Remember, it's just a Fanfiction.
Masih di bagian ke-15 dari Fanfiction 7 Icons, sekarang kita akan lanjutkan ceritanya. Masih seputar training-nya 7 Icons dan beberapa cerita sisipan. Kita mulai saja.
Masih di Day 5. Hari Sabtu. Setelah training, anak2 7 Icons dan Adrian berpisah. Anak2 7 Icons ingin pergi hangout sementara Adrian ingin jalan2 dulu. Adrian berjalan dari flat hingga jalan utama dekat pelabuhan dan lalu naik bus ke pusat kota. Ia lalu turun di salah satu sudut pusat kota yang cukup ramai, dan lalu Adrian jalan2 lagi. Ketika Adrian sedang jalan2, tiba2 ia berpapasan dengan seorang cewek yang memakai t-shirt putih bergambar Hello Kitty dan celana jeans. Rambutnya terurai, wajahnya oriental, dan ia membawa sebuah tas berwarna merah yang juga ada gambar Hello Kitty-nya. Siapa cewek ini ? Dia adalah Wenda.
Wenda: Hai Adrian... kamu lagi ngapain di sini ?
Adrian: Hai Wenda... aku lagi jalan2 saja di sini. Kamu habis dari mana ?
Wenda: Aku habis latihan vokal sama teman2ku yang lain. Besok kita mau tampil.
Adrian: Tampil ? Tampil di mana ? Aku mau nonton... tapi nggak bayar kan ?
Wenda: Ya nggak lah, Adrian... kalau kamu mau nonton Cherrybelle, datang aja... besok kita mau tampil di Kelapa Gading... kebetulan bulan ini kita banyak dapat job untuk tampil di Kelapa Gading. Kita akan tampil di Mal Kelapa Gading dan di La Piazza. Kalau misalnya kamu ketinggalan nonton di Mal Kelapa Gading, datang aja ke La Piazza.
Adrian: Oh... terus jam berapa mulainya ?
Wenda: Mulainya... jam 5. Kita bakal tampil selama satu jam di setiap tempat. Kalau bisa, jangan terlambat ya... soalnya nanti kita nggak bisa ketemuan kalau kamu terlambat.
Adrian: Memangnya kenapa ?
Wenda: Soalnya, di backstage nggak boleh ada yang masuk saat acara dimulai. Jadi, kalau mau ketemuan, kalau bisa 15 menit sebelum tampil... minimal ya buat memastikan kalau kamu datang aja. Oke ?
Adrian: Oke.
Wenda: Oh, ya. Satu lagi. Kalau bisa, kamu pakai baju yang warnanya agak mencolok ya, biar aku bisa cepat mengenali kamu. Soalnya nanti yang nonton kan banyak... biar aku nggak bingung kalau kamu nonton...
Adrian: Tenang kok... jadi tampilnya jam 5 sore... baiklah. Nanti aku akan datang.
Wenda: Beneran ya ? Awas kalau kamu nggak datang lho...
Adrian: Aku akan datang kok, beneran... gw kan udah nanya informasinya...
Wenda: Ya, tapi nanti setelah kamu tanya informasinya, tahu2 kamu malah nggak datang... nanti aku sedih lho, kalau digituin...
Adrian: Tenang saja.
Wenda: Ya udah deh... kalau begitu, gw mau pergi dulu ya...
Adrian: Mau ke mana ?
Wenda: Aku mau latihan dance buat besok. Kebetulan aku mau nunggu teman2 yang lain, katanya mereka mau jemput aku disini...
Adrian: Oh, begitu... ya, sudah... saya juga mau jalan2 lagi. Good luck buat latihannya ya... sampai jumpa!
Wenda: Iya, makasih... sampai jumpa besok!
Adrian lalu melanjutkan jalan2nya dan Wenda tetap berada di tempat itu. Selang lima menit kemudian, mobil teman2nya datang, dan Wenda langsung meluncur ke tempat latihannya.
Malam harinya, Adrian pulang dari jalan2. Dia pulang sambil membawa plastik yang berisi dua buku, sebuah buku otobiografi dan sebuah buku novel. Sampai di rumah, ia mendapati ayahnya sudah ada di rumah, sedang memasak makan malam. Ia pun kemudian masuk ke kamar, berganti pakaian, dan lalu keluar lagi dari kamar. Ia lalu mendatangi dapur dan melihatnya ayahnya sedang makan malam.
Adrian: Halo, Yah. Tumben ayah pulang cepat... terus masak makan malam lagi. Ada apa nih ?
Harry: Saya hari ini sudah nggak ada kerjaan di kantor. Semuanya sudah selesai. Jadi ayah pulang saja. Kebetulan sekalian pulang, ayah juga berbelanja di hypermarket. Bahan makanan kita sudah mulai menipis, jadi ayah belanja makanan yang banyak. Selain itu juga, ayah juga belanja beberapa barang lain. Ayah sudah lama tidak belanja barang kebutuhan di hypermarket, jadi... ayah mau2 saja. Oh ya, dari mana saja kamu sampai kamu pulang malam begini ? Tadinya ayah juga mau ajak kamu berbelanja, lho...
Adrian: Saya juga jalan2... beli buku, lihat2 kostum bola dan sepatu bola... begitulah... tapi nggak lama sih...
Harry: Kostum bola ? Oh... omong2 soal kostum bola, saya ada hadiah buat kamu. Sebentar ya...
Harry lalu berdiri dari kursi meja makannya dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Tak lama, ia kembali ke meja makan sambil membawa sebuah kotak berukuran besar berwarna hitam dan masih tertutup rapat. Adrian pun jadi penasaran soal hadiah ini.
Harry: Ini ada hadiah dari teman ayah yang baru datang dari Jerman. Katanya hadiah ini buat kamu. Mudah2an kamu suka dengan hadiah ini. Buka saja hadiahnya.
Adrian lalu melihat kotak hitam itu, dan lalu ia membuka kotaknya. Ternyata, di dalamnya ada sebuah kaus berwarna kuning, masih terbungkus dengan rapi, dengan plastik di dalamnya, dan ada segel panjang melintang di depannya. kaus apakah ini ? Adrian lalu membuka segel dan plastiknya, dan ternyata di dalamnya ada sebuah kostum bola Borussia Dortmund terbaru! Warnanya kuning dan ada pola titik2 warna hitam di bagian badannya. Ada juga tanda apparel di bagian bahunya, dan tulisan nama klub di bagian belakangnya. Adrian langsung takjub melihat baju ini.
Adrian: Wow... kostum ini bagus sekali. Ini kostum asli ?
Harry: Kalau kata teman saya, itu memang kostum asli. Dia beli dari Jerman, masa nggak asli ?
Adrian: Wah... keren! Terima kasih, Yah!
Harry: Sama2... sekarang kamu simpan baju itu, dan ikut makan malam dengan ayah. Ayah sudah siapkan makan malam buat kamu.
Adrian: Oke, terima kasih, Ayah!
Adrian lalu membawa kostum Borussia Dortmund itu, bersama dengan kotak penyimpanannya ke dalam kamar dan lalu menyimpannya. Setelah itu, ia kembali lagi ke meja makan dan ikut makan bersama dengan ayahnya. Mereka berdua saling ngobrol bersama saat makan malam itu berlangsung.
Keesokan harinya, hari itu hari Minggu, Adrian sudah bersiap-siap untuk pergi jalan2. Dia memakai jaket hitam, kaus Borussia Dortmund-nya, celana jeans, sepatu Vans berwarna hitam strip putih, dan topi warna hitam dengan logo New York Yankees di tengahnya. Ia juga membawa tas kecil berwarna hitam. Ia juga sudah menyiapkan kacamata hitam di kantong jaketnya untuk sedikit bergaya saat di perjalanan nanti. Setelah ia sudah siap, ia pun langsung pergi ke Kelapa Gading. Saat itu, jam menunjukkan pukul setengah empat lewat sepuluh menit. Ia ke Kelapa Gading dengan naik taksi.
Sementara itu, di Kelapa Gading, para personil Cherrybelle sedang bersiap-siap untuk tampil. Mereka semua sudah pakai kostum mereka masing2, sudah di-make-up, dan sudah memakai mikropon. Mereka kini hanya tinggal menunggu giliran tampil. Sambil menunggu giliran tampil, mereka duduk2 di kursi yang sudah disediakan. Biasanya kalau mau tampil, ada beberapa kru yang menangani penampilan Cherrybelle. Ada manager-nya, ada produsernya, biasanya salah satu (karena produsernya ada dua) datang untuk melihat langsung perform-nya Cherrybelle. Selain itu juga ada sound engineer-nya, yang sudah mengeset audio buat anak2 Cherrybelle sejak tiga jam sebelum tampil. Alat sound system-nya khusus, karena setiap personil dapat satu alat sound system sendiri. Sound engineer akan mengatur audio setiap personil, sehingga suara semua personilnya bisa terdengar oleh para penonton. Di depan panggung, sudah ada banyak penonton yang berkumpul dan mereka semua sedang menonton penampilan band2 indie.
Adrian tiba di Mal Kelapa Gading jam lima kurang limabelas menit. Setelah turun dari taksi, Adrian langsung mencari panggung tempat Cherrybelle tampil. Adrian sedikit terbantu dengan adanya sebuah poster yang terpasang tepat di pintu masuk mal. Di poster itu, foto Cherrybelle terpasang besar2 di atas, menandakan kalau penampilan mereka adalah penampilan utama pada acara itu. Adrian langsung melihat lokasi panggungnya, dan lalu berjalan cepat ke lokasi yang sudah ditunjukkan. Sebenarnya, Adrian sudah bisa langsung tahu di mana Adrian tampil. Soalnya, saat ia berjalan cepat ke panggung, terdengar bunyi gebukan drum dan raungan gitar yang kencang sekali. Adrian langsung mengikuti bunyi itu, dan ia pun akhirnya sampai di panggung itu. Pas dia sampai di panggung itu, penampilan band-nya sudah selesai, dan ada istirahat selama sepuluh menit sebelum penampilan utama pada acara itu. Itu yang disampaikan oleh host acara itu. Pada saat Adrian sedang berdiri di dekat panggung itu, Wenda yang kebetulan melihatnya, langsung memanggilnya.
Wenda: Adrian! Adrian! Sini...
Mendengar panggilan Wenda itu, Adrian langsung berjalan ke pintu backstage, tempat Wenda berada. Di situ, Wenda sudah tampil cantik dengan baju bergaya Sailormoon berwarna pink, dengan warna dasi merah dan kerah warna merah, dengan rok warna pink, dan sepatu high heels. Di kepalanya ada pita warna merah, membuatnya jadi seperti Hello Kitty (Hello Kitty kan punya pita warna merah di kepalanya). Karena ia di-make-up, ia jadi kelihatan lebih cantik daripada biasanya. Adrian jadi sedikit deg2an dalam hatinya...
Wenda: Aku kira kamu datang terlambat...
Adrian: Haha... aku cuma berusaha untuk datang secepat mungkin.
Wenda: Bagus deh... ayo masuk, aku akan kenalin kamu sama teman2 aku...
Adrian: Hah ? Bukannya bentar lagi sudah mau mulai ?
Wenda: Udah, nggak apa2... (sambil menarik tangannya Adrian)
Adrian: Eh, eh!
Wenda lalu menarik Adrian masuk ke dalam backstage dan di dalamnya, sudah berjejer para personil Cherrybelle yang lain, yang sedang duduk2 menunggu giliran tampil. Mereka semua langsung berdiri dan Adrian pun jadi sedikit malu untuk berkenalan dengannya. Maklum, Adrian sudah pernah bertemu dengan mereka saat battle dance dulu... dan bahkan kalau diundur lagi, sejak pensi itu... tapi tetap saja Adrian belum tahu banyak soal mereka ya, kan ?
Wenda: Ini semua personil Cherrybelle, Adrian...
Adrian jadi sedikit bingung saat melihat mereka, karena... badannya kecil semua! Dibandingkan dengan postur tubuhnya, mereka jadi sangat kecil! (Perlu diketahui, tingginya Adrian 178 cm, sementara rata2 tinggi personil Cherrybelle adalah... 158 cm, tinggi Wenda saja hanya 165 cm, tinggi leader-nya Cherrybelle, Cherly hanya 161 cm, jadi... kebayang kan perbandingan tingginya Adrian dan para personil Cherrybelle ?)
Adrian: Kalian semua... lebih kecil daripada saya...
Wenda: Ya, begitulah kami... kita semua ini kan... Chibi.
Adrian: Chibi ? Apa itu ?
Wenda: Itu bahasa Jepang yang artinya... kecil. Kita semua ini kecil. Tapi kita nggak hanya kecil... kita juga imut, dan menggemaskan. Itulah ciri khas kita...
Adrian: Oh, pantesan... Tapi sekarang saya jadi sedikit minder dan malu, karena badan saya yang paling tinggi sendiri... sementara kalian semua badannya kecil2... apa perlu saya begini saja ? (menekuk sedikit kakinya sehingga bisa setinggi Wenda)
Cherrybelle: Hahahahahaha...
Adrian: Tapi begini lebih baik kan ? Saya kan menyesuaikan dengan tinggi badan kalian...
Wenda: Ya nggak harus gitu kali... santai aja... manager kita juga orangnya tinggi kok... tuh lihat aja... (sambil menunjuk ke arah manager-nya)
Adrian: (melihat ke arah manager-nya Cherrybelle) oh, iya ya... tapi gw kan lebih tinggi lagi darinya...
Wenda: Nggak usah bingung... santai aja kali... eh, sekarang gw kenalin yuk, satu2...
Wenda lalu memperkenalkan Adrian pada semua personil Cherrybelle. Selama ini, yang Adrian kenal dari Cherrybelle hanya Wenda dan Angel. Sisanya ia belum tahu. Kini, Wenda memperkenalkan Adrian pada semuanya, ada Anisa, Cherly, Christy, Devi, Felly, Gigi, dan Ryn. Mereka semua sangat baik dan menyambut Adrian sebagai teman baru mereka dengan sangat hangat. Adrian juga diperkenalkan pada manager dan sound engineer Cherrybelle. Sekarang Adrian sudah bisa diklasifikasikan sebagai teman Cherrybelle. Adrian kini tidak hanya lagi berteman dengan anak2 7 Icons, tapi juga dengan anak2 Cherrybelle. Selang beberapa saat kemudian, Cherrybelle dipanggil untuk tampil. Wenda lalu meninggalkan Adrian dan bergabung dengan personil Cherrybelle yang lain.
Wenda: Eh, Cherrybelle sudah mau tampil tuh, gw gabung sama teman2 yang lain dulu ya...
Adrian: Oke. Good luck ya... eh, nanti bawain berapa lagu ?
Wenda: Ada lima lagu. Tonton kita ya...
Adrian: Tenang kok. Gw setelah ini langsung pindah ke depan buat nonton kamu dan teman2 kamu yang lain.
Wenda: Oke... sekarang gw gabung dulu sama yang lain ya...
Adrian: Baiklah.
Adrian langsung berlari keluar dari backstage saat Cherrybelle sudah bersiap untuk naik ke panggung. Adrian lalu standby di antara penonton yang menonton di depan panggung. Tak lama, Cherrybelle naik ke panggung, dan mereka langsung menyanyikan lagu pertama mereka, Love is You. Kemudian dilanjutkan dengan lagu kedua, yaitu Best Friends Forever. Setelah itu dilanjutkan dengan lagu ketiga, Beautiful. Sesudah menyanyikan tiga lagu, ada sesi wawancara dengan Cherrybelle. Di sini, dijelaskan siapa saja sih personil Cherrybelle itu, proses terbentuknya Cherrybelle, dan asal nama Cherrybelle. Selain itu disini juga dijelaskan soal mini album Cherrybelle yang akan segera keluar dalam waktu dekat. Sesudah wawancara, Cherrybelle tampil lagi dengan lagu I'll Be There For You. Di sini penonton sudah mulai sedikit meriah, karena beberapa fans Cherrybelle sudah tahu soal lagu ini. Maklum, lagu ini termasuk salah satu lagu favorit para fans Cherrybelle, meskipun hanya dibawakan saat acara off-air saja. Dan sebagai lagu terakhir, hits mereka yang lagi booming, Dilema. Kalau sudah lagu ini, jangankan fans Cherrybelle, yang nggak kenal Cherrybelle juga akan ikut menikmati lagu ini. Lagu ini sudah kemana-mana soalnya... semua penonton bahkan bisa menyanyikan reff-nya, dan itu terdengar dengan sangat jelas. Sesudah mereka menyanyikan lagu itu, para penonton langsung bertepuk tangan dan tak lama para personil Cherrybelle turun dari panggung. Perform mereka hari itu sukses. (oh ya, soal list lagu Cherrybelle yang dinyanyikan saat off-air, aku nggak tahu persis, ini cuma berdasarkan yang gw tahu, mudah2an lagunya benar, sesuai dengan mini albumnya... karena secara tiba2, gw lupa list lagunya! Cuma tahu empat dari lima lagunya... lagu satu lagi selain Dilema, Beautiful, I'll Be There For You, dan Best Friends Forever itu Love is You kan ? Mudah2an benar... nanti kalau misalnya ada yang berbeda dalam list lagu off-air-nya, tinggal menyesuaikan saja ya...)
Setelah para personil Cherrybelle turun dari panggung, acara sore itu dilanjutkan dengan penampilan band lagi. Di saat band2 tampil di atas panggung, Cherrybelle sibuk melayani penggemar mereka, yang sudah berjubel jumlahnya dan udah lumutan menunggu mereka turun dari panggung. Maklum, sebelum tampil, manager-nya Cherrybelle menjanjikan pada para fans ini akan langsung ada jumlah fans setelah perform Cherrybelle selesai. Mereka pada foto bareng, bagi2 stiker, ngasih tandatangan, ngobrol2... Adrian melihat semuanya dari kejauhan. Tak lama, Wenda datang dan mengajak Adrian untuk ikut bergabung dengan jumpa fans itu. Adrian jadi malu, namun ia mengikuti apa maunya Wenda. Adrian pun ngobrol dengan personil Cherrybelle, foto2 bareng, dan bahkan, secara khusus, ia dihadiahi sebuah CD lagu Dilema yang sudah ditandatangani oleh para personil Cherrybelle. Wajahnya Adrian yang tadinya malu2 kini jadi senang, dan bahkan ia mulai berani untuk ngobrol2 dengan personil Cherrybelle, hingga membuat mereka tertawa. Di saat mereka lagi ngobrol2... manager-nya Cherrybelle bilang kalau sekarang Cherrybelle harus pindah ke La Piazza, di mana mereka juga akan tampil. Semua personil Cherrybelle pun langsung bersiap-siap untuk pindah ke tempat perform baru. Adrian sendiri nongkrong2 saja dekat backstage. Tak lama, ia bertemu Wenda lagi.
Adrian: Sekarang, mau pada ke mana nih ?
Wenda: Kita mau pindah ke La Piazza. Jam delapan kita akan tampil di sana.
Adrian: Nyanyi kayak tadi lagi ?
Wenda: Ya iya lah... masa kita nyanyi lagu lain ?
Adrian: Nggak, masalahnya kalian nyanyi lagu lain, suara kalian bagus, gitu...
Wenda: Terima kasih deh kalau begitu... tapi itu lain kali, soalnya untuk yang di La Piazza ini perform-nya sudah resmi. Nggak bisa diubah lagi.
Adrian: Baiklah... hahahaha...
Wenda: Ummm... sekarang kamu mau pulang atau mau nonton lagi ?
Adrian: Kalau diperbolehkan, aku akan nonton lagi.
Wenda: Ya, nonton aja... nggak apa2... diperbolehkan kok...
Adrian: Baiklah. Gw akan nonton perform kalian sambil makan.
Wenda: Makan ? Maksudnya akan nunggu sampai jam delapan buat makan ?
Adrian: Ya, seperti itulah...
Wenda: Jangan begitu... makan bareng kita aja... kita ngobrol2 lagi... teman2 yang lain pada suka kok sama kamu... soalnya kalau kamu ngomong, suka bikin ketawa...
Adrian: Serius ? Padahal lawakan gw garing tahu...
Wenda: Nggak apa2... anak2 Cherrybelle selalu akan memanfaatkan kesempatan apapun untuk bikin rame suasana. Kita kan orangnya rame semua... apalagi leader kita... ketawa paling nyaring...
Adrian: Hahahahaha... terus pada mau makan di mana ?
Wenda: Nanti lihat saja. Yang pasti dekat2 La Piazza.
Adrian: Oke deh, gw ikut.
Wenda: Tapi makanan bayar sendiri ya... bawa uang banyak kan ?
Adrian: Jangankan uang, kartu kredit juga bawa... nggak enak lah kalau gw minjam duit kamu...
Wenda: Hahahahaha... ya udah, ayo kita pergi... yang lain udah pada nunggu...
Adrian dan Wenda pun kemudian mengikuti tim Cherrybelle yang lain pindah dari stage di Mal Kelapa Gading ke La Piazza. Sambil jalan2, Adrian dan Wenda ngobrol2 lagi, sambil melihat-lihat toko2 yang ada di mal tersebut. Terkadang mereka menyempatkan diri untuk berhenti sebentar di depan sebuah toko dan melihat apa yang dipajang di dalamnya. Kemudian mereka jalan lagi, lalu berhenti lagi, dan seterusnya. Wenda sangat suka fashion, jadi setiap kali ada yang jual baju, tas, atau sepatu, dia pasti akan tertarik untuk melihatnya, walau hanya sepuluh detik saja. Apalagi, toko2 yang dilalui Adrian dan Wenda adalah butik2 fashion ternama. Mata Wenda jadi segar melihatnya. Tapi ia tidak bisa masuk ke dalam dan melihat-lihat lebih jauh. Mereka berdua harus tetap jaga jarak dengan personil Cherrybelle yang lain, biar nggak dianggap hilang!
Lima belas menit kemudian, tim Cherrybelle tiba di kawasan La Piazza. Sebuah lapangan terbuka yang dikelilingi oleh mal dan kafe di sekitarnya, dan ada panggung musik di sana. Di panggung itulah Cherrybelle nanti akan tampil. Penampilan Cherrybelle di La Piazza ini sedikit eksklusif karena untuk malam itu, yang akan tampil hanya Cherrybelle saja, selama satu jam dari pukul delapan hingga pukul sembilan malam. Setelah itu tidak penampilan lagi di tempat itu karena pada jam sepuluh malam, kawasan mal akan mulai tutup. Jadi, Cherrybelle patut berbangga, karena tidak selalu perform artis di La Piazza pada malam hari seperti ini.
Sebelum tampil di La Piazza, tim Cherrybelle menyempatkan diri untuk makan dulu di sebuah restoran yang masih ada di kawasan itu. Restoran itu memiliki pemandangan ke arah panggung La Piazza. Kru Cherrybelle duduk satu meja di meja yang ada di dalam restoran, sementara para personil Cherrybelle duduk di meja yang memiliki pemandangan ke panggung La Piazza. Adrian sendiri... duduk satu meja dengan para personil Cherrybelle. Itu setelah para personil Cherrybelle memintanya untuk duduk satu meja, jadi bukan Adrian yang mau... sambil makan, Adrian dan para personil Cherrybelle ngobrol2 lagi, melanjutkan apa yang sebelumnya sudah mereka bicarakan saat ada di backstage. Setelah makan, Adrian dan para personil Cherrybelle berfoto bersama, atas usulan Cherly. Adrian pun jadi kaget, karena ia berada di posisi yang nggak enak (padahal enak sebenarnya...), dia itu diapit oleh para personil Cherrybelle! Posisinya... dia "dikawal" sama Christy dan Felly, dan semua personil Cherrybelle yang lain mengelilinginya. Jadi... kebayang kan, posisinya dimana ?
Setelah bersenang-senang di restoran, sekarang saat Cherrybelle untuk masuk ke backstage. Mereka sekarang harus bersiap-siap untuk tampil. Di sini, Adrian tidak ikut ke backstage. Tapi dia menunggu di kursi2 makan yang ada di sekitar panggung. Sambil menunggu Cherrybelle tampil, ia bermain twitter dan BBM dengan teman2nya yang lain. Ketika ia sedang bermain-main dengan Blackberry-nya, jumlah pengunjung yang datang semakin banyak, dan mereka memadati kursi2 makan yang masih kosong. Lima menit menjelang Cherrybelle tampil, semua kursi di depan panggung La Piazza sudah penuh. Kabar bagus untuk para personil Cherrybelle.
Tak beberapa lama, Cherrybelle pun tampil. Kostumnya tetap sama, dan lagu yang dibawakan juga sama. Tapi di perform-nya kali ini, mereka lebih banyak selingan. Maklum, waktunya lebih banyak, jadi ada kesempatan buat para personil Cherrybelle menunjukkan sisi lain dari mereka. Ada Anisa, Christy, dan Cherly yang bernyanyi lagu Stand Up diiringi oleh permainan gitar dari Gigi. Terus kemudian Gigi, Felly, dan Angel menperlihatkan kemampuannya ngedance... dan terakhir... Devi, Ryn, dan Wenda, bersama Cherly, ngelawak di atas panggung. Lawakannya sih lumayan... bikin orang tertawa... maklum, udah ada skripnya... Adrian juga ikut tertawa mendengar lawakan Wenda itu... yang kedengerannya, menurut pikiran Adrian, hampir mirip dengan lawakan yang ia buat saat ngobrol dengan anak2 Cherrybelle di backstage tadi...
Setelah perform Cherrybelle selesai, yang diiringi tepuk tangan penonton seperti biasanya, Adrian mendatangi backstage dan bertemu lagi sama Wenda. Mereka berdua langsung ngobrol soal perform Cherrybelle tadi.
Adrian: Hai, Wenda... good job tadi...
Wenda: Makasih... eh, tadi lawakan gw lucu nggak ?
Adrian: Lucu kok... tapi kok hampir mirip lawakan gw tadi...
Wenda: Yah, itu kan usaha gw untuk bikin penonton tertawa... gw tadi hampir lupa bahan lawakannya di panggung... akhirnya, gw pakai lawakan kamu buat menutupinya... makasih ya...
Adrian: Sama2... padahal, itu lawakan yang paling garing lho... dari semuanya...
Wenda: Hah ? Beneran ?
Adrian: Iya, aku nggak bohong... aku pernah coba lakukan itu pada teman2ku di Bandung, dan mereka nggak tertawa sama sekali. Malah gw dianggap aneh...
Wenda: Tapi kok gw yang cerita malah mereka ketawa ya ?
Adrian: Hmmm... mungkin kamu sedang beruntung saja.
Wenda: Bisa jadi... oh, ya. Kita semua ini mau pulang duluan ya... capek nih, mau istirahat...
Adrian: Pulang ? Sama, saya juga... udah malam soalnya...
Wenda: Apa perlu pulang bareng kita ?
Adrian: Oh, tidak usah. Saya bisa pulang sendiri. Nanti kapan2 pulang barengnya ya...
Wenda: Oke, deh. Kita duluan ya. Makasih ya, udah mau hadir... Daah... (sambil melambaikan tangannya)
Adrian: Sama2... hati2! (sambil melambaikan tangannya juga)
Wenda lalu pulang bersama para personil Cherrybelle dan kru2 yang lain. Sementara Adrian baru pulang beberapa menit kemudian. Ia naik taksi lagi, dari La Piazza hingga ke rumahnya. Sampai di rumah, ia langsung beristirahat di kamarnya dan mempersiapkan buku2 (dan juga peralatan training 7 Icons-nya) untuk sekolah besok. Training akan berlanjut besok.
DAY 6
Hari itu hari Senin, dan sekarang saatnya anak2 7 Icons dan Adrian kembali ke rutinitas semula, yaitu training. Training pada hari itu adalah... training dance. Latihan dance maksudnya. Di latihan dance sebelumnya, anak2 7 Icons sudah mulai dilatih dance lagu Playboy lagi, tapi dari bagian awalnya saja. Sekarang, Adrian mulai melatih dance lagu Playboy untuk seluruh bagian lagu. Dari awal hingga akhir. Karena anak2 7 Icons masih hafal dance-nya, Adrian hanya fokus untuk membuat gerakannya lebih kompak. Setelah memperbaiki gerakan mereka, Adrian kemudian memodifikasi beberapa gerakan yang ada di dalam koreografi itu, dan memberi gerakan baru sebagai pengganti gerakan itu. Sepanjang hari, anak2 7 Icons berlatih gerakan itu terus, dan mencoba untuk menggabungkannya dengan dance Playboy yang sudah ada. Anak2 7 Icons sangat bersemangat, seperti hari2 sebelumnya. Mereka sangat senang mengetahui kalau dance Playboy-nya diperbaiki, bahkan dimodifikasi dengan gerakan2 baru. Mereka berusaha keras untuk bisa menguasai gerakan2 itu. Adrian jadi sangat senang melihat kerja keras mereka.
DAY 7
Tepat satu minggu training berjalan. Anak2 7 Icons kembali lagi berlatih vokal. Untuk hari ini, Adrian mulai melatih vokal para personil 7 Icons, untuk bernyanyi lagu Playboy. Terutama, di bagian bridge dan reff, di mana bagian itu dinyanyikan oleh semua personil 7 Icons. Bagian itu diulang-ulang terus selama latihan, bahkan setiap katanya harus dinyanyikan secara berulang-ulang, agar bisa mencapai not yang diinginkan. Untuk latihan ini, Adrian mempunyai alat baru. Sebuah gitar, dan sebuah keyboard. Selain melatih lagu Playboy, hari itu juga Adrian melatih beberapa lagu lain, yang menurut Adrian pas untuk dinyanyikan oleh kelompok seperti 7 Icons. Lagu2 itu adalah lagu2 yang dulu pernah dilatihkan oleh pelatih vocal group-nya Adrian ketika dulu Adrian berada di tim vocal group. Lagu ini dilatihkan untuk melatih vokal anak2 7 Icons. Untuk lagu2 ini, Adrian menggunakan keyboard untuk mengiringi lagunya. Seperti biasa, progres latihan para personil 7 Icons Adrian catat dalam buku catatannya, tapi ia baru lakukan saat mereka sedang istirahat. Adrian mencatat, "Wah, progres-nya makin gila! Suara mereka sudah lebih baik, kualitas vokal sudah bagus, dan mereka bisa adaptasi dengan lagu2 yang gw kasih. Not bad deh buat hari ini..." sambil juga ia mencatat seperti apa perkembangan dari masing2 personil.
