Kamis, 08 September 2011

FANFICTION 7 ICONS (part 16c)

Remember, it's just a Fanfiction.
Di cerita sebelumnya, saya ceritakan kalau Adrian sekarang sedang mengalami dilema berat. Dia kini sudah dekat dengan dua girlband sekaligus, yang membuatnya khawatir akan mengganggu misi dan tujuannya. Dia benar2 sedang dilema karena kalau misalnya ia memilih salah satu dari pilihan yang ada, akan ada konsekuensinya masing2 yang harus ia tanggung dan itu semua adalah konsekuensi yang cukup berat, di mata Adrian. Kini, yang akan diceritakan disini adalah bagaimana cara Adrian mencari jalan untuk mengatasi rasa dilemanya ini. Sang ayah menjadi sarana untuk mencari jawabannya.
DAY 24
Hari itu anak2 7 Icons kembali berlatih vokal. Lagunya kali ini combine. Semua lagu2 7 Icons yang sudah pernah dilatihkan sebelumnya dilatihkan lagi. Latihan ini lebih ke persiapan sebelum tes akhir nanti. Untuk sekarang, persiapan untuk tes akhir masa training sudah mulai dilakukan. Selama seminggu terakhir ini, latihan lebih fokus ke persiapan menjelang tes akhir. Simulasi demi simulasi akan dilakukan untuk memastikan bahwa 7 Icons siap untuk menjalani tes akhir. Simulasi itu nantinya akan dilakukan di ruang latihan dance. Untuk sekarang, yang akan dilakukan adalah pemantapan vokal. Makanya semua lagu2 yang selama ini sudah dilatihkan akan diulang lagi. Hasilnya cukup bagus... tanda2 kesiapan sudah terlihat. Teknik vokal para personil 7 Icons sudah bagus, dan enak terdengar di telinga Adrian. Adrian sangat senang dengan progres latihan 7 Icons yang semakin meningkat dari hari ke hari, dan besok, tinggal pelaksanaan simulasi pertama, semacam try-out untuk persiapan tes akhir. Kalau besok simulasinya berhasil, maka latihan berikutnya hanya tinggal mengulang-ulang saja. Semua personil 7 Icons sudah siap untuk melakukan simulasi itu. Adrian hanya minta mereka untuk mempersiapkan diri dan fokus saat simulasi dilakukan. Itu yang nantinya akan membuat simulasinya akan berjalan lancar.
Setelah training selesai, ada SMS masuk ke Blackberry-nya Adrian. SMS itu berasal dari ayahnya. Dia bilang kalau sebentar lagi wawancaranya dengan majalah gaya hidup yang dulu pernah datang ke rumahnya itu akan segera dimulai, bersamaan dengan photo session-nya. Ceritanya, pada hari itu ayahnya Adrian akan menjalani sesi wawancara terakhir dan photo session untuk majalah gaya hidup itu. Rencananya, wawancara itu akan dilakukan setelah jam kerja dan itu membuat ayahnya Adrian harus tetap berada di kantor meskipun pekerjaannya hari itu sudah selesai. Maklum, sudah janjian... jadi nggak bisa kemana-mana deh... Nah, ayahnya Adrian mengajak Adrian untuk hadir di sesi wawancara itu, karena setelah itu, ayahnya Adrian akan mengajak Adrian makan malam di restoran tempat di mana ayahnya Adrian biasa makan. Ayahnya Adrian ingin mengajak Adrian untuk makan Chicken Cordon Bleu Special lagi. Itu adalah makanan kesukaan Adrian sejak ia tiba di Jakarta. Ketika pertama-tama Adrian ada di Jakarta, ayahnya sering mengajak Adrian untuk makan makanan ini di restoran kesukaannya. Ia langsung suka dengan makanan ini dan sejak saat itu, Adrian selalu makan makanan ini jika ia datang dengan ayahnya ke restoran itu. Sekarang, setelah beberapa bulan, Adrian akan datang kembali ke restoran itu, bersama ayahnya. Tapi sebelum ke restoran itu, Adrian harus datang dulu ke kantor ayahnya, untuk melihat sesi wawancara ayahnya.
Ayahnya Adrian, Harry Susanto, bekerja sebagai General Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi yang bernama Indocom. Kepanjangannya, Indonesia Communications Limited. Sebuah perusahaan yang sudah berdiri sejak 1995, dengan tujuan untuk membuat alat komunikasi yang dapat terjangkau secara ekonomi oleh masyarakat Indonesia. Perusahaan ini dibuat sebagai joint venture antara Indonesia dengan tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Jepang, dan Inggris. Belakangan, ada investor asal Jerman yang juga tertarik untuk menanamkan modal di perusahaan ini, setelah melihat teknologi yang dibuat oleh perusahaan ini. Harry bekerja di perusahaan ini sejak 1999, setelah krisis moneter. Indocom adalah salah satu perusahaan yang masih mampu bertahan saat krisis, itu semua karena dukungan modal dan kepercayaan dari para investor asingnya, dan juga karena kondisi keamanan yang sudah mulai membaik pada saat itu. Sebelum bekerja di Indocom, Harry sempat bergonta-ganti pekerjaan, namun semuanya berhubungan dengan pemasaran produk. Di Indocom inilah Harry kemudian mendapatkan lingkungan kerja yang menurutnya berbeda dengan lingkungan pekerjaan yang dulu ia rasakan sebelumnya. Pada awalnya, Harry bekerja di Indocom cabang Bandung, mengurus pemasaran handphone buatan Indocom, yang memiliki teknologi tinggi namun berharga terjangkau, pada semua penjual handphone yang ada di Bandung dan sekitarnya, bahkan hingga ke seluruh Jawa Barat. Tak heran kalau dulu Harry sering melakukan perjalanan keliling Jawa Barat untuk memeriksa langsung penjualan handphone2 itu di Jawa Barat. Kadang ia juga mengajak Adrian dan istrinya, Eunike. Tapi itu kalau keduanya memang bisa diajak untuk pergi. Soalnya, keduanya juga sibuk. Adrian berlatih memperdalam kemampuannya berseni, dan Eunike menemaninya. Pada tahun 2003, Harry bertugas sebagai kepala tim pemasaran Indocom Jawa Barat. Tugasnya adalah menentukan strategi pemasaran dan cara pemasaran handphone Indocom agar dapat diterima baik di masyarakat. Setiap provinsi memiliki kepala tim pemasarannya sendiri2, dan setiap orang punya caranya sendiri2. Harry juga mengalami hal itu. Kadang ia sampai pulang malam, bekerja keras untuk dapat menentukan strategi terbaik agar handphone2 itu bisa terjual dengan baik dan beromzet besar. Adrian dan Eunike merasakan itu, dan itulah yang membuat Adrian terbiasa kalau seandainya ia harus ditinggal ayahnya pergi bekerja hingga malam hari. Adrian sudah dilatih Eunike untuk bekerja mengurus rumah tangga sendiri, jika ayahnya sedang pergi bekerja. Dan kini Adrian sudah terbiasa, apalagi setelah Eunike pergi mengawal kakaknya yang sekolah di Inggris. Kembali lagi ke cerita. Setelah empat tahun, hasil pekerjaan Harry mulai terlihat. Penjualan handphone Indocom meningkat pesat di Jawa Barat, bahkan melebihi provinsi2 lain, termasuk DKI Jakarta. Itulah yang kemudian membuat Harry menjadi kepala cabang Indocom Jawa Barat. Pada tahun 2008, Harry ditunjuk menjadi kepala tim pemasaran Indocom pusat. Tugasnya adalah untuk menentukan strategi pemasaran Indocom se-Indonesia. Ketika dia berada di posisi inilah, dua tahun kemudian Harry bertemu dengan 7 Icons. Berawal dari menonton penampilan 7 Icons lewat TV, Harry yang saat itu sedang dikejar deadline untuk sesegera mungkin menentukan strategi pemasaran untuk produk handphone terbaru Indocom, yang memiliki fitur yang lengkap dan berbagai aplikasi canggih, tapi harga terjangkau, langsung mempersiapkan sebuah rencana untuk menjadikan 7 Icons sebagai model iklan handphone mereka yang baru itu. Setelah berjuang selama tiga bulan, akhirnya Harry dan timnya berhasil mendapatkan 7 Icons, dan kemudian iklannya pun dibuat. Efek dari iklan itu jadi luar biasa, apalagi setelah 7 Icons mulai terkenal. Penjualan handphone itu meningkat sangat pesat, bahkan melebihi rekor penjualan handphone sebelumnya. Pihak direksi pun sangat puas dengan kinerja Harry dan mereka pun mengangkat Harry sebagai General Manager yang baru, menggantikan General Manager yang lama, yang sudah naik pangkat menjadi anggota dewan direksi utama perusahaan (nanti akan saya ceritakan soal struktur organisasi di Indocom, dari posisinya Harry hingga posisi tertinggi) dan pindah tugas ke Jakarta. Itulah yang kemudian mengubah hidup Adrian. Ia harus pindah ke Jakarta dan melanjutkan sekolahnya di sana, dan hidup sebagai anak orang kaya baru, meskipun sebenarnya ketika ia masih di Bandung, kehidupan keluarganya sudah mapan.
