Senin, 11 Juli 2011

FANFICTION 7 ICONS (part 8)

Remember, it's just a Fanfiction.
Auditorium utama WorldStudio sudah penuh, banyak orang yang sudah hadir di sana dan sudah menikmati semua penampilan para artis yang tampil di sana, dan sekarang karena masih istirahat, suasananya menjadi sangat lengang. Tapi di ruang kontrol, mereka semua sudah bersiap untuk membuat tata panggung untuk penampilan 7 Icons nanti. Tirai panggung auditorium masih tertutup. Tapi kemudian, muncul perintah dari Stage Director untuk membuka tirai auditorium, tapi panggung dibiarkan gelap. Tirai pun lalu dibuka, dan semua penonton sudah tahu maksud dari pembukaan tirai ini. Akan ada penyanyi lain yang tampil. Tapi mereka tidak tahu siapa yang akan tampil selanjutnya. Itu karena memang tidak ada pemberitahuan apapun di auditorium. Namun, kemudian secara tiba2 muncul bunyi ini, yang sepertinya semua orang di auditorium itu tahu.
(music) P-L-A-Y-B-O-Y-B-O-Y...
Mendengar kata itu, semua penonton langsung tahu siapa yang tampil, dan langsung berteriak-teriak tanpa dikomando. Banyak yang berdiri, kamera pun disiapkan, dan poster pun mulai dibentangkan. Yap, 7 Icons pun akhirnya tampil, setelah lama menunggu hingga beberapa jam.
Di Jakarta, Adrian yang menyadari 7 Icons sudah tampil langsung memanggil ayahnya yang sedang berada di kamar, mengambil majalah.
Adrian: Ayah! 7 Icons tampil! Cepat ke sini!
Mendengar perkataan anaknya itu, Harry pun langsung menjatuhkan majalah yang sudah ia ambil dan langsung kembali ke ruang TV.
Harry: Sudah tampil ? Wah, asyik... Ayo nonton, Adrian.
Harry lalu duduk di sofa, sedangkan Adrian berdiri di belakang sofa dengan tangannya ia letakkan di atas sandaran sofa. Keduanya pun dengan serius menonton perform 7 Icons lewat TV.
Kembali lagi ke Bandung...
PJ: (singing) Lihat yang mulus belok... lihat yang bening belok... ampe yang disebelah nggak ditengok...
Gc: (singing) Cakep dikit deketin... bohay dikit jabanin... hatiku kamu terus yang mainin...
7 Icons: (singing) Apa... sekarang... cowok pada jago akting ? Apa... ku salah... bila andalkan cinta...
Para penonton pun makin menggila, banyak yang sampai berdiri di atas kursi, ada yang berada di luar tribun menari-nari mengikuti 7 Icons, ada punya yang sekedar berjoget... wah semuanya udah pada gila pokoknya... semuanya heboh menikmati penampilan 7 Icons. Di kursi VVIP, Wakil Presiden berbicara pada salah seorang bawahannya, sambil berbisik. Tidak bisa terdengar pembicaraan mereka, tapi kemudian bawahannya memberi isyarat jempol sambil melihat ke arah panggung. Bisa diduga kalau sepertinya Wakil Presiden sedang membicarakan 7 Icons.
7 Icons: (singing) Nggak gak gak kuat, nggak gak gak kuat... aku nggak kuat, sama Playboy Playboy... Nggak gak gak level, nggak gak gak level... aku nggak level, sama cowok gampangan... (dance pose)
Tapi ternyata, kehebohan itu hanya berlangsung sebentar saja. Karena ketika Angel bersiap untuk nyanyi, secara tiba-tiba... WorldStudio mati lampu.
Penonton: Waaaaaahhh... wuuuuuuuuu...
WorldStudio mati lampu ? Serius. Semuanya mati. Tidak hanya di auditorium, di wahananya juga mati lampu. Akibatnya, timbul kepanikan dari orang2 yang masih berada di dalam wahana tersebut. Kekacauan juga terjadi, dan itu membuat pihak pengelola menjadi kebingungan dan bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. 7 Icons pun juga menjadi kaget. Mereka nggak nyangka kalau perform mereka bakalan diwarnai dengan insiden mati lampu seperti ini. Angel langsung menenangkan semua personil 7 Icons lainnya yang juga ikutan panik. Dicky kemudian muncul dari backstage sambil membawa senter yang ia pinjam dari salah satu Stage Crew.
Dicky: Pada nggak apa2 kan ?
Angel: Nggak apa2 kok... cuma Gc tadi sempat panik.
Dicky: Sudah ditenangin ?
Angel: Udah kok... sekarang Mezty sama Linzy yang urusin.
Dicky: Bagus deh... kok bisa jadi begini ya ? Ketahuan listriknya ngedrop nih...
Angel: Mungkin kurang daya. Tenaganya over.
Dicky: Bisa jadi. Wah parah nih...
PJ: Duh, padahal lagi seru-serunya nih... penonton udah pada heboh melihat kita...
Dicky: Iya juga sih... duh, mudah2an perform kalian bisa diulang ya...
Angel: Iya, pengen banget diulang... soalnya aku belum nyanyi...
PJ: Yang lain juga belum nyanyi... Vanila sama Natly kan belum...
Angel: Linzy juga... penonton kan banyak yang heboh kalau lihat dia...
Dicky: Bener banget. Mudah2an diulang. Itu juga keinginan saya... Nanti deh, saya ngomong dengan Stage Director-nya dulu...
Kembali ke rumah Adrian...
Harry: Wah, kok jadi gelap ya ?
Adrian: Gelap gimana maksud Ayah ?
Harry: Tuh, TV-nya jadi gelap... apa mungkin 7 Icons punya tata lighting sendiri ya ?
Adrian: Bisa jadi sih, Yah... nggak nyangka banget pas 7 Icons tampil mau masuk bagian keduanya, malah tahu2 lampunya mati... mungkin Ayah benar, tata lighting-nya beda sendiri kali ya ?
Harry: Ya... tapi kok mati lampunya lama ya ? Apa jangan2 beneran lagi ?
Adrian: Maksudnya, Yah ?
Harry: Jangan2 di WorldStudio lagi mati lampu beneran nih... ada2 saja acara pembukaan ini...
Adrian: Wah, kalau itu sih namanya gawat tingkat 13 tuh, Yah... bisa bikin malu...
Harry: Ya, memang... tapi kita kan nggak tahu apa yang terjadi... Ayah kan hanya menduga... mungkin nanti Ayah akan hubungi teman Ayah yang ada di Bandung dulu ya... biar semuanya lebih jelas...
Adrian: Ya, itu lebih baik...
Kembali lagi ke Bandung... WorldStudio masih gelap. Terutama di auditorium-nya. Semua orang masih menunggu kapan lampunya menyala lagi. Begitupun juga dengan anak2 7 Icons... Mereka masih menunggu kapan mereka akan tampil lagi, dan apakah penampilan mereka akan diulang.  Sementara itu, Dicky sedang berbicara pada Stage Director soal bagaimana susunan acara setelah listrik menyala kembali. Mereka berdua berbicara hanya dengan penerangan senter. Di kursi VVIP, Wakil Presiden tetap duduk di tempatnya, namun kali ini pengawal yang mengawalnya lebih banyak. Ini untuk mencegah serangan terhadap Wakil Presiden pada saat listrik padam ini. Kalau tadi ada dua pengawal, kini ada lima pengawal. Sementara itu, pihak pengelola sedang berusaha untuk memperbaiki generator listrik yang ada di ruang kendali listrik. Hingga kini, generator itu masih belum selesai diperbaiki dan pihak pengelola mulai khawatir. Karena listrik padam ini masih terus terjadi, akhirnya semua TV menyiarkan iklan yang sejak tadi tidak ada berhentinya, untuk menutupi apa yang sedang terjadi di WorldStudio. Jelas, semua orang hadir di WorldStudio tidak menyangka kalau di acara pembukaannya, tempat ini akan mengalami kejadian seperti ini. Banyak orang yang juga kemudian meninggalkan WorldStudio dan menunggu di luar, karena di luar masih terang, atau bahkan ada yang langsung pulang dan menunda kunjungan mereka ke WorldStudio. Namun beberapa menit kemudian, listrik pun akhirnya menyala kembali, dan itu membuat semua pengunjung lega. Begitupun juga yang ada di auditorium, termasuk 7 Icons yang menunggu di backstage. Para penonton pun kembali ke tempat duduknya, dan sekarang tinggal menunggu, apakah 7 Icons boleh tampil lagi atau tidak. Inilah yang membuat semua personil 7 Icons masih belum bisa lega. Apakah penampilan mereka diulang, atau langsung dilanjutkan dan mereka tidak tampil sama sekali. Tapi, kemudian Dicky datang dan memberitahukan sesuatu untuk 7 Icons.
Linzy: Bagaimana ? Kita tampil lagi nggak ?
Dicky: (terdiam sebentar) Ya, kita tampil lagi.
7 Icons: Horeeeee... perform kita diulang! Yeaaay!
Dicky: Tapi ini hanya satu kali. Dan kita masih harus menunggu 15 menit lagi. Soalnya semua TV masih iklan. Mereka harus diberitahu dulu kalau acaranya akan dilanjutkan.
Angel: Ya, sudah... kalau begitu, sekarang kita siap2 lagi!
Mezty: Oke, ayo kita siap2 lagi...
Natly: Yes! Tampil lagi... tampil lagi...
Anak2 7 Icons pun kembali ke ruang ganti mereka dan mulai bersiap-siap. Sementara itu, semua penonton sudah kembali ke auditorium dan kembali menempati tempat duduknya masing2. Saat itu sudah jam 10 lewat 15 menit. Semua acara TV pun dikembalikan dan siaran didahului dengan permintaan maaf dari pihak pengelola yang disampaikan langsung oleh pemilik franchise WorldStudio Indonesia.
Di ruang ganti, 7 Icons sudah siap untuk tampil kedua kalinya. Mereka sudah siap untuk menyelesaikan misi mereka yang sebelumnya belum sempat selesai. Semuanya akan dimulai dari awal lagi. Jadi, ini juga kesempatan untuk 7 Icons memperbaiki penampilannya.
Angel: Ini saatnya. Kita mulai dari awal lagi. Ini kesempatan kedua buat kita, dan mudah2an nggak kacau lagi, dan kita bisa lebih baik dari sebelumnya! Oke ?
7 Icons all: Oke!!!!!!
Angel: Come on, let's hit the stage!
PJ: Let's go girls!
7 Icons keluar lagi dari ruang gantinya dan kali ini mereka semua siap tempur. Mereka akan kembali melakukan apa yang sebelumnya mereka lakukan namun terpotong gara2 mati lampu. Kali ini, mereka tidak akan dapat gangguan lagi, berdasarkan jaminan dari Stage Director. Tapi mereka nggak tahu, kalau masalah itu sebenarnya masih ada... dan sebentar lagi akan menjadi sebuah masalah besar yang akan membuat penampilan mereka ini menjadi penampilan yang akan selalu diingat oleh anak2 7 Icons (kita akan masuk ke bagian masalah dalam cerita ini).
Di bagian audio control, semuanya sudah siap. Kesannya sih nggak ada masalah. Tapi sebetulnya ada masalah. Di bagian yang paling sentral malah. Yaitu di voice controller. Alat itu yang dapat memungkinkan suara bisa keluar dari mike setiap penyanyi yang tampil. Ada kerusakan dalam sistemnya yang terjadi gara2 mati lampu tadi. Alat ini sangat sensitif dan bisa beresiko rusak apabila ada gangguan dalam sistemnya. Sistem yang rusak bisa mengakibatkan efek domino yang berujung pada... tersendatnya output suara yang dikeluarkan dari mulut penyanyi. Suara penyanyi bisa timbul-tenggelam, kadang terdengar kadang tidak, dan kalau dibiarkan, sistem yang rusak itu bisa merusak semua bagian2 yang ada dalam alat tersebut, dan ujung2nya... alat itu rusak, dan mikropon menjadi tidak berguna lagi. Kalau alatnya sudah rusak, mau ngomong atau nyanyi apapun nggak akan kedengaran, dan potensi untuk merusak penampilan seseorang bisa terbuka lebar. Itu yang tidak disadari oleh semuanya.
Kembali ke acara. Sekarang 7 Icons sudah berada di panggung dan tirai ada dalam keadaan tertutup. Semua prosedur dimulai dari awal lagi. Mereka tidak merasakan apapun yang aneh atau ganjil dalam diri mereka, atau sekitar mereka. Mereka kini hanya konsentrasi untuk penampilan mereka dan tidak memikirkan apapun. Tidak lama, tirai auditorium pun terbuka... dan hanya tinggal beberapa detik sebelum mereka tampil lagi. Ruang kendali audio sudah siap dan mereka menyalakan kembali voice controller-nya. Sound system sudah siap, lighting dan camera sudah siap. Sebentar lagi, 7 Icons akan tampil.
Di rumah Adrian...
Harry: Wah, sepertinya sudah mulai lagi nih...
Adrian: Iya tuh, Yah. Cuma kok, tenang-tenang aja ya ?
Harry: Mungkin sebentar lagi ada yang tampil kok...
Adrian: Bisa jadi. Dari tadi iklan nggak berhenti2 terus...
Tidak lama kemudian...
(music) P-L-A-Y-B-O-Y-B-O-Y...
Harry: Wah, ternyata 7 Icons tampil lagi... hebat, hebat... perform mereka diulang!
Adrian: Ya, jelaslah diulang... soalnya tadi benar di WorldStudio itu mati lampu...
Harry: Hah ? Serius kamu ?
Adrian: Serius Yah... dapat dari teman di Twitter... sampai jadi Trending Topic lagi Yah...
Harry: Wah, berarti beneran gawat tingkat 13 dong... hahahahaha...
Adrian: Hahahahaha... banget, Yah...
Kembali ke Bandung. Mengetahui 7 Icons tampil... semua penonton kembali heboh dan bersemangat... seakan-akan mereka lupa kalau sebelumnya ada insiden mati lampu. Tapi masalah yang sebenarnya... akan segera muncul dalam waktu dekat... karena sekarang, di ruang audio controller, alat yang tadi saya jelaskan, voice controller, sudah mulai bermasalah. Tapi masalah tidak hanya sampai di situ saja. Justru sekarang masalah itu sudah merambat ke alat pemutar CD-nya, dan juga semua alat2 yang ada di situ. Semuanya saling terintegrasi satu sama lain, jadi kalau yang satu kena gangguan, yang lain juga akan kena. Dan kini efeknya terasa ke penampilan 7 Icons... dengar saja penampilan mereka.
PJ: (singing) (suara hilang) belok... (suara hilang) belok... ampe (suara hilang) ditengok...
Gc: (singing) cakep dikit (suara hilang) bohay dikit (suara hilang) hatiku kamu terus yang mainin...
7 Icons: (singing) (suara hilang) cowok pada jago akting ? Apa... ku salah... bila (suara hilang)
Masalah itu kemudian makin membesar... semakin banyak suara yang hilang. Mengetahui hal itu, orang2 di audio controller langsung berusaha untuk memperbaikinya. Namun, justru itu makin merusak penampilan 7 Icons daripada memperbaikinya. Masalah sudah terlanjur membesar. Bahkan kini musiknya juga ikut terpengaruh... musiknya jadi kacau, kadang terdengar, kadang tidak. Jelas semakin merusak.
7 Icons: (singing) nggak gak gak kuat, nggak gak (suara hilang) aku nggak kuat (suara hilang) Playboy... (suara hilang) gak level... nggak gak gak level... (suara hilang) sama cowok (suara hilang)
Ketika giliran Angel yang nyanyi, kondisi makin parah. Suara Angel bener2 nggak terdengar sama sekali. Ketika Vanila dan Natly nyanyi... masih syukur suara keduanya masih bisa kedengeran. Tapi setengah-setengah juga... dan nggak jelas... kemudian ketika kemudian masuk bridge, musik dan suara penyanyinya sudah sama ancurnya. Suaranya terpotong-potong... membuat banyak penonton yang tadinya heboh jadi mulai kebingungan. Meskipun begitu, 7 Icons tetap berusaha untuk bernyanyi... meskipun suaranya terputus-putus... dan sementara itu, orang2 di audio controller juga sedang berusaha untuk memperbaiki masalah yang terjadi... namun sialnya... secara tidak sengaja, salah seorang petugas di ruang audio controller membuat kesalahan... ia terlalu kuat menarik kabel penghubung antara pemutar CD dan voice controller itu hingga putus dan menimbulkan percikan api kecil. Sialnya saat itu, semua personil 7 Icons sudah bersiap untuk dance, mereka sudah membungkuk, dan Angel sudah berpose dan hanya tinggal memberi komando untuk dance... akibatnya, musik yang keluar dari pemutar CD pun berhenti total, dan penampilan 7 Icons pun... berakhir lebih cepat. Orang2 di TV controller yang mengira penampilan 7 Icons sudah berakhir langsung memerintahkan untuk memutar iklan. It's done. Penampilan 7 Icons (dinyatakan) selesai.
Sementara itu, di rumah Adrian...
Harry: Lho, hanya segitu saja ? Langsung iklan ? Cepat sekali.
Adrian: Ya, sepertinya begitu. Memangnya kenapa, Yah ?
Harry: Sepertinya... penampilan 7 Icons kali ini terlalu singkat...
Adrian: Memangnya seharusnya masih lanjut ya, Yah ?
Harry: Ya. Soalnya, kalau saya perhatikan, sepertinya si Angel belum menari, deh...
Adrian: Masa ? Emangnya dia pasti akan menari ?
Harry: Yang saya ingat, kalau mereka sudah pose seperti itu, itu berarti sebentar lagi mereka akan menari... dan gadis yang ditengah itu, Angel... dia seharusnya menari saat itu.
Adrian: Ayah tahu banget sih soal penampilannya ?
Harry: Itu kan karena aku pernah melihatnya sebelumnya... Aneh. Pokoknya penampilan mereka hari ini tidak biasa. Pasti ada sesuatu yang aneh. Entah apa itu...
Adrian: Ah, mungkin saja mereka sengaja memperpendeknya mungkin ? Kan tadi sempat kena mati lampu... mungkin mereka hanya menyanyi sepotong bagian saja, lalu setelah mereka menganggapnya selesai, mereka langsung meninggalkan panggung ? Bisa saja, kan ?
Harry: Tidak mungkin. Penampilan mereka diulang dari awal.
Adrian: Diulang dari awal ? Berarti... ada kemungkinan tak selesai dong, Yah ?
Harry: Sepertinya demikian. Saya harus hubungi teman Ayah dulu. Sepertinya ada yang tak beres!
Harry lalu beranjak dari kursinya dan pergi ke kamarnya. Ia meninggalkan Adrian dan siaran acara pembukaan WorldStudio yang sebenarnya masih berlanjut.
Adrian: Ayah ? Ini bagaimana acaranya ?
Harry: (dari jauh) Mereka sudah tampil, aku sudah tidak mau nonton lagi! Kalau masih mau nonton, nonton saja sendiri!
Adrian pun kemudian menjadi heran melihat ayahnya. Tak lama, ia mengambil remote TV dan memindahkannya ke siaran TV luar negeri (maklum, di rumah Adrian ada parabolanya, sehingga ia bisa menonton siaran TV luar negeri) dan ia pun menonton film.
Sementara itu, kembali ke Bandung...
Gerakan Angel tertahan. Ia hanya terpaku, tangannya mulai gemetar, dan para penonton hanya terdiam. Para personil 7 Icons yang lain hanya saling melihat dan kebingungan satu sama lain. Wakil Presiden dan istrinya yang menganggap 7 Icons sudah selesai tampil langsung berdiri dan pergi meninggalkan tribun VVIP secara mendadak, membuat orang2 yang ada di sekitarnya kaget dan langsung berdiri. Para penonton juga kebingungan... begitupun juga para Iconia yang berada di tribun atas. Mereka juga kebingungan. Tak lama, seseorang pun berteriak, dan disusul juga dengan penonton lainnya.
Penonton #1: Woy, lanjut dong!!!!!
Penonton #2: Ada apa ini ? Kok berhenti sih ? Lanjut dong!!!!!!
Penonton #3: Iya, lanjut dong!!!!!
Penonton #4: Kalau udahan, turun dong!!!!! Jangan cuma matung gitu aja!!!!
dan bla-bla-bla. Angel pun kemudian menurunkan tangannya dan ia mulai merasakan kalau ada yang aneh dalam penampilannya, dan ia lalu melihat ke backstage. Di sana, managernya juga nggak kalah bingungnya. Ia memberi gesture tubuh yang sepertinya bermakna kalau ia tidak tahu apa yang terjadi. Para personil 7 Icons yang lain kemudian berdiri dan melihat satu sama lain. Mereka bertanya-tanya dalam hatinya... apakah ini semua sudah selesai... atau belum ? Di saat yang sama, penonton juga berteriak-teriak meminta 7 Icons turun dari panggung dan beberapa penonton lainnya juga sudah ada yang keluar dari auditorium. Tak lama, ada seseorang yang melempar gelas Coca-Cola plastik (seperti yang ada di McDonalds) ke panggung, dan hampir mengenai PJ. Hanya meleset beberapa sentimeter saja. Melihat itu, PJ langsung panik. Setelah itu, muncul lagi serangan lemparan dari penonton lain, dan kali ini hampir mengenai Natly. Semakin lama, semakin banyak lemparan, dan itu membuat 7 Icons tidak punya pilihan lain kecuali lari dari panggung. Petugas keamanan pun langsung naik ke panggung untuk menetralisir keadaan yang sudah terlanjur kacau.
Di ruang audio controller, situasi juga nggak kalah kacau karena ada kabel yang terpotong di dalam ruangan itu. Orang2 yang ada di sana saling menyalahkan. Ada yang menyalahkan pemutus kabelnya, ada yang menyalahkan orang yang menyuruh orang itu untuk mengoprek-oprek kabelnya... dan lain sebagainya. Yang pasti, tidak hanya kabel putus itu yang jadi masalah di dalam ruangan itu. Semua alat-alat yang ada di ruangan itu rusak dan tidak bisa dipakai lagi. Semua terjadi karena rusaknya sistem yang ada didalamnya. Dan kini, untuk sementara auditorium utama tidak bisa dipakai karena kerusakan pada sistem audio.
Sementara itu, setelah mereka menjalani perform yang mungkin paling nggak enak dalam karir mereka, 7 Icons pun kembali ke ruang ganti. Raut wajah mereka berubah, yang tadinya sumringah dan penuh semangat, kini menjadi suram, penuh dengan rasa malu, kecewa, dan bersalah yang sangat besar. Perasaan mereka pun juga campur-aduk. Mulai dari malu, kecewa, kesal, marah, merasa bersalah, gagal, dan lain sebagainya. Mereka nggak menyangka kalau penampilan mereka, yang sudah mereka persiapkan jauh-jauh hari, bahkan ketika mereka masih berada di sekolah, berakhir anti-klimaks dan kacau-balau penuh kegalauan seperti ini. Rasanya, mereka sudah gagal, dan perasaan mereka sudah hancur dalam waktu sekejap. Mereka kini hanya bisa duduk di kursi, beristirahat, dan mereka nggak tahu apa lagi yang kini mereka harus lakukan. Semuanya sudah berakhir. Dalam hati mereka, mereka merasa kalau mereka telah menyia-yiakan peluang. Kesempatan untuk memperbaiki penampilan mereka yang sempat terpotong karena mati lampu, justru berakhir kacau dan di luar dugaan mereka. Mereka semuanya sedih, bahkan Vanila sampai menangis tak lama setelah ia duduk di kursinya. Gc juga menangis, dan itu membuat semua personil 7 Icons yang lain harus menghibur mereka berdua. Sang manager Dicky pun juga tidak bisa menutupi kekecewaannya. Sama, ia juga tidak menyangka kalau penampilan 7 Icons bakalan kacau seperti ini. Padahal malam sebelumnya, ia masih bertepuk tangan melihat penampilan mereka ketika latihan. Sekarang semua keadaannya berbalik 180 derajat dan berakhir tidak mengenakkan. Meskipun begitu, ia berusaha untuk menyemangati para personil 7 Icons agar mereka semua bisa kembali ke perform terbaiknya, dan bisa tampil lebih baik dari sebelumnya.
Selang beberapa menit kemudian, 7 Icons keluar kembali dari ruang ganti, namun kali ini untuk pulang. Karena pekerjaan mereka malam itu sudah selesai, 7 Icons diperbolehkan untuk pulang lebih dulu. Mereka semua sudah berganti pakaian, mereka memakai pakaian yang lebih santai, dengan tambahan jaket berwarna merah yang memiliki penutup kepala. Semua personil 7 Icons memakai jaket itu dan mereka menutupi diri mereka dengan penutup kepala itu, khawatir kalau ada orang yang meneror mereka seperti kejadian di panggung tadi. Semua personil 7 Icons berpikir kalau sekarang semua pengunjung sudah tahu apa yang terjadi di auditorium utama dan mereka kini akan mencari para personil 7 Icons. Khawatir itu akan terjadi, maka mereka memutuskan untuk menutupi diri mereka. Setelah semua sudah siap, mereka bertujuh, ditambah Dicky, meninggalkan auditorium utama dan memasuki dunia wahana WorldStudio untuk mencari pintu keluar. Sepanjang perjalanan, mereka berusaha keras untuk menutupi diri mereka, dengan pengawalan Dicky yang menjadi pemandu sekaligus pembuka jalan untuk mereka. Sebisa mungkin, mereka menghindari diri untuk bertemu atau berpapasan dengan orang lain dalam jarak dekat. Bahkan terhadap para Iconia sekalipun, yang sedang berfoto-foto di depan panggung utama. Mereka benar2 sedang tidak mau dilihat orang lain.
Beberapa saat kemudian, 7 Icons dan Dicky akhirnya sampai di dekat pintu keluar. Namun, sialnya... sudah ada banyak wartawan menunggu di sana. Mulai dari wartawan berita biasa, wartawan infotainment, wartawan radio, wartawan koran, wartawan media online, dan sebagainya. Jumlahnya ada sekitar ratusan orang. Ada yang membawa kamera digital, kamera rekam, kamera bercorong bertipe Canon EOS Mark II atau sejenisnya, dan lain sebagainya. Bawaan mereka banyak dan bervariasi. Ketika mengetahui kalau yang keluar dari WorldStudio adalah 7 Icons, langsung tanpa dikomando semua wartawan yang mendekati dan mengerubungi mereka. Hujan pertanyaan pun langsung dilayangkan pada mereka, yang sudah mati2an berusaha untuk menutupi diri mereka. Tidak hanya pertanyaan, berondongan kamera rekam, tape recorder, microphone, hingga sinar lampu blitz kamera wartawan pun juga ikut menghujani mereka. Mereka bahkan juga mengikuti kemana 7 Icons dan managernya pergi, hingga ada beberapa wartawan yang terjatuh karena saling berdesakan. Meskipun hujan pertanyaan menghampiri mereka, tapi tidak ada satupun personil 7 Icons ataupun managernya yang mau menjawab. Mereka langsung pergi menuju mobil mereka yang terparkir di belakang WorldStudio. Sialnya, masih ada beberapa wartawan yang mengejar mereka hingga ke tempat parkir. Itu yang kemudian membuat Dicky mengambil tindakan. Ia memanggil satpam dan meminta agar para wartawan itu dijauhkan dari 7 Icons. Satpam pun kemudian menjauhkan para wartawan, dan pada saat itu juga, para personil 7 Icons langsung masuk ke dalam mobil. Setelah semuanya masuk, Dicky langsung masuk ke mobil, dan menjalankan mesin mobil. Ia lalu membawa 7 Icons keluar meninggalkan WorldStudio dan kembali ke hotel tempat mereka menginap.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satupun personil 7 Icons yang berbicara. Semuanya diam seribu bahasa. Begitupun juga dengan Dicky. Ia hanya fokus melihat jalan yang ada di depannya. Di balik penutup kepala yang mereka pakai, semua personil 7 Icons memasang wajah yang sedih. Ada beberapa diantara mereka yang bahkan sampai mengeluarkan air matanya. Semuanya sedang sedih. Semuanya berduka, dan hanya mereka saja yang tahu bagaimana cara mereka menggambarkan perasaan mereka saat ini.
Sementara itu, di rumah Adrian...
Adrian masih menonton film di ruang TV ketika kemudian mendengar pembicaraan ayahnya yang sedang menelepon seseorang sambil berjalan menuju ruang TV.
(ini pembicaraan yang terdengar oleh Adrian)
Harry: Oh, begitu... wah mereka pasti malu sekali. Kasihan mereka. Tapi mereka semua nggak apa2 kan ?
(suara orang dari balik telepon)
Harry: Wah, syukurlah kalau begitu. Ya, sudah. Terima kasih ya. Nanti kapan2 kalau ke Bandung, kita ketemuan ya.
(suara orang dari balik telepon)
Harry: Oke, oke... sip. Terima kasih ya...
(suara orang dari balik telepon)
Harry: Yuk, sama-sama...
Harry lalu menghentikan pembicaraannya dan duduk di samping Adrian.
Adrian: Ada apa, Yah ?
Harry: Ternyata memang ada yang nggak beres dengan 7 Icons. Penampilan kedua mereka hancur.
Adrian: Serius, Yah ? Emangnya kenapa ?
Harry: Kata teman saya itu, pas 7 Icons tampil, audio-nya itu ada gangguan. Ada sistemnya yang rusak waktu mati lampu sebelumnya... Ternyata itu merembet ke alat2 lain... ujung2nya itu mengganggu penampilan mereka... akhirnya, ya sudah... perform mereka tahu2 berhenti aja... jadi memang benar tadi ada yang nggak beres sama penampilan mereka...
Adrian: Oh, jadi ada masalah pada audio-nya, begitu ?
Harry: Ya, betul. Pokoknya kacau aja. Ah, sayang... padahal sudah bagus2 persiapannya, tahu2 malah pas tampil kacau... kasihan mereka.
Adrian: Dari mana teman Ayah bisa tahu ?
Harry: Berita cepat menyebar. Semua yang di WorldStudio sudah pada tahu semua... maklum, penampilan mereka itu dilihat sama semua orang lewat layar monitor. Kata orang2 di sana, audio-nya sudah kacau... suaranya kadang muncul, kadang nggak... semua bisa dengar dan menyaksikan sendiri... pokoknya, penampilan mereka kacau dah... mungkin besok sudah masuk berita. Lihat saja nanti.
Adrian: Wah, bahaya tuh... reputasi mereka bisa rusak tuh...
Harry: Itu yang Ayah juga khawatirkan. Kalau sampai besok masuk koran atau berita... itu sudah mencoreng nama baik dan reputasi mereka... kalau sudah begini... paling berharap aja biar cepat selesai. Sebetulnya nggak perlu masuk koran atau berita untuk mencoreng reputasi... sekarang saja anggaplah reputasi mereka sudah rusak. Kenapa ? Karena mereka dilihat sama semua orang... publik nggak bisa bohong... apalagi yang nonton... belum lagi yang hari ini datang ke WorldStudio... pulang pulang mereka bisa cerita itu... dan itu nggak akan dilupakan. Mungkin nanti juga kejadian ini bakalan dibicarakan di sekolah. Hari Senin bakalan banyak yang bicarain soal kejadian hari ini. Mudah2an saja personil 7 Icons bisa sabar.
Adrian: Sabar sih bisa aja, Yah... kan seisi sekolah fans mereka semua...
Harry: Betul itu. Tapi kalau sekolah lain juga bicarain ? Ya, mungkin di situ ujiannya.
Adrian: Benar juga, Yah. Ya sudah deh, sekarang Adrian mau ke kamar dulu. Mau tidur.
Harry: Ya, sudah. Lagipula saya juga mau tidur... besok harus berangkat pagi buat kerja... ada banyak tugas yang harus saya kerjakan besok.
Adrian lalu naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk tidur. Sementara Harry, ia masih melihat-lihat acara yang ada di TV sebentar, sebelum kemudian ia mematikan TV-nya dan pergi ke kamar.
Di kamarnya, Adrian memperhatikan timeline Twitter-nya. Anak2 7 Icons tidak ada yang muncul di timeline-nya. Ia sudah me-refresh-nya beberapa kali namun hasilnya nihil. Adrian lalu berpikir kalau mereka semua sudah tidur. Padahal, sebenarnya mereka sedang berkumpul di kamar Angel, ngobrol2 bersama, untuk menghilangkan rasa stres setelah melewati hari yang mungkin bisa dibilang paling berat dalam karir mereka. Adrian pun kemudian mematikan twitter-nya dan menyetel alarm-nya, pada jam 5 pagi. Ia lalu menaruh BlackBerry-nya di samping bantal dan lalu tidur. Dalam hatinya, ia hanya berharap agar 7 Icons bisa segera bangkit dan bisa menampilkan sesuatu yang terbaik lagi untuk para penggemarnya. Adrian lalu terlelap dalam tidurnya, dan dengan cepat ia terjun jauh menuju dunia mimpi.
Itulah cerita bagian kedelapan dari Fanfiction ini. Bagaimanakah kelanjutan ceritanya ? Apakah yang akan terjadi pada 7 Icons dan Adrian berikutnya ? Jangan kemana-mana, tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita Fanfiction 7 Icons ini akan segera berlanjut menuju bagian berikutnya.
Pesan saya seperti biasa sebelum mem-posting cerita ini... Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar