natly, Gc, Mezty, dan Vanila yang maju di giliran pertama, sementara Angel, PJ, dan Linzy, plus Adrian, di giliran kedua. Setiap giliran 30 menit. Karena pengumpulan sumbangannya dilakukan berlangsung selama tiga jam, maka setiap kelompok dapat kesempatan tiga kali untuk mengumpulkan sumbangan. Setelah semua sumbangan terkumpul, nantinya akan dihitung dan semuanya akan disumbangkan. Trik yang asyik bukan ? Tapi masalahnya satu. Apakah ada yang mau memberi sumbangan buat mereka ? Kalau untuk itu sih, Adrian hanya bilang, berharap saja. Ia yakin kalau tujuannya baik, pasti akan ada yang menyumbang.
Lampu merah menyala, dan giliran pertama pengumpul sumbangan turun ke jalan. Adrian dan para personil 7 Icons yang lain menunggu di pinggir jalan di saat mereka sedang mengumpulkan sumbangan. Ternyata, para pengguna jalan mau berbaik hati untuk memberikan sumbangan buat mereka... karena mereka tahu siapa yang ada meminta sumbangan... anak2 7 Icons! Para pengguna jalan masih ada yang mengenal mereka, dan semuanya pun langsung beramai-ramai memberi sumbangan buat mereka... ada yang ngasih seribu, dua ribu, lima ribu... bahkan ada yang ngasih sepuluh ribu (baik banget ya...) hingga akhirnya, 30 menit kemudian, kardus sumbangan mereka terisi cukup banyak uang. Natly, Gc, Mezty, dan Vanila langsung kembali ke pinggir jalan dan memperlihatkan hasil pendapatan mereka. Adrian, Angel, PJ, dan Linzy sangat senang melihatnya. Sekarang giliran mereka. Ternyata, begitu mereka yang turun ke jalan... jumlah yang mereka dapatkan lebih banyak lagi... karena banyak yang kenal sama Angel, PJ, dan Linzy, akhirnya banyak pengguna jalan yang mau menyumbang buat mereka... sementara Adrian... lebih sering dikasih tangan daripada dikasih uang... tapi hasilnya lumayan... uang terkumpul makin banyak... mungkin ratusan ribu sudah terkumpul hanya dari satu kali giliran. Tapi karena waktu masih banyak, pengumpulan pun dilanjutkan. Setelah beberapa kali pengumpulan sumbangan, kelihatan banget anak2 7 Icons bisa mendapatkan sumbangan yang lebih banyak dari Adrian. Semua orang mau menyumbang buat 7 Icons, dan tidak untuk Adrian. Adrian pun sedikit envy melihat mereka, yang bisa mengumpulkan uang sumbangan yang banyak hanya dalam waktu yang sangat cepat. Tapi di sisi lain, Adrian sangat senang karena anak2 7 Icons mau ikut jadi sukarelawan untuk kegiatan ini. Di sini Adrian bisa melihat kemauan anak2 7 Icons untuk menolong orang lain... Adrian melihatnya sebagai salah satu nilai plus yang cukup baik untuk mereka. Ia jadi ingin sesegera mungkin mencatatnya dalam buku catatannya, tapi karena ia sedang dalam tugas, ia pun tak bisa melakukannya hingga tugasnya selesai. Tugas hari itu berakhir lebih cepat 15 menit. Anak2 7 Icons dan Adrian hanya duduk2 saja di pinggir jalan sambil menunggu teman mereka yang lain datang. Nah, sambil menunggu, anak2 7 Icons meminta Adrian untuk membeli minum buat mereka. Adrian pun langsung meluncur ke sebuah minimarket yang ada tidak jauh dari tempat mereka bersantai.
Di minimarket itu, Adrian membeli cukup banyak makanan dan minuman buat teman2nya yang lain. Ia membeli snack, biskuit, air minum, beberapa kaleng minuman ringan, dan permen. Ketika ia akan membayar belanjaannya, Adrian bertemu lagi dengan Wenda, yang juga sedang ngantri untuk bayar belanjaannya. Ia membeli beberapa botol minuman dan snack. Ia masih memakai seragam sekolah putih abu2, membawa tas merah dengan gambar Hello Kitty, memakai kaus kaki putih dan sepatu merah. Adrian pun kaget mengetahui ada Wenda di depannya.
Adrian: Lho, Wenda ?
Wenda: Hai, Adrian... belanja apa nih ?
Adrian: Aku belanja makanan dan minuman buat teman2... tadi kita habis jadi sukarelawan pengumpul sumbangan untuk korban bencana alam... tugas sekolah... hahahaha...
Wenda: Wah, hebat banget... gw senang sama orang yang suka membantu sesama... baru selesai atau lagi istirahat ?
Adrian: Baru selesai. Setelah ini tinggal tunggu teman2 yang lain setelah itu kembali ke sekolah... omong2, kamu ngapain di minimarket ini ?
Wenda: Aku mau beli makanan dan minuman buat latihan nanti... malam ini aku mau latihan lagi sama teman2... kebetulan mereka nitip beli makanan dan minuman ke aku... jadi, gw belanja2 deh...
Adrian: Oh, good... baru pulang sekolah nih ?
Wenda: Iya, tapi nggak langsung pulang... aku makan2 dulu sama teman2 sekolahku...
Adrian: Oh... berarti kamu tinggal nggak jauh dari sini, dong ?
Wenda: Nggak kok, aku cuma mampir aja... kebetulan aku bawa mobil...
Adrian: Mobil ? Kamu bisa nyupir mobil ?
Wenda: Ya... aku baru dapat SIM dua bulan yang lalu... sebenarnya masih agak2 takut bawa mobilnya sih...
Adrian: Tenang aja... nanti juga kamu akan terbiasa kok...
Wenda: Iya kok... sebenarnya gw lagi berusaha untuk belajar kok...
Adrian: Good.
Wenda: Eh, Adrian... kapan2 kita jalan2 lagi yuk... tapi cuma kita berdua. Soal waktu dan tempatnya nanti aku kasih tahu deh... bagaimana ?
Adrian: Wah, mau banget tuh... tapi emangnya kamu punya waktu kosong ?
Wenda: Pastinya ada lah... tapi nggak selalu sih... tapi pasti ada kok waktunya...
Adrian: Well, akan kutunggu saat itu.
Wenda: Eh, kalau bisa minta nomor HP-mu dong... atau pin BB-mu... biar kita bisa contact2-an...
Adrian: Boleh kok... ini nomornya... (lalu mengeluarkan BB-nya, dan memberitahukan nomor HP plus pin BB-nya... ini rahasia lho)
Wenda: Oke, makasih ya... nanti kalau ada waktu, kita SMS-an atau main BBM ya...
Adrian: Ya... tapi nanti kasih tahu ya kalau kita mau ketemuan...
Wenda: Pastinya dong... pokoknya, satu hari sebelum kita ketemuan, gw akan kabarin...
Adrian: Bagus deh... eh, sekarang giliran kamu bayar tuh...
Wenda: Oh, ya... makasih ya sudah ingetin...
Adrian: Sama2...
Wenda lalu membawa belanjaannya ke meja kasir, dan membayar semua belanjaannya. Adrian sudah standby dengan menaruh keranjang belanjaannya di atas meja kasir. Sesudah Wenda membayar semuanya, ia pergi duluan, dengan membawa dua plastik belanjaan.
Wenda: Aku duluan ya, Adrian... nanti kapan2 kita ketemuan lagi...
Adrian: Oke, Wenda... hati2!
Wenda lalu pergi keluar dari minimarket itu. Adrian lalu membayar semua belanjaannya di meja kasir. Sambil ia menunggu belanjaannya dihitung, dia berbicara dalam hatinya, kalau kini ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya pada Wenda. Ia benar2 suka sama Wenda. Ia sudah tak bisa menutupinya lagi... dan dia berharap bisa secepatnya mengungkapkan perasaannya pada Wenda. Dia harus sesegera mungkin mengungkapkannya, karena waktu bertemunya dengan Wenda terbilang sedikit. Meskipun begitu, Adrian tetap harus memikirkan kapan saat yang tepat untuk bisa mengungkapkan perasaannya pada Wenda. Setelah semua belanjaannya dihitung, Adrian langsung membayarnya, dan lalu pergi meninggalkan minimarket itu, dengan membawa tiga plastik belanjaan. Ia langsung membawanya pada anak2 7 Icons yang sudah menunggunya di pinggiran jalan. Selang 15 menit kemudian, datanglah teman2 sesama sukarelawan yang lain menjemput mereka. Adrian dan anak2 7 Icons lalu melaporkan hasil pengumpulan sumbangan mereka, total semuanya terkumpul delapan ratus empat puluh tujuh ribu lima ratus rupiah, dan itu adalah yang tertinggi dari semua sukarelawan yang lain. Setelah melaporkan hasil pengumpulan sumbangan, mereka lalu kembali ke sekolah dengan menggunakan mobil sekolah. Tugas mereka hari itu selesai.
Segitu dulu cerita Fanfiction 7 Icons part 15d. Cerita ini masih akan berlanjut... karena masa training masih belum selesai dan cerita selingan juga masih belum selesai. Masih ada cerita lain yang akan diceritakan dalam part 15 Fanfiction 7 Icons ini... jujur saja, sekarang inilah bagian terpanjang di Fanfiction 7 Icons. Kalau dulu ada bagian 13 yang sampai harus dibagi tiga bagian, sekarang bagian 15 sudah terbagi menjadi empat bagian... memang panjang, tapi ini wajar karena saya mau bercerita tentang banyak hal disini... rencananya, cerita Fanfiction 7 Icons part 15 ini akan bercerita hingga hari ke-21 masa training, dan sisanya, dari hari ke-22 hingga hari ke-30 latihan... akan diceritakan di part 16. Pada hari ke-22 hingga hari ke-30 itu, akan diceritakan akhir dari masa latihan itu... dari tes simulasi hingga tes akhir penampilan mereka. Setelah itu, barulah kita akan bercerita soal kembalinya 7 Icons. Jadi ceritanya masih panjang... dan gw akan tetap mengerjakan cerita ini hingga bagian terakhir... mudah2an semuanya lancar... harapannya, di akhir bulan ini atau awal bulan depan, cerita ini bisa selesai. Makanya sekarang pengerjaan ceritanya agak dikebut... yah, mudah2an semuanya bisa selesai deh... kira2, seperti apa cerita berikutnya ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita ini akan segera berlanjut ke bagian berikutnya. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15e)
Langganan:
Postingan (Atom)