Di Indocom, struktur organisasinya seperti ini. Harry adalah General Manager, dan dia sudah berada beberapa langkah menuju dewan direksi utama. Selain ada General Manager, ada CEO dan COO perusahaan. Tepat diatasnya, adalah dewan direksi utama. Di situ terdapat tujuh orang direksi, yang membawahi beberapa bidang, mulai dari bisnis hingga urusan karyawan. Salah satu dari tujuh orang itu akan ditunjuk sebagai Presiden Direktur perusahaan, dan berlaku untuk dua tahun. Setelah masa jabatannya habis, dia dapat dipilih kembali lewat Rapat Umum Pemegang Saham, dan yang berhak memilih hanya anggota dewan direksi utama plus bawahannya hingga General Manager. Nanti saya akan jelaskan seperti apa tata cara pemilihannya. Maksimal seorang Presiden Direktur dipilih dua kali. Setelah dua kali masa jabatan, atau setelah masa jabatannya selesai, dia akan langsung masuk ke dalam dewan khusus, yaitu dewan penasehat. Di dalam dewan ini, semua Presiden Direktur yang lama, ditambah dengan para pemegang saham asing berkumpul. Tugas mereka adalah memberi masukan dan saran pada dewan direksi utama. Jika sudah ada Presiden Direktur yang masuk ke dalam dewan penasehat, maka pada saat Rapat Umum Pemegang Saham itu akan juga dilakukan pemilihan terhadap anggota baru dewan direksi utama, tepat sebelum pemilihan Presiden Direktur yang baru. Ini untuk menjaga agar anggotanya tetap tujuh orang. Namun, anggota baru ini tidak bisa dipilih menjadi Presiden Direktur karena baru masuk, dan saat itu calon untuk pemilihan Presiden Direktur sudah ditentukan, berdasarkan kualifikasi yang dilakukan oleh karyawan. Tapi anggota baru ini boleh memilih. Anggota baru dewan direksi utama dipilih dari CEO, COO, dan General Manager. Jadi ada peluang untuk Harry masuk ke dalam dewan direksi utama, tergantung pemilihan yang nanti akan dilakukan oleh dewan direksi utama. Tapi seperti tadi dikatakan, Harry tidak akan langsung jadi calon Presiden Direktur. Ia harus menunggu minimal dua tahun, atau maksimal empat tahun untuk bisa terpilih, tergantung kondisi yang terjadi di dalam perusahaan. Setelah dari dewan penasehat, karir seseorang di Indocom sudah selesai. Dia bisa mengajukan pensiun, atau tetap bekerja sebagai penasehat perusahaan. Dewan penasehat adalah dewan tertinggi dalam perusahaan, jadi kalau mau lanjut lagi, ya ujung2nya pensiun.
Sekarang bagaimana cara menentukan Presiden Direktur di Indocom ? Yang pasti, sebelum Rapat Umum Pemegang Saham, sudah ada beberapa persiapan yang harus dilakukan. Mulai dari menghitung jumlah karyawan yang akan ikut pemilihan kualifikasi, hingga menanyakan kesiapan Presiden Direktur yang masih menjabat (kecuali jika sudah memasuki dua kali masa jabatan atau menyatakan untuk tidak menjabat lagi) untuk maju lagi dalam pemilihan. Semua anggota dewan direksi utama, termasuk Presiden Direktur yang masih menjabat adalah calon Presiden Direktur yang baru. CEO, COO, dan General Manager disiapkan untuk menjadi calon anggota dewan direksi utama yang baru, jika seandainya Presiden Direktur yang lama sudah tidak bisa dipilih lagi, menyatakan tidak ikut pencalonan, atau lain sebagainya. Akan tetapi, ketiga orang ini tidak berhak ikut sebagai calon Presiden Direktur, karena mereka sudah dicalonkan sebagai calon anggota baru di dewan direksi utama. Untuk menentukan calon Presiden Direktur yang akan dipilih pada saat Rapat Umum Pemegang Saham, para calon harus melewati pemilihan kualifikasi. Di sini, yang akan memilih adalah para karyawan Indocom. Baik yang ada di pusat maupun di daerah. Dari tujuh (atau enam calon, jika Presiden Direktur yang lama tidak ikut pencalonan), akan disaring menjadi hanya tiga orang calon saja, dengan suara terbanyak. Merekalah yang akan dibawa ke Rapat Umum Pemegang Saham, biasanya digelar pada saat musim panas, pada tengah tahun, untuk dipilih sebagai Presiden Direktur yang baru, dimana pemilihan ini hanya akan melibatkan dewan2 eksekutif perusahaan, termasuk General Manager dan staf2nya. Yang ikut memilih selain General Manager, adalah CEO, COO, juga bersama stafnya, dan anggota dewan direksi utama yang sudah tersingkir di pemilihan kualifikasi. Para calon Presiden Direktur tidak boleh memilih dan akan diisolasi di ruangan khusus. Pemilihan juga dilakukan secara tertutup di sebuah ruangan khusus, dan katanya ada beberapa ritual yang harus dilakukan sebelum melakukan pemilihan. Para pemilih tidak boleh memberitahukan pilihan mereka pada siapapun, dan jika melanggar akan diberhentikan secara tidak hormat dari perusahaan. Setelah pemilihan, akan dilakukan penghitungan suara yang akan dilakukan secara terbuka. Jika ada satu orang calon yang berhasil mendapatkan 50% suara plus satu dari semua pemilih, maka dialah yang terpilih sebagai Presiden Direktur Indocom yang baru, dan akan langsung disumpah di hadapan dewan penasehat. Dewan penasehat tidak memilih, dan bersikap netral. Tapi jika tidak ada calon yang memenuhi 50% + 1 suara itu, maka akan langsung dilakukan pemilihan kedua, dengan hanya mengambil dua calon dengan suara terbanyak pertama dan kedua sebagai calonnya. Proses pemilihannya juga sama. Calon yang masih bertarung diisolasi, dan calon yang sudah kalah boleh memilih untuk ikut memilih atau tidak. Pemilihan dilakukan tertutup dan penghitungannya dilakukan secara terbuka. Aturannya sama. Siapa yang berhasil mendapatkan 50% + 1 suara dari semua pemilih, dialah yang menjadi Presiden Direktur Indocom yang baru. Seperti itulah cara pemilihannya. Sekarang kembali ke cerita.