DAY 8
Latihan dance lagi, dan kali ini masih melanjutkan apa yang ada sebelumnya. Merombak gerakan dance lagu Playboy. Karena gerakan barunya sudah diberikan, sekarang tinggal memperdalam latihannya. Selain melatih gerakan barunya, dance lagu Playboy-nya yang tidak diubah juga dilatih, ini untuk membuat anak2 7 Icons bisa beradaptasi dengan gerakan barunya. Kalau sudah latihan dance Playboy secara full, berarti gerakan yang dipakai adalah gerakan baru. Jadi, sama saja ini dengan melatih koreografi baru dance lagu Playboy. Koreografi itu dilatih berulang-ulang dan setiap kali koreografinya diulang, anak2 7 Icons semakin bersemangat... sampai dua jam latihan mereka nggak berhenti2... Adrian saja sudah kecapean setelah satu setengah jam latihan... tapi anak2 7 Icons masih semangat terus, bahkan setelah dua jam latihan. Ujung2nya... semua peserta latihan mengalami kelelahan massal! Akhir sesi latihan pun hanya diisi dengan duduk beristirahat di lantai, sambil ngobrol2 dan tertawa terbahak-bahak. Semangat anak2 7 Icons benar2 nggak bisa dihentikan. Mereka serius untuk tampil kembali... dan mereka serius untuk mempersiapkannya. Adrian pun sampai salut dengan semangat mereka. Ia mencatat, "7 Icons is on fire, mate! Semangat mereka nggak bisa dihentikan. Gw udah nggak kuat ngelatih, ngulang2 gerakan terus... eh, mereka maju terus latihan sampai dua jam non-stop! Baterainya merek apa sih ? Penasaran gw... tapi ini yang gw suka... mereka semangat banget untuk bisa menampilkan yang terbaik, dan memperbaiki semuanya. Gw salut dengan mereka, totally hard workers."
DAY 9
Anak2 7 Icons latihan vokal lagi... dan sekarang latihan nyanyi lagu Playboy-nya diperdalam. Sekarang Adrian akan melatih vokal setiap personil ketika mereka sedang menyanyikan bagiannya masing2. Satu per satu personil 7 Icons dipanggil ke depan dan berdiri di depan mejanya Adrian, tepat di garis yang dulu sudah Adrian tandai dengan lakban. Adrian hanya duduk santai di kursinya, sambil mendengarkan personil 7 Icons bernyanyi, dan mencatat apa yang ia dengar dalam catatannya. Setelah mencatat semuanya, Adrian kemudian memulai perbaikannya. Ia memberitahukan apa yang harus diperbaiki dan yang harus ditingkatkan. Sesudah itu, Adrian mulai melatih suara dan vokal dari para personil itu, secara satu lawan satu. Anggap saja ini klinik vokal personal. Adrian sangat detail dalam melatih vokal para personil 7 Icons, dan penjelasannya sangat jelas, sehingga para personil 7 Icons bisa mengerti apa yang diinginkan oleh Adrian. Hasil latihan itu kemudian ia catat dalam bukunya... ia merasa sangat senang melihat peningkatan yang terjadi selama masa training ini. Setiap kali Adrian membuka-buka buku catatannya, ia merasa sangat senang dan puas. Training-nya sejauh ini sukses dan menunjukkan hasil yang memuaskan.
DAY 10
Hari itu latihan dance, tapi kini Adrian menggabungkan antara latihan dance dan latihan vokal. Ini karena, Adrian ingin menata kembali perform 7 Icons ketika sudah tampil di atas panggung. Jadi, hari itu tidak hanya dance yang dilatih, tapi juga vokal. Adrian ingin melihat seperti apa kualitas vokal 7 Icons jika sedang bernyanyi dan menari alias... ketika tampil di atas panggung. Selain itu juga, Adrian juga ingin mengetes apakah para personil 7 Icons sudah menguasai koreografinya atau belum. Ternyata, semuanya sudah menguasai. Adrian pun jadi puas. Tapi latihan belum selesai. Sekarang, Adrian akan mulai menggabungkan antara nyanyi dan dance. Adrian ingin agar 7 Icons punya vokal yang kuat ketika mereka sedang bernyanyi sambil menari. Tujuannya, biar anak2 7 Icons nggak keteteran di akhir perform dan bisa punya kualitas vokal yang stabil, dari awal hingga akhir perform. Adrian pun melatihkan teknik pernapasan buat anak2 7 Icons. Teknik pernapasan ini juga diambil dari pelatih vocal group Adrian. Setelah teknik pernapasan itu diajarkan, semua personil 7 Icons ambil suara. Cara ambil suaranya unik, dan ini sudah diajarkan oleh Adrian. Bagaimana caranya ? Semua personil 7 Icons menyanyikan nama kelompok mereka dalam satu suara, dan lalu menahannya hingga not tinggi. Jadi, seperti di tes vokal yang dulu. Tapi bedanya, kalau dulu pakai huruf A-I-U-E-O, sekarang pakai kata "Seven Icons". Kata itu harus dinyanyikan lho... sebagai cara untuk menyatukan suara sekaligus ambil suara. Sesudah mereka ambil suara, barulah mereka latihan perform. Mereka ngedance, sambil bernyanyi. Di saat mereka sedang berlatih, Adrian memperhatikan semuanya, dan lalu mencatat apa yang ia lihat dalam buku catatannya. Di sini, Adrian melihat semuanya sudah berjalan normal. Vokal mereka sudah bagus, dan dance mereka sudah cukup baik. Adrian pun kemudian memberi waktu istirahat yang sedikit lebih lama buat anak2 7 Icons hari itu. Nah, selama istirahat, anak2 7 Icons curhat ke Adrian mengenai apa yang ingin mereka lakukan, dan apa rencana mereka berikutnya.
Angel: Adrian, boleh nggak kita curhat sama kamu ?
Adrian: Oh, boleh banget. Ada apa ya ?
Adrian mengeluarkan sebuah barang dari tasnya. Sebuah dus kecil yang masih disegel. Itu adalah mainan Tamiya. Adrian ingin merakit mainan Tamiya replika mobil F1 Williams FW14B. Ia merakit mainan itu sambil mendengarkan curhatan anak2 7 Icons.
Linzy: Itu apa, Adrian ?
Adrian: Ini ? Ini mainan mobil2an. Tapi kamu harus merakitnya. Kebetulan gw baru beli mainan ini waktu gw jalan2 kemarin. Hari ini aku mau merakit mainannya. Peralatannya gw juga bawa kok... ada lem, cat, baut, obeng, banyak nih... mumpung lagi nggak ada kerjaan dan kalian semua pada istirahat, jadi aku mau bikin mainan ini.
Linzy: Kamu suka ya, mainan2 seperti ini ?
Adrian: Suka banget. Apalagi kakakku. Dia punya banyak yang seperti ini. Tapi, semuanya ia bawa ke London. Aku nggak bisa main2 dengan mainannya.
Linzy: Oh... nggak ada satupun yang ia sisain ?
Adrian: Nggak ada. Takut gw rusakin katanya... dia tahu kalau aku ini agak usil, jadi bawa semuanya ke London, biar aku nggak bisa isengin... oh, ya. Angel tadi mau curhat apa ?
Sekarang pembicaraan dialihkan ke curhatannya anak2 7 Icons. Apa sih yang ingin diceritakan anak2 7 Icons pada Adrian ?
Angel: Jadi begini... kita itu semua... mau minta bantuan kamu soal... tempat tinggal.
Adrian: Tempat tinggal ? Maksudnya ?
Angel: Ya, kita ingin bantuan kamu untuk mencari tempat tinggal.
Adrian: Mencari tempat tinggal ? Bukannya semua sudah punya tempat tinggal ?
Angel: Iya, tapi sekarang, kita sudah sepakat dan berencana untuk tinggal dalam satu rumah.
Adrian: Hah ? Satu rumah ? Nge-kost maksudnya ?
Angel: Ya, nggak gitu juga sih... kita pengennya tinggal bertujuh secara tetap.
Adrian: Tinggal bertujuh... secara tetap ? Berarti kalian harus beli rumah atau sewa apartemen dong... tapi bukannya dulu kalian punya apartemen untuk santai2 ?
Angel: Apartemen itu sudah diambil lagi oleh label ketika kita bubar. Sekarang kita harus cari tempat baru, atau mungkin untuk sementara, sampai kita bisa menempati apartemen kita yang dulu.
Adrian: Oh, begitu... jadi sekarang kalian berencana untuk tinggal bersama nih ? Oke, aku mengerti. Tapi omong2, nggak beresiko kalian tinggal bertujuh dalam satu rumah ? Bukankah kalian tinggal dengan orangtua kalian masing2 ?
Angel: Kita sebenarnya tidak tinggal dengan orangtua kita masing2. Ada beberapa dari kita yang harus meninggalkan orangtua kita untuk bisa sekolah di sini.
Adrian: Benarkah ?
Angel: Ya. Saya, Natly, PJ, dan Vanila... sebenarnya tinggal jauh dari orangtua.
Adrian: Beneran ? Terus orangtua kalian di mana ? Dan kalian disini tinggal dengan siapa ?
Angel: Semua orangtua kita ada di Surabaya. Kita hanya pulang kalau sedang liburan. Disini, kita tinggal dengan keluarga kita yang lain.
Adrian: Terus, kenapa kalian bisa ada disini ?
Angel: Kita dikirim oleh orangtua kita masing2 untuk bisa sekolah disini. Mereka bilang sekolah di SMA Cambridge itu bagus, dan meskipun biayanya mahal, mereka mau untuk bayar... karena semua fasilitasnya bagus... tapi resikonya, kita harus jauh dari orangtua kita...
Adrian: Oh, begitu... tapi kalian tetap kontak dengan orangtua kalian, kan ?
Angel: Pastinya lah... minimal kita SMS-an atau BBM-an... kita sebisa mungkin berusaha untuk tetap kontak dengan orangtua kita masing2...
Adrian: Apa mereka tahu kalau saat ini 7 Icons lagi bubar gitu ?
Angel: Kita nggak bilang bubar pada mereka. Kita bilang kita hanya istirahat sejenak. Nggak ada yang tahu kok kalau kita bubar... semuanya berhasil ditutupi dengan baik oleh pihak label kita...
Mezty: Betul banget... pihak label ngelindungin kita semua... mereka bilang kalau 7 Icons itu mau istirahat untuk melanjutkan sekolah... udah, hanya itu saja... untuk segitu saja kita sudah cukup tenang...
Adrian: Ya baguslah kalau begitu. Privasi kalian kayaknya ketat banget deh...
Angel: Itu memang sudah keinginan kita dan pihak label. Sebisa mungkin hal2 pribadi kita dilindungi seketat mungkin. Kita hanya akan kasih tahu hal2 pribadi kita jika diminta. Wawancara misalnya... tapi itu pun juga nggak terlalu pribadi2 banget sebenarnya...
Adrian: Kalau seperti rumah kalian, atau apartemen kalian ?
Angel: Nah itu nggak boleh ada yang tahu. Iconia tidak ada yang tahu apartemen kita. Malah kita menghindari Iconia untuk masuk ke sana. Sama halnya dengan sekolah kita. Masih ingat kan ketika kita dikejar-kejar fans itu ? Itu sebenarnya nggak boleh terjadi lho... Privasi kita di sekolah sangat ketat, dan kita nggak mau diganggu di situ. Iconia mungkin tahu di mana sekolah kita, tapi mereka juga harus menghargai kita, mereka nggak boleh datang ke sekolah kita...
Adrian: Aku masih ingat itu... dan gw tahu soal itu. Tapi, mungkin nggak suatu saat para Iconia diundang ke sekolah ?
Angel: Kita hanya memperbolehkan Iconia untuk masuk jika kita tampil di sekolah atau kalau ada acara khusus. Sisanya, nggak boleh. Dulu kan aku pernah cerita sama kamu...
Adrian: Oh, iya. Aku lupa... ya, kau dulu pernah bilang seperti itu...
Angel: Adrian, kita juga mau kasih tahu kalau sebenarnya, nggak hanya gw, PJ, Natly, sama Vanila saja yang tinggal jauh dari orangtua... Mezty juga sama. Dia malah nggak tinggal dengan keluarganya... dia itu nge-kost.
Adrian: Hah ? Beneran nih, Mezty ?
Mezty: Iya... gw udah nge-kost sejak setahun yang lalu... lumayan sih tempatnya... dan gw betah2 aja di situ...
Adrian: Tempatnya besar atau bagaimana ?
Mezty: Yah... nggak terlalu besar sih... sederhana aja... yang penting bisa ada tempat untuk makan dan tidur...
Adrian: Teman2 yang lain suka pada ngunjungin nggak ?
Mezty: Sering kok... kadang2 kita main2 bareng...
Angel: Kita sering kok datang ke tempatnya Mezty... kita kan sering belajar bareng... jadi kita tahu tempatnya seperti apa... yah, biarpun sederhana, tapi tempatnya cukup kok buat tujuh orang... bahkan pernah suatu kali kita tidur bareng bertujuh di kamar itu, gara2 kita manggung sampai malam... kita sampai harus kucing2an dengan pemilik kost, karena aturannya nggak boleh pulang malam2 dan nggak boleh bawa teman ke kamar malam2...
Adrian: Sampai begitu ? Gila...
Angel: Ya, maklum aja, soalnya tempat terdekat dari tempat kita manggung waktu itu ya tempat kost-annya Mezty, dan kita semua itu kecapean banget... akhirnya, terpaksa deh harus nginep dulu di kamarnya...
Adrian: Tapi waktu itu nggak lagi pada sekolah kan ?
Angel: Besoknya kita sekolah... jam tiga atau empat pagi waktu itu, kita harus bangun dan pulang ke rumah kita masing2... buat siap2 sekolah...
Linzy: Kita semua sampai terlambat lho gara2 itu... soalnya sampai rumah, kita tidur lagi...
Adrian: Wah, parah dah... kalau Gc dan Linzy ? Apa kalian tinggal dengan orangtua kalian ?
Linzy: Kalau gw sih tinggal bareng orangtua... tapi orangtua gw sibuk... kebetulan aku sudah bilang rencana ini sama orangtua gw, dan mereka setuju.
Gc: Kalau aku... sama, bareng sama orangtua dan kakak. Mereka juga setuju kok kalau aku tinggal bareng teman2 yang lain... mereka soalnya sudah tahu soal teman2ku ini... jadi mereka setuju2 aja...
Adrian: Oh, jadi Gc dan Linzy sudah dibolehkan... well, kalau begitu tidak ada masalah. Gw akan cari rumahnya. Gw akan minta bantuan teman2 yang lain juga untuk mencarikan rumah yang kalian inginkan. Sekarang, apa kriteria rumah yang kalian inginkan ?
Angel: Yah, kita sih maunya rumah yang sederhana saja... ada ruang tamu, ruang TV, ruang buat santai... terus juga ada dapurnya... buat PJ supaya dia bisa masak2... dan yang pastinya ada kamar untuk kita semua. Kita minta rumah sederhana tapi dengan tujuh kamar. Bisa kan ?
Adrian: Waduh ? Rumah sederhana dengan tujuh kamar ? Rumah kost2an dong ?
Angel: Bukan. Bukan itu... kita maunya rumah biasa... bukan buat kost2an... pasti ada kok rumahnya... gw dulu pernah lihat di sekitaran Jakarta Selatan atau Jakarta Barat banyak banget tuh... cari saja di situ...
Adrian: Oh, seperti itu. Baiklah. Akan gw carikan. Rumah sederhana dengan tujuh kamar, tapi bukan rumah kost2an. Mudah2an ada. Tapi bagaimana kalau misalnya kalian bisa dapatkan apartemen kalian kembali ? Apa kalian akan meninggalkan rumah itu, atau bagaimana ?
Angel: Ya, nanti akan kita lihat... sebenarnya sih kita bisa tinggal di mana saja. Apartemen itu juga kan buat tempat kita istirahat juga, kalau misalnya nggak bisa pulang ke rumah... jadi, itu sih gampang saja.
Adrian: Oke. Gw ngerti. Akan gw carikan rumah yang kalian mau. Tapi gw hanya membantu mencarikan saja. Untuk keputusan akhir, kalian yang menentukan, karena kalian yang mencari rumah. Oke ?
7 Icons: Oke!!!!!
Adrian: Bagus. Sekarang istirahatnya udahan, kalian siap latihan lagi ?
7 Icons: Siaaapppp!!!!!!
Adrian: Oke, ayo kita latihan lagi sekarang.
Anak2 7 Icons kemudian kembali berlatih, dan Adrian sudah hampir selesai mengerjakan replika mobil Williams FW14B-nya. Ia hanya tinggal menaruh penutup mesinnya saja. Anak2 7 Icons berlatih koreografi dan perform sekali lagi, untuk mengisi waktu hingga jam 5 sore. Adrian sekarang mendapatkan tugas dari para personil 7 Icons, yaitu mencarikan rumah untuk mereka. Permintaannya simpel, hanya sebuah rumah sederhana dengan tujuh kamar. Kira2, ada nggak ya rumah seperti itu ? Apa yang akan Adrian lakukan untuk memenuhi permintaan para personil 7 Icons ini ? Berhasilkah Adrian mendapatkan rumah itu ? Lalu, bagaimana progres latihan anak2 7 Icons di hari2 berikutnya ? Akankah ada kejutan lain di cerita2 berikutnya ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita ini akan segera berlanjut ke bagian berikutnya. Masih di part 15 Fanfiction 7 Icons. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15d)
Kamis, 11 Agustus 2011
Selasa, 09 Agustus 2011
FANFICTION 7 ICONS (part 15b)
Remember, it's just a Fanfiction.
Kalau di bagian 15a diceritakan perkenalannya, maka sekarang... training-nya sudah dimulai. Saya akan menulis beberapa narasi, disertai dialog bila perlu, tentang masa training anak2 7 Icons dalam cerita ini, dan juga beberapa cerita sisipan yang ada di dalamnya. Saya sudah rencanakan kalau dalam bagian ini tidak hanya training anak2 7 Icons yang dibahas, tapi juga mengenai kisah cinta Adrian dan beberapa hal lain. Oke, sekarang kita langsung saja mulai bagian ini. The Training Has Begun.
DAY 1
Adrian dan anak2 7 Icons memulai training hari pertama dengan tes vokal. Seperti yang sebelumnya sudah diceritakan, Adrian akan mengetes seperti apa sih, kualitas vokal dari anak2 7 Icons, jika mereka harus bernyanyi sendiri, bukan sebagai anggota 7 Icons. Alatnya sudah diperkenalkan, sebuah sound recorder khusus yang dipinjam Adrian dari temannya dan buatan Amerika. CD untuk merekam suaranya sudah disiapkan, dan berdasarkan urutan kursi, satu per satu anak2 7 Icons dipanggil, diawali dari Natly. Di alat itu sudah disiapkan dua CD kosong, di mana satu CD akan menjadi milik setiap personil dan satu CD lainnya menjadi milik Adrian. Setelah suaranya terekam, setiap personil punya kesempatan untuk mendengarkan suaranya yang tadi sudah direkam, dengan memainkan kembali rekaman suaranya. Tapi hanya personil itu dan Adrian yang bisa mendengarnya. Sambil mendengar suara dari setiap personil, Adrian mencatat semuanya tentang suara orang yang ia sedang dengar itu. Adrian juga memakai headset, jadi ia bisa dengar suaranya. Sesudah sesi rekaman selesai, Adrian mengambil CD yang ada di sebelah kiri, memasukkan ke dalam kotak khusus, lalu dinamai, kemudian kotak itu diberikan pada setiap personil. Sebelum memanggil personil berikutnya, Adrian menyiapkan lagi alatnya, memasang CD-nya, mengeset lagi alat perekamnya, dan sebagainya. Ia terus mengulanginya selama beberapa kali. Setelah semua personil mendapatkan CD rekaman suaranya, Adrian kemudian menjelaskan mengenai latihan berikutnya untuk besok, yaitu latihan dance. Adrian meminta semua anak2 7 Icons untuk membawa baju untuk latihan. Yang ingin Adrian lihat besok adalah seperti apa sih kemampuan dance anak2 7 Icons... sama halnya dengan apa yang sudah dilakukan pada hari ini. Untuk dua hari pertama ini... yang dilakukan Adrian adalah melihat seperti apa kemampuan anak2 7 Icons. Dari situ kemudian akan dilihat apa yang bisa Adrian lakukan untuk memperbaikinya.
Malam harinya, Adrian memutar semua CD rekaman suara anak2 7 Icons di CD Player rumahnya. Sambil itu, ia membuka catatannya dan mencatat lagi apa yang kurang dari catatannya sebelumnya. Dari situ, Adrian bisa tahu, kalau sebenarnya suara anak2 7 Icons sudah cukup bagus. Adrian sudah tahu apa yang akan ia lakukan berikutnya.
DAY 2
Sekarang latihan dance. Adrian membawa anak2 7 Icons ke sebuah ruangan khusus berwarna putih, lengkap dengan lantai parquet, kaca berukuran besar yang lebarnya satu tembok, dengan penerangan yang lumayan. Lampunya warna putih, dan bukan chandelier. Ada tiga lampu di situ, jadi terang banget. Ada beberapa kursi di belakangnya, sebuah tempat untuk menaruh tas, ada tempat juga untuk menaruh pemutar kaset, dan ada juga sebuah kursi yang bentuknya seperti kursi sutradara. Di situlah Adrian duduk. Hari itu, Adrian memakai kostum Manchester United terbaru, dengan nama Wayne Rooney di belakangnya. Adrian sudah janji selama ia melatih anak2 7 Icons, ia akan memakai kostum sepakbola yang berbeda-beda, dan dipilih secara acak. Anak2 7 Icons hanya akan tahu kalau ia memakai kostum sepakbola, tapi klubnya mana, mereka tak tahu. Hari itu, anak2 7 Icons akan dites sejauh apa sih kemampuan dance-nya. Adrian hanya akan duduk di kursinya sambil memegang catatannya, dan setiap personil 7 Icons akan ngedance di depannya. Seperti di audisi, tapi bedanya Adrian tidak akan kasih tahu penilaiannya. Sebuah camcorder juga sudah disiapkan Adrian untuk merekam seperti apa dance mereka. Lagunya tidak diberitahukan, lagunya akan dipilih secara acak oleh Adrian sendiri, dan setiap personil 7 Icons akan diberi lagu yang berbeda. Sebelum mulai ngedance, semua personil 7 Icons disuruh duduk di kursi yang sudah disiapkan, namun posisi duduknya membelakangi Adrian, dan telinganya diberi headset. Mereka tidak bisa mendengar apapun yang ada di luar. Jadi mereka dibuat santai dulu sebelum beraksi. Lagunya juga lagu pilihan Adrian, dan lagu itu bukan lagu yang nantinya akan dipakai untuk ngedance. Setelah itu, Adrian akan memilih secara acak siapa yang akan negdance duluan. Bukan berdasarkan urutan kursi, tapi dipilih sendiri oleh Adrian. Siapa yang dibukakan headset-nya oleh Adrian akan mulai ngedance duluan. Angel yang pertama dipanggil. Kemudian Mezty. Selanjutnya Gc. Berikutnya Vanila. Lalu Linzy. Natly menyusul, dan terakhir... PJ. Semua yang sudah selesai ngedance duduk di kursi yang sudah disiapkan di samping kanan Adrian. Setelah semuanya selesai... Angel mengusulkan agar Adrian juga ikut ngedance. Adrian pun dengan senang hati menerimanya. Aturannya sama, lagunya misterius. Adrian tidak tahu lagunya apa, Angel yang memilihkan, dibantu oleh teman2nya yang lain. Setelah lagunya dipilih, Angel langsung memutar lagunya, dan Adrian langsung ngedance! Ia pun tunjukkan jurus2 andalannya... breakdance, hip-hop... semuanya ia kuasai, layaknya ia adalah ahlinya menari. Ia sampai jungkir-balik, loncat2 kesana kemari... semua itu langsung membuat anak2 7 Icons kagum. Sekali lagi Adrian berhasil membuktikan pada anak2 7 Icons kalau ia itu memang punya keahlian. Ketika istirahat pun... anak2 7 Icons bertanya pada Adrian, kok bisa sih ia seperti ini... mereka semua duduk2 santai di lantai, sambil mengatur napas mereka, yang pada engap2an karena habis ngedance.
Linzy: Gila tadi keren banget dance-nya... kok bisa sih ?
Adrian: Hahaha... ya latihan lah... kebetulan selain gw latihan vocal group, gw juga latihan dance... ya, tapi latihan dance-nya seperti tadi... breakdance, hip-hop, RnB... pokoknya yang semua cowok suka lah...
Linzy: Kamu sendiri yang mau niat latihan dance ?
Adrian: Nggak kok, ibuku yang ngusulin... dia mau banget lihat aku bisa menari. Tapi yang sesuai dengan gaya saat ini lah... akhirnya dia yang ngajak aku untuk latihan ngedance...
Angel: Oh... apa ibumu bisa menari juga ?
Adrian: Bisa kok. Dia bisa segalanya. Nyanyi bisa, nari bisa, main alat musik bisa... dia sih memang sejak awal latar belakangnya seniman, jadi dia memang suka melakukan hal2 yang seperti itu...
Angel: Dan itu akhirnya turun ke kamu juga, ya kan ?
Adrian: Ya, begitulah... aku memang lebih dekat dengan ibu gw dari pada ayah gw. Gw rindu sama dia...
PJ: Rindu ? Memangnya dia ada di mana sekarang ?
Adrian: Dia ada di London. Dia sedang mengawal kakak saya untuk kuliah di sana.
PJ: Serius tuh ? Jadi kamu ditinggal sama dia ?
Adrian: Ya. Tapi gw ambil positifnya saja. Ibuku harus ke sana karena ia kerja di The British Council. Jadi, selain dia menjaga kakak saya, dia juga mengemban tugas untuk membantu warga Indonesia yang tinggal di sana. Kebetulan salah satu tugas mereka kan membantu warga Indonesia yang ada di Inggris, jadi... ya gw terima2 saja apa yang ia mau lakukan di sana...
PJ: Terus, pernah nggak ia pulang ke Indonesia ?
Adrian: Untuk dua tahun ini, tidak. Sebenarnya ada rencana untuk pulang, karena kuliah kakakku sedang libur. Tapi karena ibuku banyak pekerjaan, akhirnya nggak jadi pulang deh...
Angel: Tapi kamu masih kontak terus dengan ibu dan kakak kamu ?
Adrian: Itu sih sudah pasti. Kita pakai e-mail dan Skype. Tapi untuk Skype, harus tunggu sampai malam, karena di Inggris, mereka baru masuk siang hari saat kita malam hari. Lihat saja siaran Liga Inggris... akhirnya, ya terpaksa hanya saling berkirim e-mail. Dulu, waktu gw awal2 di SMA Cambridge, gw sempat mengirimkan link download lagu kalian pada kakak gw lewat e-mail. Dan satu bulan kemudian... kakak gw balas e-mail itu dan dia bilang kalau semua warga Indonesia di sana demam Playboy.
PJ: Hah ? Serius ? Lagu kita populer sampai Inggris ?
Mezty: Beneran tuh sampai Inggris ?
Adrian: Ngapain aku bohong ? Beneran kok... sebenarnya kalau kalian mau tahu, lagu kalian sudah terkenal sampai luar negeri kali... tapi cuma di telinga orang2 Indonesia aja...
Linzy: Wah asyik! Lagu kita sudah masuk luar negeri... bisa go international dong kita...
Angel: Betul banget... kalau kayak gini sih, kita jadi makin semangat deh... eh, kita bilang terima kasih pada Adrian... satu, dua, tiga...
7 Icons: Terima kasih, Adrian... hahaha..
Adrian: Sama2. Tapi sebenarnya bukan karena gw saja kalian juga terkenal di luar negeri. Kan banyak juga yang lihat perform kalian di YouTube dan live streaming... belum lagi ada radio... banyak radio yang khusus memutar lagu2 Indonesia di luar... biar semua orang Indonesia yang ada di luar negeri bisa tetap up to date dengan lalu2 yang ada di Indonesia sekarang... nah, mungkin salah satu lagu yang diputar di sana itu juga lagu kalian... jadi kalian juga harus terima kasih juga sama mereka...
Angel: Hehehehehe... itu sih gampang... nanti deh, kita kumpulin dulu semua yang suka sama kita di luar, baru kita bilang terima kasih satu per satu...
PJ: Tenang aja, kalau untuk urusan itu, kita kasih ucapan terima kasihnya yang spesial...
Mezty: Mungkin sekalian juga kita kasih hadiah yang banyak...
Semuanya pun tertawa.
Vanila: Eh, eh... Adrian, mau nggak kamu cerita tentang ibu kamu ? Kayaknya menarik nih...
Linzy: Iya, ceritain dong tentang ibu kamu... seberapa spesial sih ibu kamu...
Adrian: Dia memang spesial. Oke, gw akan cerita.
Adrian lalu mengubah posisi duduknya, kemudian, ia mulai bercerita.
Adrian: Ibuku namanya Eunike Constance Anastasia Paulina Wurttemberg. Dia lahir di Bandung, tapi dia punya keturunan Belanda, Jerman, dan Austria. Orangtuanya adalah ekspatriat Jerman yang lahir dari ibu seorang Belanda dan ayah seorang Austria yang kemudian menikah dengan gadis asal Bandung. Ayahnya seorang konduktor di sebuah orkestra yang sering tampil di berbagai restoran elite di kota Bandung. Ibunya adalah biduan terkenal di kota Bandung dan sering bernyanyi dengan orkestra itu. Ibuku adalah anak satu2nya, dan sejak kecil memang ia sudah dikenalkan dengan seni. Dari kecil ia sudah belajar main alat musik, bernyanyi, menari, melukis, hingga berakting di kelas teater. Orangnya mau belajar banyak hal... dan ketika ia berumur 17 tahun, ia sudah bisa segalanya. Darah seniman benar2 sudah masuk ke dalam dirinya. Ibuku seorang penyanyi kafe. Ia berkeliling dari satu kafe ke kafe lain untuk bernyanyi. Sama seperti kalian, tampil dari satu acara ke acara lain, dan kadang kalian kembali lagi ke acara itu untuk bernyanyi. Ibuku juga sama. Ia sering2 bolak-balik masuk kafe yang sama beberapa kali dalam sebulan. Meskipun begitu, ia tidak pernah jauh2 dari jalan Braga. Pada waktu itu, di jalan Braga ada banyak kafe, dan mereka semua menjalankan bisnis hiburan malam yang masih cukup baik saat itu. Mereka mengundang banyak penyanyi berbakat ke kafe dan diminta untuk bernyanyi di sana. Untuk para penyanyi2 seperti itu, itu sudah suatu kehormatan. Termasuk juga untuk ibuku. Bahkan, dalam waktu cepat ia jadi primadona jalan Braga, karena suaranya yang bagus, orangnya cantik... dan bisa segala jenis aliran musik. Mungkin kalau misalnya ia dibawa dengan mesin waktu ke jaman sekarang, mungkin dia bisa bikin girlband seperti kalian...
7 Icons: Hahahahaha...
Adrian: Oke, gw lanjutkan lagi. Jadi, ibuku itu sudah jadi primadona jalan Braga. Statusnya langsung naik jadi penyanyi kafe yang paling top se-kota Bandung. Dia mulai kebanjiran tawaran untuk tampil di berbagai kafe. Baik yang ada di jalan Braga maupun sekitarnya. Selain itu, ia juga sering ditawari untuk bernyanyi di berbagai acara2 penting yang berhubungan dengan kota Bandung. Entah itu acara HUT kota Bandung, ada acara resepsi tamu kehormatan di Gedung Sate, dan sebagainya. Ia sudah seperti jadi superstar di kota Bandung.
Angel: Adrian, aku mau nanya, dulu waktu ia nyanyi di kafe, bayaran ibumu berapa ?
Adrian: Lumayan sih... 250 ribu. Cukup buat makan dan belanja... ibuku kebetulan suka jalan2 orangnya... tapi dia lebih memilih untuk menabungnya, soalnya... itu hasil nyanyinya selama ini... dia nggak mau buang2 uangnya... sayang katanya...
PJ: Hahahaha... terus pernah ada niatan nggak buat jadi penyanyi profesional, kayak kita2 ini...
Adrian: Hahaha... pernah. Justru ketika itu, banyak produser dari Jakarta yang tertarik untuk mencari penyanyi2 dari Bandung. Mereka beranggapan bahwa penyanyi2 Bandung itu sangat potensial. Muda, berbakat, wajahnya cantik dan rupawan, belum lagi mereka bisa segala jenis aliran musik, dari yang tradisional hingga pop. Itu akan memudahkan produser untuk mengatur konsepnya. Disini produser hanya tinggal mengarahkan dan melatih saja. Sisanya tergantung si penyanyi. Biasanya para produser itu seperti ini cara kerjanya pada saat itu. Mereka terjun ke lapangan mencari penyanyi yang menurutnya berbakat dan potensial. Setelah berhasil menemukannya, mulai diadakan pembicaraan dan kerjasama. Setelah kerjasama selesai, penyanyi itu dibawa ke Jakarta dan diorbitkan. Setelah penyanyi itu mulai terkenal, produser pun kemudian mencari lagi penyanyi lain... kadang sih berhasil, tapi kadang juga gagal. Susah mencari penyanyi yang benar2 potensial. Nah, di Bandung, sejak ada satu-dua penyanyi potensial yang berhasil diorbitkan dan jadi terkenal di Jakarta, banyak penyanyi2 Bandung lainnya yang juga mencoba peruntungannya untuk diorbitkan oleh para produser. Mereka semua berlomba-lomba dan terkadang menghalalkan segala cara biar mereka bisa terkenal. Ibuku juga masuk ke dalam persaingan itu, dan ia terjebak di dalamnya. Sebenarnya ia hampir saja bisa dapat kerjasama dengan seorang produser, tapi... tiba2 kerjasama itu dibatalkan, karena si produser secara tiba2 kepincut sama penyanyi lain yang kebetulan lagi nyanyi di panggung. Ibuku pun jadi sangat kecewa. Pada akhirnya, ia tersingkir dengan sendirinya. Ibuku tidak pernah punya kesempatan menjadi penyanyi profesional yang terkenal di Jakarta. Ia tidak pernah lagi terima tawaran apapun dari para produser yang tertarik padanya. Karena ia merasa dikecewakan. Sejak itu, ia hanya terus bernyanyi dan bernyanyi di kafe2 terus... dan dia menikmatinya.
Mezty: Wah, kasihan banget ibu kamu... udah hampir kerjasama, eh malah dibuang... seperti itu, ya kan ?
Adrian: Ya, seperti itu. Sebenarnya bukan hanya ibuku yang pernah mengalaminya. Ada beberapa penyanyi lain yang juga merasa dikecewakan seperti itu. Malah ada yang sampai berulang kali. Bahkan ada yang sampai trauma dan tidak mau bernyanyi lagi... pokoknya benar2 kejam deh, kalau mau dibilang, kondisinya saat itu. Masih beruntung ibuku mampu bertahan.
Natly: Terus kelanjutan cerita berikutnya, bagaimana ? Apa ibumu tetap bernyanyi di kafe terus ?
Adrian: Pastinya. Ia tetap bernyanyi dari satu kafe ke kafe lain... tapi kemudian ada masalah baru. Muncul tempat hiburan baru bernama diskotik. Saat itu sudah jamannya ngedisko, bukan lagu mellow lagi. Semua remaja nggak gaul kalau nggak bergoyang atau nggak ngedisko. Mereka ngedisko di mana saja. Di sekolah, di jalan, di rumah, bahkan ada yang menganggapnya sebagai pengganti senam pagi. Semua remaja jadi mau senam pagi, gara2 lagu disko. Maklum, saat itu kan mulai masuk lagu2 yang genre-nya disko, yang bikin kita semua jadi bergoyang-goyang nggak karuan. Nah, trend ini kemudian ditangkap oleh pengusaha hiburan. Mulailah dibangun diskotik di mana2. Lama-kelamaan, kafe2 jadi terdesak. Selain karena hiburannya yang lebih asyik, juga karena harga masuknya itu murah banget. Selain itu, lebih banyak dimasuki oleh anak muda. Kalau kafe kan isinya orang dewasa... mana ada anak muda yang tertarik... akhirnya satu per satu kafe mulai kehilangan pengunjung, kemudian merugi, bangkrut, dan ditutup. Ada yang kafe yang ditutup sementara, direnovasi bangunannya, lalu dibuka lagi dengan bentuk diskotik. Kalaupun ada kafe yang masih buka, itu karena permintaan langganan. Yah, karena memang langganannya masih banyak aja... kalau yang sudah nggak punya langganan ya... tutup. Jumlah kafe yang buka pun makin lama makin sedikit, dan banyak orang kehilangan pekerjaannya. Ibuku berusaha bertahan di tengah terdesaknya jumlah kafe yang masih ada. Tapi lama2 dia juga nggak tahan. Akhirnya ia berhenti jadi penyanyi kafe. Ia pun kemudian belajar menari disko selama empat bulan, dan melamar menjadi penari di salah satu diskotik.
PJ: Hah ? Jadi penari di diskotik ? Jauh banget...
Vanila: Mungkin itu yang bikin kamu jadi jago nari disko2 juga, ya kan ?
Gc: Iya, mungkin aja... bukankah buah jatuh tak jauh dari keranjangnya kan ?
Mezty: Hah ? Jatuh dari pohonnya kali...
Gc: Oh, udah ganti tempat jatuhnya ya...
Natly: Bukan... emang begitu kata2nya...
Gc: Oh... ngerti2... tapi jatuhnya meninggalkan kotak hitam kan ?
Angel: Kotak hitam ? Emangnya pesawat ?
Gc: Lho kan bukannya kalau ada jatuh2, pasti ada kotak hitamnya kan ?
Linzy: Itu kalau pesawat yang jatuh, Gc... kalau buah beda lagi...
Gc: Oh... begitu...
Adrian: Hahahahaha... dia emang lemot banget ya...
Angel: Ya begitulah si Gc... tapi jangan salah, kalau di kelas, otaknya nyambung lho...
PJ: Iya, tapi cuma di kelas doang... kalau di luar... muncul lagi deh...
Gc: Tapi kan masih mending kalau otak gw masih nyambung kalau di kelas, daripada otak gw nggak nyambung di mana2... kan makin berabe...
PJ: Iya sih... yang mentang2 ulangan bahasa Inggris-nya kemarin dapat 100... dia emang jago bahasa Inggris, Adrian... kita semua, nilainya nggak seberapa... dia enak banget ngerjainnya...
Adrian: Hahahaha... berarti biarpun lemot kayak begitu, dia masih mau belajar. Gw juga nilai ulangan bahasa Inggris gw 100... kalau itu sih kecil buat gw...
Linzy: Iya sih, mentang2 keluarganya juga di Inggris... tapi kamu juga suka belajar bahasa Inggris bareng kakak kamu ?
Adrian: Kadang2. Dia kan nggak selalu kirim e-mail ke gw... buku2nya aja dia bawa semua ke Inggris... gimana mau belajar dari dia ?
Linzy: Oh, begitu...
PJ: Eh, Adrian, lanjutin dong ceritanya tadi... yang ibu kamu katanya jadi penari di diskotik itu...
Adrian: Oh, ya. Hampir lupa. Malah ngobrol2 sih... jadinya begini. Dia sudah diterima kerja jadi penari di diskotik. Tugasnya, dia akan memandu gerakan buat semua orang yang akan berdisko pada malam itu. Awalnya, pekerjaannya lumayan. Tapi kemudian, makin lama makin banyak orang yang kurang ajar pada para penari yang ada di diskotik itu. Ibu gw pernah kena... dia hampir saja digerayangi orang2 yang sudah mabuk minuman keras. Di diskotik kan juga jual minuman keras... akhirnya, makin lama dia makin nggak tahan. Ibuku kemudian keluar dari diskotik itu, dan... dia kembali lagi jadi penyanyi kafe. Total, ia bekerja selama empat setengah bulan di diskotik itu.
Angel: Oh, nggak lama ya, ibumu berada di sana... terus kemudian, gimana ceritanya sebagai penyanyi kafe lagi ? Bukannya kafe2 yang ada saat itu sudah sedikit ?
Adrian: Sedikit tapi bukan berarti tidak ada. Ibuku berusaha untuk menikmati pekerjaannya sekali lagi, bernyanyi dari kafe ke kafe, dan bahkan ia juga mulai mengajar anak2 untuk bernyanyi, sebagai pekerjaan tetapnya. Kafe di Bandung saat itu hanya sekitar 15-20 buah, dan tidak ada yang menolak ibuku. Statusnya sebagai penyanyi kafe terbaik di kota Bandung dan primadona jalan Braga kembali lagi hanya dalam waktu yang sangat singkat. Selang satu-dua tahun kemudian... saat itu tahun 1986, berarti tahun 1988 atau 1989, ketika ia sedang bernyanyi di sebuah kafe... ada seorang pria yang baru pulang dari kuliahnya dan singgah sebentar di kafe tempat ia bernyanyi. Awalnya ia tidak memikirkannya, tapi lama-kelamaan ia terpesona dengan suara ibuku. Sejak itu, ia selalu kembali lagi ke kafe itu atau pergi ke kafe lainnya, untuk melihat penampilan ibuku. Hingga kemudian, ia berkenalan dengan ibuku. Setelah berkenalan, mereka langsung saling dekat, kemudian berpacaran... dan kemudian menikah. Ya, orang yang selalu mengejar ibuku saat ia sedang bernyanyi di kafe itu adalah ayahku. Sejak ia menikah, ibuku tidak lagi bekerja sebagai penyanyi kafe. Ia mulai mencari pekerjaan tetap, dan setelah kakakku lahir, ia bekerja di sebuah sekolah musik, mengajar vokal dan alat musik. Begitulah cerita ibuku.
Angel: Wah, hebat banget ya ibumu... terus bagaimana ceritanya sampai kamu kemudian bisa segala hal seperti ini. Apa ibumu juga yang ngajarin ?
Adrian: Justru tidak. Dia memang mengajari saya tentang seni, tapi sampai saya kelas enam SD. Setelah itu, ibuku membawaku ke berbagai tempat untuk belajar tentang seni. Kebanyakan mereka adalah teman2 dari ibuku... jadi aku lebih merasa enjoy karena mereka sudah tahu seperti apa aku dan cara mereka mengajariku. Itulah yang kemudian membuatku jadi bisa segalanya.
Angel: Oh... terus, kapan kamu pertama kali bernyanyi ?
Adrian: Di gereja. Umurku empat tahun. Sebelumnya saya nggak pernah bernyanyi. Kan saya ini pemalu... ibuku bahkan harus menjanjikan hadiah untukku sebelum aku bernyanyi. Barulah saya mau bernyanyi. Setelah itu, aku nggak pernah nyanyi lagi sampai masuk TK. Ketika guru memintaku untuk maju ke depan. Pada saat itulah saya sudah mulai berani bernyanyi, dan kemudian saya jadi suka bernyanyi.
Linzy: Apa kamu pernah latihan nyanyi dengan ibumu ?
Adrian: Tidak pernah. Ia hanya memintaku untuk bernyanyi semau saya sendiri. Dari situ vokal saya berkembang karena saya menyanyi terus... dan sejak awal... ibuku sudah bilang kalau suaraku bagus. Ia hanya memintaku untuk terus bernyanyi.
Natly: Kalau soal menari ?
Adrian: Kalau itu aku belajar dari orang lain. Saya masuk sekolah tari di Bandung. Di situlah saya belajar semuanya. Jujur saja, baru kali ini saya menari lagi. Selama tahun pertama gw SMA di Bandung, gw sudah mulai bolos latihan... soalnya pada saat itu gw emang lagi bosan untuk melakukan apapun dan lebih banyak konsentrasi buat belajar... maklum, soalnya pelajaran SMA sudah mulai sulit... hehehehe... eh, sekarang jam berapa sih ? Ada yang bawa jam ?
PJ: (melihat jamnya) udah jam empat. Emangnya kenapa ?
Adrian: Jam empat ? Hmmm... gw pikir hari ini cukup dulu deh... gw udah dapatkan semua rekaman dance kalian... dan gw tinggal pelajari apa yang kurang dari kalian... itu yang akan gw perbaiki. Sekarang kalian semua boleh pulang, apa ada yang mau ganti baju ?
Angel: Nggak lah... kita langsung aja pulang... ya kan, girls ?
7 Icons: Iya!!!!!
Adrian: Well, baiklah. Sekarang kita siap2 pulang aja. Besok, gw akan kasih tahu hasil tes vokal kalian. Nanti, gw akan kasih tahu apa yang kurang, dan apa yang bagus dari kalian. Kita akan mulai latihan vokal yang sebenarnya besok. Oke ?
7 Icons: Okeee...
Adrian: Good.
Adrian dan anak2 7 Icons pun kemudian meninggalkan ruang latihan dance dan pulang. Besok, agendanya adalah melatih vokal anak2 7 Icons. Tentu saja untuk hari berikutnya akan menjadi sesuatu yang menarik.
Malamnya, seperti malam sebelumnya, Adrian menilai seperti apa hasil tesnya tadi siang. Ia melihat satu per satu aksi dance para personil 7 Icons, dan lalu mencatatnya dalam buku catatannya. Ia sudah tahu seperti apa yang bagus dan yang kurang dari mereka, dan dari situ, Adrian sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
DAY 3
Sekarang Adrian dan anak2 7 Icons kembali lagi ke ruang latihan vokal. Sebelum memulai latihannya, Adrian memberitahukan hasil tes vokal yang telah ia lakukan sebelumnya. Hasilnya, semua personil 7 Icons memiliki suara yang lumayan, dan kualitas vokal mereka cukup bagus. Karena dulu anak2 7 Icons latihan vokal secara berkala ketika mereka masih terkenal, vokal mereka bagus dan cukup terlatih. Sekarang, yang tinggal Adrian lakukan adalah menyatukan suara mereka, sehingga terdengar bagus saat mereka bernyanyi. Untuk itu, Adrian mengajak mereka semua untuk berdiri dari kursinya, dan lalu berdiri di sebuah tempat yang disediakan. Tempat berdirinya berjarak satu langkah dari meja Adrian, tepat sejajar dengan papan tulis. Tempat berdirinya sudah ditandai dengan sebuah lakban yang sangat panjang, melintang tepat di depan kaki para personil 7 Icons. Anak2 7 Icons tidak boleh melewati garis ini. Adrian lalu menuliskan huruf A, I, U, E, O di papan tulis, dan tugas anak2 7 Icons adalah... menyanyikan setiap huruf, satu per satu, hingga mencapai not tinggi, setelah itu ditahan. Apakah huruf2 ini harus dinyanyikan sendiri2 ? Tidak. Semuanya harus nyanyi, bersama-sama, dalam satu suara. Ini yang jadi tantangannya... berhasil nggak ya ?
Adrian: Sekarang tugas kalian adalah menyanyikan setiap huruf ini, dalam satu suara, dan menahannya hingga not tinggi. Dari not yang rendah, hingga not yang tinggi, lalu ditahan di situ. Kita mulai dari huruf A. Siap ?
7 Icons: Siaaapppp!!!!!!
Adrian: Baiklah, sekarang perhatikan tangan saya. Kalau lurus seperti ini (tangannya lurus menghadap ke depan) artinya masih not rendah. Kalau seperti ini (tangannya dinaikkan sedikit ke atas), kalian naik satu not. Seperti ini (tangannya dinaikkan lagi sedikit ke atas), naik satu not lagi. Begitu seterusnya hingga seperti ini (tangannya diangkat ke atas). Ini not tertinggi. Kalian tahan di sini... nanti kalau saya stop, selesai. Kalau kalian berhasil untuk semua huruf ini, nanti akan kuberi permainan buat kalian, tapi nggak jauh2 dari sini. Sudah mengerti semuanya ?
7 Icons: Mengerti!
Adrian: Baiklah, kita mulai. Dari huruf A dulu. Saya hitung sampai tiga. Satu... dua... tiga!
7 Icons: aaaaaaaaaaaa... (tapi masih nggak kompak)
Adrian: Stop! Stop! Ulang! Masih nggak kompak. Tenang dulu, tarik napas semuanya... oke ? Kita ulangi lagi. Satu... dua... tiga!
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Adrian: Oke, bagus... (tangannya ia naikkan sedikit ke atas) buka mulutnya terus...
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... (makin lama makin tinggi, mengikuti gerakan tangan Adrian)
Adrian: Terus... terus... lebih tinggi lagi... (tangannya ia angkat ke atas, dan suara anak2 7 Icons sudah mencapai not tinggi, dan ditahan sebentar) oke, stop!
Anak2 7 Icons pun lalu berhenti bernyanyi. Leher mereka sudah mulai merasa kering.
Adrian: Oke, itu tadi sudah lumayan. Not bad... kalian boleh minum dulu...
Adrian lalu berlari dan mengambil sebuah box besar berisi air minum dalam kemasan yang berbentuk botol. Semua anak2 7 Icons langsung mengambil satu botol dan minum. Adrian juga minum.
Adrian: Gila kan ? Tapi itu belum apa2. Kita ulangi lagi. Tapi sebentar, ada yang harus saya lakukan.
Adrian lalu berlari ke arah jendela dan kemudian membuka jendelanya.
Linzy: Untuk apa kamu buka jendela, Adrian ?
Adrian: Ini untuk membiarkan udara masuk. Selain itu juga untuk memberi pintu keluar buat suara kalian agar tidak tertampung terus di dalam ruangan ini... tenang kok, nggak ada tetangga yang akan marah. Lihat saja apa yang ada di luar sana...
Anak2 7 Icons kemudian melihat ke luar jendela, dan mata mereka langsung disuguhi pemandangan laut yang terhampar sangat luas. Ada beberapa kapal yang sedang lalu-lalang di tengah laut itu, dan ada mercusuar yang sangat tinggi, berdiri di atas tebing yang berada di sebelah kanan pemandangan itu. Di kiri pemandangan terdapat sebuah bangunan pelabuhan dan terminal peti kemas. Bisa disimpulkan, flat ini berada tidak jauh dari pelabuhan. Udara laut sangat terasa di sekitar jendela itu.
Angel: Jadi, kita ini... ada di dekat pelabuhan ?
Adrian: Ya. Kebetulan salah satu alasan kenapa gw memilih tempat ini adalah karena tempatnya sepi. Kalian nggak perlu khawatir dengan tetangga yang merasa terganggu mendengar kalian bernyanyi. Maklum saja, tetangga kita laut dan pelabuhan. Belum lagi ada jarak yang cukup jauh antara pelabuhan dan tempat kita berada. Jadi, gw yakin kalau suara kalian nggak akan terdengar sampai pelabuhan. Selain itu, kalian juga bisa bersantai. Siapa tahu, dengan melihat pemandangan laut, kalian menjadi lebih rileks dan santai.
Tiba2 terdengar bunyi sirene pelabuhan yang bunyinya sangat keras sekali. Anak2 7 Icons pun jadi kaget mendengar bunyi keras itu.
Angel: Katanya tempatnya sepi... tapi kok ada bunyi sirene pelabuhan sih ? Mana keras banget lagi...
Adrian: Yah, itu mungkin satu2nya saingan kalian... namanya juga dekat pelabuhan... ya pasti begini lah... ya udah, cukup melihat-lihat pemandangannya... sekarang kita latihan lagi. Ayo...
Adrian lalu kembali ke depan meja kerjanya. Anak2 7 Icons pun kemudian mengikutinya dan kembali ke tempat mereka tadi berdiri. Latihan pun dilanjutkan.
Adrian: Kita ulangi lagi dari awal, aturannya masih sama, kita lakukan seperti tadi. Siap ? Satu... dua... tiga!
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Adrian: Oke, bagus... terus... (sambil mengangkat tangannya secara perlahan)
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... (makin lama makin tinggi suaranya, seperti tadi)
Adrian: Sudah bagus... ayo terus... keep it going girls... (sambil mengangkat tangannya lagi, semakin tinggi)
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... (suaranya sudah tinggi, dan di tahan di not tinggi)
Adrian: Stop! (lalu menurunkan tangannya) good job, girls! Kalian berhasil!
Mezty: Hah ? Beneran ?
Adrian: Ya, kalian berhasil... kalian semua berhasil...
7 Icons: Yeaaayyyyy... kita berhasil... berhasil...
Adrian: Tapi tunggu dulu, kalian harus tetap mengulanginya. Itu tadi sudah bagus. Tapi tetap harus diulang. Ini untuk memastikan kalau kalian semua benar2 bernyanyi dengan baik. Siapa tahu berikutnya lebih baik. Sekarang kalian boleh minum dulu.
Anak2 7 Icons kemudian minum lagi, dan setelah itu... latihan dilanjutkan. Tetap, menyanyikan huruf A hingga not tinggi dan ditahan pada not tinggi. Latihannya dilakukan berulang-ulang dan terus menerus. Hal yang sama juga dilakukan pada huruf2 lain, yaitu huruf I, U, E, O. Di sini Adrian punya beberapa kata2 pemberi semangat lain, seperti misalnya pada huruf I, "ayo, kasih lihat giginya terus..." pada huruf U, "ayo, monyongin terus bibirnya... monyongin terus..." kemudian di huruf E, "ayo, buka terus mulutnya... kasih lihat giginya lagi... buka terus..." dan di huruf O, "ayo, buletin terus mulutnya... ayo... bikin lingkarannya... terus...", dan seperti itulah. Hebatnya, anak2 7 Icons berhasil melakukan semuanya dengan sangat baik. Hanya satu kali adaptasi, dan setelah itu mereka lancar terus. Adrian menganggapnya sebagai sebuah progres yang cukup baik. Ia langsung mencatat semua progres latihan itu dalam bukunya, di saat anak2 7 Icons sedang duduk2 di sofa untuk beristirahat. Adrian mencatat semuanya dengan sangat detail, dan raut kepuasan tergambar dalam wajahnya. Latihan vokal itu sudah selesai, karena waktunya tidak cukup, akhirnya permainan yang dijanjikan oleh Adrian itu ditunda hingga latihan vokal berikutnya. Besok, adalah latihan dance pertama. Sebelum pulang, ada sesuatu yang ingin disampaikan Adrian pada anak2 7 Icons.
Adrian: Besok kita akan latihan dance. Tapi kalian mau nggak bangun pagi besok ?
PJ: Hah ? Bangun pagi ? Bangun pagi buat apa ?
Adrian: Di dalam rencana gw, di setiap akhir pekan, kita akan jogging bersama. Soal harinya, antara hari Jumat atau Sabtu, tergantung jadwal yang tersedia. Untuk minggu ini, kita jogging besok pagi. Kita akan jogging di kompleks Olimpiade. Kalian semua siap ?
Linzy: Tapi kan, kita besok pagi harus sekolah juga... kita kan masuk jam setengah delapan...
Adrian: Nah, justru saat kalian jogging nanti, kalian bawa seragam sekolah sebagai baju ganti. Nanti sesudah jogging nanti, kita semua akan ganti baju dengan seragam sekolah, lalu langsung berangkat ke sekolah. Jadi nggak akan pulang lagi. Bagaimana ?
Linzy: Oh, kalau itu sih nggak masalah. Kalau begitu, gw terima deh... gimana yang lain ?
Angel: Oke deh, gw juga... kita udah lama nggak jogging lagi...
Mezty: Gw juga... sama, kita udah lama nggak jogging lagi...
Adrian: Yang lain ?
Natly: Aku ikutan deh...
PJ: Gw juga.
Vanila: Akyu juga mau...
Gc: Aku juga ikutan deh...
Adrian: Bagus, kalau begitu, kalian besok bangun pagi, nanti kita bareng2 ke kompleks Olimpiade, kita jogging dan olahraga selama satu jam. Sambil nunggu jam masuk sekolah aja...
Angel: Oke deh, sip... kita semua bakal bangun pagi kok...
Adrian: Bagus kalau begitu. Kalau begitu sekarang kita pulang.
DAY 4:
Pagi2, anak2 7 Icons dan Adrian sudah berkumpul di lapangan atletik kompleks Olimpiade. Mereka semua sudah siap untuk jogging. Anak2 7 Icons pakai baju yang biasa mereka pakai untuk latihan dance, sementara Adrian memakai kostum Chelsea terbaru dengan tulisan "TORRES" dan angka 9 di belakangnya, dan celana berwarna biru, kaus kaki biru, dan sepatu kets warna hitam. Tanpa menunggu lama, Adrian langsung mengajak mereka untuk jogging, dan anak2 7 Icons menyusul beberapa saat kemudian. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan yang lalu mereka jogging bersama. Mereka semua jogging bertujuh bersama-sama, sementara Adrian malah jogging sendiri di depan. Setelah jogging selama 15 menit, acara pagi itu dilanjutkan dengan olahraga. Mereka semua pemanasan, di mana Adrian yang memimpin pemanasannya, dan setiap personil 7 Icons yang menghitung pemanasannya. Sesudah mereka pemanasan, mereka lari lagi 15 menit. Tapi kini ada bedanya. Kalau tadinya Adrian berlari sendiri di depan, sekarang Adrian lari bareng dengan anak2 7 Icons. Sambil itu, mereka semua ngobrol2 mengenai berbagai hal. Kadang2 Adrian sampai harus berbalik dan berlari mundur untuk bisa ngobrol dengan jelas dengan anak2 7 Icons. Setelah mereka lari, 15 menit kemudian mereka langsung masuk ke tempat ganti pakaian dan berganti pakaian menjadi seragam sekolah. Sesudah ganti pakaian, mereka langsung naik mobil dan meluncur ke sekolah.
Setelah sekolah, anak2 7 Icons dan Adrian kembali lagi ke flat. Sekarang mereka akan latihan dance. Pada latihan dance-nya kali ini, Adrian ingin semua anak2 7 Icons ngedance lagu Playboy. Ia ingin melihat seperti apa sih gaya dance mereka saat ini. Hasilnya... mereka ngedance seperti terakhir2 mereka tampil. Agak kacau, kurang kompak, dan gerakannya kaku. Adrian melihat kalau semuanya masih bisa diperbaiki. Ia lalu berdiri dari kursinya dan mulai mengajarkan gaya dance yang asyik buat mereka. Sebagai tes pertama untuk anak2 7 Icons, Adrian memberikan sebuah nomor gerakan dan anak2 7 Icons harus menarikannya. Adrian sendiri yang mengajarkannya pada mereka. Anak2 7 Icons belajar secara perlahan, mulai dari dipandu oleh Adrian, hingga akhirnya mereka bisa sendiri. Setelah itu, satu per satu personil 7 Icons dipanggil untuk menarikannya secara langsung, tepat di depan Adrian, seperti tes dance yang dulu. Mereka semua bisa, meskipun agak sedikit ada kesalahan dalam gerakannya. Adrian mencatat semuanya dalam buku catatannya, dan lalu setelah semuanya selesai menari, Adrian memberitahukan apa penilaiannya. Setelah penilaian itu diberikan, Adrian berdiri lagi dari kursinya dan memperbaiki kembali gerakan yang tadi salah, dari setiap personil. Satu per satu para personil itu diperbaiki gerakannya dan diberi beberapa masukan. Setelah semua gerakannya diperbaiki, latihannya dilanjutkan kembali, dengan gerakan yang sama. Selang beberapa saat kemudian, Adrian mengetes anak2 7 Icons lagi, kali ini tidak dipanggil satu per satu, tapi dipanggil semuanya dan melakukan dance secara bersama-sama. Adrian mau melihat seberapa kompak mereka dengan gerakan yang ia berikan ini. Hasilnya, mereka lumayan kompak. Adrian sangat puas sekali lagi, dan dia langsung mencatat semuanya dalam buku catatannya. Adrian kemudian berkesimpulan kalau sebenarnya tidak ada masalah dengan kekompakan 7 Icons saat ngedance. Hanya saja... ada yang perlu diperbaiki saat mereka ngedance lagu Playboy. Inilah yang kemudian coba diperbaiki Adrian. Ia pun berdiri lagi dari kursinya dan ngedance dengan lagu Playboy, di hadapan para personil 7 Icons. Tentu saja anak2 7 Icons jadi merasa kagum pada Adrian, karena ia bisa menarikan lagu mereka dengan sangat baik. Setelah ia ngedance itu, Adrian lalu melatihkan setiap gerakan di lagu Playboy itu satu per satu pada para personil 7 Icons, dari bagian pertama lagu hingga bagian reff. Mereka berlatih terus hingga berakhirnya waktu latihan, jam 5. Adrian lalu mencatat, kalau untuk sejauh ini, progres latihan anak2 7 Icons cukup bagus. Mereka sudah bisa kompak untuk gerakan dance yang ia buat sendiri, dan mereka sedang berusaha untuk ngedance lagu Playboy dengan kompak. Karena waktu, latihan dance-nya belum bisa maksimal, hanya dari bagian pertama hingga reff lagu. Tapi itu tidak jadi masalah. Di latihan berikutnya, dance lagu Playboy akan mulai dilatih lebih dalam.
DAY 5
Hari itu hari Sabtu, jadi latihannya sedikit lebih santai karena akhir pekan. Latihan vokal lagi. Melanjutkan dari kegiatan pada latihan sebelumnya, Adrian sekarang akan memberi permainan pada anak2 7 Icons, yaitu sebuah permainan yang dulu pernah dimainkan oleh anak SD, yaitu permainan sebut huruf. Di sini, anak2 7 Icons harus mengucapkan lima huruf yang sebelumnya sudah Adrian tulis di papan tulis, yaitu A, I, U, E, O. Tugasnya disini, anak2 7 Icons harus menyanyikan huruf sesuai dengan apa yang ditunjuk oleh Adrian, dengan aturan yang dulu diberikan Adrian. Jika sampai salah sebut, ada hukumannya. Semua personil 7 Icons harus scotch-jump sepuluh kali. Di sini, yang dilatih tidak hanya vokalnya, tapi juga konsentrasi. Adrian menganggap bahwa salah satu penyebab kacaunya penampilan 7 Icons adalah... kurang konsentrasi. 7 Icons terlalu banyak memikirkan trauma masa lalu mereka, sehingga saat mereka tampil lagi di kesempatan berikutnya, penampilan mereka jadi kacau. Sebelum masuk ke permainan, anak2 7 Icons mengulang kembali apa yang sudah dipelajari pada latihan sebelumnya. Kenapa harus diulang ? Itu karena pelajaran vokal kemarin adalah kunci untuk memainkan permainan sebut huruf ini. Nantinya kan, lima huruf vokal itu harus dinyanyikan, jadi teknik dasarnya, yang dulu sudah diajarkan sama Adrian, itu harus diulangi lagi, agar nggak lupa.
Setelah teknik dasarnya selesai dipelajari, permainannya dimulai. Adrian memegang sebuah penggaris kayu, dan ia menyentuhkan penggaris kayunya ke huruf yang ia pilih secara acak, untuk kemudian dinyanyikan oleh para personil 7 Icons. Belum apa2, sudah ada yang salah. Gc yang salah sebut pertama. Yang harusnya huruf I, ia sebut A. Akhirnya, hukuman scotch-jump pertama pun dijatuhkan. Setelah hukuman selesai, permainan dilanjutkan. Setelah hampir beberapa huruf berhasil disebut tanpa cela, tiba2 Angel salah. Harusnya huruf O, ia sebut U. Hukuman lagi... kemudian permainan dilanjutkan. Tak lama, belum genap lima huruf, Vanila yang salah sekarang. Ia terlambat mengucapkan huruf yang ditunjukkan oleh Adrian. Hukuman lagi... dan begitulah seterusnya. Setiap kali ada yang salah, hukuman langsung diberikan, dan semua personil 7 Icons melakukan kesalahan. Total, anak2 7 Icons 15 kali salah sebut huruf. Adrian mencatat semuanya. Ujung2nya, semua personil 7 Icons pada gempor semua kakinya... gara2 keseringan scotch-jump dan mereka nggak sempat pemanasan sebelumnya... ya iya lah... masa latihan vokal pada pemanasan gaya latihan dance ? Selain itu juga, mereka nggak menyangka kalau latihannya seperti ini. Karena tanpa persiapan itulah, semuanya pada gempor setelah melakukan scotch-jump. Tapi, meskipun banyak melakukan kesalahan, Adrian melihat kalau sekarang vokalnya sudah membaik. Mereka bisa menahan suara tinggi lebih lama daripada sebelumnya, dan juga konsentrasi mereka sudah mulai terbentuk. Sebelum latihan berakhir, Adrian memberitahukan pada anak2 7 Icons kalau pada hari Minggu, tidak ada latihan. Latihan berikutnya adalah latihan dance, dan akan dilakukan pada hari Senin yang akan datang. Adrian memberi kesempatan pada anak2 7 Icons untuk beristirahat dulu, apalagi setelah mengetahui kalau kaki anak2 7 Icons pada gempor gara2 terus-menerus melakukan scotch-jump. Jadi, pada hari Minggu, tidak ada latihan, dan semuanya boleh beristirahat.
Nah, seperti itulah latihan 7 Icons bersama Adrian di hari2 pertamanya. Adrian mencatat ada sebuah progres yang cukup baik yang dibuat oleh anak2 7 Icons pada setiap latihannya, dan mereka semua melakukan latihan itu dengan penuh semangat. Kira2, seperti apa latihan 7 Icons pada hari2 berikutnya ? Masihkah mereka melalui masa latihan dengan progres yang cukup baik ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Cerita2 sisipan akan mulai diceritakan di bagian berikutnya dari cerita ini, yaitu part 15c, selain juga masih menceritakan tentang latihan 7 Icons di hari2 berikutnya. Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita ini masih akan berlanjut ke bagian berikutnya, yaitu part 15c. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15c)
Kalau di bagian 15a diceritakan perkenalannya, maka sekarang... training-nya sudah dimulai. Saya akan menulis beberapa narasi, disertai dialog bila perlu, tentang masa training anak2 7 Icons dalam cerita ini, dan juga beberapa cerita sisipan yang ada di dalamnya. Saya sudah rencanakan kalau dalam bagian ini tidak hanya training anak2 7 Icons yang dibahas, tapi juga mengenai kisah cinta Adrian dan beberapa hal lain. Oke, sekarang kita langsung saja mulai bagian ini. The Training Has Begun.
DAY 1
Adrian dan anak2 7 Icons memulai training hari pertama dengan tes vokal. Seperti yang sebelumnya sudah diceritakan, Adrian akan mengetes seperti apa sih, kualitas vokal dari anak2 7 Icons, jika mereka harus bernyanyi sendiri, bukan sebagai anggota 7 Icons. Alatnya sudah diperkenalkan, sebuah sound recorder khusus yang dipinjam Adrian dari temannya dan buatan Amerika. CD untuk merekam suaranya sudah disiapkan, dan berdasarkan urutan kursi, satu per satu anak2 7 Icons dipanggil, diawali dari Natly. Di alat itu sudah disiapkan dua CD kosong, di mana satu CD akan menjadi milik setiap personil dan satu CD lainnya menjadi milik Adrian. Setelah suaranya terekam, setiap personil punya kesempatan untuk mendengarkan suaranya yang tadi sudah direkam, dengan memainkan kembali rekaman suaranya. Tapi hanya personil itu dan Adrian yang bisa mendengarnya. Sambil mendengar suara dari setiap personil, Adrian mencatat semuanya tentang suara orang yang ia sedang dengar itu. Adrian juga memakai headset, jadi ia bisa dengar suaranya. Sesudah sesi rekaman selesai, Adrian mengambil CD yang ada di sebelah kiri, memasukkan ke dalam kotak khusus, lalu dinamai, kemudian kotak itu diberikan pada setiap personil. Sebelum memanggil personil berikutnya, Adrian menyiapkan lagi alatnya, memasang CD-nya, mengeset lagi alat perekamnya, dan sebagainya. Ia terus mengulanginya selama beberapa kali. Setelah semua personil mendapatkan CD rekaman suaranya, Adrian kemudian menjelaskan mengenai latihan berikutnya untuk besok, yaitu latihan dance. Adrian meminta semua anak2 7 Icons untuk membawa baju untuk latihan. Yang ingin Adrian lihat besok adalah seperti apa sih kemampuan dance anak2 7 Icons... sama halnya dengan apa yang sudah dilakukan pada hari ini. Untuk dua hari pertama ini... yang dilakukan Adrian adalah melihat seperti apa kemampuan anak2 7 Icons. Dari situ kemudian akan dilihat apa yang bisa Adrian lakukan untuk memperbaikinya.
Malam harinya, Adrian memutar semua CD rekaman suara anak2 7 Icons di CD Player rumahnya. Sambil itu, ia membuka catatannya dan mencatat lagi apa yang kurang dari catatannya sebelumnya. Dari situ, Adrian bisa tahu, kalau sebenarnya suara anak2 7 Icons sudah cukup bagus. Adrian sudah tahu apa yang akan ia lakukan berikutnya.
DAY 2
Sekarang latihan dance. Adrian membawa anak2 7 Icons ke sebuah ruangan khusus berwarna putih, lengkap dengan lantai parquet, kaca berukuran besar yang lebarnya satu tembok, dengan penerangan yang lumayan. Lampunya warna putih, dan bukan chandelier. Ada tiga lampu di situ, jadi terang banget. Ada beberapa kursi di belakangnya, sebuah tempat untuk menaruh tas, ada tempat juga untuk menaruh pemutar kaset, dan ada juga sebuah kursi yang bentuknya seperti kursi sutradara. Di situlah Adrian duduk. Hari itu, Adrian memakai kostum Manchester United terbaru, dengan nama Wayne Rooney di belakangnya. Adrian sudah janji selama ia melatih anak2 7 Icons, ia akan memakai kostum sepakbola yang berbeda-beda, dan dipilih secara acak. Anak2 7 Icons hanya akan tahu kalau ia memakai kostum sepakbola, tapi klubnya mana, mereka tak tahu. Hari itu, anak2 7 Icons akan dites sejauh apa sih kemampuan dance-nya. Adrian hanya akan duduk di kursinya sambil memegang catatannya, dan setiap personil 7 Icons akan ngedance di depannya. Seperti di audisi, tapi bedanya Adrian tidak akan kasih tahu penilaiannya. Sebuah camcorder juga sudah disiapkan Adrian untuk merekam seperti apa dance mereka. Lagunya tidak diberitahukan, lagunya akan dipilih secara acak oleh Adrian sendiri, dan setiap personil 7 Icons akan diberi lagu yang berbeda. Sebelum mulai ngedance, semua personil 7 Icons disuruh duduk di kursi yang sudah disiapkan, namun posisi duduknya membelakangi Adrian, dan telinganya diberi headset. Mereka tidak bisa mendengar apapun yang ada di luar. Jadi mereka dibuat santai dulu sebelum beraksi. Lagunya juga lagu pilihan Adrian, dan lagu itu bukan lagu yang nantinya akan dipakai untuk ngedance. Setelah itu, Adrian akan memilih secara acak siapa yang akan negdance duluan. Bukan berdasarkan urutan kursi, tapi dipilih sendiri oleh Adrian. Siapa yang dibukakan headset-nya oleh Adrian akan mulai ngedance duluan. Angel yang pertama dipanggil. Kemudian Mezty. Selanjutnya Gc. Berikutnya Vanila. Lalu Linzy. Natly menyusul, dan terakhir... PJ. Semua yang sudah selesai ngedance duduk di kursi yang sudah disiapkan di samping kanan Adrian. Setelah semuanya selesai... Angel mengusulkan agar Adrian juga ikut ngedance. Adrian pun dengan senang hati menerimanya. Aturannya sama, lagunya misterius. Adrian tidak tahu lagunya apa, Angel yang memilihkan, dibantu oleh teman2nya yang lain. Setelah lagunya dipilih, Angel langsung memutar lagunya, dan Adrian langsung ngedance! Ia pun tunjukkan jurus2 andalannya... breakdance, hip-hop... semuanya ia kuasai, layaknya ia adalah ahlinya menari. Ia sampai jungkir-balik, loncat2 kesana kemari... semua itu langsung membuat anak2 7 Icons kagum. Sekali lagi Adrian berhasil membuktikan pada anak2 7 Icons kalau ia itu memang punya keahlian. Ketika istirahat pun... anak2 7 Icons bertanya pada Adrian, kok bisa sih ia seperti ini... mereka semua duduk2 santai di lantai, sambil mengatur napas mereka, yang pada engap2an karena habis ngedance.
Linzy: Gila tadi keren banget dance-nya... kok bisa sih ?
Adrian: Hahaha... ya latihan lah... kebetulan selain gw latihan vocal group, gw juga latihan dance... ya, tapi latihan dance-nya seperti tadi... breakdance, hip-hop, RnB... pokoknya yang semua cowok suka lah...
Linzy: Kamu sendiri yang mau niat latihan dance ?
Adrian: Nggak kok, ibuku yang ngusulin... dia mau banget lihat aku bisa menari. Tapi yang sesuai dengan gaya saat ini lah... akhirnya dia yang ngajak aku untuk latihan ngedance...
Angel: Oh... apa ibumu bisa menari juga ?
Adrian: Bisa kok. Dia bisa segalanya. Nyanyi bisa, nari bisa, main alat musik bisa... dia sih memang sejak awal latar belakangnya seniman, jadi dia memang suka melakukan hal2 yang seperti itu...
Angel: Dan itu akhirnya turun ke kamu juga, ya kan ?
Adrian: Ya, begitulah... aku memang lebih dekat dengan ibu gw dari pada ayah gw. Gw rindu sama dia...
PJ: Rindu ? Memangnya dia ada di mana sekarang ?
Adrian: Dia ada di London. Dia sedang mengawal kakak saya untuk kuliah di sana.
PJ: Serius tuh ? Jadi kamu ditinggal sama dia ?
Adrian: Ya. Tapi gw ambil positifnya saja. Ibuku harus ke sana karena ia kerja di The British Council. Jadi, selain dia menjaga kakak saya, dia juga mengemban tugas untuk membantu warga Indonesia yang tinggal di sana. Kebetulan salah satu tugas mereka kan membantu warga Indonesia yang ada di Inggris, jadi... ya gw terima2 saja apa yang ia mau lakukan di sana...
PJ: Terus, pernah nggak ia pulang ke Indonesia ?
Adrian: Untuk dua tahun ini, tidak. Sebenarnya ada rencana untuk pulang, karena kuliah kakakku sedang libur. Tapi karena ibuku banyak pekerjaan, akhirnya nggak jadi pulang deh...
Angel: Tapi kamu masih kontak terus dengan ibu dan kakak kamu ?
Adrian: Itu sih sudah pasti. Kita pakai e-mail dan Skype. Tapi untuk Skype, harus tunggu sampai malam, karena di Inggris, mereka baru masuk siang hari saat kita malam hari. Lihat saja siaran Liga Inggris... akhirnya, ya terpaksa hanya saling berkirim e-mail. Dulu, waktu gw awal2 di SMA Cambridge, gw sempat mengirimkan link download lagu kalian pada kakak gw lewat e-mail. Dan satu bulan kemudian... kakak gw balas e-mail itu dan dia bilang kalau semua warga Indonesia di sana demam Playboy.
PJ: Hah ? Serius ? Lagu kita populer sampai Inggris ?
Mezty: Beneran tuh sampai Inggris ?
Adrian: Ngapain aku bohong ? Beneran kok... sebenarnya kalau kalian mau tahu, lagu kalian sudah terkenal sampai luar negeri kali... tapi cuma di telinga orang2 Indonesia aja...
Linzy: Wah asyik! Lagu kita sudah masuk luar negeri... bisa go international dong kita...
Angel: Betul banget... kalau kayak gini sih, kita jadi makin semangat deh... eh, kita bilang terima kasih pada Adrian... satu, dua, tiga...
7 Icons: Terima kasih, Adrian... hahaha..
Adrian: Sama2. Tapi sebenarnya bukan karena gw saja kalian juga terkenal di luar negeri. Kan banyak juga yang lihat perform kalian di YouTube dan live streaming... belum lagi ada radio... banyak radio yang khusus memutar lagu2 Indonesia di luar... biar semua orang Indonesia yang ada di luar negeri bisa tetap up to date dengan lalu2 yang ada di Indonesia sekarang... nah, mungkin salah satu lagu yang diputar di sana itu juga lagu kalian... jadi kalian juga harus terima kasih juga sama mereka...
Angel: Hehehehehe... itu sih gampang... nanti deh, kita kumpulin dulu semua yang suka sama kita di luar, baru kita bilang terima kasih satu per satu...
PJ: Tenang aja, kalau untuk urusan itu, kita kasih ucapan terima kasihnya yang spesial...
Mezty: Mungkin sekalian juga kita kasih hadiah yang banyak...
Semuanya pun tertawa.
Vanila: Eh, eh... Adrian, mau nggak kamu cerita tentang ibu kamu ? Kayaknya menarik nih...
Linzy: Iya, ceritain dong tentang ibu kamu... seberapa spesial sih ibu kamu...
Adrian: Dia memang spesial. Oke, gw akan cerita.
Adrian lalu mengubah posisi duduknya, kemudian, ia mulai bercerita.
Adrian: Ibuku namanya Eunike Constance Anastasia Paulina Wurttemberg. Dia lahir di Bandung, tapi dia punya keturunan Belanda, Jerman, dan Austria. Orangtuanya adalah ekspatriat Jerman yang lahir dari ibu seorang Belanda dan ayah seorang Austria yang kemudian menikah dengan gadis asal Bandung. Ayahnya seorang konduktor di sebuah orkestra yang sering tampil di berbagai restoran elite di kota Bandung. Ibunya adalah biduan terkenal di kota Bandung dan sering bernyanyi dengan orkestra itu. Ibuku adalah anak satu2nya, dan sejak kecil memang ia sudah dikenalkan dengan seni. Dari kecil ia sudah belajar main alat musik, bernyanyi, menari, melukis, hingga berakting di kelas teater. Orangnya mau belajar banyak hal... dan ketika ia berumur 17 tahun, ia sudah bisa segalanya. Darah seniman benar2 sudah masuk ke dalam dirinya. Ibuku seorang penyanyi kafe. Ia berkeliling dari satu kafe ke kafe lain untuk bernyanyi. Sama seperti kalian, tampil dari satu acara ke acara lain, dan kadang kalian kembali lagi ke acara itu untuk bernyanyi. Ibuku juga sama. Ia sering2 bolak-balik masuk kafe yang sama beberapa kali dalam sebulan. Meskipun begitu, ia tidak pernah jauh2 dari jalan Braga. Pada waktu itu, di jalan Braga ada banyak kafe, dan mereka semua menjalankan bisnis hiburan malam yang masih cukup baik saat itu. Mereka mengundang banyak penyanyi berbakat ke kafe dan diminta untuk bernyanyi di sana. Untuk para penyanyi2 seperti itu, itu sudah suatu kehormatan. Termasuk juga untuk ibuku. Bahkan, dalam waktu cepat ia jadi primadona jalan Braga, karena suaranya yang bagus, orangnya cantik... dan bisa segala jenis aliran musik. Mungkin kalau misalnya ia dibawa dengan mesin waktu ke jaman sekarang, mungkin dia bisa bikin girlband seperti kalian...
7 Icons: Hahahahaha...
Adrian: Oke, gw lanjutkan lagi. Jadi, ibuku itu sudah jadi primadona jalan Braga. Statusnya langsung naik jadi penyanyi kafe yang paling top se-kota Bandung. Dia mulai kebanjiran tawaran untuk tampil di berbagai kafe. Baik yang ada di jalan Braga maupun sekitarnya. Selain itu, ia juga sering ditawari untuk bernyanyi di berbagai acara2 penting yang berhubungan dengan kota Bandung. Entah itu acara HUT kota Bandung, ada acara resepsi tamu kehormatan di Gedung Sate, dan sebagainya. Ia sudah seperti jadi superstar di kota Bandung.
Angel: Adrian, aku mau nanya, dulu waktu ia nyanyi di kafe, bayaran ibumu berapa ?
Adrian: Lumayan sih... 250 ribu. Cukup buat makan dan belanja... ibuku kebetulan suka jalan2 orangnya... tapi dia lebih memilih untuk menabungnya, soalnya... itu hasil nyanyinya selama ini... dia nggak mau buang2 uangnya... sayang katanya...
PJ: Hahahaha... terus pernah ada niatan nggak buat jadi penyanyi profesional, kayak kita2 ini...
Adrian: Hahaha... pernah. Justru ketika itu, banyak produser dari Jakarta yang tertarik untuk mencari penyanyi2 dari Bandung. Mereka beranggapan bahwa penyanyi2 Bandung itu sangat potensial. Muda, berbakat, wajahnya cantik dan rupawan, belum lagi mereka bisa segala jenis aliran musik, dari yang tradisional hingga pop. Itu akan memudahkan produser untuk mengatur konsepnya. Disini produser hanya tinggal mengarahkan dan melatih saja. Sisanya tergantung si penyanyi. Biasanya para produser itu seperti ini cara kerjanya pada saat itu. Mereka terjun ke lapangan mencari penyanyi yang menurutnya berbakat dan potensial. Setelah berhasil menemukannya, mulai diadakan pembicaraan dan kerjasama. Setelah kerjasama selesai, penyanyi itu dibawa ke Jakarta dan diorbitkan. Setelah penyanyi itu mulai terkenal, produser pun kemudian mencari lagi penyanyi lain... kadang sih berhasil, tapi kadang juga gagal. Susah mencari penyanyi yang benar2 potensial. Nah, di Bandung, sejak ada satu-dua penyanyi potensial yang berhasil diorbitkan dan jadi terkenal di Jakarta, banyak penyanyi2 Bandung lainnya yang juga mencoba peruntungannya untuk diorbitkan oleh para produser. Mereka semua berlomba-lomba dan terkadang menghalalkan segala cara biar mereka bisa terkenal. Ibuku juga masuk ke dalam persaingan itu, dan ia terjebak di dalamnya. Sebenarnya ia hampir saja bisa dapat kerjasama dengan seorang produser, tapi... tiba2 kerjasama itu dibatalkan, karena si produser secara tiba2 kepincut sama penyanyi lain yang kebetulan lagi nyanyi di panggung. Ibuku pun jadi sangat kecewa. Pada akhirnya, ia tersingkir dengan sendirinya. Ibuku tidak pernah punya kesempatan menjadi penyanyi profesional yang terkenal di Jakarta. Ia tidak pernah lagi terima tawaran apapun dari para produser yang tertarik padanya. Karena ia merasa dikecewakan. Sejak itu, ia hanya terus bernyanyi dan bernyanyi di kafe2 terus... dan dia menikmatinya.
Mezty: Wah, kasihan banget ibu kamu... udah hampir kerjasama, eh malah dibuang... seperti itu, ya kan ?
Adrian: Ya, seperti itu. Sebenarnya bukan hanya ibuku yang pernah mengalaminya. Ada beberapa penyanyi lain yang juga merasa dikecewakan seperti itu. Malah ada yang sampai berulang kali. Bahkan ada yang sampai trauma dan tidak mau bernyanyi lagi... pokoknya benar2 kejam deh, kalau mau dibilang, kondisinya saat itu. Masih beruntung ibuku mampu bertahan.
Natly: Terus kelanjutan cerita berikutnya, bagaimana ? Apa ibumu tetap bernyanyi di kafe terus ?
Adrian: Pastinya. Ia tetap bernyanyi dari satu kafe ke kafe lain... tapi kemudian ada masalah baru. Muncul tempat hiburan baru bernama diskotik. Saat itu sudah jamannya ngedisko, bukan lagu mellow lagi. Semua remaja nggak gaul kalau nggak bergoyang atau nggak ngedisko. Mereka ngedisko di mana saja. Di sekolah, di jalan, di rumah, bahkan ada yang menganggapnya sebagai pengganti senam pagi. Semua remaja jadi mau senam pagi, gara2 lagu disko. Maklum, saat itu kan mulai masuk lagu2 yang genre-nya disko, yang bikin kita semua jadi bergoyang-goyang nggak karuan. Nah, trend ini kemudian ditangkap oleh pengusaha hiburan. Mulailah dibangun diskotik di mana2. Lama-kelamaan, kafe2 jadi terdesak. Selain karena hiburannya yang lebih asyik, juga karena harga masuknya itu murah banget. Selain itu, lebih banyak dimasuki oleh anak muda. Kalau kafe kan isinya orang dewasa... mana ada anak muda yang tertarik... akhirnya satu per satu kafe mulai kehilangan pengunjung, kemudian merugi, bangkrut, dan ditutup. Ada yang kafe yang ditutup sementara, direnovasi bangunannya, lalu dibuka lagi dengan bentuk diskotik. Kalaupun ada kafe yang masih buka, itu karena permintaan langganan. Yah, karena memang langganannya masih banyak aja... kalau yang sudah nggak punya langganan ya... tutup. Jumlah kafe yang buka pun makin lama makin sedikit, dan banyak orang kehilangan pekerjaannya. Ibuku berusaha bertahan di tengah terdesaknya jumlah kafe yang masih ada. Tapi lama2 dia juga nggak tahan. Akhirnya ia berhenti jadi penyanyi kafe. Ia pun kemudian belajar menari disko selama empat bulan, dan melamar menjadi penari di salah satu diskotik.
PJ: Hah ? Jadi penari di diskotik ? Jauh banget...
Vanila: Mungkin itu yang bikin kamu jadi jago nari disko2 juga, ya kan ?
Gc: Iya, mungkin aja... bukankah buah jatuh tak jauh dari keranjangnya kan ?
Mezty: Hah ? Jatuh dari pohonnya kali...
Gc: Oh, udah ganti tempat jatuhnya ya...
Natly: Bukan... emang begitu kata2nya...
Gc: Oh... ngerti2... tapi jatuhnya meninggalkan kotak hitam kan ?
Angel: Kotak hitam ? Emangnya pesawat ?
Gc: Lho kan bukannya kalau ada jatuh2, pasti ada kotak hitamnya kan ?
Linzy: Itu kalau pesawat yang jatuh, Gc... kalau buah beda lagi...
Gc: Oh... begitu...
Adrian: Hahahahaha... dia emang lemot banget ya...
Angel: Ya begitulah si Gc... tapi jangan salah, kalau di kelas, otaknya nyambung lho...
PJ: Iya, tapi cuma di kelas doang... kalau di luar... muncul lagi deh...
Gc: Tapi kan masih mending kalau otak gw masih nyambung kalau di kelas, daripada otak gw nggak nyambung di mana2... kan makin berabe...
PJ: Iya sih... yang mentang2 ulangan bahasa Inggris-nya kemarin dapat 100... dia emang jago bahasa Inggris, Adrian... kita semua, nilainya nggak seberapa... dia enak banget ngerjainnya...
Adrian: Hahahaha... berarti biarpun lemot kayak begitu, dia masih mau belajar. Gw juga nilai ulangan bahasa Inggris gw 100... kalau itu sih kecil buat gw...
Linzy: Iya sih, mentang2 keluarganya juga di Inggris... tapi kamu juga suka belajar bahasa Inggris bareng kakak kamu ?
Adrian: Kadang2. Dia kan nggak selalu kirim e-mail ke gw... buku2nya aja dia bawa semua ke Inggris... gimana mau belajar dari dia ?
Linzy: Oh, begitu...
PJ: Eh, Adrian, lanjutin dong ceritanya tadi... yang ibu kamu katanya jadi penari di diskotik itu...
Adrian: Oh, ya. Hampir lupa. Malah ngobrol2 sih... jadinya begini. Dia sudah diterima kerja jadi penari di diskotik. Tugasnya, dia akan memandu gerakan buat semua orang yang akan berdisko pada malam itu. Awalnya, pekerjaannya lumayan. Tapi kemudian, makin lama makin banyak orang yang kurang ajar pada para penari yang ada di diskotik itu. Ibu gw pernah kena... dia hampir saja digerayangi orang2 yang sudah mabuk minuman keras. Di diskotik kan juga jual minuman keras... akhirnya, makin lama dia makin nggak tahan. Ibuku kemudian keluar dari diskotik itu, dan... dia kembali lagi jadi penyanyi kafe. Total, ia bekerja selama empat setengah bulan di diskotik itu.
Angel: Oh, nggak lama ya, ibumu berada di sana... terus kemudian, gimana ceritanya sebagai penyanyi kafe lagi ? Bukannya kafe2 yang ada saat itu sudah sedikit ?
Adrian: Sedikit tapi bukan berarti tidak ada. Ibuku berusaha untuk menikmati pekerjaannya sekali lagi, bernyanyi dari kafe ke kafe, dan bahkan ia juga mulai mengajar anak2 untuk bernyanyi, sebagai pekerjaan tetapnya. Kafe di Bandung saat itu hanya sekitar 15-20 buah, dan tidak ada yang menolak ibuku. Statusnya sebagai penyanyi kafe terbaik di kota Bandung dan primadona jalan Braga kembali lagi hanya dalam waktu yang sangat singkat. Selang satu-dua tahun kemudian... saat itu tahun 1986, berarti tahun 1988 atau 1989, ketika ia sedang bernyanyi di sebuah kafe... ada seorang pria yang baru pulang dari kuliahnya dan singgah sebentar di kafe tempat ia bernyanyi. Awalnya ia tidak memikirkannya, tapi lama-kelamaan ia terpesona dengan suara ibuku. Sejak itu, ia selalu kembali lagi ke kafe itu atau pergi ke kafe lainnya, untuk melihat penampilan ibuku. Hingga kemudian, ia berkenalan dengan ibuku. Setelah berkenalan, mereka langsung saling dekat, kemudian berpacaran... dan kemudian menikah. Ya, orang yang selalu mengejar ibuku saat ia sedang bernyanyi di kafe itu adalah ayahku. Sejak ia menikah, ibuku tidak lagi bekerja sebagai penyanyi kafe. Ia mulai mencari pekerjaan tetap, dan setelah kakakku lahir, ia bekerja di sebuah sekolah musik, mengajar vokal dan alat musik. Begitulah cerita ibuku.
Angel: Wah, hebat banget ya ibumu... terus bagaimana ceritanya sampai kamu kemudian bisa segala hal seperti ini. Apa ibumu juga yang ngajarin ?
Adrian: Justru tidak. Dia memang mengajari saya tentang seni, tapi sampai saya kelas enam SD. Setelah itu, ibuku membawaku ke berbagai tempat untuk belajar tentang seni. Kebanyakan mereka adalah teman2 dari ibuku... jadi aku lebih merasa enjoy karena mereka sudah tahu seperti apa aku dan cara mereka mengajariku. Itulah yang kemudian membuatku jadi bisa segalanya.
Angel: Oh... terus, kapan kamu pertama kali bernyanyi ?
Adrian: Di gereja. Umurku empat tahun. Sebelumnya saya nggak pernah bernyanyi. Kan saya ini pemalu... ibuku bahkan harus menjanjikan hadiah untukku sebelum aku bernyanyi. Barulah saya mau bernyanyi. Setelah itu, aku nggak pernah nyanyi lagi sampai masuk TK. Ketika guru memintaku untuk maju ke depan. Pada saat itulah saya sudah mulai berani bernyanyi, dan kemudian saya jadi suka bernyanyi.
Linzy: Apa kamu pernah latihan nyanyi dengan ibumu ?
Adrian: Tidak pernah. Ia hanya memintaku untuk bernyanyi semau saya sendiri. Dari situ vokal saya berkembang karena saya menyanyi terus... dan sejak awal... ibuku sudah bilang kalau suaraku bagus. Ia hanya memintaku untuk terus bernyanyi.
Natly: Kalau soal menari ?
Adrian: Kalau itu aku belajar dari orang lain. Saya masuk sekolah tari di Bandung. Di situlah saya belajar semuanya. Jujur saja, baru kali ini saya menari lagi. Selama tahun pertama gw SMA di Bandung, gw sudah mulai bolos latihan... soalnya pada saat itu gw emang lagi bosan untuk melakukan apapun dan lebih banyak konsentrasi buat belajar... maklum, soalnya pelajaran SMA sudah mulai sulit... hehehehe... eh, sekarang jam berapa sih ? Ada yang bawa jam ?
PJ: (melihat jamnya) udah jam empat. Emangnya kenapa ?
Adrian: Jam empat ? Hmmm... gw pikir hari ini cukup dulu deh... gw udah dapatkan semua rekaman dance kalian... dan gw tinggal pelajari apa yang kurang dari kalian... itu yang akan gw perbaiki. Sekarang kalian semua boleh pulang, apa ada yang mau ganti baju ?
Angel: Nggak lah... kita langsung aja pulang... ya kan, girls ?
7 Icons: Iya!!!!!
Adrian: Well, baiklah. Sekarang kita siap2 pulang aja. Besok, gw akan kasih tahu hasil tes vokal kalian. Nanti, gw akan kasih tahu apa yang kurang, dan apa yang bagus dari kalian. Kita akan mulai latihan vokal yang sebenarnya besok. Oke ?
7 Icons: Okeee...
Adrian: Good.
Adrian dan anak2 7 Icons pun kemudian meninggalkan ruang latihan dance dan pulang. Besok, agendanya adalah melatih vokal anak2 7 Icons. Tentu saja untuk hari berikutnya akan menjadi sesuatu yang menarik.
Malamnya, seperti malam sebelumnya, Adrian menilai seperti apa hasil tesnya tadi siang. Ia melihat satu per satu aksi dance para personil 7 Icons, dan lalu mencatatnya dalam buku catatannya. Ia sudah tahu seperti apa yang bagus dan yang kurang dari mereka, dan dari situ, Adrian sudah tahu apa yang akan ia lakukan.
DAY 3
Sekarang Adrian dan anak2 7 Icons kembali lagi ke ruang latihan vokal. Sebelum memulai latihannya, Adrian memberitahukan hasil tes vokal yang telah ia lakukan sebelumnya. Hasilnya, semua personil 7 Icons memiliki suara yang lumayan, dan kualitas vokal mereka cukup bagus. Karena dulu anak2 7 Icons latihan vokal secara berkala ketika mereka masih terkenal, vokal mereka bagus dan cukup terlatih. Sekarang, yang tinggal Adrian lakukan adalah menyatukan suara mereka, sehingga terdengar bagus saat mereka bernyanyi. Untuk itu, Adrian mengajak mereka semua untuk berdiri dari kursinya, dan lalu berdiri di sebuah tempat yang disediakan. Tempat berdirinya berjarak satu langkah dari meja Adrian, tepat sejajar dengan papan tulis. Tempat berdirinya sudah ditandai dengan sebuah lakban yang sangat panjang, melintang tepat di depan kaki para personil 7 Icons. Anak2 7 Icons tidak boleh melewati garis ini. Adrian lalu menuliskan huruf A, I, U, E, O di papan tulis, dan tugas anak2 7 Icons adalah... menyanyikan setiap huruf, satu per satu, hingga mencapai not tinggi, setelah itu ditahan. Apakah huruf2 ini harus dinyanyikan sendiri2 ? Tidak. Semuanya harus nyanyi, bersama-sama, dalam satu suara. Ini yang jadi tantangannya... berhasil nggak ya ?
Adrian: Sekarang tugas kalian adalah menyanyikan setiap huruf ini, dalam satu suara, dan menahannya hingga not tinggi. Dari not yang rendah, hingga not yang tinggi, lalu ditahan di situ. Kita mulai dari huruf A. Siap ?
7 Icons: Siaaapppp!!!!!!
Adrian: Baiklah, sekarang perhatikan tangan saya. Kalau lurus seperti ini (tangannya lurus menghadap ke depan) artinya masih not rendah. Kalau seperti ini (tangannya dinaikkan sedikit ke atas), kalian naik satu not. Seperti ini (tangannya dinaikkan lagi sedikit ke atas), naik satu not lagi. Begitu seterusnya hingga seperti ini (tangannya diangkat ke atas). Ini not tertinggi. Kalian tahan di sini... nanti kalau saya stop, selesai. Kalau kalian berhasil untuk semua huruf ini, nanti akan kuberi permainan buat kalian, tapi nggak jauh2 dari sini. Sudah mengerti semuanya ?
7 Icons: Mengerti!
Adrian: Baiklah, kita mulai. Dari huruf A dulu. Saya hitung sampai tiga. Satu... dua... tiga!
7 Icons: aaaaaaaaaaaa... (tapi masih nggak kompak)
Adrian: Stop! Stop! Ulang! Masih nggak kompak. Tenang dulu, tarik napas semuanya... oke ? Kita ulangi lagi. Satu... dua... tiga!
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Adrian: Oke, bagus... (tangannya ia naikkan sedikit ke atas) buka mulutnya terus...
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... (makin lama makin tinggi, mengikuti gerakan tangan Adrian)
Adrian: Terus... terus... lebih tinggi lagi... (tangannya ia angkat ke atas, dan suara anak2 7 Icons sudah mencapai not tinggi, dan ditahan sebentar) oke, stop!
Anak2 7 Icons pun lalu berhenti bernyanyi. Leher mereka sudah mulai merasa kering.
Adrian: Oke, itu tadi sudah lumayan. Not bad... kalian boleh minum dulu...
Adrian lalu berlari dan mengambil sebuah box besar berisi air minum dalam kemasan yang berbentuk botol. Semua anak2 7 Icons langsung mengambil satu botol dan minum. Adrian juga minum.
Adrian: Gila kan ? Tapi itu belum apa2. Kita ulangi lagi. Tapi sebentar, ada yang harus saya lakukan.
Adrian lalu berlari ke arah jendela dan kemudian membuka jendelanya.
Linzy: Untuk apa kamu buka jendela, Adrian ?
Adrian: Ini untuk membiarkan udara masuk. Selain itu juga untuk memberi pintu keluar buat suara kalian agar tidak tertampung terus di dalam ruangan ini... tenang kok, nggak ada tetangga yang akan marah. Lihat saja apa yang ada di luar sana...
Anak2 7 Icons kemudian melihat ke luar jendela, dan mata mereka langsung disuguhi pemandangan laut yang terhampar sangat luas. Ada beberapa kapal yang sedang lalu-lalang di tengah laut itu, dan ada mercusuar yang sangat tinggi, berdiri di atas tebing yang berada di sebelah kanan pemandangan itu. Di kiri pemandangan terdapat sebuah bangunan pelabuhan dan terminal peti kemas. Bisa disimpulkan, flat ini berada tidak jauh dari pelabuhan. Udara laut sangat terasa di sekitar jendela itu.
Angel: Jadi, kita ini... ada di dekat pelabuhan ?
Adrian: Ya. Kebetulan salah satu alasan kenapa gw memilih tempat ini adalah karena tempatnya sepi. Kalian nggak perlu khawatir dengan tetangga yang merasa terganggu mendengar kalian bernyanyi. Maklum saja, tetangga kita laut dan pelabuhan. Belum lagi ada jarak yang cukup jauh antara pelabuhan dan tempat kita berada. Jadi, gw yakin kalau suara kalian nggak akan terdengar sampai pelabuhan. Selain itu, kalian juga bisa bersantai. Siapa tahu, dengan melihat pemandangan laut, kalian menjadi lebih rileks dan santai.
Tiba2 terdengar bunyi sirene pelabuhan yang bunyinya sangat keras sekali. Anak2 7 Icons pun jadi kaget mendengar bunyi keras itu.
Angel: Katanya tempatnya sepi... tapi kok ada bunyi sirene pelabuhan sih ? Mana keras banget lagi...
Adrian: Yah, itu mungkin satu2nya saingan kalian... namanya juga dekat pelabuhan... ya pasti begini lah... ya udah, cukup melihat-lihat pemandangannya... sekarang kita latihan lagi. Ayo...
Adrian lalu kembali ke depan meja kerjanya. Anak2 7 Icons pun kemudian mengikutinya dan kembali ke tempat mereka tadi berdiri. Latihan pun dilanjutkan.
Adrian: Kita ulangi lagi dari awal, aturannya masih sama, kita lakukan seperti tadi. Siap ? Satu... dua... tiga!
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa...
Adrian: Oke, bagus... terus... (sambil mengangkat tangannya secara perlahan)
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... (makin lama makin tinggi suaranya, seperti tadi)
Adrian: Sudah bagus... ayo terus... keep it going girls... (sambil mengangkat tangannya lagi, semakin tinggi)
7 Icons: aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa... (suaranya sudah tinggi, dan di tahan di not tinggi)
Adrian: Stop! (lalu menurunkan tangannya) good job, girls! Kalian berhasil!
Mezty: Hah ? Beneran ?
Adrian: Ya, kalian berhasil... kalian semua berhasil...
7 Icons: Yeaaayyyyy... kita berhasil... berhasil...
Adrian: Tapi tunggu dulu, kalian harus tetap mengulanginya. Itu tadi sudah bagus. Tapi tetap harus diulang. Ini untuk memastikan kalau kalian semua benar2 bernyanyi dengan baik. Siapa tahu berikutnya lebih baik. Sekarang kalian boleh minum dulu.
Anak2 7 Icons kemudian minum lagi, dan setelah itu... latihan dilanjutkan. Tetap, menyanyikan huruf A hingga not tinggi dan ditahan pada not tinggi. Latihannya dilakukan berulang-ulang dan terus menerus. Hal yang sama juga dilakukan pada huruf2 lain, yaitu huruf I, U, E, O. Di sini Adrian punya beberapa kata2 pemberi semangat lain, seperti misalnya pada huruf I, "ayo, kasih lihat giginya terus..." pada huruf U, "ayo, monyongin terus bibirnya... monyongin terus..." kemudian di huruf E, "ayo, buka terus mulutnya... kasih lihat giginya lagi... buka terus..." dan di huruf O, "ayo, buletin terus mulutnya... ayo... bikin lingkarannya... terus...", dan seperti itulah. Hebatnya, anak2 7 Icons berhasil melakukan semuanya dengan sangat baik. Hanya satu kali adaptasi, dan setelah itu mereka lancar terus. Adrian menganggapnya sebagai sebuah progres yang cukup baik. Ia langsung mencatat semua progres latihan itu dalam bukunya, di saat anak2 7 Icons sedang duduk2 di sofa untuk beristirahat. Adrian mencatat semuanya dengan sangat detail, dan raut kepuasan tergambar dalam wajahnya. Latihan vokal itu sudah selesai, karena waktunya tidak cukup, akhirnya permainan yang dijanjikan oleh Adrian itu ditunda hingga latihan vokal berikutnya. Besok, adalah latihan dance pertama. Sebelum pulang, ada sesuatu yang ingin disampaikan Adrian pada anak2 7 Icons.
Adrian: Besok kita akan latihan dance. Tapi kalian mau nggak bangun pagi besok ?
PJ: Hah ? Bangun pagi ? Bangun pagi buat apa ?
Adrian: Di dalam rencana gw, di setiap akhir pekan, kita akan jogging bersama. Soal harinya, antara hari Jumat atau Sabtu, tergantung jadwal yang tersedia. Untuk minggu ini, kita jogging besok pagi. Kita akan jogging di kompleks Olimpiade. Kalian semua siap ?
Linzy: Tapi kan, kita besok pagi harus sekolah juga... kita kan masuk jam setengah delapan...
Adrian: Nah, justru saat kalian jogging nanti, kalian bawa seragam sekolah sebagai baju ganti. Nanti sesudah jogging nanti, kita semua akan ganti baju dengan seragam sekolah, lalu langsung berangkat ke sekolah. Jadi nggak akan pulang lagi. Bagaimana ?
Linzy: Oh, kalau itu sih nggak masalah. Kalau begitu, gw terima deh... gimana yang lain ?
Angel: Oke deh, gw juga... kita udah lama nggak jogging lagi...
Mezty: Gw juga... sama, kita udah lama nggak jogging lagi...
Adrian: Yang lain ?
Natly: Aku ikutan deh...
PJ: Gw juga.
Vanila: Akyu juga mau...
Gc: Aku juga ikutan deh...
Adrian: Bagus, kalau begitu, kalian besok bangun pagi, nanti kita bareng2 ke kompleks Olimpiade, kita jogging dan olahraga selama satu jam. Sambil nunggu jam masuk sekolah aja...
Angel: Oke deh, sip... kita semua bakal bangun pagi kok...
Adrian: Bagus kalau begitu. Kalau begitu sekarang kita pulang.
DAY 4:
Pagi2, anak2 7 Icons dan Adrian sudah berkumpul di lapangan atletik kompleks Olimpiade. Mereka semua sudah siap untuk jogging. Anak2 7 Icons pakai baju yang biasa mereka pakai untuk latihan dance, sementara Adrian memakai kostum Chelsea terbaru dengan tulisan "TORRES" dan angka 9 di belakangnya, dan celana berwarna biru, kaus kaki biru, dan sepatu kets warna hitam. Tanpa menunggu lama, Adrian langsung mengajak mereka untuk jogging, dan anak2 7 Icons menyusul beberapa saat kemudian. Untuk pertama kalinya sejak tiga bulan yang lalu mereka jogging bersama. Mereka semua jogging bertujuh bersama-sama, sementara Adrian malah jogging sendiri di depan. Setelah jogging selama 15 menit, acara pagi itu dilanjutkan dengan olahraga. Mereka semua pemanasan, di mana Adrian yang memimpin pemanasannya, dan setiap personil 7 Icons yang menghitung pemanasannya. Sesudah mereka pemanasan, mereka lari lagi 15 menit. Tapi kini ada bedanya. Kalau tadinya Adrian berlari sendiri di depan, sekarang Adrian lari bareng dengan anak2 7 Icons. Sambil itu, mereka semua ngobrol2 mengenai berbagai hal. Kadang2 Adrian sampai harus berbalik dan berlari mundur untuk bisa ngobrol dengan jelas dengan anak2 7 Icons. Setelah mereka lari, 15 menit kemudian mereka langsung masuk ke tempat ganti pakaian dan berganti pakaian menjadi seragam sekolah. Sesudah ganti pakaian, mereka langsung naik mobil dan meluncur ke sekolah.
Setelah sekolah, anak2 7 Icons dan Adrian kembali lagi ke flat. Sekarang mereka akan latihan dance. Pada latihan dance-nya kali ini, Adrian ingin semua anak2 7 Icons ngedance lagu Playboy. Ia ingin melihat seperti apa sih gaya dance mereka saat ini. Hasilnya... mereka ngedance seperti terakhir2 mereka tampil. Agak kacau, kurang kompak, dan gerakannya kaku. Adrian melihat kalau semuanya masih bisa diperbaiki. Ia lalu berdiri dari kursinya dan mulai mengajarkan gaya dance yang asyik buat mereka. Sebagai tes pertama untuk anak2 7 Icons, Adrian memberikan sebuah nomor gerakan dan anak2 7 Icons harus menarikannya. Adrian sendiri yang mengajarkannya pada mereka. Anak2 7 Icons belajar secara perlahan, mulai dari dipandu oleh Adrian, hingga akhirnya mereka bisa sendiri. Setelah itu, satu per satu personil 7 Icons dipanggil untuk menarikannya secara langsung, tepat di depan Adrian, seperti tes dance yang dulu. Mereka semua bisa, meskipun agak sedikit ada kesalahan dalam gerakannya. Adrian mencatat semuanya dalam buku catatannya, dan lalu setelah semuanya selesai menari, Adrian memberitahukan apa penilaiannya. Setelah penilaian itu diberikan, Adrian berdiri lagi dari kursinya dan memperbaiki kembali gerakan yang tadi salah, dari setiap personil. Satu per satu para personil itu diperbaiki gerakannya dan diberi beberapa masukan. Setelah semua gerakannya diperbaiki, latihannya dilanjutkan kembali, dengan gerakan yang sama. Selang beberapa saat kemudian, Adrian mengetes anak2 7 Icons lagi, kali ini tidak dipanggil satu per satu, tapi dipanggil semuanya dan melakukan dance secara bersama-sama. Adrian mau melihat seberapa kompak mereka dengan gerakan yang ia berikan ini. Hasilnya, mereka lumayan kompak. Adrian sangat puas sekali lagi, dan dia langsung mencatat semuanya dalam buku catatannya. Adrian kemudian berkesimpulan kalau sebenarnya tidak ada masalah dengan kekompakan 7 Icons saat ngedance. Hanya saja... ada yang perlu diperbaiki saat mereka ngedance lagu Playboy. Inilah yang kemudian coba diperbaiki Adrian. Ia pun berdiri lagi dari kursinya dan ngedance dengan lagu Playboy, di hadapan para personil 7 Icons. Tentu saja anak2 7 Icons jadi merasa kagum pada Adrian, karena ia bisa menarikan lagu mereka dengan sangat baik. Setelah ia ngedance itu, Adrian lalu melatihkan setiap gerakan di lagu Playboy itu satu per satu pada para personil 7 Icons, dari bagian pertama lagu hingga bagian reff. Mereka berlatih terus hingga berakhirnya waktu latihan, jam 5. Adrian lalu mencatat, kalau untuk sejauh ini, progres latihan anak2 7 Icons cukup bagus. Mereka sudah bisa kompak untuk gerakan dance yang ia buat sendiri, dan mereka sedang berusaha untuk ngedance lagu Playboy dengan kompak. Karena waktu, latihan dance-nya belum bisa maksimal, hanya dari bagian pertama hingga reff lagu. Tapi itu tidak jadi masalah. Di latihan berikutnya, dance lagu Playboy akan mulai dilatih lebih dalam.
DAY 5
Hari itu hari Sabtu, jadi latihannya sedikit lebih santai karena akhir pekan. Latihan vokal lagi. Melanjutkan dari kegiatan pada latihan sebelumnya, Adrian sekarang akan memberi permainan pada anak2 7 Icons, yaitu sebuah permainan yang dulu pernah dimainkan oleh anak SD, yaitu permainan sebut huruf. Di sini, anak2 7 Icons harus mengucapkan lima huruf yang sebelumnya sudah Adrian tulis di papan tulis, yaitu A, I, U, E, O. Tugasnya disini, anak2 7 Icons harus menyanyikan huruf sesuai dengan apa yang ditunjuk oleh Adrian, dengan aturan yang dulu diberikan Adrian. Jika sampai salah sebut, ada hukumannya. Semua personil 7 Icons harus scotch-jump sepuluh kali. Di sini, yang dilatih tidak hanya vokalnya, tapi juga konsentrasi. Adrian menganggap bahwa salah satu penyebab kacaunya penampilan 7 Icons adalah... kurang konsentrasi. 7 Icons terlalu banyak memikirkan trauma masa lalu mereka, sehingga saat mereka tampil lagi di kesempatan berikutnya, penampilan mereka jadi kacau. Sebelum masuk ke permainan, anak2 7 Icons mengulang kembali apa yang sudah dipelajari pada latihan sebelumnya. Kenapa harus diulang ? Itu karena pelajaran vokal kemarin adalah kunci untuk memainkan permainan sebut huruf ini. Nantinya kan, lima huruf vokal itu harus dinyanyikan, jadi teknik dasarnya, yang dulu sudah diajarkan sama Adrian, itu harus diulangi lagi, agar nggak lupa.
Setelah teknik dasarnya selesai dipelajari, permainannya dimulai. Adrian memegang sebuah penggaris kayu, dan ia menyentuhkan penggaris kayunya ke huruf yang ia pilih secara acak, untuk kemudian dinyanyikan oleh para personil 7 Icons. Belum apa2, sudah ada yang salah. Gc yang salah sebut pertama. Yang harusnya huruf I, ia sebut A. Akhirnya, hukuman scotch-jump pertama pun dijatuhkan. Setelah hukuman selesai, permainan dilanjutkan. Setelah hampir beberapa huruf berhasil disebut tanpa cela, tiba2 Angel salah. Harusnya huruf O, ia sebut U. Hukuman lagi... kemudian permainan dilanjutkan. Tak lama, belum genap lima huruf, Vanila yang salah sekarang. Ia terlambat mengucapkan huruf yang ditunjukkan oleh Adrian. Hukuman lagi... dan begitulah seterusnya. Setiap kali ada yang salah, hukuman langsung diberikan, dan semua personil 7 Icons melakukan kesalahan. Total, anak2 7 Icons 15 kali salah sebut huruf. Adrian mencatat semuanya. Ujung2nya, semua personil 7 Icons pada gempor semua kakinya... gara2 keseringan scotch-jump dan mereka nggak sempat pemanasan sebelumnya... ya iya lah... masa latihan vokal pada pemanasan gaya latihan dance ? Selain itu juga, mereka nggak menyangka kalau latihannya seperti ini. Karena tanpa persiapan itulah, semuanya pada gempor setelah melakukan scotch-jump. Tapi, meskipun banyak melakukan kesalahan, Adrian melihat kalau sekarang vokalnya sudah membaik. Mereka bisa menahan suara tinggi lebih lama daripada sebelumnya, dan juga konsentrasi mereka sudah mulai terbentuk. Sebelum latihan berakhir, Adrian memberitahukan pada anak2 7 Icons kalau pada hari Minggu, tidak ada latihan. Latihan berikutnya adalah latihan dance, dan akan dilakukan pada hari Senin yang akan datang. Adrian memberi kesempatan pada anak2 7 Icons untuk beristirahat dulu, apalagi setelah mengetahui kalau kaki anak2 7 Icons pada gempor gara2 terus-menerus melakukan scotch-jump. Jadi, pada hari Minggu, tidak ada latihan, dan semuanya boleh beristirahat.
Nah, seperti itulah latihan 7 Icons bersama Adrian di hari2 pertamanya. Adrian mencatat ada sebuah progres yang cukup baik yang dibuat oleh anak2 7 Icons pada setiap latihannya, dan mereka semua melakukan latihan itu dengan penuh semangat. Kira2, seperti apa latihan 7 Icons pada hari2 berikutnya ? Masihkah mereka melalui masa latihan dengan progres yang cukup baik ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Cerita2 sisipan akan mulai diceritakan di bagian berikutnya dari cerita ini, yaitu part 15c, selain juga masih menceritakan tentang latihan 7 Icons di hari2 berikutnya. Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita ini masih akan berlanjut ke bagian berikutnya, yaitu part 15c. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15c)
JADWAL BERBUKA PUASA
Buat yang masih bingung soal jam berapa hari ini kalian buka puasa, saya punya jadwal puasa buat kalian... udah lama sih dapatnya, tapi bukan berarti terlambat, kan ? Ini jadwalnya... (mudah2an benar...)
Bulan puasa tahun ini ada di sepanjang bulan Agustus. Lebaran ada di awal September. Tanggal 17 Agustus selain merupakan Independence Day, juga merupakan Nuzulul Quran. Jam yang diberi warna kuning adalah jam Imsak, dan jam Maghrib ditandai dengan warna merah. Oke, Selamat Berpuasa buat kalian semua yang menjalankannya... be a good person during this month!
Bulan puasa tahun ini ada di sepanjang bulan Agustus. Lebaran ada di awal September. Tanggal 17 Agustus selain merupakan Independence Day, juga merupakan Nuzulul Quran. Jam yang diberi warna kuning adalah jam Imsak, dan jam Maghrib ditandai dengan warna merah. Oke, Selamat Berpuasa buat kalian semua yang menjalankannya... be a good person during this month!
GO GO GIRLS SEASON 2 EPISODE 5: TOPENG
Go Go Girls balik lagi... dan episodenya semakin seru. Langsung saja ya...
Masih lanjutan kemarin... tadinya Linzy ingin putus dengan Justin. Setelah serangkaian kekacauan yang terjadi sebelumnya, Linzy jadi berpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Justin. Tapi Justin meminta agar dicarikan jalan lain, karena ia masih sayang dengan Linzy dan ia tidak mau putus. Ia yakin masih ada jalan lain untuk mempertahankan hubungan mereka, sekaligus untuk memperbaiki semuanya, kecuali jika Linzy sudah tidak sayang lagi dengannya. Tentu saja Linzy masih dengan Justin, dan akhirnya mereka nggak jadi putus.
Hubungan antara Linzy dan Justin yang makin romantis membuat Megan punya rencana baru, yang ia beritahukan pada Natly dan Gc. Rencananya itu ia sertai dengan sebuah janji, jika rencananya gagal, maka Megan siap untuk jalan merangkak keliling kampus.
Apa rencana Megan ? Ia mengajak Linzy untuk bekerja di sebuah kafe eksklusif. Kabarnya, di kafe itu... butuh penyanyi baru. Linzy pun tertarik dengan lowongan itu. Tapi di balik itu, Megan juga menghubungi ayahnya Justin. Ia mengajak ayahnya untuk datang ke kafe itu. Di sisi lain, justru Natly memberitahukan pada Justin kalau Linzy tertarik untuk bekerja di kafe tersebut... tentu saja ini bikin Justin curiga dan ia pun akhirnya juga ikut datang ke kafe itu. Ternyata, Linzy tidak bekerja sebagai penyanyi di sana, melainkan menjadi cleaning service, dan belum apa2, ia sudah dituduh mencuri oleh seorang pengunjung kafe. Di kafe itu sudah ada Megan dan ayahnya Justin, tentu saja mereka kaget ketika tahu kalau Justin datang ke situ dan membela Linzy. Pertentangan terjadi kembali antara Justin dan ayahnya. Justin percaya pada Linzy kalau ia tidak mencuri... dan ia pun lalu dibawa pergi olehnya. Trik Megan gagal lagi, untuk kesekian kalinya. Akibatnya, ia harus merangkak keliling kampus, dan jadi tertawaan satu sekolah. Belum lagi kemudian Megan harus berhadapan dengan Justin yang ngamuk gara2 Linzy dikerjain. Masih beruntung Linzy baik dan mau memaafkan Megan. Megan pun akhirnya bebas dari hukuman yang lebih berat lagi.
Karena rencananya untuk membuat kacau hubungan Linzy dan Justin nggak pernah berhasil... Megan memutuskan untuk mengalihkan target. Kali ini, target ditujukan pada... Galaxy, si pengamen sukses yang katanya dekat dengan PJ. Triknya, beda lagi... ia pura2 kecopetan! Dari kecopetan itulah kemudian dia berkenalan dengan Galaxy. Kedekatan Megan dengan Galaxy membuat PJ kaget. PJ pun kemudian mengajak bicara Megan... disitu, mereka sempat berpikir untuk berantem... bahkan hingga dalam pikiran mereka berdua... mereka menjadi dua orang action hero yang saling bertarung! Tapi syukur sih cuma dalam pikiran doang... ketika kemudian mereka sampai adu mulut... aktingnya Megan keluar lagi... dia memegangi tangannya PJ, dan membuatnya seolah-olah kalau PJ yang mencekiknya, dan berteriak pada Galaxy. Galaxy kemudian datang dan lalu melerai keduanya. Galaxy langsung menuduh kalau PJ yang mencekik Megan, meskipun PJ bilang kalau ia berbohong. Galaxy kini masuk jebakannya Megan... ia tidak mempercayai pembelaan PJ. Galaxy dan Megan kemudian jalan2 lagi... dan Megan kemudian memberitahukan pada Galaxy kalau ibunya, Marylin Bono, yang penyanyi terkenal itu, akan menggelar konser dan butuh penyanyi latar. Galaxy tertarik untuk mengikutinya. Linzy kemudian lewat, dan bertemu dengan keduanya. Galaxy lalu memberitahukan soal audisi penyanyi latar itu pada Linzy, dan sudah pasti Linzy tertarik untuk ikut.
Linzy lalu pulang dengan Galaxy ke rumahnya. Tiba2, mereka dikejutkan dengan Justin yang keluar sambil membawa koper. Ternyata, ia sudah harus keluar dari rumah itu oleh ayahnya Linzy. Linzy pun jadi kebingungan, Justin mau pindah ke mana. Galaxy pun menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal untuk Justin. Justin dan Linzy kemudian diajak ke rumahnya Galaxy.
Rumahnya Galaxy cukup sederhana, lebih sederhana daripada rumahnya Linzy. Tapi cukup untuk menampung satu orang lagi. Masalahnya... Justin ternyata banyak maunya... minta kasur dengan seprei, selimut, dan semuanya harus bergambar Panda. Nantinya, itu semua akan disiapkan oleh Linzy. Meskipun masih malu2, Justin mau tinggal di rumah itu.
PJ yang tadi merasa dikerjain Megan datang menyusul ke rumah Galaxy untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi. Galaxy masih nggak percaya soal apa yang dijelaskan oleh PJ tadi, yang bilang kalau Megan yang memainkan tangannya PJ, memberi kesan seolah-olah PJ yang mencekiknya. Tapi Galaxy juga penasaran soal kenapa PJ dan Megan bisa berantem. Katanya karena cemburu. Ia pun kemudian menanyakan pada PJ, apakah PJ suka dengan Galaxy ? Pertanyaan itu akan terjawab di episode berikutnya. Go Go Girls Season 2 Episode 5 telah selesai.
Megan makin berulah. Tadinya dia hanya mengincar Justin, tapi sekarang, ia sudah mulai menularkan semuanya pada orang lain. Lama2 makin gila juga nih orang... tapi itu yang bikin seru dalam cerita ini... semua personil 7 Icons dan para pemain lainnya, juga Mr. Director, berterimakasih banget karena di episode kemarin... rating Go Go Girls naik! Selamat ya, pastinya... yah moga2 saja ratingnya makin naik untuk episode ini, dan episode2 berikutnya... oke, sekian dulu sinopsisnya, kalau misalnya antara sinopsis dan yang ada di TV beda, maafin ya... dan kalau misalnya ada bagian yang tak dicatat, juga maafin ya... gw sekarang akan menulis mengikuti plot utamanya... oke deh, sampai jumpa di episode berikutnya!
Sekian. Salam, YNWA.
Masih lanjutan kemarin... tadinya Linzy ingin putus dengan Justin. Setelah serangkaian kekacauan yang terjadi sebelumnya, Linzy jadi berpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Justin. Tapi Justin meminta agar dicarikan jalan lain, karena ia masih sayang dengan Linzy dan ia tidak mau putus. Ia yakin masih ada jalan lain untuk mempertahankan hubungan mereka, sekaligus untuk memperbaiki semuanya, kecuali jika Linzy sudah tidak sayang lagi dengannya. Tentu saja Linzy masih dengan Justin, dan akhirnya mereka nggak jadi putus.
Hubungan antara Linzy dan Justin yang makin romantis membuat Megan punya rencana baru, yang ia beritahukan pada Natly dan Gc. Rencananya itu ia sertai dengan sebuah janji, jika rencananya gagal, maka Megan siap untuk jalan merangkak keliling kampus.
Apa rencana Megan ? Ia mengajak Linzy untuk bekerja di sebuah kafe eksklusif. Kabarnya, di kafe itu... butuh penyanyi baru. Linzy pun tertarik dengan lowongan itu. Tapi di balik itu, Megan juga menghubungi ayahnya Justin. Ia mengajak ayahnya untuk datang ke kafe itu. Di sisi lain, justru Natly memberitahukan pada Justin kalau Linzy tertarik untuk bekerja di kafe tersebut... tentu saja ini bikin Justin curiga dan ia pun akhirnya juga ikut datang ke kafe itu. Ternyata, Linzy tidak bekerja sebagai penyanyi di sana, melainkan menjadi cleaning service, dan belum apa2, ia sudah dituduh mencuri oleh seorang pengunjung kafe. Di kafe itu sudah ada Megan dan ayahnya Justin, tentu saja mereka kaget ketika tahu kalau Justin datang ke situ dan membela Linzy. Pertentangan terjadi kembali antara Justin dan ayahnya. Justin percaya pada Linzy kalau ia tidak mencuri... dan ia pun lalu dibawa pergi olehnya. Trik Megan gagal lagi, untuk kesekian kalinya. Akibatnya, ia harus merangkak keliling kampus, dan jadi tertawaan satu sekolah. Belum lagi kemudian Megan harus berhadapan dengan Justin yang ngamuk gara2 Linzy dikerjain. Masih beruntung Linzy baik dan mau memaafkan Megan. Megan pun akhirnya bebas dari hukuman yang lebih berat lagi.
Karena rencananya untuk membuat kacau hubungan Linzy dan Justin nggak pernah berhasil... Megan memutuskan untuk mengalihkan target. Kali ini, target ditujukan pada... Galaxy, si pengamen sukses yang katanya dekat dengan PJ. Triknya, beda lagi... ia pura2 kecopetan! Dari kecopetan itulah kemudian dia berkenalan dengan Galaxy. Kedekatan Megan dengan Galaxy membuat PJ kaget. PJ pun kemudian mengajak bicara Megan... disitu, mereka sempat berpikir untuk berantem... bahkan hingga dalam pikiran mereka berdua... mereka menjadi dua orang action hero yang saling bertarung! Tapi syukur sih cuma dalam pikiran doang... ketika kemudian mereka sampai adu mulut... aktingnya Megan keluar lagi... dia memegangi tangannya PJ, dan membuatnya seolah-olah kalau PJ yang mencekiknya, dan berteriak pada Galaxy. Galaxy kemudian datang dan lalu melerai keduanya. Galaxy langsung menuduh kalau PJ yang mencekik Megan, meskipun PJ bilang kalau ia berbohong. Galaxy kini masuk jebakannya Megan... ia tidak mempercayai pembelaan PJ. Galaxy dan Megan kemudian jalan2 lagi... dan Megan kemudian memberitahukan pada Galaxy kalau ibunya, Marylin Bono, yang penyanyi terkenal itu, akan menggelar konser dan butuh penyanyi latar. Galaxy tertarik untuk mengikutinya. Linzy kemudian lewat, dan bertemu dengan keduanya. Galaxy lalu memberitahukan soal audisi penyanyi latar itu pada Linzy, dan sudah pasti Linzy tertarik untuk ikut.
Linzy lalu pulang dengan Galaxy ke rumahnya. Tiba2, mereka dikejutkan dengan Justin yang keluar sambil membawa koper. Ternyata, ia sudah harus keluar dari rumah itu oleh ayahnya Linzy. Linzy pun jadi kebingungan, Justin mau pindah ke mana. Galaxy pun menawarkan rumahnya sebagai tempat tinggal untuk Justin. Justin dan Linzy kemudian diajak ke rumahnya Galaxy.
Rumahnya Galaxy cukup sederhana, lebih sederhana daripada rumahnya Linzy. Tapi cukup untuk menampung satu orang lagi. Masalahnya... Justin ternyata banyak maunya... minta kasur dengan seprei, selimut, dan semuanya harus bergambar Panda. Nantinya, itu semua akan disiapkan oleh Linzy. Meskipun masih malu2, Justin mau tinggal di rumah itu.
PJ yang tadi merasa dikerjain Megan datang menyusul ke rumah Galaxy untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi. Galaxy masih nggak percaya soal apa yang dijelaskan oleh PJ tadi, yang bilang kalau Megan yang memainkan tangannya PJ, memberi kesan seolah-olah PJ yang mencekiknya. Tapi Galaxy juga penasaran soal kenapa PJ dan Megan bisa berantem. Katanya karena cemburu. Ia pun kemudian menanyakan pada PJ, apakah PJ suka dengan Galaxy ? Pertanyaan itu akan terjawab di episode berikutnya. Go Go Girls Season 2 Episode 5 telah selesai.
Megan makin berulah. Tadinya dia hanya mengincar Justin, tapi sekarang, ia sudah mulai menularkan semuanya pada orang lain. Lama2 makin gila juga nih orang... tapi itu yang bikin seru dalam cerita ini... semua personil 7 Icons dan para pemain lainnya, juga Mr. Director, berterimakasih banget karena di episode kemarin... rating Go Go Girls naik! Selamat ya, pastinya... yah moga2 saja ratingnya makin naik untuk episode ini, dan episode2 berikutnya... oke, sekian dulu sinopsisnya, kalau misalnya antara sinopsis dan yang ada di TV beda, maafin ya... dan kalau misalnya ada bagian yang tak dicatat, juga maafin ya... gw sekarang akan menulis mengikuti plot utamanya... oke deh, sampai jumpa di episode berikutnya!
Sekian. Salam, YNWA.
Senin, 08 Agustus 2011
LIVERPOOL'S LATEST SIGNINGS
Ucapkan selamat datang pada Jordan Henderson, Charlie Adam, Stewart Downing, dan Alexander Doni. Mereka adalah empat pemain baru Liverpool musim ini. Jordan Henderson adalah pemain pertama yang dibeli Liverpool. Dia dibeli dari Sunderland dengan nilai transfer sekitar 16 juta pounds. Dia seorang midfielder, putra asli Sunderland, dan menyandang status sebagai pemain muda terbaik Sunderland dua musim berturut-turut, 2009/2010 dan 2010/2011. Kita akan memanggilnya Hendo. Dia termasuk dalam tim muda Inggris U-23 yang tampil di Euro U-21, bersama Phil Jones dan Danny Wellbeck. Charlie Adam adalah pemain kedua yang direkrut Liverpool. Mantan kapten Blackpool, salah satu orang yang berjasa besar di balik kejutan besar yang dibuat Blackpool musim lalu. Sebenarnya dia sudah diincar oleh Liverpool sejak pertengahan musim lalu, bahkan sempat diduga akan pindah lebih cepat dari Blackpool. Namun, transfernya baru bisa terlaksana saat ini. Dengan duit 7 juta pounds, ia akhirnya pindah dari Blackpool ke Liverpool. Ia sudah bermain untuk Liverpool di partai2 pra-musim, dan sudah mencetak dua gol, yaitu saat melawan Guangdong dan timnas Malaysia. Sama, juga seorang midfielder. Stewart Downing adalah orang ketiga yang ditransfer oleh Liverpool. Salah satu midfielder terbaik Premier League dan andalan timnas Inggris. Mengawali karir di Middlesbrough, kemudian pindah ke Aston Villa, dan kini berada di Liverpool. Kabarnya, nilai transfernya mencapai 20 juta pounds, meskipun berapa tepatnya dirahasiakan. Dia punya rekor yang hanya dapat disaingi oleh midfielder2 terbaik Premier League seperti Frank Lampard. Dengan diikatnya tiga midfielder ini ke Liverpool, maka Liverpool menjadi kebanjiran midfielder. Tentu saja ini akan membuat King Kenny sedikit pusing untuk menentukan midfielder mana yang akan dipakai. Akan tetapi, King Kenny juga akan lebih enak dalam menentukan pengganti jika seandainya ada midfielder yang cedera. Pemain keempat adalah Alexander Doni. Mantan kiper AS Roma ini diplot menjadi pelapis Pepe Reina. Didapatkan Liverpool secara bebas transfer, Doni akan menjadi kiper ketiga Liverpool yang aktif, selain Phil Jones dan Pepe Reina. Kiper2 lain seperti Peter Gulacsi sudah pindah ke klub lain.
Itulah cerita saya tentang empat pemain baru Liverpool. Semoga keempat pemain ini bisa memberi kontribusi yang besar untuk mengangkat performa Liverpool musim depan menjadi lebih baik. YNWA!
Sekian. Salam, YNWA.
Itulah cerita saya tentang empat pemain baru Liverpool. Semoga keempat pemain ini bisa memberi kontribusi yang besar untuk mengangkat performa Liverpool musim depan menjadi lebih baik. YNWA!
Sekian. Salam, YNWA.
FANFICTION 7 ICONS (part 15a)
Remember, it's just a Fanfiction.
Jadi... sekarang kita masuk ke bagian yang penting. Training-nya. Bagaimana sih cara Adrian melatih anak2 7 Icons sehingga perform mereka bisa kembali seperti semula ? Dan apakah training itu akan berhasil ? Itu akan diceritakan sekarang. Selain itu juga... kisah cintanya Adrian dimulai... perkenalannya dengan Wenda membuat Adrian jadi teringat lagi dengan cewek cantik yang selalu masuk dalam mimpinya dulu. Sekarang mereka sudah berkenalan, mungkinkah Adrian mencoba untuk lebih dekat dengannya ? Kita akan mulai bercerita.
Hari itu hari Senin. Satu hari sebelum training-nya dimulai. Saat itu jam istirahat. Adrian sedang bergegas untuk pergi ke suatu tempat di sekolah, sambil membawa sebuah kertas. Langkahnya sangat cepat, seakan ia sedang mengejar kereta yang sudah siap untuk berangkat. Dia mendatangi sebuah ruangan yang letaknya tidak jauh dari ruang ganti tempat ia biasa berganti pakaian kalau ia mau berlatih dengan tim sepakbola. Ruangan itu punya pintu yang ada kacanya, dan ada tulisan "COACH" di depannya. Ya, ia akan mendatangi kantor dari pelatih tim sepakbola SMA Cambridge, Coach Johan. Adrian belum pernah masuk ke dalam kantor ini sebelumnya, jadi ia agak sedikit deg2an ketika ia akan memasuki ruangan itu. Tapi, mengingat ada sesuatu yang harus ia sampaikan, ia harus berani untuk masuk ke dalam ruangan itu. Ia lalu mengetuk pintunya dan lalu ia masuk ke dalam ruangan itu... secara perlahan, setelah Coach Johan mengizinkannya masuk.
Adrian: Selamat siang, Coach.
Coach Johan: Selamat siang juga. Ah, Adrian. Silakan duduk.
Adrian: Terima kasih, Coach.
Adrian lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Coach Johan. Pembicaraan pun dimulai.
Coach Johan: Tumben kamu datang ke sini, Adrian. Ada apa ?
Adrian: Ummm... saya datang ke sini... untuk menyampaikan surat ini...
Adrian lalu menaruh surat yang ia bawa di atas meja, lalu memberikannya pada Coach Johan. Ia pun jadi penasaran dengan surat yang Adrian bawa itu.
Coach Johan: Surat apa ini ?
Adrian: Saya harus minta maaf karena saya harus menyampaikan ini, tapi ini memang sudah jadi keputusan saya. Mulai hari ini, saya mengundurkan diri dari tim sepakbola.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Adrian, Coach Johan langsung kaget. Ia tidak menyangka kalau pemain terbaiknya akan keluar secepat ini dari tim. Tapi ia menerima suratnya, dan berusaha untuk tetap tenang. Ia lalu menanyai Adrian.
Coach Johan: Kamu serius ingin keluar dari tim ?
Adrian: Ya, Coach. Ini sudah menjadi keputusan saya.
Coach Johan: Apa kamu tidak menyesal ? Surat ini bisa saja saya sampaikan pada Kepala Sekolah, sebagai laporan bulanan tentang aktivitas tim. Lagipula sebenarnya tim ini masih membutuhkan kamu...
Adrian: Sampaikan saja. Buat saya, semuanya sudah cukup. Saya tidak menyesal.
Coach Johan: Apa yang membuatmu ingin keluar dari tim, Adrian ?
Adrian: Istirahat. Saya pikir semuanya sudah cukup. Saya juga berpikir kalau kontribusi saya dan semua yang saya sudah lakukan untuk tim ini sudah cukup. Saya juga sudah puas dengan apa yang sudah saya berikan pada tim dan sekolah ini. Itu yang membuat saya ingin keluar.
Coach Johan: Oh, begitu... tapi kamu harus tahu bahwa untuk beberapa bulan ini, tim tidak ada pertandingan, tapi latihan akan tetap dilakukan, mulai bulan depan. Apa kamu tidak mau hanya sekedar ikut latihan saja ?
Adrian: Ummm... sepertinya tidak, Coach. Semuanya sudah cukup.
Coach Johan: Baiklah kalau begitu. Kalau begitu, saya akan menyimpan surat ini. Soal kepastian kamu keluar atau tidak, tunggu pengumuman berikutnya. Yang pasti, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Kalau kau tetap diminta untuk bermain, kau harus siap latihan lagi, kalau kamu diperbolehkan untuk keluar, berarti kau tidak akan bisa kembali lagi. Semua keputusan terakhir ada di tangan saya dan Kepala Sekolah. Apa kau mengerti ?
Adrian: Saya mengerti, Coach.
Coach Johan: Oke. Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan ?
Adrian: Tidak ada, Coach. Saya harus kembali ke kelas.
Coach Johan: Baiklah kalau begitu. Silakan.
Adrian: Terima kasih, Coach.
Adrian lalu berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Misinya untuk menyampaikan surat yang ia tulis sendiri itu sudah selesai. Kini Adrian hanya tinggal menunggu kepastian apakah ia bisa keluar atau tidak dari tim sepakbola SMA Cambridge. Ia lalu kembali ke kelas.
Ternyata berita pengunduran diri Adrian dari tim sepakbola langsung tersebar luas. Itu terjadi setelah ada seseorang yang secara tidak sengaja menguping pembicaraan Adrian dan Coach Johan yang kemudian ia teruskan pada teman2nya yang lain. Tentu saja berita itu membuat Rizky, Andi, dan Rico kaget. Mereka bertiga langsung mencari Adrian dan memintainya keterangan soal berita tersebut.
Rizky: Lu mengundurkan diri dari tim sepakbola ? Serius lu ?
Adrian: Ya, itu sudah keputusan yang gw ambil. Gw minta maaf.
Andi: Lu kenapa mengundurkan diri ? Kita semua masih butuh kamu!
Adrian: Pengen istirahat aja. Gw sudah cukup melakukan hal ini. Lagian, kontribusi gw buat tim sudah cukup... ya, sudah kalau begitu, gw anggap selesai. Gw pikir inilah saat yang tepat untuk mundur.
Rizky: Ya tapi nggak bisa gitu juga dong... bagaimanapun juga, kita semua masih butuh lu... minimal buat pertandingan2 berikutnya... siapa lagi yang bisa ngasih operan bagus selain kamu...
Adrian: Si Rico kan bisa... justru gw juga mundur buat kasih kesempatan pemain lain untuk bisa bermain. Rico, Reza, yang lain... kan masih banyak... kalian main dengan mereka saja...
Rizky: Ya tapi masalahnya tidak ada yang sebagus kamu kalau sudah main bola...
Adrian: Gw yakin pasti ada. Asal kalian mau main dengan kompak saja, semuanya masih bisa berjalan dengan baik kok. Tenang aja.
Rico: Makasih, Adrian... tapi tetap saja gw masih perlu bantuan kamu...
Adrian: Bantuan kan bisa datang dari siapa saja. Nggak harus dari gw... pasti yang lain bisa bantu kamu kok... yang pasti, buat gw semuanya sudah cukup.
Andi: Lama2 gw jadi curiga nih, Adrian... kenapa lu jadi pengen mengundurkan diri... pasti karena anak2 7 Icons kan ? Lu sekarang dekat lagi sama mereka, dan udah nggak dekat lagi sama kita. Benar kan ?
Rizky: Iya, kamu sekarang mau menjauh dari kita gara2 hubungan kamu sama anak2 7 Icons sudah normal lagi kan ? Lu sudah baikan dengan mereka, kan ? Dan karena kamu sudah baikan dengan mereka, kita ditinggal, begitu ? Ya kan ?
Adrian: Ngapain gw ninggalin kalian karena gw udah baikan sama anak2 7 Icons ? Justru salah satu alasan gw mengundurkan diri dari tim, adalah karena gw akan fokus mengurus sesuatu bersama anak2 7 Icons. Alasan ini gw nggak bilang ke Coach Johan.
Rizky: Tuh, kan ? Bener... gara2 anak2 7 Icons lu mengundurkan diri dari tim! Tapi omong2, lu ada urusan apa sama anak2 7 Icons sampai kamu mengundurkan diri dari tim ?
Adrian: Gw akan melatih mereka untuk bisa mengembalikan perform seperti dulu lagi.
Rizky: Hah ? Serius kamu, mau melatih anak2 7 Icons ? Emangnya kamu bisa ?
Adrian: Bisa kok. Anak2 7 Icons sudah terima tawaran dari gw. Gw tinggal melatih mereka saja... bagaimanapun juga, kalian semua rindu 7 Icons tampil lagi, ya kan ?
Rizky: Iya juga sih... ini sudah hampir tiga bulan mereka nggak tampil lagi... tapi, melatih mereka kan bukan hal yang gampang...
Andi: Betul! Selain itu... emangnya kamu mau latih mereka apa ? Mereka kan bisa segalanya...
Adrian: Gw akan latih mereka dari awal lagi. Vokal, dance, semuanya... gw akan kembalikan semua perform anak2 7 Icons seperti semula, seperti sebelum semuanya jadi kacau...
Andi: Oh, begitu... kapan mulai latihannya ?
Adrian: Besok. Setelah sekolah. Gw sudah janjian sama mereka. Tapi masih perkenalan sih... mulai hari Rabu, mereka mulai benar2 latihan. Santai aja sih latihannya... gw cuma mau bikin mereka tampil bagus aja lagi seperti biasa...
Rizky: Oh, gitu... ya sudah deh... good luck, ya... tapi jangan lupakan kita ya...
Andi: Iya, jangan lupain kita... kalau mereka sudah bagus perform-nya, kasih tahu kita ya...
Adrian: Pastinya. Gw janji.
Rico: Tapi kalau ada waktu kosong, kita main bola lagi ya...
Adrian: Pastinya, Rico. Biarpun gw sudah keluar dari tim sepakbola, bukan berarti gw nggak punya waktu untuk main bola bareng kalian. Kalau ada waktu, gw pasti akan main bareng kalian.
Rico: Oke bro, sip... good luck ya...
Adrian: Terima kasih. Eh, kalian bertiga jangan bilang siapa2 ya... ini rahasia... Coach Johan nggak tahu soal alasan gw mundur yang ini... jangan dibocorin ya...
Rizky: Tenang aja... kita bakal tutup mulut soal beginian...
Andi: Gampang sih... nggak bakal kita bicarain soal ini...
Adrian: Bagus kalau begitu. Sekarang gw harus pergi. Nanti kita bicara lagi. Oke ?
Rizky: Oke, Adrian... sukses ya!
Rico: Good luck, bro!
Adrian lalu pergi kembali ke kelas. Kini ia sudah mendapatkan restu dari teman2nya soal niatnya untuk melatih anak2 7 Icons. Sekarang Adrian hanya tinggal melakukan tugasnya dan memulai program training untuk teman2 baiknya itu. Besok, semuanya akan dimulai.
Keesokan harinya, saat jam pulang sekolah, semua anak2 7 Icons berkumpul di parkiran sekolah. Mereka semua sedang menunggu Adrian, yang rencananya akan membawa mereka ke tempat latihan. Sampai saat ini mereka belum tahu di mana mereka akan berlatih. Hanya Adrian yang tahu, sehingga mereka harus menunggu Adrian dulu sebelum berangkat latihan. Tidak lama kemudian, Adrian datang, dengan memakai seragam sekolah, jaket Liverpool warna merah, dan topi Liverpool warna merah. Ia langsung mendatangi anak2 7 Icons dengan penuh rasa senang.
Adrian: Maaf kalian jadi menunggu lama. Kalian semua sudah siap ?
Linzy: Sudah dong... di mana tempat latihannya ?
Adrian: Nanti kalian tahu. Sekarang masuk ke mobil, aku yang mengemudi.
Semua personil 7 Icons lalu masuk ke dalam mobil, dan Adrian yang berada di depan setir mobil. Angel berada di kursi sebelahnya. Sementara yang lain ada di belakang. Setelah semuanya siap, Adrian menjalankan mesinnya dan mobil itu berangkat menuju suatu tempat. Perjalanannya lumayan jauh. Menembus kemacetan Jakarta, melewati jalan2 kecil yang padat, dan juga melewati beberapa jalan protokol di kota Jakarta. Selang 45 menit kemudian, mereka tiba di lokasi. Sebuah bangunan tiga lantai dengan warna merah bata dengan kusen jendela warna putih, pintu utama berwarna coklat dengan kanopi berwarna putih, dan pagar besi berwarna hitam. Di bagian atap terdapat cerobong asap yang berukuran besar. Di kanopi pintu utama terdapat ukiran tanda kerajaan Inggris. Pertanyaannya, di manakah mereka sekarang ?
Adrian: Nah, disinilah tempatnya. Ayo kita keluar. (kemudian membuka pintu mobil)
Angel: Di sini tempatnya ? Kelihatannya asri banget...
Semua anak2 7 Icons lalu keluar dari mobil. Sementara Adrian sudah berada di depan pintu utama, dan sedang membuka pintu rumah itu. Anak2 7 Icons sangat takjub melihat tempat latihan mereka. Mereka tidak percaya kalau tempat ini adalah tempat latihan mereka. Tak lama, Adrian membuka pintunya dan mengajak anak2 7 Icons masuk ke dalam rumah itu. Mereka lalu masuk ke dalamnya.
Di dalam rumah, Adrian membuka jaket, topi, dan jas seragamnya dan menaruhnya di sebuah gantungan khusus. Suasananya cukup sepi, tapi ruangannya sangat indah. Warna temboknya coklat krem, dengan lukisan tergantung di beberapa sudut ruangan. Lampunya berbentuk chandelier dengan ukiran yang sangat indah, selain juga ada lampu2 gantung yang dipasang di dinding ruangan. Ruangannya kuno, tapi menarik. Semuanya bersih dan masih terawat. Anak2 7 Icons jadi semakin penasaran dengan bangunan ini.
PJ: Rumah apaan sih ini ? Kok kesannya kuno banget ya...
Adrian: Selamat datang di flat Inggris saya. Sebenarnya bukan punya saya... tapi untuk satu bulan ini, flat ini jadi milik saya. Saya menyewanya untuk satu bulan.
PJ: Buat apa kamu sewa flat sebesar ini untuk satu bulan ?
Adrian: Buat dijadikan tempat latihan kalian. Kalian semua akan latihan disini.
PJ: Benarkah ? Tempat ini menyeramkan nggak ?
Adrian: Menyeramkan ? Emangnya kenapa ?
PJ: Soalnya... ini kan gedung kuno... takutnya menyeramkan...
Adrian: Nggak kok. Nggak menyeramkan. Flat ini baru dua tahun yang lalu dibangun. Arsiteknya ingin sekali membawa ciri Inggris kuno ke dalam bangunan ini. Makanya kelihatannya kuno...
PJ: Oh, begitu... terus kita semua latihan di mana ?
Adrian: Ikut saya ke atas. Semua tempat latihannya ada di atas.
Adrian lalu naik ke lantai atas. Anak2 7 Icons pun lalu mengikutinya naik ke lantai atas sambil melihat-lihat seperti apa ruangan2 yang ada di flat itu. Tangganya warna coklat, dengan karpet berwarna coklat krem di anak tangganya. Di sebelah kirinya terdapat banyak lukisan dan hiasan dinding. Tangganya memutar, dan di lantai dua terdapat beberapa ruangan yang semuanya masih tertutup rapat. Di lantai kedua inilah tempat mereka akan latihan.
Adrian: Ini lantai keduanya. Kalian akan latihan disini.
Angel: Wah, asyik juga ya, tempatnya... jadi kita latihan di sini ?
Adrian: Ya. Yang di ruangan ini (sambil menunjuk ke ruangan di sebelah kirinya) untuk latihan vokal, dan untuk yang di ruangan ini (sambil menunjuk ke ruangan di sebelah kanannya) untuk latihan dance. Gw sudah siapkan semuanya. Sekarang kita masuk ke ruangan ini.
Adrian lalu mengajak anak2 7 Icons masuk ke dalam ruangan untuk latihan vokal. Di dalam ruangan itu, semua sudah disiapkan. Ada dua buah meja, yang satu berukuran lebih besar dari meja lainnya, dan di meja lainnya terdapat sebuah alat yang cukup canggih. Di belakang meja itu ada sebuah kursi, dan di belakangnya ada sebuah papan tulis berwarna hitam yang masih bersih, lengkap dengan tempat untuk menaruh kapur dan penghapusnya. Di depannya, sekitar beberapa langkah dari situ, ada tujuh kursi, lengkap dengan mejanya (seperti kursi di kampus) yang sudah diatur dengan posisi zig-zag, empat di depan, dan tiga di belakang. Di setiap meja tertulis nama pemilik meja tersebut, yang sudah ditempelkan di masing2 meja. Ini untuk memudahkan anak2 7 Icons untuk menemukan kursi mereka. Adrian sudah mengatur semua jarak dan posisi kursi itu sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang terhalang. Di belakang kursi2 itu, ada sebuah sofa, tempat untuk bersantai. Di sebelah kanan ruangan, terdapat beberapa jendela dan di bawahnya terdapat beberapa buah meja dan tempat untuk menaruh barang. Di kirinya, terdapat lemari, cooler minuman, dan beberapa lukisan serta hiasan dinding. Semuanya sudah tertata rapi. Di samping papan tulis, terdapat sebuah peta dunia berukuran besar, dan ada lukisan Kenny Dalglish dan Steven Gerrard tergantung di dinding belakang papan tulis. Itu lukisan koleksi Adrian yang sengaja ditaruh di flat ini daripada dibiarkan tersimpan di gudang. Di bawah lantai terdapat karpet permadani Persia yang sangat bagus dan berukuran sangat besar. Lantainya sendiri lantai kayu, parquet, sama halnya dengan ruangan2 yang lain. Adrian langsung menaruh tasnya di atas meja, mengambil beberapa peralatannya, dan anak2 7 Icons masih melihat-lihat ruangan dan berpikir "kita ini ada di tempat apaan sih ? Sepertinya terlalu bagus untuk sebuah tempat latihan..."
Adrian mengeluarkan beberapa peralatan dari tasnya. Ada sebuah buku catatan, pulpen, dan Blackberry. Adrian lalu duduk dan membuka buku catatannya. Dia mulai menulis sesuatu di buku catatan tersebut. Sesekali ia melihat anak2 7 Icons masih melihat-lihat seperti apa sih ruangan itu... Adrian lalu berhenti menulis sebentar, lalu ia bersandar di kursinya.
Adrian: Silakan duduk. Saya tahu tempat ini cukup berbeda buat kalian... tapi setidaknya, ini cukup memadai buat kalian, ya kan ? Saya dengar kalian dulu pernah latihan vokal di apartemen ya ? Yah, anggap saja ini seperti tempat kalian latihan dulu... maaf kalau misalnya kalian merasa tak nyaman disini.
Adrian lalu membuka kancing tangan kemejanya dan melepas dasinya karena cuacanya sangat panas. Ia lalu menaruh dasinya di atas meja, lalu sedikit menata rambutnya, ia membuatnya sedikit lebih berantakan. Satu per satu anak2 7 Icons kemudian duduk di kursinya masing2, sesuai dengan namanya. Urutannya, kalau dilihat dari posisi Adrian, adalah... (nomor satu di depan, nomor dua di belakang, nomor tiga ke depan, dan seterusnya) Mezty, Linzy, Gc, Angel, PJ, Vanila, dan Natly. Setelah semuanya duduk, Adrian memulai perkenalannya.
Adrian: So, selamat datang, 7 Icons. Terima kasih banget sudah mau terima tawaran gw, dan inilah yang gw kasih kepada kalian. Sebuah program training yang sudah siapkan sejak lama. Gw kasih nama program training ini... Project Icons. Project yang khusus gw buat untuk membangkitkan kembali 7 Icons. Proyek ini gw sudah pikirkan dan gw rencanakan setelah gw melihat perform kalian yang makin lama makin kacau. Tujuan proyek ini adalah... untuk mengembalikan perform kalian kembali... dan mengembalikan status kalian sebagai salah satu girlband yang terkenal di negeri ini. Jujur saja, di luar sana banyak fans2 kalian yang merindukan kalian tampil keren lagi seperti dulu. Masih banyak kok yang senang sama kalian... dan mereka semua... dengan setia menunggu kalian tampil kembali.
PJ: Jadi maksudmu... kita akan di-training lagi dari awal lagi ? Begitu ?
Adrian: Yes. Tapi nggak semuanya. Setidaknya kalian masih punya sisa2 kemampuan kalian... yang mungkin masih bisa kalian latih dan manfaatkan lagi... Gw tahu kok seperti apa kalian tampil... dan gw bilang itu sudah keren banget. Sekarang, kita akan coba buat perform-nya lebih keren lagi. Sebagai permulaan, gw akan mulai dari lagu populer kalian, Playboy. Setelah urusan Playboy selesai, kita lanjutkan dengan yang lain. Kalian semua sudah siap ?
7 Icons: Siaaapppp...
Adrian: Oke, good. Gw jadi seperti guru sekolah nih... sekarang gw akan kasih tahu apa rencana kita buat besok. Hari ini kita perkenalan dulu, besok baru kita mulai. Ini biar kalian bisa adaptasi dulu lah... sekaligus biar kalian bisa lebih siap untuk hari2 berikutnya. Sekarang, lihat di sebelah gw, ini ada sebuah alat...
Adrian lalu berdiri dan mempertunjukkan alat itu pada anak2 7 Icons. Alatnya berwarna krem, ada beberapa tombol di situ, juga ada tempat disc-nya, beberapa kabel di belakang, dan beberapa headset yang terpasang di alat tersebut. Alat apa ini ?
Adrian: Perkenalkan, ini alat perekam suara serbaguna. Saya pinjam dari teman saya, dan ini masih baru, buatan Amerika. Disini ada dua tempat untuk menaruh disc, ada mode rekam, ada mode putar, ada headset, lengkap dengan mikroponnya, dan ada juga pemutar kasetnya. Ini bisa dipakai untuk merekam suara untuk diputar dalam format kaset biasa atau dalam format CD. Cara pakainya seperti ini...
Adrian lalu memasang headset yang ada mikroponnya (ada dua headset di situ, satu headset dengan mikropon untuk merekam, dan satu headset lagi, tanpa mikropon untuk mendengar), kemudian ia mengatur posisi mikroponnya, dan lalu menyalakan alatnya.
Adrian: Nah, sekarang alatnya sudah dinyalakan... ketika alatnya sudah dinyalakan, untuk merekam, ada di tombol sebelah kiri mesin. Semua tombol di kiri mesin ini adalah untuk merekam, dan semua tombol di kanan ini adalah untuk memutar kembali hasil rekaman. Untuk mulai merekam, tekan tombol merah ini. Sekarang saya akan merekam suara saya dengan alat ini.
Adrian lalu menekan tombol merahnya, dan alat itu mulai merekam. Adrian menyanyikan reff dari lagu You'll Never Walk Alone. Suaranya ternyata sangat bagus sehingga anak2 7 Icons merasa kagum dengannya. Mereka baru kali ini mendengar suara Adrian kalau bernyanyi. Setelah selesai bernyanyi, Adrian mematikan tombol rekamnya, dan anak2 7 Icons justru bertepuk tangan. Adrian pun jadi kaget, sambil melepas headset-nya. Ia lalu menaruh headset-nya dan bertanya pada anak2 7 Icons.
Adrian: Kenapa kalian pada tepuk tangan ?
PJ: Habis suara kamu bagus deh...
Angel: Iya... pas banget lho kalau jadi penyanyi... belajar dari mana ?
Adrian: Gw jadi malu... Hahaha... tapi baiklah, untuk menjawab pertanyaan kamu, Angel, gw akan sedikit bercerita soal seperti apa sih masa lalu gw dulu...
Linzy: Wah, beneran ? Ceritain dong, pasti seru deh...
Adrian: Oke, tapi sebentar, ada yang harus gw pindahkan dulu.
Adrian berjalan kembali ke belakang meja dan mengambil kursi Chitose merahnya lalu membawanya ke depan meja, membuatnya posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan anak2 7 Icons. Ia lalu duduk dan mulai bercerita soal masa lalunya.
Adrian: Soal bagaimana gw bisa nyanyi sebagus itu... yang pasti gw belajar. Dulu, aku pernah ikut vocal group waktu SMP. Waktu itu aku masih malu2 untuk bernyanyi. Sama halnya waktu gw gabung ke tim sepakbola, gw ikut gabung karena gw diajak oleh teman. Di Bandung aku dulu punya banyak teman, dan mereka lebih manja, kalau gw bilang. Katanya kalau gw nggak ikut, gw nggak akan diajak nonton bareng pertandingan final Piala FA. Padahal gw udah bayar tiketnya untuk bisa ikut nonton bareng itu. Ya sudahlah, akhirnya gw ikut audisi untuk jadi anggota baru vocal group itu... padahal, mereka nggak tahu, kalau aku agak sedikit malu2 kalau nyanyi, dan kalau dipaksakan, suara gw bakalan jelek. Tapi syukurnya, kepedean gw keluar saat audisi, sehingga gw bisa nyanyi dengan baik dan gw diterima masuk vocal group.
Vanila: Wah hebat... kenapa waktu SMP nggak ikut tim sepakbola aja ?
Adrian: Justru aku menjauhi masuk tim sepakbola. Gw masuk di sekolah yang hampir semua cowok2nya penggila bola dan punya skill main bola yang bagus. Mereka teman saya semua, tapi kalau gw sudah main bola dengan mereka, yang ada gw malu, karena gw secara skill nggak sebagus mereka. Pada saat itu...
PJ: Tapi kenyataannya, kamu main bola bagus banget kok...
Adrian: Kan saya bilang, pada saat itu. Bukan sekarang. Justru aku kemudian berusaha untuk belajar dari teman2ku itu... makanya kemudian gw jadi jago main bola...
PJ: Oh, begitu... berarti kamu dulu pernah main bola dong ?
Adrian: Ya. Hanya sekedar bersenang-senang. Itu pun setelah dipaksa. Biasanya kalau gw diajak main bola yang ada gw minder duluan waktu itu. Karena tadi... teman2 gw skill-nya jauh... jauh di atas gw...
Natly: Oh... jadi gitu ceritanya... terus kelanjutannya yang di vocal group bagaimana ?
Adrian: Nah, soal vocal group. Gw akhirnya diterima jadi anggota vocal group. Nah, gw dan teman2 vocal group gw dapat kehormatan besar karena waktu itu gw dilatih sama pelatih vocal group terbaik di kota Bandung. Gw diajarin segalanya, mulai dari teknik ambil napas, ambil suara, nyanyi suara tinggi, vibrasi, semuanya... gw diajarin untuk bisa membawakan semua jenis lagu sebaik mungkin. Hasilnya, gw jadi lebih berani buat bernyanyi... dan akhirnya gw jadi sering nyanyi ke mana2...
Angel: Nyanyi ke mana2 ? Emangnya kamu pernah nyanyi di mana ?
Adrian: Gereja, kafe, acara sekolah... semua acara yang memang gw bisa ikuti... gw diajak untuk tampil di mana saja... tadinya gw mau menolak, tapi gw nggak enak... soalnya tawarannya lumayan... apalagi kalau di kafe... diam2 gw dibayar...
Angel: Dibayar ? Dibayar berapa ?
Adrian: 500 ribu dan dua kaleng Coca-Cola. Tapi yang terakhir itu permintaan gw. Gw emang suka Coca-Cola sih...
Linzy: Lumayan banget tuh... uangnya buat apa ?
Adrian: Nambah uang jajan dan bayar uang sekolah. Makanya gw bisa beli banyak kaus bola...
Linzy: Oh... hebat banget... terus selama gabung di vocal group, ada prestasinya nggak ?
Adrian: Ada dong. Dulu gw masih ingat, tim gw dulu pernah juara antar rayon, jadi kita diadu sama sekolah2 lain yang ada di wilayah yang sama. Terus lanjut ke tingkat kecamatan, menang lagi. Masuk tingkat kota, menang lagi. Sampai akhirnya jadi wakil kota buat lomba tingkat provinsi. Di tingkat provinsi, walaupun ada lima orang yang nggak ikut waktu itu, tetap bisa menang. Akhirnya, sampai di tingkat nasional... jadi wakil provinsi, kita juara ketiga.
Linzy: Wah keren... yang dulu juara saat itu siapa ?
Adrian: Juara satunya Jawa Timur, juara keduanya dari Maluku kalau nggak salah. Kalau mereka sih, suara udah nggak usah diragukan lagi...
PJ: Terus, setelah jadi juara2 begitu... kelanjutannya gimana ?
Adrian: Yah, kita nggak ada kegiatan setelah itu. Tapi kemudian, pelatih vocal group gw keluar. Katanya, dia sudah nggak ngatur jadwal lagi, karena dia sudah melatih banyak sekolah hampir setiap hari. Belum lagi dia mengajar di les vokal. Jadi padat banget. Terus masuk pelatih baru, dan gw langsung nggak sreg dengan cara melatihnya. Akhirnya gw keluar dari tim vocal group. Total, gw hanya di vocal group sekolah, hanya sampai awal2 kelas dua aja. Setelah itu gw nggak ikut lagi. Tapi meskipun dia sudah keluar, gw beruntung bisa punya waktu untuk mencatat seperti apa caranya ia melatih. Dan itu yang akan gw coba praktekkan pada kalian.
Mezty: Jadi kamu akan melatih kita dengan cara yang pelatih vocal group kamu lakukan itu ?
Adrian: Betul. Beruntung saat gw bongkar2 barang di gudang rumah dua bulan yang lalu, gw temukan buku catatan vocal group gw. Di situ, gw catat semua teknik yang gw pelajari dan cara pelatih gw melatihnya. Sampai lecek gw baca trik2nya... Sebentar ya, saya ambilkan dulu.
Adrian lalu berdiri dan kembali ke belakang meja dan membuka isi tasnya. Selang beberapa saat kemudian, ia mengambil sebuah buku yang lumayan tebal dan covernya keras, seperti buku agenda tahunan. Ia lalu kembali ke depan dan duduk di kursinya.
Adrian: Ini bukunya. Agenda tahun 2006. Gw beli buku ini dulu buat iseng2 aja... buat mencatat ada PR atau nggak selama hari2 gw sekolah. Tapi kemudian gw pakai untuk menulis catatan soal vocal group. Soalnya, gw langsung suka dengan cara melatih pelatih gw. Akhirnya gw catat diam2 semua yang gw dapat dari kelas vocal group. Hasilnya seperti ini. Tapi jujur saja, buku ini nggak pernah gw baca, sejak gw keluar dari tim vocal group. Gw simpan buku ini. Siapa tahu berguna suatu saat nanti. Dan sepertinya sekarang buku ini ada gunanya...
Mezty: Boleh nggak bukunya aku lihat ? Biar kita tahu isinya...
Adrian: Silakan. Buku ini juga perlu kalian baca.
Adrian lalu berdiri dan memberikan bukunya pada Mezty. Anak2 7 Icons yang lain langsung mengerubunginya. Mereka semua juga penasaran terhadap isi "kitab sakti"-nya si Adrian itu. Adrian sendiri juga memberitahukan maksud dari beberapa tulisan yang ia buat. Di dalam buku itu, selain ada beberapa catatan Adrian dari latihan vocal group dan cerita tentang pelatihnya, juga ada beberapa lirik lagu, lengkap dengan chord gitar dan pianonya, beberapa catatan harian, catatan soal PR dan ulangan, lengkap dengan tanggalnya, beberapa gambar2 iseng, dan beberapa catatan nomor handphone, email, dan alamat friendster. Dulu kan tahun 2006 yang ada baru handphone, email, dan friendster... pin BB, facebook, dan twitter mana ada ? Mungkin kalau catatannya tahun 2010 baru ada tuh... Setelah diberi kesempatan selama 15 menit untuk melihat-lihat, Adrian lalu mengambil kembali bukunya dan kembali duduk. Semua anak2 7 Icons yang lain juga kembali ke tempatnya masing2.
Adrian: Sekarang kalian sudah lihat isi catatan saya. Beberapa bagian dari catatan itu nantinya akan gw pakai untuk melatih kalian. Mungkin agak berat, tapi gw akan coba. Kita santai saja, nggak perlu terburu-buru. Tapi kalian semua udah nggak sabar ya, untuk memulai latihan ini ?
7 Icons: Iya dongggg!!!!!!
Adrian: Tenang. Latihannya resmi dimulai besok. Dengan alat ini tentunya. Dulu, pelatih vocal group gw juga pakai alat seperti ini juga untuk mengetes vokal para anggota tim vocal group. Dari situ, dia bisa tahu apa yang ditingkatkan dari setiap anggotanya. Jadi, pertama-tama kita latihan dengan alat ini dulu.
Gc: Soal... latihan dance-nya... kapan ?
Adrian: Latihan dance-nya ? Setelah kita latihan vokal. Besoknya lagi. Di ruangan seberang. Itu sudah gw modifikasi untuk jadi tempat latihan dance buat kalian.
Natly: Oh, jadi kita latihan vokal besok, dan besoknya lagi kita latihan dance. Begitu ?
Adrian: Yap, betul sekali. Dan jadwalnya akan terus seperti ini. Latihan vokal, latihan dance, latihan vokal, latihan dance, seperti itu... tapi saat latihan dance, kita juga akan tetap bernyanyi. Karena kalian kan bernyanyi sambil menari, jadi nanti kita juga akan latihan bagaimana caranya kalian bisa bernyanyi dengan enak, meskipun kalian menari. Di buku ini juga ada kok... soalnya, tim vocal group gw dulu pernah mencoba melakukan hal seperti... Glee. Ada yang pernah nonton ?
Angel: Glee ? Aku pernah nonton kok... maksudnya vocal group-nya nyanyi sambil menari begitu ?
Adrian: Yes. Nanti gw akan latihkan itu juga pada kalian. Minimal, memantapkan saja, jadi kalian bisa lebih kuat bernyanyi sambil menari.
Angel: Oke deh... terus soal waktunya bagaimana ?
Adrian: Waktunya ? Oh, ya. Aku lupa. Waktunya tiga jam. Dari jam kita pulang sekolah, hingga sore. Kita pulang jam dua, berarti kita mulai latihan sekitar jam setengah tiga, tergantung waktu transport-nya, sampai jam setengah enam atau jam enam deh. Tergantung kita sampai di flat ini jam berapa. Oh, ya. Satu hal lagi. Kalau kalian latihan dance, bawa baju ganti ya. Kalian harus pakai baju khusus buat latihan dance.
Vanila: Kalau itu sih sudah pasti... dulu kita juga begitu...
Angel: Iya. Kita pasti bawa kok...
Adrian: Good. Aku cuma mengingatkan aja kok. Well, gw pikir udah cukup deh perkenalannya. Soal yang lain, mungkin kita berjalan aja. Ingat, mulai besok, kita mulai latihannya, dan kita mulai dari alat ini. Gw akan tes vokal kalian, setelah itu... nanti akan gw lihat apa yang harus gw lakukan berikutnya. So, get prepare. Pertemuan hari ini selesai, dan kita langsung pulang.
Adrian lalu berdiri dari kursinya, dan lalu membawa kursinya kembali ke belakang meja. Anak2 7 Icons pun lalu juga berdiri dari kursinya, mengambil tas dan bersiap untuk pulang. Adrian lalu membereskan barang2nya dan lalu ikut bergabung bersama anak2 7 Icons untuk pulang. Adrian hanya mengantongi dasinya, dan membuka satu kancing kemejanya lagi karena panas. Mereka lalu keluar dari ruangan itu, turun tangga kembali ke lantai dasar, dan Adrian mengambil jas, jaket, dan topinya, lalu membukakan pintu buat anak2 7 Icons. Ia lalu mengunci pintunya setelah semuanya keluar. Kemudian mereka bergegas menuju mobil, kali ini Angel yang berada di depan setir, dan beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan flat itu untuk kembali ke rumahnya masing2. Hari perkenalan telah berakhir.
Jadi, anak2 7 Icons sekarang sudah diperkenalkan dengan lingkungan tempat latihan mereka, yaitu sebuah flat bernuansa Inggris klasik yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Kira2, apa yang akan terjadi berikutnya ? Berhasilkah anak2 7 Icons menjalani latihan mereka bersama Adrian ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Untuk bagian 15 ini, akan diperlakukan sama dengan bagian 13 dari cerita ini. Satu cerita yang panjang dibagi menjadi beberapa bagian. Rencananya, untuk cerita latihannya, akan dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian 15, yang nantinya akan menceritakan latihan anak2 7 Icons di hari2 pertama dan pertengahannya, dan bagian 16, yang nantinya akan menceritakan latihan di minggu2 terakhir dan test akhirnya. Soal bagian 16 apakah juga akan dibagi menjadi 16a dan 16b... lihat kondisi dulu deh... Yang pasti bagian 15 harus dibagi, minimal dua bagian. Nanti juga lihat kondisi dulu apakah mau dibagi jadi tiga bagian atau seterusnya. Mengenai cerita cintanya Adrian dan cerita2 lain yang sebelumnya sudah gw rencanakan di awal cerita ini, itu akan menjadi cerita sisipannya. Pokoknya, tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita Fanfiction 7 Icons part 15 ini masih akan berlanjut ke bagian berikutnya. Always remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15b)
Jadi... sekarang kita masuk ke bagian yang penting. Training-nya. Bagaimana sih cara Adrian melatih anak2 7 Icons sehingga perform mereka bisa kembali seperti semula ? Dan apakah training itu akan berhasil ? Itu akan diceritakan sekarang. Selain itu juga... kisah cintanya Adrian dimulai... perkenalannya dengan Wenda membuat Adrian jadi teringat lagi dengan cewek cantik yang selalu masuk dalam mimpinya dulu. Sekarang mereka sudah berkenalan, mungkinkah Adrian mencoba untuk lebih dekat dengannya ? Kita akan mulai bercerita.
Hari itu hari Senin. Satu hari sebelum training-nya dimulai. Saat itu jam istirahat. Adrian sedang bergegas untuk pergi ke suatu tempat di sekolah, sambil membawa sebuah kertas. Langkahnya sangat cepat, seakan ia sedang mengejar kereta yang sudah siap untuk berangkat. Dia mendatangi sebuah ruangan yang letaknya tidak jauh dari ruang ganti tempat ia biasa berganti pakaian kalau ia mau berlatih dengan tim sepakbola. Ruangan itu punya pintu yang ada kacanya, dan ada tulisan "COACH" di depannya. Ya, ia akan mendatangi kantor dari pelatih tim sepakbola SMA Cambridge, Coach Johan. Adrian belum pernah masuk ke dalam kantor ini sebelumnya, jadi ia agak sedikit deg2an ketika ia akan memasuki ruangan itu. Tapi, mengingat ada sesuatu yang harus ia sampaikan, ia harus berani untuk masuk ke dalam ruangan itu. Ia lalu mengetuk pintunya dan lalu ia masuk ke dalam ruangan itu... secara perlahan, setelah Coach Johan mengizinkannya masuk.
Adrian: Selamat siang, Coach.
Coach Johan: Selamat siang juga. Ah, Adrian. Silakan duduk.
Adrian: Terima kasih, Coach.
Adrian lalu duduk di kursi yang ada di depan meja kerja Coach Johan. Pembicaraan pun dimulai.
Coach Johan: Tumben kamu datang ke sini, Adrian. Ada apa ?
Adrian: Ummm... saya datang ke sini... untuk menyampaikan surat ini...
Adrian lalu menaruh surat yang ia bawa di atas meja, lalu memberikannya pada Coach Johan. Ia pun jadi penasaran dengan surat yang Adrian bawa itu.
Coach Johan: Surat apa ini ?
Adrian: Saya harus minta maaf karena saya harus menyampaikan ini, tapi ini memang sudah jadi keputusan saya. Mulai hari ini, saya mengundurkan diri dari tim sepakbola.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Adrian, Coach Johan langsung kaget. Ia tidak menyangka kalau pemain terbaiknya akan keluar secepat ini dari tim. Tapi ia menerima suratnya, dan berusaha untuk tetap tenang. Ia lalu menanyai Adrian.
Coach Johan: Kamu serius ingin keluar dari tim ?
Adrian: Ya, Coach. Ini sudah menjadi keputusan saya.
Coach Johan: Apa kamu tidak menyesal ? Surat ini bisa saja saya sampaikan pada Kepala Sekolah, sebagai laporan bulanan tentang aktivitas tim. Lagipula sebenarnya tim ini masih membutuhkan kamu...
Adrian: Sampaikan saja. Buat saya, semuanya sudah cukup. Saya tidak menyesal.
Coach Johan: Apa yang membuatmu ingin keluar dari tim, Adrian ?
Adrian: Istirahat. Saya pikir semuanya sudah cukup. Saya juga berpikir kalau kontribusi saya dan semua yang saya sudah lakukan untuk tim ini sudah cukup. Saya juga sudah puas dengan apa yang sudah saya berikan pada tim dan sekolah ini. Itu yang membuat saya ingin keluar.
Coach Johan: Oh, begitu... tapi kamu harus tahu bahwa untuk beberapa bulan ini, tim tidak ada pertandingan, tapi latihan akan tetap dilakukan, mulai bulan depan. Apa kamu tidak mau hanya sekedar ikut latihan saja ?
Adrian: Ummm... sepertinya tidak, Coach. Semuanya sudah cukup.
Coach Johan: Baiklah kalau begitu. Kalau begitu, saya akan menyimpan surat ini. Soal kepastian kamu keluar atau tidak, tunggu pengumuman berikutnya. Yang pasti, kamu harus siap dengan segala konsekuensinya. Kalau kau tetap diminta untuk bermain, kau harus siap latihan lagi, kalau kamu diperbolehkan untuk keluar, berarti kau tidak akan bisa kembali lagi. Semua keputusan terakhir ada di tangan saya dan Kepala Sekolah. Apa kau mengerti ?
Adrian: Saya mengerti, Coach.
Coach Johan: Oke. Apa ada hal lain yang ingin kamu sampaikan ?
Adrian: Tidak ada, Coach. Saya harus kembali ke kelas.
Coach Johan: Baiklah kalau begitu. Silakan.
Adrian: Terima kasih, Coach.
Adrian lalu berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan ruangan itu. Misinya untuk menyampaikan surat yang ia tulis sendiri itu sudah selesai. Kini Adrian hanya tinggal menunggu kepastian apakah ia bisa keluar atau tidak dari tim sepakbola SMA Cambridge. Ia lalu kembali ke kelas.
Ternyata berita pengunduran diri Adrian dari tim sepakbola langsung tersebar luas. Itu terjadi setelah ada seseorang yang secara tidak sengaja menguping pembicaraan Adrian dan Coach Johan yang kemudian ia teruskan pada teman2nya yang lain. Tentu saja berita itu membuat Rizky, Andi, dan Rico kaget. Mereka bertiga langsung mencari Adrian dan memintainya keterangan soal berita tersebut.
Rizky: Lu mengundurkan diri dari tim sepakbola ? Serius lu ?
Adrian: Ya, itu sudah keputusan yang gw ambil. Gw minta maaf.
Andi: Lu kenapa mengundurkan diri ? Kita semua masih butuh kamu!
Adrian: Pengen istirahat aja. Gw sudah cukup melakukan hal ini. Lagian, kontribusi gw buat tim sudah cukup... ya, sudah kalau begitu, gw anggap selesai. Gw pikir inilah saat yang tepat untuk mundur.
Rizky: Ya tapi nggak bisa gitu juga dong... bagaimanapun juga, kita semua masih butuh lu... minimal buat pertandingan2 berikutnya... siapa lagi yang bisa ngasih operan bagus selain kamu...
Adrian: Si Rico kan bisa... justru gw juga mundur buat kasih kesempatan pemain lain untuk bisa bermain. Rico, Reza, yang lain... kan masih banyak... kalian main dengan mereka saja...
Rizky: Ya tapi masalahnya tidak ada yang sebagus kamu kalau sudah main bola...
Adrian: Gw yakin pasti ada. Asal kalian mau main dengan kompak saja, semuanya masih bisa berjalan dengan baik kok. Tenang aja.
Rico: Makasih, Adrian... tapi tetap saja gw masih perlu bantuan kamu...
Adrian: Bantuan kan bisa datang dari siapa saja. Nggak harus dari gw... pasti yang lain bisa bantu kamu kok... yang pasti, buat gw semuanya sudah cukup.
Andi: Lama2 gw jadi curiga nih, Adrian... kenapa lu jadi pengen mengundurkan diri... pasti karena anak2 7 Icons kan ? Lu sekarang dekat lagi sama mereka, dan udah nggak dekat lagi sama kita. Benar kan ?
Rizky: Iya, kamu sekarang mau menjauh dari kita gara2 hubungan kamu sama anak2 7 Icons sudah normal lagi kan ? Lu sudah baikan dengan mereka, kan ? Dan karena kamu sudah baikan dengan mereka, kita ditinggal, begitu ? Ya kan ?
Adrian: Ngapain gw ninggalin kalian karena gw udah baikan sama anak2 7 Icons ? Justru salah satu alasan gw mengundurkan diri dari tim, adalah karena gw akan fokus mengurus sesuatu bersama anak2 7 Icons. Alasan ini gw nggak bilang ke Coach Johan.
Rizky: Tuh, kan ? Bener... gara2 anak2 7 Icons lu mengundurkan diri dari tim! Tapi omong2, lu ada urusan apa sama anak2 7 Icons sampai kamu mengundurkan diri dari tim ?
Adrian: Gw akan melatih mereka untuk bisa mengembalikan perform seperti dulu lagi.
Rizky: Hah ? Serius kamu, mau melatih anak2 7 Icons ? Emangnya kamu bisa ?
Adrian: Bisa kok. Anak2 7 Icons sudah terima tawaran dari gw. Gw tinggal melatih mereka saja... bagaimanapun juga, kalian semua rindu 7 Icons tampil lagi, ya kan ?
Rizky: Iya juga sih... ini sudah hampir tiga bulan mereka nggak tampil lagi... tapi, melatih mereka kan bukan hal yang gampang...
Andi: Betul! Selain itu... emangnya kamu mau latih mereka apa ? Mereka kan bisa segalanya...
Adrian: Gw akan latih mereka dari awal lagi. Vokal, dance, semuanya... gw akan kembalikan semua perform anak2 7 Icons seperti semula, seperti sebelum semuanya jadi kacau...
Andi: Oh, begitu... kapan mulai latihannya ?
Adrian: Besok. Setelah sekolah. Gw sudah janjian sama mereka. Tapi masih perkenalan sih... mulai hari Rabu, mereka mulai benar2 latihan. Santai aja sih latihannya... gw cuma mau bikin mereka tampil bagus aja lagi seperti biasa...
Rizky: Oh, gitu... ya sudah deh... good luck, ya... tapi jangan lupakan kita ya...
Andi: Iya, jangan lupain kita... kalau mereka sudah bagus perform-nya, kasih tahu kita ya...
Adrian: Pastinya. Gw janji.
Rico: Tapi kalau ada waktu kosong, kita main bola lagi ya...
Adrian: Pastinya, Rico. Biarpun gw sudah keluar dari tim sepakbola, bukan berarti gw nggak punya waktu untuk main bola bareng kalian. Kalau ada waktu, gw pasti akan main bareng kalian.
Rico: Oke bro, sip... good luck ya...
Adrian: Terima kasih. Eh, kalian bertiga jangan bilang siapa2 ya... ini rahasia... Coach Johan nggak tahu soal alasan gw mundur yang ini... jangan dibocorin ya...
Rizky: Tenang aja... kita bakal tutup mulut soal beginian...
Andi: Gampang sih... nggak bakal kita bicarain soal ini...
Adrian: Bagus kalau begitu. Sekarang gw harus pergi. Nanti kita bicara lagi. Oke ?
Rizky: Oke, Adrian... sukses ya!
Rico: Good luck, bro!
Adrian lalu pergi kembali ke kelas. Kini ia sudah mendapatkan restu dari teman2nya soal niatnya untuk melatih anak2 7 Icons. Sekarang Adrian hanya tinggal melakukan tugasnya dan memulai program training untuk teman2 baiknya itu. Besok, semuanya akan dimulai.
Keesokan harinya, saat jam pulang sekolah, semua anak2 7 Icons berkumpul di parkiran sekolah. Mereka semua sedang menunggu Adrian, yang rencananya akan membawa mereka ke tempat latihan. Sampai saat ini mereka belum tahu di mana mereka akan berlatih. Hanya Adrian yang tahu, sehingga mereka harus menunggu Adrian dulu sebelum berangkat latihan. Tidak lama kemudian, Adrian datang, dengan memakai seragam sekolah, jaket Liverpool warna merah, dan topi Liverpool warna merah. Ia langsung mendatangi anak2 7 Icons dengan penuh rasa senang.
Adrian: Maaf kalian jadi menunggu lama. Kalian semua sudah siap ?
Linzy: Sudah dong... di mana tempat latihannya ?
Adrian: Nanti kalian tahu. Sekarang masuk ke mobil, aku yang mengemudi.
Semua personil 7 Icons lalu masuk ke dalam mobil, dan Adrian yang berada di depan setir mobil. Angel berada di kursi sebelahnya. Sementara yang lain ada di belakang. Setelah semuanya siap, Adrian menjalankan mesinnya dan mobil itu berangkat menuju suatu tempat. Perjalanannya lumayan jauh. Menembus kemacetan Jakarta, melewati jalan2 kecil yang padat, dan juga melewati beberapa jalan protokol di kota Jakarta. Selang 45 menit kemudian, mereka tiba di lokasi. Sebuah bangunan tiga lantai dengan warna merah bata dengan kusen jendela warna putih, pintu utama berwarna coklat dengan kanopi berwarna putih, dan pagar besi berwarna hitam. Di bagian atap terdapat cerobong asap yang berukuran besar. Di kanopi pintu utama terdapat ukiran tanda kerajaan Inggris. Pertanyaannya, di manakah mereka sekarang ?
Adrian: Nah, disinilah tempatnya. Ayo kita keluar. (kemudian membuka pintu mobil)
Angel: Di sini tempatnya ? Kelihatannya asri banget...
Semua anak2 7 Icons lalu keluar dari mobil. Sementara Adrian sudah berada di depan pintu utama, dan sedang membuka pintu rumah itu. Anak2 7 Icons sangat takjub melihat tempat latihan mereka. Mereka tidak percaya kalau tempat ini adalah tempat latihan mereka. Tak lama, Adrian membuka pintunya dan mengajak anak2 7 Icons masuk ke dalam rumah itu. Mereka lalu masuk ke dalamnya.
Di dalam rumah, Adrian membuka jaket, topi, dan jas seragamnya dan menaruhnya di sebuah gantungan khusus. Suasananya cukup sepi, tapi ruangannya sangat indah. Warna temboknya coklat krem, dengan lukisan tergantung di beberapa sudut ruangan. Lampunya berbentuk chandelier dengan ukiran yang sangat indah, selain juga ada lampu2 gantung yang dipasang di dinding ruangan. Ruangannya kuno, tapi menarik. Semuanya bersih dan masih terawat. Anak2 7 Icons jadi semakin penasaran dengan bangunan ini.
PJ: Rumah apaan sih ini ? Kok kesannya kuno banget ya...
Adrian: Selamat datang di flat Inggris saya. Sebenarnya bukan punya saya... tapi untuk satu bulan ini, flat ini jadi milik saya. Saya menyewanya untuk satu bulan.
PJ: Buat apa kamu sewa flat sebesar ini untuk satu bulan ?
Adrian: Buat dijadikan tempat latihan kalian. Kalian semua akan latihan disini.
PJ: Benarkah ? Tempat ini menyeramkan nggak ?
Adrian: Menyeramkan ? Emangnya kenapa ?
PJ: Soalnya... ini kan gedung kuno... takutnya menyeramkan...
Adrian: Nggak kok. Nggak menyeramkan. Flat ini baru dua tahun yang lalu dibangun. Arsiteknya ingin sekali membawa ciri Inggris kuno ke dalam bangunan ini. Makanya kelihatannya kuno...
PJ: Oh, begitu... terus kita semua latihan di mana ?
Adrian: Ikut saya ke atas. Semua tempat latihannya ada di atas.
Adrian lalu naik ke lantai atas. Anak2 7 Icons pun lalu mengikutinya naik ke lantai atas sambil melihat-lihat seperti apa ruangan2 yang ada di flat itu. Tangganya warna coklat, dengan karpet berwarna coklat krem di anak tangganya. Di sebelah kirinya terdapat banyak lukisan dan hiasan dinding. Tangganya memutar, dan di lantai dua terdapat beberapa ruangan yang semuanya masih tertutup rapat. Di lantai kedua inilah tempat mereka akan latihan.
Adrian: Ini lantai keduanya. Kalian akan latihan disini.
Angel: Wah, asyik juga ya, tempatnya... jadi kita latihan di sini ?
Adrian: Ya. Yang di ruangan ini (sambil menunjuk ke ruangan di sebelah kirinya) untuk latihan vokal, dan untuk yang di ruangan ini (sambil menunjuk ke ruangan di sebelah kanannya) untuk latihan dance. Gw sudah siapkan semuanya. Sekarang kita masuk ke ruangan ini.
Adrian lalu mengajak anak2 7 Icons masuk ke dalam ruangan untuk latihan vokal. Di dalam ruangan itu, semua sudah disiapkan. Ada dua buah meja, yang satu berukuran lebih besar dari meja lainnya, dan di meja lainnya terdapat sebuah alat yang cukup canggih. Di belakang meja itu ada sebuah kursi, dan di belakangnya ada sebuah papan tulis berwarna hitam yang masih bersih, lengkap dengan tempat untuk menaruh kapur dan penghapusnya. Di depannya, sekitar beberapa langkah dari situ, ada tujuh kursi, lengkap dengan mejanya (seperti kursi di kampus) yang sudah diatur dengan posisi zig-zag, empat di depan, dan tiga di belakang. Di setiap meja tertulis nama pemilik meja tersebut, yang sudah ditempelkan di masing2 meja. Ini untuk memudahkan anak2 7 Icons untuk menemukan kursi mereka. Adrian sudah mengatur semua jarak dan posisi kursi itu sedemikian rupa, sehingga tidak ada yang terhalang. Di belakang kursi2 itu, ada sebuah sofa, tempat untuk bersantai. Di sebelah kanan ruangan, terdapat beberapa jendela dan di bawahnya terdapat beberapa buah meja dan tempat untuk menaruh barang. Di kirinya, terdapat lemari, cooler minuman, dan beberapa lukisan serta hiasan dinding. Semuanya sudah tertata rapi. Di samping papan tulis, terdapat sebuah peta dunia berukuran besar, dan ada lukisan Kenny Dalglish dan Steven Gerrard tergantung di dinding belakang papan tulis. Itu lukisan koleksi Adrian yang sengaja ditaruh di flat ini daripada dibiarkan tersimpan di gudang. Di bawah lantai terdapat karpet permadani Persia yang sangat bagus dan berukuran sangat besar. Lantainya sendiri lantai kayu, parquet, sama halnya dengan ruangan2 yang lain. Adrian langsung menaruh tasnya di atas meja, mengambil beberapa peralatannya, dan anak2 7 Icons masih melihat-lihat ruangan dan berpikir "kita ini ada di tempat apaan sih ? Sepertinya terlalu bagus untuk sebuah tempat latihan..."
Adrian mengeluarkan beberapa peralatan dari tasnya. Ada sebuah buku catatan, pulpen, dan Blackberry. Adrian lalu duduk dan membuka buku catatannya. Dia mulai menulis sesuatu di buku catatan tersebut. Sesekali ia melihat anak2 7 Icons masih melihat-lihat seperti apa sih ruangan itu... Adrian lalu berhenti menulis sebentar, lalu ia bersandar di kursinya.
Adrian: Silakan duduk. Saya tahu tempat ini cukup berbeda buat kalian... tapi setidaknya, ini cukup memadai buat kalian, ya kan ? Saya dengar kalian dulu pernah latihan vokal di apartemen ya ? Yah, anggap saja ini seperti tempat kalian latihan dulu... maaf kalau misalnya kalian merasa tak nyaman disini.
Adrian lalu membuka kancing tangan kemejanya dan melepas dasinya karena cuacanya sangat panas. Ia lalu menaruh dasinya di atas meja, lalu sedikit menata rambutnya, ia membuatnya sedikit lebih berantakan. Satu per satu anak2 7 Icons kemudian duduk di kursinya masing2, sesuai dengan namanya. Urutannya, kalau dilihat dari posisi Adrian, adalah... (nomor satu di depan, nomor dua di belakang, nomor tiga ke depan, dan seterusnya) Mezty, Linzy, Gc, Angel, PJ, Vanila, dan Natly. Setelah semuanya duduk, Adrian memulai perkenalannya.
Adrian: So, selamat datang, 7 Icons. Terima kasih banget sudah mau terima tawaran gw, dan inilah yang gw kasih kepada kalian. Sebuah program training yang sudah siapkan sejak lama. Gw kasih nama program training ini... Project Icons. Project yang khusus gw buat untuk membangkitkan kembali 7 Icons. Proyek ini gw sudah pikirkan dan gw rencanakan setelah gw melihat perform kalian yang makin lama makin kacau. Tujuan proyek ini adalah... untuk mengembalikan perform kalian kembali... dan mengembalikan status kalian sebagai salah satu girlband yang terkenal di negeri ini. Jujur saja, di luar sana banyak fans2 kalian yang merindukan kalian tampil keren lagi seperti dulu. Masih banyak kok yang senang sama kalian... dan mereka semua... dengan setia menunggu kalian tampil kembali.
PJ: Jadi maksudmu... kita akan di-training lagi dari awal lagi ? Begitu ?
Adrian: Yes. Tapi nggak semuanya. Setidaknya kalian masih punya sisa2 kemampuan kalian... yang mungkin masih bisa kalian latih dan manfaatkan lagi... Gw tahu kok seperti apa kalian tampil... dan gw bilang itu sudah keren banget. Sekarang, kita akan coba buat perform-nya lebih keren lagi. Sebagai permulaan, gw akan mulai dari lagu populer kalian, Playboy. Setelah urusan Playboy selesai, kita lanjutkan dengan yang lain. Kalian semua sudah siap ?
7 Icons: Siaaapppp...
Adrian: Oke, good. Gw jadi seperti guru sekolah nih... sekarang gw akan kasih tahu apa rencana kita buat besok. Hari ini kita perkenalan dulu, besok baru kita mulai. Ini biar kalian bisa adaptasi dulu lah... sekaligus biar kalian bisa lebih siap untuk hari2 berikutnya. Sekarang, lihat di sebelah gw, ini ada sebuah alat...
Adrian lalu berdiri dan mempertunjukkan alat itu pada anak2 7 Icons. Alatnya berwarna krem, ada beberapa tombol di situ, juga ada tempat disc-nya, beberapa kabel di belakang, dan beberapa headset yang terpasang di alat tersebut. Alat apa ini ?
Adrian: Perkenalkan, ini alat perekam suara serbaguna. Saya pinjam dari teman saya, dan ini masih baru, buatan Amerika. Disini ada dua tempat untuk menaruh disc, ada mode rekam, ada mode putar, ada headset, lengkap dengan mikroponnya, dan ada juga pemutar kasetnya. Ini bisa dipakai untuk merekam suara untuk diputar dalam format kaset biasa atau dalam format CD. Cara pakainya seperti ini...
Adrian lalu memasang headset yang ada mikroponnya (ada dua headset di situ, satu headset dengan mikropon untuk merekam, dan satu headset lagi, tanpa mikropon untuk mendengar), kemudian ia mengatur posisi mikroponnya, dan lalu menyalakan alatnya.
Adrian: Nah, sekarang alatnya sudah dinyalakan... ketika alatnya sudah dinyalakan, untuk merekam, ada di tombol sebelah kiri mesin. Semua tombol di kiri mesin ini adalah untuk merekam, dan semua tombol di kanan ini adalah untuk memutar kembali hasil rekaman. Untuk mulai merekam, tekan tombol merah ini. Sekarang saya akan merekam suara saya dengan alat ini.
Adrian lalu menekan tombol merahnya, dan alat itu mulai merekam. Adrian menyanyikan reff dari lagu You'll Never Walk Alone. Suaranya ternyata sangat bagus sehingga anak2 7 Icons merasa kagum dengannya. Mereka baru kali ini mendengar suara Adrian kalau bernyanyi. Setelah selesai bernyanyi, Adrian mematikan tombol rekamnya, dan anak2 7 Icons justru bertepuk tangan. Adrian pun jadi kaget, sambil melepas headset-nya. Ia lalu menaruh headset-nya dan bertanya pada anak2 7 Icons.
Adrian: Kenapa kalian pada tepuk tangan ?
PJ: Habis suara kamu bagus deh...
Angel: Iya... pas banget lho kalau jadi penyanyi... belajar dari mana ?
Adrian: Gw jadi malu... Hahaha... tapi baiklah, untuk menjawab pertanyaan kamu, Angel, gw akan sedikit bercerita soal seperti apa sih masa lalu gw dulu...
Linzy: Wah, beneran ? Ceritain dong, pasti seru deh...
Adrian: Oke, tapi sebentar, ada yang harus gw pindahkan dulu.
Adrian berjalan kembali ke belakang meja dan mengambil kursi Chitose merahnya lalu membawanya ke depan meja, membuatnya posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan anak2 7 Icons. Ia lalu duduk dan mulai bercerita soal masa lalunya.
Adrian: Soal bagaimana gw bisa nyanyi sebagus itu... yang pasti gw belajar. Dulu, aku pernah ikut vocal group waktu SMP. Waktu itu aku masih malu2 untuk bernyanyi. Sama halnya waktu gw gabung ke tim sepakbola, gw ikut gabung karena gw diajak oleh teman. Di Bandung aku dulu punya banyak teman, dan mereka lebih manja, kalau gw bilang. Katanya kalau gw nggak ikut, gw nggak akan diajak nonton bareng pertandingan final Piala FA. Padahal gw udah bayar tiketnya untuk bisa ikut nonton bareng itu. Ya sudahlah, akhirnya gw ikut audisi untuk jadi anggota baru vocal group itu... padahal, mereka nggak tahu, kalau aku agak sedikit malu2 kalau nyanyi, dan kalau dipaksakan, suara gw bakalan jelek. Tapi syukurnya, kepedean gw keluar saat audisi, sehingga gw bisa nyanyi dengan baik dan gw diterima masuk vocal group.
Vanila: Wah hebat... kenapa waktu SMP nggak ikut tim sepakbola aja ?
Adrian: Justru aku menjauhi masuk tim sepakbola. Gw masuk di sekolah yang hampir semua cowok2nya penggila bola dan punya skill main bola yang bagus. Mereka teman saya semua, tapi kalau gw sudah main bola dengan mereka, yang ada gw malu, karena gw secara skill nggak sebagus mereka. Pada saat itu...
PJ: Tapi kenyataannya, kamu main bola bagus banget kok...
Adrian: Kan saya bilang, pada saat itu. Bukan sekarang. Justru aku kemudian berusaha untuk belajar dari teman2ku itu... makanya kemudian gw jadi jago main bola...
PJ: Oh, begitu... berarti kamu dulu pernah main bola dong ?
Adrian: Ya. Hanya sekedar bersenang-senang. Itu pun setelah dipaksa. Biasanya kalau gw diajak main bola yang ada gw minder duluan waktu itu. Karena tadi... teman2 gw skill-nya jauh... jauh di atas gw...
Natly: Oh... jadi gitu ceritanya... terus kelanjutannya yang di vocal group bagaimana ?
Adrian: Nah, soal vocal group. Gw akhirnya diterima jadi anggota vocal group. Nah, gw dan teman2 vocal group gw dapat kehormatan besar karena waktu itu gw dilatih sama pelatih vocal group terbaik di kota Bandung. Gw diajarin segalanya, mulai dari teknik ambil napas, ambil suara, nyanyi suara tinggi, vibrasi, semuanya... gw diajarin untuk bisa membawakan semua jenis lagu sebaik mungkin. Hasilnya, gw jadi lebih berani buat bernyanyi... dan akhirnya gw jadi sering nyanyi ke mana2...
Angel: Nyanyi ke mana2 ? Emangnya kamu pernah nyanyi di mana ?
Adrian: Gereja, kafe, acara sekolah... semua acara yang memang gw bisa ikuti... gw diajak untuk tampil di mana saja... tadinya gw mau menolak, tapi gw nggak enak... soalnya tawarannya lumayan... apalagi kalau di kafe... diam2 gw dibayar...
Angel: Dibayar ? Dibayar berapa ?
Adrian: 500 ribu dan dua kaleng Coca-Cola. Tapi yang terakhir itu permintaan gw. Gw emang suka Coca-Cola sih...
Linzy: Lumayan banget tuh... uangnya buat apa ?
Adrian: Nambah uang jajan dan bayar uang sekolah. Makanya gw bisa beli banyak kaus bola...
Linzy: Oh... hebat banget... terus selama gabung di vocal group, ada prestasinya nggak ?
Adrian: Ada dong. Dulu gw masih ingat, tim gw dulu pernah juara antar rayon, jadi kita diadu sama sekolah2 lain yang ada di wilayah yang sama. Terus lanjut ke tingkat kecamatan, menang lagi. Masuk tingkat kota, menang lagi. Sampai akhirnya jadi wakil kota buat lomba tingkat provinsi. Di tingkat provinsi, walaupun ada lima orang yang nggak ikut waktu itu, tetap bisa menang. Akhirnya, sampai di tingkat nasional... jadi wakil provinsi, kita juara ketiga.
Linzy: Wah keren... yang dulu juara saat itu siapa ?
Adrian: Juara satunya Jawa Timur, juara keduanya dari Maluku kalau nggak salah. Kalau mereka sih, suara udah nggak usah diragukan lagi...
PJ: Terus, setelah jadi juara2 begitu... kelanjutannya gimana ?
Adrian: Yah, kita nggak ada kegiatan setelah itu. Tapi kemudian, pelatih vocal group gw keluar. Katanya, dia sudah nggak ngatur jadwal lagi, karena dia sudah melatih banyak sekolah hampir setiap hari. Belum lagi dia mengajar di les vokal. Jadi padat banget. Terus masuk pelatih baru, dan gw langsung nggak sreg dengan cara melatihnya. Akhirnya gw keluar dari tim vocal group. Total, gw hanya di vocal group sekolah, hanya sampai awal2 kelas dua aja. Setelah itu gw nggak ikut lagi. Tapi meskipun dia sudah keluar, gw beruntung bisa punya waktu untuk mencatat seperti apa caranya ia melatih. Dan itu yang akan gw coba praktekkan pada kalian.
Mezty: Jadi kamu akan melatih kita dengan cara yang pelatih vocal group kamu lakukan itu ?
Adrian: Betul. Beruntung saat gw bongkar2 barang di gudang rumah dua bulan yang lalu, gw temukan buku catatan vocal group gw. Di situ, gw catat semua teknik yang gw pelajari dan cara pelatih gw melatihnya. Sampai lecek gw baca trik2nya... Sebentar ya, saya ambilkan dulu.
Adrian lalu berdiri dan kembali ke belakang meja dan membuka isi tasnya. Selang beberapa saat kemudian, ia mengambil sebuah buku yang lumayan tebal dan covernya keras, seperti buku agenda tahunan. Ia lalu kembali ke depan dan duduk di kursinya.
Adrian: Ini bukunya. Agenda tahun 2006. Gw beli buku ini dulu buat iseng2 aja... buat mencatat ada PR atau nggak selama hari2 gw sekolah. Tapi kemudian gw pakai untuk menulis catatan soal vocal group. Soalnya, gw langsung suka dengan cara melatih pelatih gw. Akhirnya gw catat diam2 semua yang gw dapat dari kelas vocal group. Hasilnya seperti ini. Tapi jujur saja, buku ini nggak pernah gw baca, sejak gw keluar dari tim vocal group. Gw simpan buku ini. Siapa tahu berguna suatu saat nanti. Dan sepertinya sekarang buku ini ada gunanya...
Mezty: Boleh nggak bukunya aku lihat ? Biar kita tahu isinya...
Adrian: Silakan. Buku ini juga perlu kalian baca.
Adrian lalu berdiri dan memberikan bukunya pada Mezty. Anak2 7 Icons yang lain langsung mengerubunginya. Mereka semua juga penasaran terhadap isi "kitab sakti"-nya si Adrian itu. Adrian sendiri juga memberitahukan maksud dari beberapa tulisan yang ia buat. Di dalam buku itu, selain ada beberapa catatan Adrian dari latihan vocal group dan cerita tentang pelatihnya, juga ada beberapa lirik lagu, lengkap dengan chord gitar dan pianonya, beberapa catatan harian, catatan soal PR dan ulangan, lengkap dengan tanggalnya, beberapa gambar2 iseng, dan beberapa catatan nomor handphone, email, dan alamat friendster. Dulu kan tahun 2006 yang ada baru handphone, email, dan friendster... pin BB, facebook, dan twitter mana ada ? Mungkin kalau catatannya tahun 2010 baru ada tuh... Setelah diberi kesempatan selama 15 menit untuk melihat-lihat, Adrian lalu mengambil kembali bukunya dan kembali duduk. Semua anak2 7 Icons yang lain juga kembali ke tempatnya masing2.
Adrian: Sekarang kalian sudah lihat isi catatan saya. Beberapa bagian dari catatan itu nantinya akan gw pakai untuk melatih kalian. Mungkin agak berat, tapi gw akan coba. Kita santai saja, nggak perlu terburu-buru. Tapi kalian semua udah nggak sabar ya, untuk memulai latihan ini ?
7 Icons: Iya dongggg!!!!!!
Adrian: Tenang. Latihannya resmi dimulai besok. Dengan alat ini tentunya. Dulu, pelatih vocal group gw juga pakai alat seperti ini juga untuk mengetes vokal para anggota tim vocal group. Dari situ, dia bisa tahu apa yang ditingkatkan dari setiap anggotanya. Jadi, pertama-tama kita latihan dengan alat ini dulu.
Gc: Soal... latihan dance-nya... kapan ?
Adrian: Latihan dance-nya ? Setelah kita latihan vokal. Besoknya lagi. Di ruangan seberang. Itu sudah gw modifikasi untuk jadi tempat latihan dance buat kalian.
Natly: Oh, jadi kita latihan vokal besok, dan besoknya lagi kita latihan dance. Begitu ?
Adrian: Yap, betul sekali. Dan jadwalnya akan terus seperti ini. Latihan vokal, latihan dance, latihan vokal, latihan dance, seperti itu... tapi saat latihan dance, kita juga akan tetap bernyanyi. Karena kalian kan bernyanyi sambil menari, jadi nanti kita juga akan latihan bagaimana caranya kalian bisa bernyanyi dengan enak, meskipun kalian menari. Di buku ini juga ada kok... soalnya, tim vocal group gw dulu pernah mencoba melakukan hal seperti... Glee. Ada yang pernah nonton ?
Angel: Glee ? Aku pernah nonton kok... maksudnya vocal group-nya nyanyi sambil menari begitu ?
Adrian: Yes. Nanti gw akan latihkan itu juga pada kalian. Minimal, memantapkan saja, jadi kalian bisa lebih kuat bernyanyi sambil menari.
Angel: Oke deh... terus soal waktunya bagaimana ?
Adrian: Waktunya ? Oh, ya. Aku lupa. Waktunya tiga jam. Dari jam kita pulang sekolah, hingga sore. Kita pulang jam dua, berarti kita mulai latihan sekitar jam setengah tiga, tergantung waktu transport-nya, sampai jam setengah enam atau jam enam deh. Tergantung kita sampai di flat ini jam berapa. Oh, ya. Satu hal lagi. Kalau kalian latihan dance, bawa baju ganti ya. Kalian harus pakai baju khusus buat latihan dance.
Vanila: Kalau itu sih sudah pasti... dulu kita juga begitu...
Angel: Iya. Kita pasti bawa kok...
Adrian: Good. Aku cuma mengingatkan aja kok. Well, gw pikir udah cukup deh perkenalannya. Soal yang lain, mungkin kita berjalan aja. Ingat, mulai besok, kita mulai latihannya, dan kita mulai dari alat ini. Gw akan tes vokal kalian, setelah itu... nanti akan gw lihat apa yang harus gw lakukan berikutnya. So, get prepare. Pertemuan hari ini selesai, dan kita langsung pulang.
Adrian lalu berdiri dari kursinya, dan lalu membawa kursinya kembali ke belakang meja. Anak2 7 Icons pun lalu juga berdiri dari kursinya, mengambil tas dan bersiap untuk pulang. Adrian lalu membereskan barang2nya dan lalu ikut bergabung bersama anak2 7 Icons untuk pulang. Adrian hanya mengantongi dasinya, dan membuka satu kancing kemejanya lagi karena panas. Mereka lalu keluar dari ruangan itu, turun tangga kembali ke lantai dasar, dan Adrian mengambil jas, jaket, dan topinya, lalu membukakan pintu buat anak2 7 Icons. Ia lalu mengunci pintunya setelah semuanya keluar. Kemudian mereka bergegas menuju mobil, kali ini Angel yang berada di depan setir, dan beberapa saat kemudian, mereka meninggalkan flat itu untuk kembali ke rumahnya masing2. Hari perkenalan telah berakhir.
Jadi, anak2 7 Icons sekarang sudah diperkenalkan dengan lingkungan tempat latihan mereka, yaitu sebuah flat bernuansa Inggris klasik yang terletak di pinggiran kota Jakarta. Kira2, apa yang akan terjadi berikutnya ? Berhasilkah anak2 7 Icons menjalani latihan mereka bersama Adrian ? Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Untuk bagian 15 ini, akan diperlakukan sama dengan bagian 13 dari cerita ini. Satu cerita yang panjang dibagi menjadi beberapa bagian. Rencananya, untuk cerita latihannya, akan dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian 15, yang nantinya akan menceritakan latihan anak2 7 Icons di hari2 pertama dan pertengahannya, dan bagian 16, yang nantinya akan menceritakan latihan di minggu2 terakhir dan test akhirnya. Soal bagian 16 apakah juga akan dibagi menjadi 16a dan 16b... lihat kondisi dulu deh... Yang pasti bagian 15 harus dibagi, minimal dua bagian. Nanti juga lihat kondisi dulu apakah mau dibagi jadi tiga bagian atau seterusnya. Mengenai cerita cintanya Adrian dan cerita2 lain yang sebelumnya sudah gw rencanakan di awal cerita ini, itu akan menjadi cerita sisipannya. Pokoknya, tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita Fanfiction 7 Icons part 15 ini masih akan berlanjut ke bagian berikutnya. Always remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 15b)
Jumat, 05 Agustus 2011
Lirik Lagu: 7 ICONS ~ PLAYBOY (vocal parts)
Saya sudah pernah posting lirik lagu ini. Tapi ada yang berbeda untuk posting gw yang sekarang. Itu karena gw akan kasih tahu pembagian vokal pada lagu ini. Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah gambar dimana di situ tertulis lirik lagu Playboy dan pembagian vokalnya. Buat yang ingin siapa yang menyanyikan verse 1, verse 2, atau bahkan reff dari lagu ini, silakan lihat gambar ini.
Klik di fotonya kalau mau lihat lebih jelas. Oke, happy enjoy!
Klik di fotonya kalau mau lihat lebih jelas. Oke, happy enjoy!
Langganan:
Postingan (Atom)