Dari flat tempat latihannya, Adrian langsung naik taksi ke daerah Sudirman. Di sana, Adrian berhenti di sebuah bangunan yang sangat tinggi sekali, dengan lobby yang sangat luas, dan mobil2 mewah terparkir di bagian depan kantornya. Itulah kantor Indocom. Gedung Indocom tidak kalah gedenya dengan bangunan2 mal dan apartemen di Jakarta. Malah, tinggi bangunan ini adalah yang tertinggi di Jakarta, yaitu 500 meter. Terdiri atas 30 lantai, dan memiliki sepuluh lantai untuk kegiatan perusahaan lain. Kantor Harry ada di lantai 25, dan kantor Presiden Direktur berada satu lantai di atasnya. Adrian harus naik lift untuk menjangkau tempat di mana ayahnya bekerja. Di puncak gedung, terdapat helipad dan menara telekomunikasi. Kadang2, Harry sering datang ke kantor dengan helikopter. Maklum, dari kantor kadang2 Harry harus pergi ke tempat lain untuk bertemu dengan rekan bisnisnya dalam waktu cepat. Daripada naik mobil dinasnya, Harry lebih memilih untuk naik helikopter bersama dengan Presiden Direktur. Lebih menghemat waktu meskipun dia sendiri deg2an gara2 nggak biasa naik helikopter. Perlu diketahui, Harry Susanto adalah seseorang yang sangat sibuk, bahkan kesibukannya melebihi seorang anggota DPR. Dia sangat memperhitungkan waktu dengan sangat baik, apalagi ketika bekerja. Sekali terlambat, dia akan lewat. Dia sangat cepat muncul dan juga sangat cepat menghilang. Keberadaannya sangat sulit diketahui, hingga terkadang ia bisa berada di mana2. Sangat sulit mengetahui keberadaannya yang pasti, jika ia sedang bekerja. Kalau dia sedang santai, keberadaannya bisa dengan sangat gampang dilacak. Adrian pernah merasakannya, ketika ia bermaksud mengunjungi ayahnya ketika ia sedang bekerja, ia mendapati ayahnya sedang tidak di kantor. Dia sedang pergi meeting bisnis dengan beberapa pimpinan perusahaan telekomunikasi lain di sebuah restoran. Ia pun lalu mengejarnya ke restoran, namun ketika dia sampai di restoran itu, ayahnya sudah menghilang. Katanya dia main golf dengan Presiden Direktur dan beberapa pemegang saham asing di Cikarang. Ia kejar hingga ke Cikarang, tapi begitu ia sampai di sana, ia baru saja terbang naik helikopter kembali ke kantornya. Ia kejar lagi hingga ke kantornya. Ternyata dia sudah pulang. Adrian jadi kebingungan dan khawatir. Ia pun pulang ke rumahnya dan menemukan ayahnya sedang santai2nya menonton konser musik di TV. Adrian pun jadi heran sendiri melihat ayahnya yang sudah seperti manusia super, pergi ke mana2 dengan cepat tanpa ada orang tahu keberadaan pastinya. Itu yang kemudian membuat Adrian nggak pernah lagi datang ke kantor. Ia khawatir ayahnya menghilang lagi dari kantor kalau ia datang lagi ke kantor. Tapi untuk kali ini, ayahnya tak akan menghilang lagi. Itu karena dia akan diwawancara oleh sebuah majalah gaya hidup, dan wawancara itu akan dilakukan di kantornya yang super mewah, yang tak kalah luas dari kantor pejabat tinggi negara. Ayahnya juga sudah meminta Adrian untuk datang, jadi ia tidak akan kabur lagi.
Selang 10 menit kemudian, Adrian sudah tiba di lantai 25 Gedung Indocom. Ia langsung pergi ke kantor ayahnya, yang ada di ujung lorong utama ruangan. Di situ Adrian melihat ada beberapa karyawan Indocom yang masih bekerja, selain juga ada kru2 majalah yang lalu-lalang keluar dari ruangan tempat ayahnya bekerja. Karena banyak orang yang keluar-masuk dan berkumpul di luar ruangan itu, Adrian bisa langsung mengetahui di mana kantor ayahnya berada. Di dalam kantornya yang luas itu, Harry sedang bersiap-siap untuk melakukan photo session. Nanti, beberapa foto yang akan diambil akan ditampilkan dalam majalah itu, dan sisanya akan dihadiahkan secara khusus pada Harry. Di situ sudah tersedia peralatan2 fotografi. Ada lampu untuk lighting foto, tripod, laptop, dan sebuah tas kamera yang berisi peralatan untuk memotret, mulai dari corong lensa hingga kamera Canon EOS Mark II yang sudah dalam kondisi siap tempur. Semua kru fotografi sudah siap, dan Harry saat itu sedang didandani agar wajahnya lebih segar saat difoto. Dia memakai jas, dasi, rompi, kemeja, celana panjang, kaus kaki, dan sepatu pantofel yang mengkilap, yang semuanya berwarna hitam. Dia juga memakai syal hitam kesukaannya. Di jasnya juga terdapat coat of arms. Selama ia didandani, ia sangat santai dan sesekali melucu pada orang2 yang ada di sekitarnya. Ia sangat suka melucu kalau sedang di kantor. Ia sangat senang sekali bisa diwawancara oleh sebuah majalah. Ia berharap semua orang bisa lebih mengenal siapa dirinya setelah membaca wawancara eksklusifnya ini. Setelah dia didandani, Harry pun menyapa Adrian yang sudah masuk ke dalam ruangan. Ia harus melewati banyak kabel untuk bisa masuk ke dalam ruangan dan bertemu dengan ayahnya. Harry lalu meminta Adrian untuk duduk di sofa yang ada di dekatnya. Adrian pun menurutinya dan ia duduk di sofa itu. Di kantor Harry, ada tiga sofa yang ditaruh dengan posisi membentuk huruf U dan menghadap ke arah TV. Harry biasa memakai sofa itu untuk menerima tamu yang datang ke kantornya. Sofanya berwarna krem, dan masih baru. Adrian duduk di sofa itu dan merasa kalau sofa itu sangat empuk sekali. Memang itu sudah permintaan Harry untuk diberikan sofa yang empuk, sehingga ia bisa duduk santai di sofa itu. Setelah Adrian duduk, Harry bersiap untuk melakukan photo session pertamanya, dengan setting di meja kantornya yang terbuat dari kayu jati berukir. Ada beberapa kali take photo yang dilakukan, mulai dari berdiri di samping meja, hingga duduk di kursi sambil mengangkat kakinya di atas meja. Semua pose2 itu tidak biasa dilakukan oleh Harry tapi semuanya bisa ia lakukan dengan sangat baik. Dulu ketika ia masih di Bandung, Harry pernah ikut kursus fotografi dan modelling, sehingga dia tahu bagaimana teknik fotografi dan teknik modelling yang baik. Ia cukup bagus untuk menjadi seorang model, meskipun umurnya sudah hampir 50 tahun. Semua sesi foto itu bisa selesai dalam waktu yang lumayan singkat, hanya sekitar satu jam. Setelah photo session, saatnya untuk wawancara. Dua buah bangku yang saling berhadapan sudah disiapkan di depan meja kantor untuk pelaksanaan wawancara ini. Sepuluh menit kemudian, wartawan yang akan mewawancarai Harry sudah siap, dan ia mengajak Harry untuk duduk di bangku yang sudah disiapkan. Wawancara pun dimulai. Ada sekitar 30-an pertanyaan yang akan diajukan pada Harry, dan semuanya sudah ditulis dalam beberapa lembaran kertas. Sebuah kamera perekam sudah disiapkan untuk merekam wawancara ini, dan ditempatkan di belakang kursi wartawan. Pertanyaannya macam2, mulai dari soal pekerjaan, selera gaya hidup, hingga grup musik kesukaannya. Segala cerita2 Harry diungkap dalam wawancara ini. Mulai dari awal karir pekerjaannya hingga kesukaannya pada 7 Icons, semuanya ia ceritakan tanpa ragu2 dan blak2an. Selain itu, ia juga berbagi beberapa motivasi bisnis untuk orang lain yang ia dapatkan dari pengalaman karirnya selama ini. Kadang dalam menjawab beberapa pertanyaan, Harry mengeluarkan beberapa candaannya, yang dapat membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa, termasuk Adrian dan Presiden Direktur perusahaan, yang kebetulan juga melihat sesi wawancara itu dari luar ruangan. Untuk Presiden Direktur Indocom yang sekarang, namanya Daniel Hartanto, dan ini adalah masa jabatannya yang pertama. Dia adalah teman baik Harry sejak pertama kali bergabung di Indocom. Presiden Direktur sedianya akan pulang pada sore itu, tapi dia tahu kalau di lantai bawah, Harry sedang diwawancara, sehingga ia menyempatkan diri untuk melihat sesi wawancara Harry. Ia tidak bisa masuk ke dalam karena sudah terlalu banyak orang, jadi dia melihat dari luar saja. Wawancara itu selesai dalam dua jam limabelas menit. Setelah wawancara itu selesai, Harry menjalani photo session kedua, yang kali ini dilakukan di beberapa bagian lain di ruang kantor itu, termasuk di sofa kantor. Karena ada perubahan tempat untuk photo session, akhirnya semua barang2 kru yang ada di dalam ruangan itu harus dipindah. Perlu waktu setengah jam untuk menyiapkan semuanya. Setelah semuanya siap, photo session pun dimulai. Harry berpose di sofa kantor itu. Setelah beberapa kali take, Harry mengajak Adrian untuk ikut berfoto dengannya. Adrian yang saat itu memakai seragam sekolahnya, sempat menolak karena malu. Tapi kemudian Harry membujuknya dan bilang kalau ini bisa jadi kesempatan untuk bikin foto keluarga baru. Adrian pun akhirnya menerimanya dan keduanya pun berfoto bersama di sofa itu. Setelah beberapa kali foto, Adrian lalu pergi, dan photo session dilanjutkan kembali seperti awal, dimana Harry yang menjadi modelnya. Untuk photo session yang kedua ini, waktunya sekitar satu jam. Setelah semua photo session berakhir, maka berakhirlah semua acara wawancara yang dilakukan di kantor itu. Harry langsung meninggalkan kantornya 15 menit kemudian bersama Adrian. Sesuai janji, mereka berdua akan pergi makan malam di sebuah restoran. Untuk mencapai restoran itu, Adrian dan Harry naik sebuah mobil yang selama ini dipakai Harry untuk pergi ke kantor. Mobil itu adalah sebuah Rolls-Royce Phantom keluaran terbaru berwarna hitam. Mobil ini cukup mahal, dan mobil ini khusus dihadiahkan pada Harry oleh Presiden Direktur Indocom, atas karirnya yang cukup membanggakan selama bekerja di Indocom. Mobil ini adalah mobil dinas Harry, dan hanya dipakai untuk pergi ke kantor. Harry tidak punya mobil untuk bersantai, dan sekarang ia sedang mencari mobil yang bagus untuk dipakai jalan2 kalau ada waktu santai. Adrian sudah pernah naik mobil ini, tapi mobil ini belum pernah dipakai untuk mengantarnya ke sekolah. Itu karena ketika Adrian sudah siap untuk berangkat ke sekolah, mobil ini sudah berada di tengah jalanan kota Jakarta. Untuk kali ini, mobil itu akan membawa Adrian dan Harry ke restoran tempat Harry biasa makan, sekaligus juga restoran favorit Adrian. Di mobil ini ada supirnya, jadi Adrian dan Harry duduk di bangku belakang. Adrian bermain Blackberry-nya, sementara Harry bersantai sambil mendengarkan musik yang diputar lewat radio mobil. Itu sudah kebiasaannya sejak dulu, mendengarkan lagu lewat radio. Radio junkie.
Dari Gedung Indocom, mereka pergi ke Restoran Le Grandeur. Restoran ini terletak di Jakarta Pusat, dan termasuk salah satu restoran terbaik di Jakarta, dari segi makanan dan juga pelayanannya. Restoran ini menghadirkan menu2 dari dalam dan luar negeri, dengan kualitas dan cita rasa terbaik. Restoran ini pertama kali didatangi oleh Harry ketika ia diajak makan siang oleh Presiden Direktur. Setelah ia mencoba masakannya, ia langsung suka sekali dengan restoran ini, sehingga untuk makan siang berikutnya, ia selalu mendatangi restoran ini. Ia lalu mengajak Adrian untuk makan di restoran ini, dan Adrian langsung suka dengan Chicken Cordon Bleu yang dihidangkan di restoran ini. Adrian pun kemudian juga sering datang ke restoran ini dan hanya mau memakan menu yang sama setiap kali ia datang ke restoran itu. Namun belakangan sejak beberapa bulan terakhir, Adrian tidak pernah datang lagi, karena ayahnya sibuk sehingga Adrian nggak bisa diajak, dan juga karena Adrian sedang sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Ini adalah untuk yang pertama kalinya Adrian datang kembali ke restoran ini, dan dia sudah tidak sabar untuk mencicipi Chicken Cordon Bleu khas restoran ini. Perjalanan dari Gedung Indocom ke Restoran Le Grandeur memakan waktu kurang lebih 30 menit, tergantung kondisi di jalan. Rata2 30 menit, itu menurut Harry. Tapi kadang2 bisa lebih cepat, dan bisa lebih lama. Semua tergantung kondisi di jalan.
Tiba di Restoran Le Grandeur, Adrian dan Harry langsung mendapatkan pelayanan yang cukup spesial. Pintu mobil dibukakan, kemudian dapat sambutan dari kepala pelayan restoran, dan diantar langsung oleh kepala pelayan restoran, dia memakai tuxedo, ke meja tempat mereka akan makan. Meja tempat mereka makan juga cukup spesial. Sebuah meja yang terbuat dari kayu jati berukir berbentuk lingkaran dengan taplak meja berwarna putih yang panjangnya hingga mencapai lantai, dengan vas bunga kecil di tengah meja, sapu tangan di dua sisinya, dan perlengkapan makan di kiri-kanannya. Meja kecil ini cukup untuk dua orang, dengan dua kursi yang terbuat dari kayu mahogani berukir, ditaruh saling berhadapan. Ada tanda nomor 7 di meja itu, dan meja nomor 7 ini selalu dipakai oleh Harry kalau dia sedang makan siang sendiri. Kalau dia datang dengan temannya, Harry akan makan di lantai atas restoran. Di sana, semua mejanya untuk diatas empat orang. Di lantai utama ini, mejanya untuk dua hingga empat orang. Bisa disesuaikan. Adrian dan Harry lalu duduk di kursi meja itu, dan lalu dua orang pelayan membawakan buku menu untuk keduanya. Masing2 dapat satu. Tanpa membuka bukunya, Adrian sudah langsung memberitahukan apa yang ia pesan, yaitu Chicken Cordon Bleu Spesial. Sementara Harry lebih memilih untuk makan Veggie Steak, steak daging yang disajikan bersama sayuran dan potongan buah. Harry memilih makanan itu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi kesehatannya, dimana ia harus memperbanyak makan sayur. Selain itu juga, Veggie Steak adalah salah satu makanan kesukaannya. Untuk minumannya, keduanya kompak memesan Lemon Tea. Lemon Tea di restoran ini juga merupakan kesukaan mereka. Kalau disajikan dalam kondisi hangat, akan sangat enak dan rasa lemon-nya sangat terasa, tapi tidak melupakan cita rasa tehnya. Untuk makanan penutupnya, mereka memilih salad. Salad disini terdiri atas campuran sayuran dan buah segar, yang diberi saus thousand island. Buat Adrian dan Harry, semua menu itu sudah cukup untuk makan malam mereka. Setelah semua menu sudah dicatat, disini pelayan restoran memakai iPad untuk mencatat menu makanannya, mereka lalu pergi dan sekarang Adrian dan Harry tinggal menunggu pesanannya saja.
Saat itu kondisi di restoran cukup sepi. Hanya sekitar tiga atau empat meja yang terisi. Ada yang makan berempat, ada yang makan bertiga, ada yang makan berdua, dan ada juga yang makan sendiri. Memang, kalau sudah jam2 segitu, restoran ini sepi sekali. Baru sekitar satu atau dua jam yang lalu restoran ini ramai. Maklum, banyak orang yang baru pulang kantor datang untuk makan2 disini. Ada menu khusus dengan harga terjangkau yang berlaku pada jam2 setelah pulang kantor, jadi banyak orang yang datang ke sini. Tapi kalau sudah jam2 ketika Adrian dan Harry datang, restorannya sudah sepi... itu karena promonya sudah ada, dan sisi mewah restoran ini pun muncul lagi. Sambil menunggu pesanan mereka datang, Adrian pun mengobrol dengan ayahnya. Obrolannya cukup serius.
Adrian: Ayah, bisa kita bicara serius sekarang ?
Harry: Ada apa, Adrian ? Kalau kamu mau bicara, silakan saja.
Adrian: Begini, Ayah... sepertinya saya sekarang sedang mengalami dilema berat.
Harry: Dilema ? Seperti lagunya Cherrybelle dong... dilema apa ?
Adrian: Saya dilema karena... ya soal girlband itu...
Harry: Oh, soal 7 Icons dan Cherrybelle ? Kau pasti sudah mulai dekat dengan Cherrybelle ya ?
Adrian: Begitulah, Yah. Saya kini sudah mulai dekat dengan Cherrybelle...
Harry: Bagus itu... berarti kamu tidak hanya tahu 7 Icons saja kalau misalnya kamu ditanya soal girlband...
Adrian: Ya tapi justru itu... saya jadi khawatir, konsentrasi saya terhadap misi saya terganggu...
Harry: Oh, kamu mengkhawatirkan soal itu ? Santai saja. Asalkan kamu tetap fokus dengan apa yang kamu kerjakan, maka seharusnya tidak ada masalah.
Adrian: Begitu ? Tapi bagaimana kalau misalnya saya masih terus mengingat-ingat Cherrybelle ?
Harry: Itu artinya kamu perlu untuk lebih meningkatkan fokus dan konsentrasi kamu pada misi kamu. Itu berarti konsentrasimu sudah tidak seimbang. Kamu harus menyeimbangkannya.
Adrian: Caranya ?
Harry: Jangan terlalu dekat dengan Cherrybelle. Itu nasehat simpelnya.
Adrian: Tapi bagaimana kalau misalnya saya punya hubungan khusus dengan salah satu personilnya ?
Harry: Hubungan khusus ? Hmmm... sepertinya itu bakalan sulit. Hubungan khusus apa ?
Adrian: Ayah, saya sudah punya pacar lagi.
Harry: Benarkah ? Selamat... berarti masa adaptasimu di Jakarta sudah berhasil. Kamu sudah tidak lagi canggung untuk berbicara pada gadis2 kota Jakarta. Hebat.
Adrian: Tapi pacar saya bukan gadis Jakarta biasa. Dia teman lama saya.
Harry: Hmmm... berarti kamu pacaran sambil reunian. Siapa dia ?
Adrian: Ayah kenal Wenda ? Kau tahu, gadis yang dulu datang dari Beijing ketika aku SMP itu...
Harry: Oh, Wenda itu... dia yang katanya suka banget sama kamu ketika SMP itu kan ?
Adrian: Ya. Dia sekarang jadi personil Cherrybelle.
Harry: Oh, jadi Wenda Cherrybelle itu adalah... Wenda yang dulu kamu kenal ketika SMP itu ya ?
Adrian: Ya. Aku juga kaget mengetahuinya. Dia sudah berubah sekarang. Waktu, keadaan, dan image Cherrybelle telah mengubah dirinya. Ayah tahu kan, seperti apa dulunya dia kan ?
Harry: Ayah tahu kok. Baguslah kalau dia sudah berubah. Berarti kamu beruntung. Ayah saja tidak pernah bertemu lagi dengan cewek yang dulu menyukai saya saat SMP. Ia menghilang ke tempat yang sangat jauh.
Adrian: Emangnya dia menghilang ke mana ?
Harry: Ayah sudah tidak tahu lagi ke mana dia. Ayah tidak pernah tahu lagi kabarnya.
Adrian: Tak ada informasi ?
Harry: Sama sekali tidak ada. Hilang tanpa bekas. Oh, ya... kapan kamu bertemu lagi dengan Wenda ?
Adrian: Dulu, di sebuah kafe. Aku ikut battle dance melawan salah satu temannya dan aku menang. Dia merasa sangat terkesan dan ia pun berkenalan denganku. Awalnya, aku juga tidak tahu kalau dia teman lamaku. Kita berkenalan seperti baru bertemu saja. Aku tidak kenal dia dan dia tidak kenal aku. Seperti itulah kira2, Yah...
Harry: Lalu, dari mana kamu tahu kalau Wenda itu adalah Wenda yang dulu kamu kenal ?
Adrian: Dia menyimpan foto saya dan dia menunjukkannya padaku. Dia mengatakan kalau foto orang itu adalah foto orang yang ia sangat sukai saat SMP dulu. Kemudian dia bercerita soal masa lalunya, dan barulah pada saat itu aku sadar kalau dia adalah teman lamaku yang dulu aku kenal... jujur saja, aku dulu suka dengannya, tapi aku justru memilih sahabatnya sebagai pacarku...
Harry: Jujur saja, Ayah lebih suka kalau kamu pacaran dengan Wenda daripada dengan sahabatnya itu. Kau tahu sendiri. Wenda orangnya baik, ramah, dan mau belajar banyak hal. Ia juga tidak canggung meskipun dia baru saja datang dari luar negeri. Dia juga pintar, dan sepertinya dia punya good sense padamu. Itu yang aku lihat darinya.
Adrian: Good sense ? Maksudnya ?
Harry: Perasaan. Dia punya perasaan yang terpendam padamu. Aku bisa melihatnya. Mungkin kamu tidak tahu dan tidak mempedulikannya, tapi aku bisa lihat itu. Dan mungkin saja, pertemuannya kembali denganmu membuka kembali perasaan yang terpendam itu padamu.
Adrian: Ya, memang... dia punya perasaan itu kok... dan aku sampai sekarang tidak pernah menduga kalau dia masih menyimpan perasaan itu pada saya... padahal itu sudah bertahun-tahun yang lalu...
Harry: Love can wait. Cinta bisa menunggu. Cinta bahkan bisa ditunggu. Hanya perasaan cinta yang nyata yang dapat bertahan hingga bertahun-tahun. Itu artinya, Wenda punya rasa cinta yang nyata padamu...
Adrian: Emangnya bisa ya, Yah, cinta itu bisa bertahan bertahun-tahun meskipun orang yang tidak kita cintai itu... tidak pernah datang pada kita ?
Harry: Bisa2 saja. Itulah cinta. Kalau kamu punya perasaan yang kuat pada orang yang kamu cintai itu, bukan tidak mungkin cintamu akan bertahan bertahun-tahun, meskipun dia tidak ada di dekatmu.
Adrian: Berarti Wenda punya perasaan yang kuat padaku, begitu ?
Harry: Correct. Dia sangat suka padamu, dan dia naksir berat sama kamu. Tapi kamu malah memilih orang lain untuk jadi pacarnya. Pada saat itu juga, kamu baru saja memberinya sebuah tes, apakah dia benar2 sayang dan cinta padamu, atau tidak. Dan ketika kamu bertemu lagi dengannya, anggap saja tes itu sudah berakhir. Kamu hanya tinggal melihat hasil tesnya. Ternyata, dia itu masih menyimpan perasaan cinta itu padamu... dia lulus tes itu, Adrian. Dia masih naksir padamu. Meskipun dia kini menjadi seorang personil girlband terkenal... tapi dia masih suka padamu, dan dia cinta padamu. Itu kan sudah menunjukkan kalau dia punya perasaan yang kuat padamu. Itu sudah cukup untuk dijadikan bukti.
Adrian: Oh, jadi aku seperti memberi tes pada Wenda saat itu, begitu ?
Harry: Ya. Bukankah kamu bisa saja menolak sahabatnya dan lalu menembak Wenda jadi pacarmu saat itu, ya kan ? Bisa saja kamu pacaran dengan Wenda sejak bertahun-tahun yang lalu... aku tahu kok, yang kamu lakukan dan apa reaksi Wenda saat itu. Makanya saya beranggapan bahwa kamu baru saja memberi tes pada Wenda, dengan menerima sahabatnya sebagai pacar. It's easy to read that, Adrian. Saya tahu banyak soal problem cinta remaja dan yang kasusnya seperti kamu itu banyak. Tapi jarang yang nasibnya seperti kamu, bisa bertemu kembali dengan cewek yang dulu pernah naksir berat sama kamu, dan dia masih menyimpan perasaan itu hingga beberapa tahun kemudian. Kalau kasus lain, yang ada si cowok sudah ditolak, dan kena marah habis2an sama si cewek itu. Tapi kamu tidak. Bisa saya simpulkan bahwa Wenda punya kesabaran yang cukup baik untuk urusan cinta. Mungkin dia banyak merubah dirinya setelah pindah ke Jakarta. Bukan tidak mungkin itu terjadi, ya kan ?
Adrian: Apa menurut Ayah, teman2nya di Cherrybelle juga berperan dalam hal ini ?
Harry: Bukan tidak mungkin itu terjadi. Mereka kan saling mengenal satu sama lain saat pertama bertemu, kan ? Nah, mungkin dalam proses perkenalan itu, teman2nya Wenda yang lain berusaha untuk mengubah sifat dan sikap Wenda, khususnya untuk soal cinta. Itu bukan hal yang mudah lho... makanya nggak heran kalau kepribadiannya berubah. Mungkin saja teman2nya ikut terlibat. Itu bukan tidak mungkin. Pasti mereka punya peranan. Kalau nggak, mau bagaimana Wenda berubah ? Di Jakarta hanya ada keluarga intinya lho... dan mereka semua sibuk. Wenda pasti dibantu oleh orang lain, dan mungkin salah satunya adalah Cherrybelle.
Adrian: Oke, begitu ya ? Fine, aku bisa mengerti soal itu...
Harry: Oh, ya... ketika kamu pacaran dengan Wenda, anak2 Cherrybelle yang lain bagaimana reaksinya ?
Adrian: Kalau kata Wenda sih, mereka kaget. Tapi mereka semua bisa menerima hubungan ini, setelah Wenda cerita panjang-lebar soal masa lalunya itu... yang terpenting sih, Wenda tetap bisa fokus ke sekolah dan Cherrybelle... itu saja.
Harry: Well, kalau begitu kamu harus support dia dalam setiap kegiatannya. Apa yang ia lakukan di sekolahnya, apa yang ia lakukan di Cherrybelle, kamu harus support dia. Hanya itu jalannya. Itu yang harus kamu lakukan. Apapun itu baik-buruknya buat kamu, keep support her. Dan tetap yakin bahwa apa yang ia lakukan adalah yang terbaik untuknya, untukmu, dan untuk semua orang. Jangan batasi ruang geraknya sedikitpun. Buat dia merasa santai, rileks, bebas, dan termotivasi dalam setiap kegiatannya. Toh pada akhirnya juga kamu yang senang dan dia yang senang kan ? Jadi kamu harus support dia. Apapun kegiatannya. Mengerti ?
Adrian: Justru itu yang aku lakukan belakangan ini... aku sering kontak2an dengannya untuk memberi motivasi dan dukungan... aku datang ke acaranya untuk melihatnya dan Cherrybelle tampil... dan kalau misalnya kita berdua bertemu, aku pasti akan ngobrol2 untuk kasih support padanya... seperti itulah...
Harry: Well, itu bagus sekali. Itu yang aku mau. Tapi... apakah ini yang membuat kamu makin dekat dengan anak2 Cherrybelle, hingga akhirnya kamu jadi dilema berat ?
Adrian: Ya, begitulah, Yah... hehehehehehe...
Harry: Pantesan... kamu jadi dilema berat karena kamu sudah mulai dekat dengan mereka. Berita bagusnya lagi, kamu sudah diterima baik oleh mereka. Jadi mereka semua sudah baik padamu, dan menghormati kamu. Nggak heran kalau kamu jadi dilema. Apalagi... anak2 Cherrybelle seperti itu... mereka itu unik dan apa adanya. Berani berekspresi dan selalu ceria. Kamu baru saja memasuki dunia perempuan remaja yang sesungguhnya, Adrian. Mereka mewakili karakter perempuan remaja yang ceria, tanpa beban, penuh semangat, penuh dengan aksi dan kemauan untuk berbuat lebih. Kamu baru saja masuk ke situ, dan mungkin kamu akan sulit keluar dari sana. Mereka semua akan memberi perhatian lebih padamu... apalagi sekarang kamu adalah pacar salah satu dari teman mereka...
Adrian: Nah, itulah dia masalahnya. Saya jadi dilema. Mau meninggalkan Cherrybelle, aku nggak enak sama Wenda dan yang lain. Tapi kalau misalnya saya tetap di situ, anak2 7 Icons bagaimana nasibnya ? Mereka pasti akan cemburu habis2an melihatku bersama Cherrybelle... apalagi kalau sudah dibawa ke dalam persaingan antar-girlband... bisa2 Perang Dunia III pecah, Yah...
Harry: Hahahaha... selamat datang di dunia yang penuh dengan pilihan, Adrian. Kita memang sering dihadapkan dengan pilihan aneh seperti ini. Penentuan keputusan menjadi sesuatu yang sangat penting hingga akhirnya kamu harus menimbang baik-buruknya sebelum memutuskan. Bahkan sampai kamu jadi dilema berat seperti sekarang. Kalau hatimu nggak kuat, mungkin kamu akan terbawa arus. Ada bagusnya juga kamu bawa masalah ini untuk dibicarakan, Adrian. Ayah bisa bantu kamu untuk menemukan solusi untuk ini semua. Tapi pada akhirnya, semua tergantung kamu. Karena yang punya pilihan bukan Ayah, tapi kamu. Jadi kamu yang harus memilih. Ayah hanya membantu mengarahkan saja. Sisanya, kamu yang urus. Sekarang kita luruskan masalahnya. Kamu punya pulpen, Adrian ?
Adrian: Buat apa, Ayah ?
Harry: Ada yang ingin saya lakukan.
Adrian lalu mengeluarkan pulpen dari tas sekolahnya (sejak tadi dia membawa tas sekolah lho) dan lalu memberikannya pada Harry. Harry lalu mengeluarkan sebuah kertas dari tas kerjanya dan lalu menggambar sesuatu di kertas tersebut. Dia menggambar sebuah pertigaan jalan, dengan jalan yang mengarah ke kiri ia tulisi dengan kata "7 Icons" dan jalan yang mengarah ke kanan dia tulisi dengan kata "Cherrybelle", dan di jalan lurusnya, ia beri tanda panah dan sebuah titik. Titik itulah yang menjadi posisi Adrian. Harry lalu menjelaskan maksud gambar itu.
Harry: Sekarang lihat ke sini. Kamu ada di sini. Di titik ini. Kamu sekarang hanya punya dua jalan. Mau belok kiri, atau mau belok kanan. Kalau kamu belok kiri, yang di kanan jadi nggak enak dan nggak terima. Begitu kan ? Tapi kalau kamu belok kanan, yang di kiri juga nggak terima. Kamu bingung di sini, dan kamu sama sekali nggak tahu harus memilih yang mana. Kalau secara hati kamu, mau pilih yang mana, Adrian ?
Adrian: Kalau secara hati sih... mau pilih... (terdiam sebentar) sama sekali saya nggak bisa milih. Yah, kira2 bisa nggak ada jalan tengahnya untuk masalah ini ?
Harry: Pintar. Memang harus ada jalan tengah. Ini jawaban yang saya tunggu2. Kalau misalnya kamu bingung memilih yang mana, pakai jalan ini saja... (sambil menggambarkan sebuah jalan lain dengan garis putus2 di tengah2 pertigaan itu, sehingga membentuk sebuah persimpangan, dan dia menuliskan 7 Icons di sisi kiri jalan dan Cherrybelle di sisi kanan jalan itu) mungkin dengan jalan ini, kamu nggak akan kebingungan lagi. Tapi kamu harus membagi semuanya dengan seimbang. Kamu punya porsi yang cukup untuk mendukung 7 Icons, dan kamu juga punya porsi yang cukup untuk mendukung Cherrybelle. Buat saya, ini adalah pilihan yang baik untukmu. Minimal, sampai kamu bisa memutuskan mana yang ingin kamu pilih.
Adrian: Ya, mungkin itu pilihan terbaik. Saya sebenarnya sudah berusaha untuk bisa menjalani semuanya dengan seimbang. Siang aku melatih 7 Icons, dan malamnya kalau sudah janjian, aku akan jalan2 bersama dengan Wenda. Tapi yang kemudian jadi masalah berikutnya... bagaimana kalau seandainya gw jadi kepikiran sama Wenda terus2an saat siang hari, ketika gw harus melatih anak2 7 Icons ?
Harry: Aku kan sudah bilang. Be focus. Stay concentrate. Tetap fokus pada misimu dan jangan pikirkan apapun diluar itu, Adrian. Termasuk Wenda. Tetap konsentrasi pada tugasmu. Jangan sampai Wenda atau hal lain mengganggu pikiran kamu, dan mengacaukan apa yang sudah kamu rencanakan. Berbahaya kalau misalnya itu terjadi. Kau akan membahayakan misimu, jadi kamu harus tetap konsentrasi.
Adrian: Bagaimana kalau seandainya Wenda menelepon saat jam latihan ?
Harry: Sebaiknya kamu jangan terima teleponnya. Telepon dia balik saat latihan selesai. Gampang kan ?
Adrian: Tapi biasanya kalau jam 5 sore itu... dia sedang latihan dengan teman2nya yang lain...
Harry: Berarti kamu harus memberitahukan soal misimu pada Wenda. Biar dia tahu dan tidak mengganggumu lagi. Gampang kan ? Beritahukan ini hanya padanya, jangan pada teman2nya yang lain. Harapannya, dia akan mengerti dan tidak meneleponmu pada saat jam latihan. Mungkin juga bisa diatur mengenai jam menelepon. Artinya, hanya pada jam itu, kamu dan Wenda boleh saling berkomunikasi. Setidaknya hingga misimu selesai. Kamu tidak mau misimu gagal kan ? Mungkin kamu harus pakai cara ini.
Adrian: Jadi saya hanya boleh berkomunikasi dengan Wenda pada jam2 tertentu, begitu ?
Harry: Ya, setidaknya sampai misimu selesai. Bisa kan ?
Adrian: Oke, akan saya beritahukan ini pada Wenda kalau aku bertemu dengannya. Tapi bagaimana kalau ia tidak setuju dengan hal ini, Yah ?
Harry: Saya yakin 100% Wenda akan mengerti. Justru dengan memberitahukan misimu padanya kamu tidak perlu lagi merasa kebingungan soal Wenda. Kamu akan lebih fokus dalam pekerjaanmu karena Wenda pasti akan mendukung kamu dalam pelaksanaan tugas ini. Tenang saja. Wenda pasti akan mengerti kok. Percaya saja.
Adrian: Baiklah. Tapi kalau sampai Wenda tidak menerima ini, Ayah yang harus tanggung jawab.
Harry: Kau boleh minta tambahan uang jajan kalau memang Ayah salah. Itu janjiku. Wenda pasti akan mengerti.
Adrian: Fine. Tambahan lima juta untuk uang jajan ?
Harry: Berapapun kamu boleh minta, kalau Ayah salah.
Adrian: Oke. Jadi sekarang kesimpulannya, apa yang harus saya lakukan ?
Harry: Semua tergantung kamu. Kamu yang punya pilihan. Ayah hanya mengarahkan. Berdasarkan gambar ini, kamu punya tiga pilihan. Pilih 7 Icons, pilih Cherrybelle, atau jalan tengah. Kamu akan mendukung keduanya. Saya lebih senang kamu mengambil jalan lurus. Artinya, jalan tengah. Mungkin ini tidak akan menyelesaikan masalah, dan mungkin akan membuatmu makin dilema, tapi saya ingin kasih tahu sesuatu padamu, Adrian. Lebih baik kamu jadi dilematik daripada kamu jadi fanatik. Karena kalau kamu jadi fanatik, kamu jadi akan selalu menjelek2an orang lain, meskipun orang itu lebih bagus darimu.
Adrian: Maksudnya haters, begitu ?
Harry: Betul sekali. Lebih baik kamu suka semuanya daripada kamu hanya menyukai satu. Itu akan lebih obyektif. Kalau dia memang bagus, kenapa harus dibenci ? Suka saja sama mereka... show some respect. Begitu lebih baik, daripada mencelanya yang nggak jelas. Itu lebih mengarah pada iri dan sirik, bukan membela kelompok lain. Ingat, sirik tanda tak mampu. Lebih kamu juga ikut ngefans dengan mereka, dan menerima mereka apa adanya, daripada membencinya habis2an.
Adrian: Jadi... saya harus tetap jadi seperti ini ? Dilema berkepanjangan tanpa kejelasan ?
Harry: Tidak tentunya. Sampai kamu bisa menentukan mana yang lebih baik, maka pada saat itulah dilemamu harus berakhir. Pada akhirnya, kamu hanya akan dapat memilih satu yang terbaik. Tapi kita tidak tahu kapan waktunya. Mungkin saja kamu akan dilema terus2an. Hahahahahaha...
Adrian: Hahahahahaha... jadi aku harus memilih jalan tengah itu ?
Harry: Jangan tanya saya! Kamu dong, yang harus menentukan...
Adrian: Hahaha... tapi mungkin saja saya akan memilih jalan tengah itu...
Harry: Very good choice.
Adrian: Tapi hanya sampai salah satu dari dua girlband itu bisa menunjukkan padaku siapa yang pantas disebut sebagai yang terbaik.
Harry: Well, itu bagus... tapi mungkin itu akan butuh waktu yang lama...
Adrian: Kalau bisa selama mungkin. Saat ini aku sedang suka dengan mereka...
Harry: Untuk itu, aku juga berharap hal yang sama. Hahahahahahaha...
Adrian: Hahahahahahaha... tapi Yah, sebenarnya ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Bagaimana soal hubungan saya dengan Wenda, apakah harus saya beritahukan hal ini pada anak2 7 Icons ? Tapi aku khawatir kalau mereka jadi cemburu mengetahui hubungan ini, kalau seandainya saya beritahu mereka.
Harry: Kalau kamu bisa menjelaskannya dengan baik pada anak2 7 Icons, saya yakin mereka tidak akan cemburu. Untuk saat ini, bagaimana cara kamu memperlakukan hubunganmu dengan Wenda, apabila berhubungan dengan anak2 7 Icons ?
Adrian: Saya sembunyikan hubungan ini dari mereka. Itu usulan teman2ku.
Harry: Itu usulan yang bagus, tapi bagaimana kalau seandainya ketahuan ?
Adrian: Mereka bilang aku sudah harus punya jawaban untuk menjelaskannya pada anak2 7 Icons...
Harry: Dan apakah kamu sudah punya jawaban itu ?
Adrian: Sebenarnya sudah, tapi saya tidak yakin apakah mereka mau menerimanya atau tidak...
Harry: Berarti kamu butuh jawaban yang lebih memperkuat dirimu. Kamu harus benar2 punya alasan yang kuat agar anak2 7 Icons bisa menerima hubunganmu. Kalau perlu, ceritakan dari awal pertemuanmu pertama kali dengan Wenda. Biarin lah, sekalian belajar sejarah. Sekaligus juga membuktikan bahwa kamu pacaran dengan Wenda bukan karena persaingan antar-girlband, tapi karena cinta masa lalu yang belum kesampaian. Begitu. Gampang kan ?
Adrian: Jadi saya harus bercerita panjang-lebar pada mereka ?
Harry: Ya, mau tak mau. Pokoknya sampai mereka mengerti saja. Hanya itu caranya. Kalau kamu cerita yang sekarang2 saja, yang ada mereka semua akan makin cemburu pada kamu. Jadi... mau tak mau kamu harus bercerita sejarahnya.
Adrian: Kalau sampai mereka tetap tidak mengerti ?
Harry: Run away. Kabur, dan bawa Wenda bersamamu agar dia tidak jadi santapan anak2 7 Icons. Tapi itu kalau sudah darurat. Kalau misalnya nggak terlalu darurat, mungkin kamu harus melakukan sesuatu yang kamu anggap itu penting. Untuk hal ini, aku beri kebebasan penuh untukmu. Asalkan kamu jangan melakukan hal2 gila yang justru merugikan dirimu sendiri dan orang lain, atau bahkan membahayakan hubungan kamu dengan Wenda. Itu malah jadi tidak baik.
Adrian: Oke, baiklah. Akan saya coba persiapkan hal itu. Tapi apa perlu ini harus dipersiapkan ?
Harry: Kalau memang perlu, siapkan saja. Saya tidak perlu tahu soal itu. Hanya kamu yang tahu.
Adrian pun hanya mengangguk2an kepalanya saja tanda mengerti. Selang beberapa saat kemudian, pesanan makanan yang mereka tunggu pun datang. Ada seorang pelayan yang membawakan nampan yang di atasnya terdapat sepiring Veggie Steak dan sepiring Chicken Cordon Bleu Special. Makanan itu akhirnya datang juga setelah menunggu beberapa menit. Memang begitu kebiasaan di restoran ini, harus menunggu hingga beberapa menit dulu sebelum pesananmu datang. Makanannya dibuat dulu setelah pesanannya disampaikan, jadi ketika makanannya diantarkan padamu, itu masih dalam keadaan terbaik. Fresh from the oven, atau apalah alat masak yang digunakan. Tapi tenang, cita rasanya akan sangat terlihat dalam kondisi seperti ini. Inilah yang membuat banyak pengunjung restoran ini rela menunggu lama demi mendapatkan makanan yang mereka pesan. Itu karena makanannya sangat enak sekali, dan masih dalam kondisi yang baru matang. Itu yang mereka suka. Selang beberapa menit kemudian, datanglah pelayan lain yang membawakan Lemon Tea pada Adrian dan Harry. Lemon Tea itu dibawakan dalam sebuah pitcher besar dan ada dua gelas yang dibawakan khusus untuk mereka. Mereka hanya tinggal menuangkan pitcher itu ke gelas dan mereka bisa menikmati Lemon Tea-nya. Lemon Tea-nya masih hangat, baru diseduh dengan air panas beberapa menit yang lalu. Jadi... masih hangat lah... bagus untuk kondisi saat itu, dimana cuacanya sedang dingin. Setelah semuanya sudah disajikan, Adrian dan Harry pun lalu mulai makan. Beberapa sendok makan kemudian, Adrian dan Harry ngobrol2 lagi. Sambil ngobrol2, keduanya meminum Lemon Tea yang sudah ada di gelas.
Adrian: Jadi yang harus lakukan nanti, seperti apa ?
Harry: Bagaimanapun juga, tetaplah positif dan gunakan hati kamu. Tetap konsentrasi dan fokus pada pekerjaan dan misimu. Itu yang terpenting. Kalau misalnya kamu nggak bisa memilih, jangan dipaksakan. Mungkin bukan waktu yang tepat bagimu untuk memilih sekarang.
Adrian: Tapi kalau misalnya saya sudah punya pilihan ?
Harry: Pertimbangkan baik2. Jangan sampai kamu salah memilih. Pastikan kamu sudah punya alasan yang kuat untuk dapat menentukan pilihan yang terbaik. Jangan sampai kamu menyesal nantinya.
Adrian: Lalu soal hubungan saya dengan Wenda ?
Harry: Jalani saja apa adanya. Kalau semuanya menerima, maka akan jauh lebih baik. Tapi kamu harus bisa jadi pacar yang baik untuk Wenda, begitupun juga sebaliknya.
Adrian: Soal misi saya, apa saya harus memberitahukannya pada Wenda ? Bagaimana kalau seandainya ia memberitahukannya lagi pada anak2 Cherrybelle yang lain ?
Harry: Biarkan saja. Kalau memang personil Cherrybelle berhak tahu, biarkan Wenda berbicara. Tapi kamu harus memberitahukan misi ini pada Wenda, agar dia mengerti.
Adrian: Baiklah. Mungkin nanti kalau saya bertemu lagi dengan Wenda, aku akan beritahu semuanya.
Harry: Bagus, tapi jangan sampai kamu keceplosan. Jangan bocorkan semuanya. Bilang saja kamu sedang melatih anak2 7 Icons, dan beritahu apa yang memang Wenda harus ketahui.
Adrian: Oke, kalau memang begitu yang harus dilakukan... aku akan lakukan.
Harry: Tapi kamu juga harus ingat satu hal. Perhatikan kondisi. Jangan paksakan dirimu untuk melakukan apapun bila kondisinya tak memungkinkan. Carilah waktu yang tepat untuk melakukannya.
Adrian: Baiklah, Yah. Aku mengerti.
Harry: Pokoknya, yang terpenting... pilihlah yang terbaik, dan pakai hatimu. Kalau pilihan itu berasal dari hati kamu, maka itulah yang terbaik, apapun baik-buruknya efek dari pilihanmu. Jangan paksakan hatimu, dan biarkan hatimu bekerja. Maka kamu tidak akan menyesal. Kalau begitu, sekarang kita lanjutkan makan2nya.
Adrian: Oke, Yah...
Mereka berdua lalu melanjutkan makan malamnya. Kini Adrian sudah mendapatkan sedikit pengarahan tentang apa yang harus ia lakukan berikutnya. Kalau menurut ayahnya, lebih baik jadi dilematik daripada jadi fanatik. Daripada jadi haters, lebih baik suka semuanya. Akan lebih obyektif. Kalau memang menurutnya bagus, kenapa tidak ngefans dengannya, kan ? Harusnya semua haters bisa menilai secara obyektif seperti apa penampilan seseorang di atas panggung. Kalau memang bagus, ngefans... tapi kalau nggak bagus, ya jangan dibenci habis2an... berikan saja masukan dan pendapat secara obyektif mengenai penampilannya dan sampaikan pada yang bersangkutan. Nggak perlu membencinya habis2an... anggap saja tulisan saya kali ini bisa sedikit menyoroti soal haters, dan bagaimana cara menjadi haters yang baik. Nggak perlu membenci seseorang habis2an... kalau memang nggak suka, ya jauhi saja... begitu lebih baik daripada memprovokasi dan memancing emosi orang. Nggak enak lho, bikin orang marah2 yang nggak jelas... jadi lebih baik diam saja dan jauhi daripada membencinya nggak karuan. Buat saya, seperti itulah haters yang baik. Rasa suka dan rasa benci itu jaraknya berdekatan. Mungkin kemarin kita bisa suka, hari ini mungkin kita benci, dan besok harinya, kita tiba2 suka lagi. Semua tergantung orangnya, menilai seseorang dari segi apa. Itu tidak jadi masalah, karena manusia itu berbeda-beda karakternya. Menyukai orang boleh, membenci orang juga boleh, tapi lakukan dengan sewajarnya dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Itu lebih baik. Ingat, lebih baik jadi dilematik daripada jadi fanatik. Terlalu fanatik juga fatal. Terlalu dilematik ? Hmmm... pikirkan sendiri.
Itulah Fanfiction 7 Icons part 16c. Seperti apa kelanjutan ceritanya ? Tetap stay tune terus di blog saya, karena cerita ini akan segera berlanjut ke bagian berikutnya. Remember, it's just a Fanfiction.
BERSAMBUNG... (ke part 16d)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar